Mengkreasi Jenis dan Pola Ragam Hias

Pada pembelajaran seni rupa kelas v Unit 10 terdapat kegiatan Mengkreasi Jenis dan Pola Ragam Hias. Tujuan pembelajaran kali ini adalah siswa dapat menentukan fungsi ragam dalam kehidupan sehari-hari. Siswa dapat menguraikan jeni-jenis ragam hias dari unsur bentuknya. Siswa dapat membandingkan pola ragam hias berasarkan visualisasi bentuk polayang diamatinya. Siswa dapat menciptakan ragam hias dengan jenis dan pola tertentu yang disukai.

Pada Pembelajaran Unit 10 ini siswa diajak untuk menggambar ragam hias dengan kreativitas sesuai jenis dan pola tertentu yang paling disukai, siswa bebas berkreasi menggambar ragam hias tersebut.

Ragam hias merupakan hiasan yang terbentuk dari inspirasi flora, fauna, figuratif, dan bentuk geometrik. Dalam menggambar ragam hias dapat secara stilasi/penggayaan dengan tidak meninggalkan bentuk aslinya dan juga penyederhanaan bentuk sertaperubahan bentuk (deformasi) sehingga menghasilkan ragam hias yang indah.

Gambar ragam hias dapat berasal dari salah satu bagian saja atau keseluruhan bagian secara utuh dari objek inspiratifnya dan dapat dikombinasikan sehingga menghasilkan gaya ragam hias yang indah. Ragam hias ini dapat diterapkan pada karya seni dua dimensi atau tiga dimensi dengan memperhatikan unsur dan prinsip seni rupa.

Dalam ragam hias terdapat pola hias dan motif hias dimana pola hias adalah  unsur dasar yang digunakan sebagai acuan dalam sebuah hiasan, sedangkan motif hias adalah bentuk dasar yang berasal dari inspirasi bentuk benda alam berupa flora, fauna, manusia, air, api, awan, dan lain-lain, maupun buatan manusia berupabangunan, dan benda buatan manusia lainnya dengan dasar dari unsur-unsur seni rupa di dalamnya.

Siswa dapat menciptakan ragam hias dari objek inspiratif sesuaiide kreatifnya sendiri sesuai jenis-jenis dan pola ragam hias tersebut di atas, dandapat dilakukan menggunakan penggayaan/stilasi dengan cara menyederhanakanbentuk/deformasi dari inspirasi objek asli tersebut dengan mempertimbangkan segikeindahanya.

Dalam proses menggambar ragam hias dengan inspirasi objek sekitar, langkah pertama adalah siswa mengamati objek benda di sekitar untuk meniru bentuk dasar benda baik berupa objek alam berupa flora, fauna, manusia, air, api, awan, dan lain-lain, atau objek buatan berupa bangunan, kendaraan, dan benda lainnya untuk dijadikan sebagai model dasar dalam menciptakan motif hias.
Stilasi
Dalam ragam hias terdapat pola hias dan motif hias dimana pola hias adalah unsur dasar yang digunakan sebagai acuan dalam sebuah hiasan, sedangkan motif hias adalah bentuk dasar yang berasal dari inspirasi bentuk benda alam berupa flora, fauna, manusia, air, api, awan, dan lain-lain, maupun buatan manusia berupa bangunan, dan benda buatan manusia lainnya.

Dengan dasar dari unsur-unsur seni rupa didalamnya, siswa dapat menciptakan ragam hias   dari objek inspiratif sesuai ide kreatifnya sendiri sesuai jenis-jenis dan pola ragam hias tersebut di atas, dan dapat dilakukan menggunakan penggayaan/stilasi dengan cara menyederhanakan bentuk/deformasi dari inspirasi objek asli tersebut dengan mempertimbangkan segi keindahanya.
Contoh Ragam Hias
Dalam proses menggambar ragam hias dengan inspirasi objek sekitar, langkah pertama adalah siswa mengamati objek benda di sekitar untuk meniru bentuk dasar benda baik berupa objek alam berupa flora, fauna, manusia, air, api, awan, dan lain- lain, atau objek buatan berupa bangunan, kendaraan, dan benda lainnya untuk di jadikan sebagai model dasar lam menciptakan motif hias.

Langkah-langkah Mengganbar Ragam Hias
Berikut adalah langkah-langkah menggambar ragam hias flora dengan pola geometris.
Menggambar
  1. Gambarlah pola geometris dengan sket garis-garis sesuai bentuk yang diinginkan dengan pensil;
  2. Gambarlah kontur daun dengan cara deformasi atau menyederhanakan bentukdaun dalam pola garis yang telah dibuat;
  3. Buatlah gambar pola daun tersebut pada semua garis yang ditentukan;
  4. Hapuslah pola garis-garis dasar sket pada gambar tersebut;
  5. Mulailah dengan pewarnaan pada bidang-bidang pola sesuai warna yangdiinginkan;
  6. Melakukan finishing dengan pewarnaan pada pola daun dan bidang dasar yang telah dibuat dengan prinsip gradasi warna dari warna terang ke warna yang lebih gelap. Dapat juga menggunakan teknik lain yang sesuai dengan mempertimbangkan segi keindahan.

Alat dan bahan
  1. Pensil/Pensil warna/Krayon/Spidol/cat air/cat minyak/ alat dan bahan mewarnai yang lain.
  2. Alternatif : Arang/Kapur/tumbuhan yang mengandung warna dan lain-lain. Kertas A4/buku gambar (ketebalan dibebaskan).
  3. Alternatif : Kardus/papan kayu/media yang tersedia.
  4. Siswa dipersilahkan memilih dan mencoba alat bahan yang berbeda.
  5. Siswa dipersilahkan menggunakan alat yang tersedia di daerah sekitar.

Demikian pembahasan mengenai Mengkreasi Jenis dan Pola Ragam Hias. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Sumber : Buku Seni Rupa Kelas V Kurikulum Merdeka, Kemendikbud
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 1:00 PM

Mengenal Aneka Ragam Hias Di Indonesia

Pada pembelajaran Seni Rupa Kelas V Sekolah Dasar Kurikulum Merdeka Bab 9 terdapat kegiatan Mengenal Aneka Ragam Hias Di Indonesia. Tujuan kegiatan pembelajaran kali ini adalah Siswa dapat menentukan definisi ragam hias dengan tepat. Siswa dapat menganalisis bentuk ragam hias dari daerah tertentu dengan menyebutkan ciri-cirinya. Siswa dapat membandingkan jenis ragam hias flora, fauna, figuratif, dan geometris. Siswa dapat menggambar ragam hias dengan kreativitasnya sendiri dengan memilih jenis ragam hias flora, fauna, figuratif, dan geometris.

Pada Pembelajaran Unit 9 ini siswa diajak untuk mengenal dan mengamati anekaragam hias serta elemen dekoratifnya dari berbagai daerah di Indonesia serta menggambar ragam hias dengan kreatifitasnya sendiri dengan memilih jenis ragam hias flora, fauna, figuratif, dan geometris.

A. Pengertian Ragam Hias
Indonesia sebagai negara yang kaya akan budaya mempunyai begitu banyak ragam hias, dari segi motif ataupun jenis dan polanya, ragam hias tidak hanya untuk tujuan keindahan yang dianggap sebagai penghias saja, namun ragam hias lebih dari itu yang dijadikan sebagai aktifitas budaya , adat istiadat dan keyakinan tertentu yang ada sejak berabad-abad silam di Indonesia. dapat kita lihat dari benda-benda penemuan seperti hiasan pada candi, kain batik, kain tenun, hiasan banguanan adat dan lain-lain.
Ragam Hias
Ragam hias merupakan pola hias yang tersusun menggunakan motif hias dengan cara dan metode tertentu pada suatu benda dengan tujuan sebagai penghias bidang atau bentuk sehingga menghasilkan keindahan. Biasanya ragam hias dibuat secara berulang-ulang dengan pola tertentu untuk menambah dan memperindah suatu benda.

Menurut Atisah S (1991), Ornamen adalah membuat ragam hias, ragam hias yang ada di Indonesia itu sendiri dipengaruhi oleh begitu banyak faktor, seperti lingkungan alam, flora dan fauna, hingga budaya masing-masing daerah yang begitu kaya. Keinginan untuk menghias menjadi salah satu bentuk naluri dari manusiasebagai makhluk artistik.

B. Jenis-Jenis Ragam Hias
Berdasarkan asal inspirasi terbentuknya ragam hias dapat dibagi menjadi beberapa jenis yaitu : (1) Ragam Hias Flora, berasal dari inspirasi bentuk flora atau tumbuh- tumbuhan, (2) Ragam Hias Fauna, berasal dari inspirasi bentuk fauna atau binatang, (3) Ragam Hias Figuratif, berasal dari inspirasi bentuk manusia, (4) Ragam Hias Geometris, berasal dari inspirasi bentuk -bentuk geometrik dengan unsur-unsur seni rupa berupa titik, garis, bidang, dan bentuk.

Pembentukan ragam hias dapat secara stilasi/penggayaan dengan tidak meninggalkan bentuk aslinya sehingga menghasilkan ragam hias yang indah,dapat berasal dari salah satu bagian saja atau keseluruhan bagian secara utuh dan dapat dikombinasikan sehingga menghasilkan gaya ragam hiasan yang indah menurut Atisah S. (1991, 57) motif bentuk alami, stilasi, dan geometrik pada umumnya dinilai sebagai motif konvensional, sedangkan motif bebas dinilai sebagai motif modern.

C. Contoh Ragam Hias Dari Berbagai Daerah Di Indonesia
Ragam hias dari berbagai daerah di Indonesia dapat dikenali dan dapat dibandingkanoleh siswa dengan melihat dan mengamati ciri knasnya, berikut beberapa contohgambar ragam hias dari beberapa daerah di indonesia :
ragam hias
Dari materi pokok diatas, siswa dapat mengetahui dan menganalisis beberpa motif ragam hias yang berasal dari berbagai daerah diindonsia serta membandingkan elemen motif hias di dalamnya, kemudian siswa dapat menggambarkan kembali ragam hias dari daerah yang dipilih untuk di kembangkan sesuai kreasi dan ide kreatifnya sendiri, dengan pewarnaan yang sesuai dengan mempertimbangkan segi keindahanya.

Alat dan bahan
  1. Pensil/Pensil warna/Krayon/Spidol/cat air/cat minyak/ alat dan bahan mewarnai yang lain.
  2. Alternatif : Arang/Kapur/tumbuhan yang mengandung warna dan lain-lain
  3. Kertas A4/buku gambar (ketebalan dibebaskan).
  4. Alternatif : Kardus/papan kayu/media yang tersedia.
  5. Siswa dipersilahkan memilih dan mencoba alat bahan yang berbeda.
  6. Siswa dipersilankan menggunakan alat yang tersedia di daerah sekitar.

Demikian pembahasan mengenai Mengenal Aneka Ragam Hias Di Indonesia. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Sumber : Buku Seni Rupa Kelas V Kurikulum Merdeka, Kemendikbud
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 4:48 PM

Menggambar Tumbuhan dengan Prinsip Proporsi

Pada pembelajaran Seni Rupa Kelas V Unit 9 terdapat kegiatan Menggambar Tumbuhan dengan Prinsip Proporsi. Tujuan pembelajaran kegiatan ini adalah siswa dapat menentukan prinsip porporsi seni rupa dalam sebuah objektumbuhan. Siswa dapat menguraikan prinsip porporsi dalam sebuah objek tumbuhan sesuai unsur seni rupa yang dikandungnya. Siswa dapat mengevaluasi porporsi seni rupa dalam sebuah objek tumbuhan. Siswa dapat menciptakan gambar objek tumbuhan dengan memperhatikanproporsi sesuai kreativitasnya sendiri.

Sejalan dengan tujuan dan karakteristik materi pembelajaran maka guru dapat memilih metode atau pembelajaran yang tepat. Salah satu model pembelajaran yang dapat dipilih adalah Visual Auditori dan Kinestetik (VAK). Menurut Shoimin (2014), langkah-langkah yang dilakukan dalam pelaksanaan model pembelajaran Visua Auditori dan Kinestetik (VAK) adalah sebagai berikut: (1) Tahap persiapan (kegiatan pendahuluan), (2) Tahap Penyampaian(kegiatan inti pada eksplorasi), (3) Tahap Pelatihan (kegiatan inti pada elaborasi), dan (4) Tahap penampilan hasil (kegiatan inti pada konfirmasi).

A. Menentukan Prinsip Porporsi Sebuah Objek Tumbuhan
Istilah “proporsi” dapat diartikan secara singkat sebagai perbandingan ukuran, Menurut Ching (2007:247) menjelaskan proporsi adalah menyangkut tentang hubungan dari bagian satu dengan yang lainnya atau dengan keseluruhannya, dalam kaitan sebuah objek tumbuhan, jika objek tumbuhan tersebut proporsinya tampak wajar maka disebut “proporsional” yang berarti perbandingan dengan ukuran yang serasi pada: daun-daunan, bunga, buah-buahan, ranting, dan lainnya baik secara terpisah maupun dalam kesatuan baik objek dari alam langsung maupun yang telah divisualisasikan dalam sebuah karya seni. 

Kesan serasi suatu objek pada dasarnya bersifat relatif, akan tetapi pada objek tertentu, keserasian akan timbul dari perbandingan ukuran yang sesuai memiliki standar yang baku. Menurut Ching (2007) bahwa proporsi bertujuan menciptakan suatu tatanan yang tertib dan harmonis.

B. Menguraikan dan Mengevaluasi Porporsi dalam Sebuah Objek Tumbuhan
Dalam sebuah objek tumbuhan akan terdapat unsur dan prinsip yang saling mangisi sehingga menghasilkan penampakan yang indah pada benda tersebut. Siswa dapat menguraikan keterpaduan berbagai unsur dan prinsip seni rupa dari perbedaan karakter dalam sebuah objek tumbuhan, Suatu hal yang tak kalah penting adalah terdapatnya prinsip proporsi dalam objek tumbuhan, sehingga ukuran antara bagian satu dan lainnya dalam keseluruhan objek tumbuhan tersebut menjadi selaras dan indah.
Contoh Proporsi
Disinilah proporsi berperan sangat penting sebagai penghubung diantara tatanan dan keberagaman dalam objek atau karya seni sehingga memunculkan suatu konsep keindahan secara holistik. Maka proporsi digunakan untuk mengevaluasi keteraturan bentuk atau model yang memiliki keteraturan, baik dalam desain maupun gagasan abstrak dalam sebuah karya seni.

Proporsi merupakan prinsip menggambar yang mencermati ukuran objek yang sedang di gambar. Ukuran itu mencakup ketinggian, keluasan, dan jarak. Kondisi asli objek harus tetap terlihat pada hasil gambar, misalnya tingginya gunung, luasnya danau, jauhnya jalan, bahkan mungilnya jarum. Jangan sampai, misalnya pohon yang aslinya tinggi menjadi terlihat pendek pada hasil gambar kita.

C. Menggambar Objek Tumbuhan dengan Memperhatikan Prinsip Proporsi
Dalam pembelajaran ini setelah mengetahui dan mengenal prinsip proporsi dalam karya seni, siswa diminta untuk menggambar objek tumbuhan dengan menerapkan prinsip proporsi pada tumbuhan tersebut, siswa akan mempraktikkan menggambar dalam media kertas dengan alat mewarnai yang telah tersedia dengan ide dan kreativitasnya sendiri dengan arahan guru. 

Alat dan bahan
  1. Pensil/Pensil warna/Krayon/Spidol/alat mewarnai yang lain.
  2. Alternatif : Arang/Kapur/tumbuhan yang mengandung warna dan lain-lain.
  3. Kertas A4/buku gambar (ketebalan dibebaskan).
  4. Alternatif : Kardus/papan kayu/media yang tersedia.

Berikut adalahlangkah-langkah menggambar objek tumbuhan dengan proporsi:
Langkah Menggambar
  1. Gambarlah sket unsur garis pada objek tumbuhan yang ingin digambar sesuai bentuk bidang yang diamati;
  2. Lengkapilah gambar tersebut dengan beberapa elemen tambahan gambar misal: daun, ranting, atau yang lainnya;
  3. Mulailah mewarnai pada bagian gambar tumbuhan dan elemen-elemen tambahannya dengan warna yang diinginkan;
  4. Lakukan finishing dengan memperhalus goresan warna kemudian berilah warna pada latar belakangnya.

Demikian pembahasan tentang Menggambar Tumbuhan dengan Prinsip Proporsi. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Sumber : Buku Seni Rupa Kelas V Kurikulum Merdeka, Kemendikbud.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 8:04 PM

Menggambar Ekspresif dengan Prinsip Keseimbangan

Pada pembelajaran Seni Rupa Kelas V Kurikulum Merdeka terdapat kegiatan Menggambar Ekspresif dengan Prinsip Keseimbangan. Tujuan pembelajaran kali ini adalah siswa dapat menemukan prinsip keseimbangan dalam sebuah karya seni atau objek yang terdapat di lingkungan sekitar. Siswa dapat menganalisis prinsip keseimbangan dalam sebuah karya seni atau objek yang terdapat di lingkungan sekitar. Siswa dapat menyimpulkan sebuah karya seni atau sebuah objek memiliki keseimbagan di dalamnya. Siswa dapat menggambar dengan prinsip keseimbangan yang baik dengan ide dan kreativitasnya sendiri.

Pada Pembelajaran Unit 7 ini siswa diajak untuk menggambar ekspresif dengan mempertimbangkan prinsip keseimbangan didalamnya sehingga gambartersebut memiliki keindahan.

A. Menemukan Prinsip Keseimbangan
Unsur-unsur dalam seni rupa pada dasarnya mengadaptasi dari elemen bentuk fisik yang terdapat pada sebuah benda. Dengan demikian pengamatan terhadap unsur-unsur visual pada karya seni rupa ini tidak berbeda dengan pengamatan terhadap benda-benda yang ada di sekeliling kita.

Maka siswa dapat menemukan unsur dan prinsip seni rupa dengan cara pengamatan terhadap elemen bentuk visualnya, semakin baik pemahaman siswa terhadap unsur dan prinsip seni rupa,maka semakin baik pula pengamatannya terhadap unsur-unsur visual pada karya seni rupa maupun terhadap benda-benda yang dilihatnya.
Keseimbangan
Prinsip keseimbangan dalam karya seni merupakan ekuilibrium diantara bagian- bagian darisuatu komposisi, karya seni yang memiliki keseimbagan di dalamnya dapat siswa temukan dengan adanya bagian-bagain tertentu dengan unsur selaras dari sisi bagian satu ke sisi yang lainnya.

Menurut Ockvirk (1962:30), seniman cenderung menggunakan ukuran-ukuran yang tampak seimbang, mirip dan berhubungan dengan perbandingan penempatan yang dapat memerlukan pertimbangan pribadi,karena tidak ada rumus untuk menetapkan ukuran yang “benar” atau proporsi yang “tepat”

B. Menganalisis dan Menyimpulkan Prinsip Keseimbangan dalam Karya Seni
Seorang seniman, desainer dan perancang mengolah unsur-unsur seni rupa sesuai dengan keahlian dan kepekaan yang dimilikinya, untuk mewujudkan sebuah karya seni. Secara umum unsur-unsur yang mewujudkan sebuah prinsip sebuah karya seni rupa terdiri dari: titik, garis, bidang, bentuk, ruang, tekstur, warna dan tone (nada gelap terang). Menurut Ockvirk (1962:23), keseimbangan ditentukan oleh faktor- faktor seperti penampilan, ukuran, proporsi, kualitas dan arah dari bagian-bagiantersebut.

Siswa dapat menganalisis unsur dan prinsip seni rupa tersebut dan menerapkan prinsip keseimbagan dengan cara mengolah unsur-unsur seni rupa tersebut dalam beberapa sisi yang berbeda dengan memperhatikan keseimbangannya. Siswa dapat mencapai sebuah gambar dengan prinsip keseimbagan yang diciptakannnya berdasarkan pertimbangan visual, dengan kata lain keseimbangan disini merupakan keseimbangan optik yang dapat dirasakan diantara bagian-bagian dalam karya seni rupa. 

Untuk mencapai keseimbangan dapat dihasilkan melalui penempatan unsur seni rupa semisal warna dan gelap terang yang membuat bagian-bagian tertentu lebih berat, selaras dengan bagian-bagian yang lain, dalam lukisan bidang kecil berwarna gelap tampak sama beratnya dengan bidang luas berwarna terang.

C. Menggambar Ekspresif dengan Prinsip Keseimbagan
Dalam pembelajaran ini setelah mengetahui dan mengenal prinsip keseimbangan dalam karya seni, siswa diminta menggambar eskpresif dengan menerapkan prinsip keseimbangan, siswa akan mempraktikkan menggambar eskpresif dalam media kertas dengan alat mewarnai yang telah tersedia dengan ide dan kreatifitasnya sendiri dengan arahan guru. Berikut adalah beberapa karya seni rupa dan contoh objek atau benda-benda yang menunjukan prinsip keseimbangan ada di sekeliling kita:
Keseimbangan
Alat dan bahan:
Pensil/Pensil warna/Krayon/Spidol/alat mewarnai yang lain
Alternatif : Arang/Kapur/tumbuhan yang mengandung warna dan lain-lain
Kertas A4/buku gambar (ketebalan dibebaskan)
Alternatif : Kardus/papan kayu/media yang tersedia
Siswa dipersilahkan memilih dan mencoba alat bahan yang berbeda.
Siswa dipersilankan menggunakan alat yang tersedia di daerah sekitar.

Demikian pembahasan mengenai Menggambar Ekspresif dengan Prinsip Keseimbangan. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Sumber : Buku Seni Rupa Kelas V Kurikulum Merdeka, Kemendikbud
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 5:09 PM

Membuat Souvenir Dari Anyaman

Pada pembelajaran Seni Rupa Kelas V Sekolah Dasar terdapat kegiatan tentang Membuat Souvenir Dari Anyaman. Tujuan pembelajaran kali ini adalah siswa dapat menentukan tiga nama kerajinan souvenir anyaman. Siswa dapat menguraikan tiga bahan kerajinan souvenir anyaman. Siswa dapat mengevaluasi aneka jenis kerajinan souvenir dengan berbagai teknik pembuatannya. Siswa dapat menciptakan karya seni kerajinan souvenir dengan teknik anyaman sesuai kreatifitasnya sendiri. Pada Pembelajaran Unit 6 ini siswa diajak untuk membuat karya aneka souvenir dengan bentuk yang disukai sesuai dengan teknik dan fungsinya.

A. Kerajinan Souvenir
Kerajinan tangan souvenir atau cendramata sesuai fungsinya adalah untuk dijadikan cendramata dari daerah tertentu atau dari even tertentu kemudian di koleksi secara pribadi atau dihadiahkan untuk orang lain. Dalam perkembangannya souvenir atau cendramata dari tiap daerah akan berbeda-beda baik bentuk, teknik pembuatan maupun bahannya, di sesuaikan dengan selera atau pesanan konsumen.

Dalam pembelajaran ini, setelah siswa mengenal dan menguasai berbagai jenis anyaman pada unit pembelajaran sebelumnya, siswa diminta mempraktikkan membuat karya seni souvenir dari anyaman dari berbagai jenis pola anyaman dengan arahan dari guru dengan kreasinya sendiri, dapat membuat berbagai jenis produk karya seni souvenir dari anyaman sesuai kreativitas dan keinginannya siswa sendiri.

B. Souvenir dari Anyaman
Menurut Dekranas (2014:136) “Berdasarkan bentuknya, anyaman dibagi menjadi dua, yaitu: (1) Anyaman dua dimensi, yaitu anyaman yang hanya memiliki ukuran panjang dan lebar saja, kalaupun seandainya memiliki ketebalan, ketebalan tersebut tidak terlalu diperhitungkan, (2) Anyaman tiga dimensi, yaitu anyaman yang memiliki ukuran panjang, lebar, dan tinggi. Bentuk-bentuk anyaman dibuat berdasarkan fungsinya, misalnya bagi masyarakat petani/nelayan, anyaman dibentuk menjadi topi, bakul, tudung saji, tikar dan aneka rupa yang dibentuk untuk digunakan sehari-hari”.
Suvenir Anyaman
Sejalan dengan perkembangan zaman, anyaman tidak hanya berbentuk kerajinan tradisional saja tetapi telah berkembang sesuai fungsinya seperti: sandal, kursi, tas lampu lampion, tempat wadah tertentu, juga dapat berbentuk tiga demensi, misalnya dibuat produk souvenir, misalnya dibentuk sebagai gantungan kunci atau kerajinan lain yang memiliki nilai artistik.

C. Langkah-Langkah Membuat Souvenir Anyaman
Dalam pembelajaran ini setelah mengetahui dan mengenal berbagai jenis, bentuk dan teknik menganyam dalam membuat karya seni anyaman, siswa diminta untuk membuat karya seni tiga dimensi berbentuk suovenir dengan teknik anyam sederhana. Siswa akan mempraktikkan membuat souvenir dengan berebagai jenis, bentuk dan teknik menganyam dengan ide dan kreatifitasnya sendiri sesuai arahan guru. Dalam membuat karya seni souvenir anyaman tersebut dapat dari bahan- bahan yang tersedia di daerah sekitar siswa untuk menghasilkan karya seni souvenir anyaman yang indah.

Alat:
  1. Alat potong, Cutter, Gunting, Pisau, alat khusus di daerah tertentu, dan lain-lain.
  2. Siswa dipersilahkan menggunakan alat khusus yang tersedia di daerah sekitar.

Bahan:
  1. Bahan alam seperti: bambu, rotan, eceng gondok, daun kelapa, daun lontar, dan daun pandan, jerami, dan lain-lain.
  2. Bahan buatan seperti: kertas dan serat plastik, aneka jenis pita,Kain Flanel.
  3. Bahan pewarna: cat, pigmen, pewarna alam, dan lain-lain.
  4. Bahan hiasan tambahan sesuai keinginan.

Berikut adalah langkah-langkah pembuatan karya seni anyaman untuk membuatsouvenir gantugan kunci dari anyaman dengan bahan pita jepang dengan teknik anyaman bertumpuk.
Souvenir
  1. Siapkan pita jepang dan potonglah sesuai keinginan, dapat di buat dari bahan alam buatan lainnya yang tersedia;
  2. Sebelum memulai dalam pengerjaannya masukkanlah dua utas pita jepang ke dalam lubang ujung gantungan kunci terlebih dahulu;
  3. Pastikan berada di tengah antara panjang pita yang digunakan;
  4. Kemudian ikatlah pita dekat pangkal gantungan kunci tersebut;
  5. Mulailah melipat anyaman dengan mengurai empat helai pita jepang untukdilipat dan ditindihkan satu sama lain;
  6. Kemudian melakukan penyilangan pita dengan cara bergantian satu per satu pita dilipat dan ditindihkan keatas pita yang lain sehingga saling menindih;
  7. Lakukan berulang kali sampai mendapatkan ketebalan yang diinginkan;
  8. katlah pada pangkal anyaman agar rangakaian tidak mudah lepas dan terlihat lebih menarik.

Salah satu model pembelajaran yang dapat dipilih adalah Visual Auditori dan Kinestetik (VAK). Menurut Shoimin (2014), langkah-langkah yang dilakukan dalam pelaksanaan model pembelajaran visual auditori dan kinestetik (VAK) adalah sebagai berikut: (1) Tahap persiapan (kegiatan pendahuluan), (2) Tahap Penyampaian (kegiatan inti pada eksplorasi),(3) Tahap Pelatihan (kegiatan inti pada elaborasi), dan (4) Tahap penampilan hasil (kegiatan inti pada konfirmasi).

Demikian pembahasan mengenai Membuat Souvenir Dari Anyaman. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Sumber : Buku Seni Rupa Kelas V Kurikulum Merdeka, Kemendikbud.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 2:09 PM

Mengenal dan Mengeksplorasi Aneka Anyaman

Pada pembelajaran Seni Rupa Kelas V Sekolah Dasar Kurikulum Merdeka terdapat kegiatan tentang Mengenal dan Mengeksplorasi Aneka Anyaman. Tujuan pembelajaran kali ini adalah siswa dapat menentukan tiga nama karya seni anyaman di daerah sekitar. Siswa dapat menguraikan tiga jenis bahan untuk membuat karya seni anyaman di daerah sekitar. Siswa dapat menyusun langkah-langkah dalam proses pembuatan karya seni anyaman. Siswa dapat menciptakan karya seni anyaman sederhana dengan aneka media sesuai kreatifitasnya sendiri. Pada Pembelajaran Unit 5 ini siswa diajak untuk mengenali berbagai aneka produk anyaman, jenis-jenis anyaman serta bahan-bahan untuk membuatnya.

A. Definisi Karya Seni Anyaman
Anyaman berasal dari kata anyam yang tidak lain merupakan proses menyilangkan sesuatu atau bahan-bahan untuk dijadikan satu kesatuan menjadi lebih kuat dan dapat digunakan atau berfungsi pakai, pada dasarnya anyaman adalah bidang yang terwujud karena ada jalinan ikatan lungsi (horisontal) dan pakan (vertikal). 

Dalam perkembangannya menjadi karya seni rupa terapan untuk memenuhi keutuhan praktis sehari-hari dan berubah untuk memenuhi keperluan estetis. Menurut Wahudi (1979), Kerajinan anyaman merupakan suatu usaha atau kegiatan keterampilan masyarakat dalam pembuatan barang-barang dengan cara susup menyusup antara pakan dan lungsi. Yang dimaksud dengan lungsi adalah atau daun anyaman yang tegak lurus terhadap penganyam sedangkan pakan adalah atau anyaman yang disusupkan pada lungsi pada saat menganyam.

B. Jenis-Jenis Motif Anyaman
Berikut merupakan beberapa jenis motif anyaman:
Jenis Anyaman
1) Motif anyaman tunggal:
Merupakan anyaman yang tiap helai lungsian ditarik sekaligus satu per satu dengan pakan, sehingga terbentuk anyaman dengan satu silangan lungsi dan pakan.

2) Motif anyaman ganda: 
Merupakan anyaman yang tiap dua helai lungsian ditarik berama dengan satu dengan pakan, sehingga terbentuk anyaman dengan silangan dua lungsi dan satu pakan.

3) Motif anyaman ganda  tiga:
Merupakan anyaman yang serupa dengan motif ganda dua. Hanya saja pemisahan pada lungsin sebanyak tiga lembar sekaligus, sehingga terbentuk anyaman dengan silangan

4) Motif anyaman Kombinasi:
Merupakan anyaman yang dengan motif tunggal, ganda dua dan ganda tuga dengan variasi bentuk sesuai rancangan desain yang ingin di buat, sehingga terbentuk anyaman dengan silangan yang bervariasi dan membetuk motif tertentu yang lebih unik, indah dan menarik.

C. Bahan-Bahan Anyaman
Pada kegiatan ini siswa juga akan dikenalkan dengan beragai bahan-bahan untuk karya seni anyaman, bahan yang sering digunakan adalah berasal dari alam antara lain: daun lontar, daun pandan, bambu, rotan, rumput, tumbuhan pakis, pelepah pisang, eceng gondok, dan lain-lain, dan juga dapat dibuat dari bahan-bahan buatan misalnya plastik, pita, kertas, karet, dan lain-lain.

D. Langkah-Langkah Menganyam
Untuk kegiatan selanjutnya, siswa dapat membuat anyaman dari bahan-bahan yang tersedia di sekitar mereka untuk menghasilkan karya seni anyaman yang indah. Ada banyak motif anyaman yang dapat dibuat dengan menggunakan bahan- bahan di atas, setelah menguasai teknik dasar-dasar terlebih dahulu, pembuatan anyaman dengan jenis-jenis motif lain akan dapat dikerjakan dengan mudah, bagi yang terbiasa/pernah membuat anyaman dasar maka akan dapat mengerjakanya
dengan baik, untuk selanjutnya akan dapat divariasikan sehingga menghasilkan motif-motif lain yang lebih unik, indah dan menarik. Menurut Sugiono, (1974:37), menganyam adalah suatu pekerjaan yang memerlukan ketelitian dan kerapian, maka harus dilakukan dengan kesabaran.

Alat:
  1. Alat potong, Cutter, Gunting, Pisau, alat khusus di daerah tertentu, dan lain-lain.
  2. Siswa dipersilahkan menggunakan alat khusus yang tersedia di daerah sekitar.

Bahan:
  1. Bahan alam: seperti bambu, rotan, eceng gondok, daun kelapa, daun lontar, dan daun pandan, jerami, dan lain-lain.
  2. Bahan buatan : seperti kertas dan serat plastik, aneka jenis pita,Kain Flanel.
  3. Bahan pewarna: cat, pigmen, pewarna alam, dan lain-lain.
  4. Bahan hiasan tambahan sesuai keinginan.

Berikut adalah langkah-langkah pembuatan anyaman ganda, dengan langkah- langkah sebagai berikut :
Membuat ANyaman
  1. Siapkan bahan-bahan anyaan, baik bahan alam maupun buatan;
  2. Buatlah berjajar beberapa “pakan” untuk memulai menganyam dan kemudian masukkan “lungsi” pada pakan tersebut dengan selisin dua ruas bergantian, dan buatlah jeda satu ruas antara “lungsi” tersebut (Sesuai gambar);
  3. Rapatkan antara "pakan” dengan “pakan” yang lain begitu juga merapatkan “lungsi” dengan “lungsi” yang lian sapai terlihat rapi dan kuat;
  4. Tambahkah bahan “pakan” dan “lungsi” sampai sesuai lebar yang diinginkandengan tetap urutkan sesuai pola anyaman tersebuat, dapat juga menambahkan variasi anyaman dengan kombinasi sehingga menghasilkan karya yang lebihmenarik;
  5. Rapikan hasil karya anyaman yang telah selesai pada bagian tepi selain untuk memperkuat susunan anyaman juga untuk merapikan hasil karya anyaman; 

Pada kegiatan ini salah satu model pembelajaran yang dapat dipilin adalah problem based instruction (PBI). Menurut Trianto (2009:98), langkah-langkah atau tahapan pembelajaran menggunakan model problem based instruction adalah sebagai berikut: (1) Orientasi siswa pada masalah, (2) Mengorganisasi siswa untuk belajar, (3) Membimbing , (4) Penyelidikan individual maupun kelompok, (5) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya, dan (6) Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.

Demikian pembahasan tentang Mengenal dan Mengeksplorasi Aneka Anyaman. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Sumber : Buku Seni Rupa Kelas V Kurikulum Merdeka, Kemendikbud.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 1:45 PM

Membuat Karya Seni Makrame Sederhana

Pada pembelajaran Seni Rupa Kelas V Sekolah Dasar Kurikulum Merdeka terdapat kegiatan Membuat Karya Seni Makrame Sederhana. Tujuan pembelajaran kali ini asalah siswa dapat menemukan karya seni makrame. Siswa dapat menguraikan aneka bahan yang dapat digunakan untuk karya seni makrame. Siswa dapat menganalisis aneka simpul dalam penciptaan karya seni makrame. Siswa dapat memilih simpul untuk proses penciptaan karya seni makrame. Siswa dapat menciptakan karya seni makrame sesuai ide dan kreativitasnyasendiri.

Pada Pembelajaran Unit 4 ini siswa diajak untuk membuat karya seni makrame sederhana dengan bentuk yang disukai sesuai dengan teknik dan fungsinya.

A. Definisi Makrame
Makrame dapat diartikan sebagai bentuk seni kerajinan simpul-menyimpul rantaian benang dari awal sampai akhir suatu hasil karya dengan membuat berbagai simpul pada rantai benang tersebut sehingga terbentuk lembaran atau rumbai. Banyak jenis kerajinan makrame yang sekitar kita misalnya: perlengkapan rumah tangga, topi, sarung tangan, kaos kaki, tas, gesper, gelang, hiasan dinding,dan berbagai benda fungsional lainnya.
Makrame
Menurut Saraswati (1986), makrame berasal dari kata Bahasa Arab Mucharam artinya susunan kisi-kisi, sedangkan kata makrame dari Turki yang berarti rumbai- rumbai atau Migrama yang artinya penyelesaian (penyempurnaan) garapan lap dan selubung muka dengan simpul. Jadi dapat dikatakan bahwa pengertian Makrame yaitu hasil kerajinan kriya tekstil dengan teknik simpul yang menggunakan tali atau benang.

B. Membuat Karya Seni Makrame
Dalam pembelajaran ini, setelah siswa mengenal dan menguasai berebagai jenis simpul pada unit pembelajaran sebelumnya, siswa diminta mempraktikkan membuat karya seni makrame dari berbagai jenis simpul dalam karya seni makrame dengan arahan dari guru dengan kreasinya sendiri, dapat membuat berbagai produk karya seni makrame sesuai kreatifitas dan keinginannya siswa sendiri.

Bahan baku pembuatan makrame umumnya dibuat dari berbagai macam tali. Tali yang digunakan sesuai dengan produk makrame yang akan dibuat, umumnya tali dipilih yang berasal dari bahan yang lembut, kuat dan tidakterlalu elastis. Jenis tali yang dapat digunakan untuk pembuatan makrame antara lain adalah: benang katun mutiara, benang katun, tali linen,dan benang wool. Dalam membuat karya seni makrame tersebut dapat dari bahan-bahan yang tersedia di sekitar mereka untuk menghas ilkan karya seni makrame yang indah.

C. Langkah-Langkah Membuat Karya Seni Gelang Makrame
Sebelum membuat makrame, hal pertama yang perlu disiapkan adalah alat dan bahan yang akan digunakan pada proses pembuatan makrame. Beberapa alat dan bahan yang digunakan antara lain sebagai berikut.

Alat:
Beberapa alat yang digunakan dalam proses pembuatan makrame antara lain sebagai berikut.
  1. Alat potong : Cutter, Gunting, Pisau, alat potong lainnya
  2. Penahan: Pensil, kayu, Ranting pohon, dan lain-lain

Bahan:
Bahan utama dalam pembuatan makrame adalah benang atau tali sisanya adalah bahan penambah seperti manik-manik, gesper, handel, karet gelang, dan lem sesuai dengan barang yang akan dibuat. Berikut ini beberapa bahan yang digunakan untuk membuat makrame.
  1. Benang katun mutiara, benang katun, tali linen, tali cina, tali acrylic, tali jute, tali kulit, tali nylon, dan benang wool.
  2. Bahan alternatif: Tali kasur, Tali ijuk, Tali sabut kelapa, Tali akar, Tali yang tersedia di daerah sekitar.
  3. Manik-manik , biji-bijian, cangkang kerang, cangkang molusca, dan lain-lain untuk hiasan tambahan.

Berikut adalah langkah-langkah pembuatan karya seni makrame untuk membuat gelang tangan dengan kreativitas sendiri, dengan langkah-langkah sebagai berikut :
Membuat Makrame
  1. Potonglah tali sesuai kebutuhan dan lipatlah bagian tali terbagi dua dan sama panjang;
  2. Buatlah simpul kepala dengan pelipatkannya pada kayu, pensil, atau kaitkan dengan paku, lem, isolasi, dan lain-lain;
  3. Buatlah dengan menerapkan simpul ganda seperti pada unit sebelumnya;
  4. Kemudian tali yang berada di tengah dibiarkan bergantung bebas, sementara bagian tali paling kanan diangkat sehingga menindih dua tali yang tergantung bebas dan seterusnya sampai dengan panjang yang diinginkan;
  5. Ikatlah pada bagian akhir simpul denga ikatan mati agar tidak mudah terlepas;
  6. Potonglah sisa tali yang tidak di gunakan agar terlihat lebih rapi;
  7. Cobalah pada tangan untuk mengukur panjang simpulan yang dibutuhkan;
  8. Karya seni makrame gelang tali dengan simpul ganda telah selesai.

Sejalan dengan tujuan dan karakteristik materi pembelajaran maka guru dapat memilih metode atau pembelajaran yang tepat. Salah satu model pembelajaran yang dapat dipilih adalah Visual Auditori dan Kinestetik (VAK). Menurut Shoimin (2014), langkah-langkah yang dilakukan dalam pelaksanaan model pembelajaran Visual Auditori dan Kinestetik (VAK) adalah sebagai berikut: (1) Tahap persiapan (kegiatan pendahuluan), (2) Tahap Penyampaian (kegiatan inti pada eksplorasi), (3) Tahap Pelatihan (kegiatan inti pada elaborasi), dan (4) Tahap penampilan hasil (kegiatan inti pada konfirmasi).

Demikian pembahasan mengenai Membuat Karya Seni Makrame Sederhana. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Sumber : Buku Seni Rupa Kelas V Kurikulum Merdeka, Kemendikbud.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 1:16 PM

Mengenal dan Mengeksplorasi Ikatan dan Simpul

Pada pembelajaran Seni Rupa Kelas V Kurikulum Merdeka terdapat kegiatan Mengenal dan Mengeksplorasi Ikatan dan Simpul. Tujuan kegiatan pembelajaran kali ini adalah siswa dapat menentukan produk karya seni ikatan dan menyimpul. Siswa dapat menganalisis cara pembuatan karya seni ikatan dan menyimpul yang berada di daerah sekitar. Siswa dapat memilih aneka bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan karya seni ikatan dan menyimpul.

Pada Pembelajaran kali ini siswa diajak untuk mengenali berbagai aneka produk dengan ikatan dan menyimpul, jenis-jenisnya serta bahan-bahan untuk membuatnya yang terdapat di daerah setempat. Dalam proses pembelajaran guru dapat memilih pendekatan problem based instruction (PBI) atau model lain yang di pandang cocok untuk pembelajaran merangkai karya seni ikatan dan menyimpul dengan teknik yang sederhana. Untuk mengukur kompetensi dilakukan melalui penilaian perbuatan(performance test) dengan bentuk tes kinerja/tes praktik untuk mengamati hasil kerja siswa dalam pembelajaran merangkai karya seni ikatan dan menyimpul dengan teknik yang sederhana .

A. Mengikat dan Menyimpul Sebagai Karya Seni
Mengikat dan menyimpul sudah lama dikenal di negara indonesia, dimana sejak lama nenek moyang kita sebagian merupakan pelaut yang sangat familiar dengan mengikat dan menyimpul sebuah tali, mengikat dan menyimpul juga telah banyakditemukan dalam kehidupan sehari-hari pada benda- benda di sekitar kita misalnya: perlengkapan rumah tangga, topi, sarung tangan, kaos kaki, tas, dan lain-lain

Mengikat dan menyimpul merupakan sebuah metode dasar dalam mengaplikasikan fungsi sebuah tali, baik itu bertujuan fungsional maupun untuk kepentingan estetis, mengikat dan menyimpul sebuah tali berkembang menjadi sebuah kerajinan tersendiri dan memunculkan banyak hasil karya seni dari teknik ini yang di kenal dengan kerajinan makrame. Tali adalah bahan yang digunakan, simpul adalah hubungan antara tali dengan tali, ikatan adalah hubungan antara tali dengan benda lainnya, misalnya kayu, balok, bambu dan sebagainya.

Menurut Asriyani (2013) makrame adalah salah satu cabang seni rupa yang merupakan teknik tekstil tertua yang dibuat dengan cara menyimpul beberapa tali maupun benang menjadi suatu bentuk berpola dekoratif geometrik. Pada pembuatan makrame siswa akan dikenalkan beberapa simpul dasar.

B. Jenis-Jenis Simpul
Dalam pembuatan karya seni dari teknik mengikat dan menyimpul ada beberapa jenis simpul dasar yang sering digunakan antara lain: simpul kepala, simpul tunggal, simpul ganda dan lain-lain.
Aneka Simpul
  1. Simpul Kepala: merupakan simpul awal yang sering digunakan dalam proses pembuatan karya makrame.
  2. Simpul Tunggal: proses pembuatan simpul tunggal diawali dengan simpul kepala, variasi bentuk dapat diputar ke kiri atau ke kanan sesuai kebutuhan kita. Hasil simpulannya akan tampak seperti tangga, variasi bentuk dapat diputar kekiri atau. ke kanan, sebaiknya lakukan percobaan simpul ini untuk menghasilkan variasi yang menarik. 
  3. Simpul Ganda: proses pembuatan simpul ganda ada kesamaan dengan simpul tunggal. Pada simpul tunggal langkahnya dimulai dari sebelah kiri saja atau dari sebelah kanan saja, sedangkan pada simpul ganda langkahnya dilakukan secara bergantian dari kanan dan kiri atau sebaliknya. Pembuatan simpul ganda bisasanya di awali dengan simpul kepala seperti halnya pada proses pembuatan simpul tunggal.

C. Langkah langkah Pembuatan Simpul
Langkah-langkah membuat simpul ganda dengan menyiapkan dua utas tali yang berbeda warnanya, agar jalinan kedua utas tali itu tampak jelas. Adapun langkah pembuatannya sebagagai berikut:
Simpul Ganda
  1. Potonglah tali sesuai kebutuhan dan lipatlah bagian tali terbagi dua dan sama panjang;
  2. Buatlah simpul kepala dengan pelipatkannya pada kayu, pensil, atau yang lainnya;
  3. Buatlah dua simpul kepala dengan warna yang berbeda agar hasil akhirnya lebih menarik;
  4. Kemudian tali yang berada di tengah dibiarkan bergantung bebas, sementara bagian tali paling kanan diangkat sehingga menindih dua tali yang tergantung bebas;
  5. Angkatlah tali pada bagian kiri sehingga posisinya menindih tali yang dari kanan selanjutnya bawa bagian tali tersebut melewati dua bagian pada bagian belakang.
  6. Selanjutnya tali pada bagian kanan tersebut dimasukan ke bagian depan dan dengan posisi menindih tali pada bagian kanan, selalu lakukan dengan pola yang sama;
  7. Selanjutnya ujung-ujung tali pada masing-masing bagian ditarik untuk mendapatkan simpul yang kuat erat. Untuk menambah simpul agar lebih panjang dilakukan dengan pengulangan seperti di atas.
Setelah siswa mempelajari langkah-langkah pembuatan simpul, siswa dapat membedakannya dari bentuk hasil akhir simpul tersebut. Dalam pembelajaran ini siswa diminta mempraktikkan membuat simpul kepala, tunggal dan ganda dengan arahan dari guru, diharapkan setelah itu siswa mampu mengkreasi membuat simpul tersebut dengan warna yang berbeda dan dari bahan-bahan lainnya yang tersedia di sekitar mereka untuk menghasilkan karya seni menyimpul yang indah.

Alat:
  1. Alat potong: Cutter, Gunting, Pisau, alat potong lainnya.
  2. Penahan: Pensil, kayu, Ranting pohon, dan lain-lain.

Bahan:
  1. Benang katun mutiara, benang katun, tali linen, tali cina, tali akrilik, tali jute, tali kulit, tali nylon, dan benang wool.
  2. Bahan alternatif: Tali Kasur, Tali ljuk, Tali sabut kelapa, Tali akar, Tali yang tersedia di daerah sekitar.
  3. Manik-manik, biji-bijian, cangkang kerang, cangkang molusca, dan lain-lain untuk hiasan tambahan.

Demikian pembahasan mengenai Mengenal dan Mengeksplorasi Ikatan dan Simpul. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Sumber : Buku Seni Rupa Kelas V Kurikulum Merdeka, Kemendikbud.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 8:31 AM

Unsur dan Prinsip Seni Rupa di Sekitar Kita

Seni rupa merupakan salah satu cabang seni yang diungkapkan atau diciptakan menggunakan media rupa visual yang bisa dilihat mata dan dirasakan ketika diraba. Secara mudahnya wujud dari seni rupa adalah sebagai pengantar cabang seni rupa itu sendiri, tidak seperti seni musik atau gerakan tubuh pada seni tari.

Contoh dari seni rupa yang bisa mudah Anda temukan adalah seperti desain pakaian, patung, lukisan, kerajinan tangan dan lain sebagainya. Akan tetapi dalam perkembangannya, seni rupa bukan hanya berhenti pada produk visual saja.

A. Unsur dan Prinsip Seni Rupa di Sekitar Kita
Keindahan suatu objek di sekitar kita tak terlepas dari adanya berupa prinsip-prinsip seni rupa yang mendukung keindahannya, segala bentuk objek yang kita lihat dengan nilai akan muncul karena unsur-unsur yang dikandungnya, siswa dapat menemukan unsur-unsur seni rupa tersebut dengan mengamati unsur titik, garis, bidang, bentuk, ruang, tekstur, warna dan tone (nada gelap terang) yang terdapat dalam objek di lingkungan sekitar sekolah.
  1. Unsur Seni Rupa Titik. Titik merupakan unsur paling kecil dalam suatu karya seni rupa. Titik bisa digunakan untuk menciptakan unsur-unsur lain dengan cara menyusun atau menderet hingga menjadi suatu garis.
  2. Unsur Seni Rupa Garis. Garis merupakan hubungan antar titik yang bisa menghasilkan suatu guratan serba guna. Guratan dari titik tersebut akan bisa membentuk unsur lain seperti bidang maupun bentuk.
  3. Unsur Seni Rupa Bentuk Atau Volume. Bentuk merupakan unsur yang selanjutnya. Bisa dibilang jika bentuk adalah salah satu unsur yang bisa dilihat pada karya seni rupa dua dimensi. Contohnya adalah pada gambar, lukisan, desain grafis dan sebagainya.
  4. Unsur Seni Rupa Bidang. Bidang adalah unsur yang ketiga. Bidang juga merupakan perkembangan dari bentuk. Secara mudahnya bidang merupakan suatu garis yang ujungnya akan saling bertemu hingga membentuk suatu area tertutup.
  5. Unsur Seni Rupa Ruang. Ruang merupakan suatu karya karya dua dimensi yang memiliki sifat semu. Ruang juga masih dibagi menjadi dua yaitu ruang positif dan ruang negatif. 
  6. Unsur Seni Rupa Gelap Terang. Untuk bisa membuat suatu gambar potret yang tampak begitu realistis, bukanlah warna yang akan dibuat benar-benar akurat. Akan tetapi adalah pada bagian gelap dan terang yang akan dibuat akurat pada gambar potret tersebut.
  7. Unsur Seni Rupa Warna. Warna juga merupakan unsur yang paling mencolok pada suatu karya seni rupa. Dalam seni rupa, warna secara estetika terbilang cukup subjektif tergantung dari daya cipta pembuat karya seni.
  8. Unsur Seni Rupa Tekstur. Tekstur adalah salah satu unsur yang berhubungan dengan interaksi manusia. Karya seni rupa tak hanya bisa dirasakan secara visual. Namun suatu karya seni rupa juga bisa dirasakan melalui bentuknya.
  9. Unsur Seni Rupa Nilai. Unsur nilai berkaitan dengan warna. Maksud dari nilai adalah seberapa besar kekuatan warna pada karya seni rupa, dan seberapa berpengaruhnya nilai warna tersebut.

Beberapa prinsip seni rupa akan dijelaskan secara lebih dalam seperti ulasan yang ada di bawah ini.
  1. Prinsip Kesatuan. Agar bisa menciptakan kesatuan dalam seni rupa diperlukan perpaduan hubungan antara semua unsur yang ada di dalam seni rupa itu sendiri.
  2. Prinsip Keseimbangan. Suatu karya yang tidak seimbang bisa membuat orang yang melihatnya akan mendapatkan kondisi perasaan yang tidak nyaman. Maka dari itu keseimbangan dalam seni rupa adalah suatu prinsip yang harus diperhatikan.
  3. Prinsip Irama. Irama dalam suatu karya seni rupa bisa diciptakan dari adanya pengulangan unsur yang dilakukan secara teratur. Prinsip irama bisa terjadi pada suatu karya seni yang dilakukan pengaturan terhadap unsur garis, raut, warna, tekstur dan gelap terang secara berulang-ulang.
  4. Prinsip Penekanan. Dalam seni rupa juga terdapat prinsip penekanan atau emphasis. Prinsip penekanan juga bisa dibilang sebagai point of interest dalam suatu karya seni rupa.
  5. Prinsip Proposisi. Kontras merupakan suatu perbedaan yang begitu mencolok dari dua atau lebih unsur yang berbeda. Sebagai contohnya adalah titik putih dengan objek hitam, lalu bisa juga tekstur kain dengan tekstur logam.
  6. Prinsip Kejelasan. Prinsip kejelasan merupakan suatu prinsip atau taraf kemudahan suatu karya bisa dimengerti. Prinsip kejelasan lebih banyak ditemukan pada desain website, desain produk atau desain interior.

Dalam unit pembelajaran ini siswa diminta untuk mengamati dan menunjukkan salah satu prinsip seni rupa berupa ritme atau irama dalam objek di sekitar sekolah atau luar sekolah, siswa dapat menyimpulkan prinsip dan unsur seni rupa yang terdapat dalam objek di lingkungan sekitar dengan mengidentifikasi bentuk pengulangan satu atau lebih unsur secara terus-menerus dengan teratur atau tidak teratur sehingga membentuk kesan keindahan misalnya: pohon yang berjajar di depan sekolah; lantai keramik yang tersusun rapi; pagar sekolah yang berjajar rapi; dan lain-lain.
Prinsip Ritme
Menurut Malins, (1980:9), Unsur-unsur bentuk (elements of form) juga disebut alat visual (visual device), misalnya garis, bidang, warna, tekstur gelap terang. Cara menggunakan unsur-unsur tersebut menentukan penampilan final suatu karya seni rupa. Cara untuk menyusun unsur-unsur tersebut disebut prinsip-prinsip penyesuaian, misalnya keseimbangan, harmoni_ variasi warna dan kesatuan. Unsur-unsur bentuk dan prinsip-prinsip penyesuaiannya dapat disebut sebagai satu bahasa dasar (basic grammer) dalam seni rupa.

b. Menggambar Objek Visual di Sekitar Kita
Siswa dapat menggambar ulang unsur dalam seni rupa yang terdapat dalam objek di lingkungan sekitar berupa gambar sket objek sekitar sekolah yang menunjukkanbunsur-unsur seni rupa di lembar menggambar yang telah disediakan guru, Semakinvbaik siswa mengenal unsur-unsur visual dalam objek yang dilihat maka akan semakinb baik juga pengamatan seseorang terhadap apresiasi seni yang dilihatnya.

Alat dan bahan:
1) Pensil/Pensil warna/Krayon/Spidol/alat mewarnai yang lain.
2) Alternatif : Arang/Kapur/tumbuhan yang mengandung warna dan lain-lain.
3) Kertas A4/buku gambar (ketebalan dibebaskan).
4) Alternatif : Kardus/papan kayu/media yang tersedia.
5) Siswa dipersilahkan memilih dan mencoba alat bahan yang berbeda.
6) Siswa dipersilahkan menggunakan alat yang tersedia di daerah sekitar.

Demikian pembahasan mengenai Unsur dan Prinsip Seni Rupa di Sekitar Kita. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Sumber : Buku Seni Rupa Kelas V Kurikulum Merdeka, Kemendikbud.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 2:10 PM

Menggambar Prinsip Ritme dalam Seni Rupa

Pada pembelajaran Seni Rupa Kelas V Kurikulum Merdeka Unit 2 terdapat kegiatan Menggambar Prinsip Ritme dalam Seni Rupa. Tujuan kegiatan pembelajaran kali ini adalah siswa dapat menemukan minimal tiga unsur seni rupa yang terdapatdalam objek di lingkungan sekitar. Siswa dapat mendeteksi unsur seni rupa yang terdapat dalam objek yang membentuk ritme tertentu di lingkungan sekitar. Siswa dapat menyimpulkan konsep prinsip ritme dalam seni rupa yang terdapat dalam objek di lingkungan sekitar dengan benar. Siswa dapat menggambar prinsip ritme dalam seni rupa yang terdapat dalam objek di lingkungan sekitar.

Pada Pembelajaran Unit 2 ini siswa diajak untuk menggambar diatas kertasatau media lain yang menunjukkan prinsip ritme seni rupa di dalamnya, siswa dibebaskan untuk rekreasi menggambar apa saja yang disukai. Dalam prosespembelajaran guru dapat memilih pendekatan model pembelajaran Visual, Auditoridan Kinestetik (VAK) atau model lain yang di pandang cocok untuk mengeksplorasiunsur seni rupa dan hubungannya dengan dengan cara mengamati objekdi lingkungan sekitar sekolah. Untuk mengukur kompetensi dilakukan melaluipenilaian tes perbuatan bentuk portofolio dan pengamatan dan hasil menggambarsiswa kedalam kertas (Jurnal Visual/Sketsa) yang telah dikumpulkan/didokumentasikan.

A. Pengertian Prinsip Ritme
Sebuah karya seni yang dihasilkan seorang seniman,desainer atau perancang, pasti terdiri dari unsur-unsur seni rupa yang bersatu menjadi kesatuan utuh sehingga dapat dinikmati secara visual. Salah satu dariprinsip-prinsip tersebut adalah ritme, siswa dapat menentukan prinsip ritme dalam seni rupa dengan memperhatikan susunan yang terdapat dalam sebuah karya seni, dari sinilah sebuah karya seni biasa bernilai estetika tinggi dan sangat indah.

Menurut Rathus (2008:239), ritme dapat dilihat dengan pengelompokan unsur-unsur bentuk yang repetitif seperti garis, bentuk, dan warna. Sedikit perubahan dalam ritme, baik dalam seni musik maupun seni rupa, dapat menambah daya tarik, tetapi perubahan yang besar dapat menyebabkan kesan tidak mengenakkan.

Untuk menganalisis unsur seni rupa yang membentuk ritme tersebut, tidakterlepas dari mengamati cara penyusunan atau pengaturan unsur-unsur rupa dengan karakter yang berbeda dalam sebuah karya seni yang menunjukkan keterpaduan yang saling mangisi sehingga membentuk suatu karya seni yang indah, Menurut Malins (1980:9), dalam menikmati karya seni lukis kepuasan estetik diperoleh dengan mengenali dan memahami kualitas pektorilnya, yaitu ritme, keselarasan, gerak atau pola.

B. Menggambar Prinsip Ritme
Dalam sebuah karya seni rupa, irama atau ritme dapat berupa pengulangan bentuk, warna, atau motif. Pengulangan ini bebas dilakukan sesuai selera sang seniman. Irama perubahan dari besar ke kecil disebut irama progresif, sedangkan dari kecil ke besar disebut irama mengalun. Irama dengan pengulangan bentuk, ukuran, dan warna yang sama disebut irama repetitif.

Dalam pembelajaran ini siswa diminta untuk menerapakan prinsip seni rupa dan dapat menciptakan gambar yang menunjukkan prinsip ritme dalam sebuah karya gambar dengan media kertas, ritme dapat diciptakan dengan pola repetisi dan dapat dibentuk dari pengulangan satu atau lebih unsur secara terus menerus baik teratur atau tidak teratur sehingga membentuk kesan keindahan tersendiri.
Prinsip Ritme
Alat dan bahan:
  1. Pensil/Pensil warna/Krayon/Spidol/alat mewarnai yang lain.
  2. Alternatif : Arang/Kapur/tumbuhan yang mengandung warna dan lain-lain
  3. Kertas A4/buku gambar (ketebalan dibebaskan).
  4. Alternatif : Kardus/papan kayu/media yang tersedia.
  5. Siswa dipersilahkan memilih dan mencoba alat bahan yang erbeda.
  6. Siswa dipersilahkan menggunakan alat yang tersedia di daerah sekitar.

Berikut ini salah satu contoh menggambar dengan prinsip ritme
Gambar Ritme
Irama dalam karya seni dapat timbul jika ada pengulangan yang teratur dari unsur yang digunakan. Irama dapat  terjadi pada karya seni rupa dari adanya pengaturan unsur garis, raut, warna, teksture, gelap-terang secara berulang-ulang. Pengulangan unsur bisa bergantian yang biasa disebut irama alternatif. Irama dengan perubahan ukuran (besar-kecil) disebut irama progresif. Irama gerakan mengalun atau Flowing dapat dilakukan secara kontinyu (dari kecil ke besar) atau sebaliknya. Irama repetitif adalah pengulangan bentuk, ukuran, dan  warna yang sama (monotun).

Demikian pembahasan mengenai Menggambar Prinsip Ritme dalam Seni Rupa. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Sumber : Buku Seni Rupa Kelas V Kurikulum Merdeka, Kemendikbud.

Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 9:24 AM

Komik Sederhana Tentang Sahabat dan Keluarga

Komik merupakan karya seni rupa yang menggunakan gambar dan tulisan sebagai dua unsur yang disatukan. Biasanya, gambar dalam komik berupa para tokoh cerita, sedang tulisannya berupa bercakapan para tokoh yang ditaruh dalam kolom balon dan latar cerita dalam kolom persegi. Jalan cerita dalam komik disatukan dari gambar ke gambar hingga bisa menjadi cerita panjang yang bersambung.

Pengertian komik yang sudah umum tersebut bukan aturan yang harus ditaati sedemikian rupa, melainkan hanya sebagai acuan untuk membuat komik yang lebih inovatif, segar dan menarik. Misalnya, komik tanpa kolom percakapan ketika cukup dengan berupa gambar cerita atau gagasan yang hendak disampaikan dapat dipahami pembaca. Tokoh-tokohnya pun tidak harus berupa manusia tetapi bisa berupa binatang, pohon, atau percakapan antar sepasang sepatu yang biasa kita kenakan! Bahkan kita bisa membuat komik berisi pelajaran di sekolah agar lebih menarik dan mudah dipelajari.

Indonesia memiliki banyak komik legendaris dengan cerita dan gaya lukisan yang beragam dan digemari pembaca. Ceritanya mulai leganda, dongeng, kisah kerajaan, humor dan bahkan orang . Misalnya, Ganes TH yang terkenal dengan serial Si Buta dari Gua Hantu, Hasmi dengan Gundala Putra Petir, Jan Mintarga dengan serial Api di Bukit Menoreh, Raden Ahmad (RA) Kosasih dengan serial Mahabarata dan Ramayana, Tatang S dengan komik humor serial Petruk. 

Di masa kini, Indonesia memiliki beberapa komikus yang tak kalah menarik dan disukai para pembaca. Misalnya serial Benny & Mice, Si Juki dan Garudayana. Seorang seniman Indoesia, Samuel Indratma (salah satu penulis buku ini) bersama beberapa temannya membuat sanggar komik bernama Apotik Komik yang ditujukan untuk mengembangkan komik sedemikian rupa, termasuk membuat komik di dinding-dinding kota Yogyakarta sehingga kota tersebut penuh dengan cerita dalam bentuk gambar atau umum disebut mural. Selain di kota Yogyakarta, Samuel juga diundang beberapa negara untuk berpameran dan membuat komik di dinding. Dengan komik, kita bisa keliling dunia gratis.

Pada unit pembelajaran ini, guru dapat memberi tugas eksperimen membuat komik sederhana. Meski sederhana, para siswa dapat memilih jenisjenisnya sebagai berikut disertai dengan langkah-langkah pembuatannya.

a. Komik Konvensional
  1. Guru menyampaikan materi tentang komik disertai contoh
  2. Menyiapkan bahan berupa kertas, pensil, pena, spidol dan pewarna lainnya
  3. Membangun ide dan mengembangkan menjadi adegan-adegan cerita
  4. Membagi ke dalam beberpa kolom gambar
  5. Membuat sketsa
  6. Mewarnai agar menarik
  7. Mempertegas bagian yang dianggap penting 
Komik
b. Komik Kolase
Membuat komik bisa juga bisa dilakukan dengan teknik kolase (memotong/menggunting beberapa foto/gambar figur/objek dari majalah/koran/buku, selanjutnya ditempel pada kertas polos dan dirangkai dalam sebuah cerita sesuai kemampuan siswa). Siswa juga bisa menambahkan balon kata dari masing-masing figur foto yang ditempelkan, sebagai ruang percakapan atau aktivitas para tokoh dalam komik tersebut.
Komik Kolase
Komik kolase adalah alat menyampaikan suatu ide atau gagasan berupa buku yang berisi suatu cerita bergambar untuk dibaca. Komik kolase tidak jauh berbeda dari pengembangan-pengembangan teknik kolase sebelumnya. Hanya penekanannya adalah pada kekuatan komikalnya.

Dalam menyampaikan materi unit pembelajaran ini, guru dapat memilih model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi sekolah, lingkungan sekitar dan kemampuan siswa. Model pembelajaran berbasis penemuan (discovery learning) dapat dipilih sebagai alternatif. Model ini menekankan penyatuan (sintesa) pengetahuan lama dan baru, menempatkan siswa sebagai subjek utama dalam pembelajaran, menekankan aspek penjelajahan dan kreativitas.

Berdasarkan hal tersebut, materi pelajaran ini dapat ditambah dari banyak sumber, terutama karya komikus Indonesia. Dalam proses berkarya, guru dapat memberikan pengarahan dan pendampingan serta membuat apresiasi dan evaluasi pada akhir pelajaran.

Demikian pembahasan mengenai Komik Sederhana Tentang Sahabat dan  Keluarga. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Sumber : Buku Seni Rupa Kelas IV Kurikulum Merdeka, Kemendikbud
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 6:37 PM

Membuat Stempel dari Kentang dan Ketela

Kita sering melihat pembuat stempel di pinggir jalan dengan toko kecilnya yang sederhana. Biasanya, stempel digunakan sebagai tanda legalitas dari sebuah lembaga atau instansi untuk memperkuat tanda tangan yang dibubuhkan pada surat atau dokumen. Dalam pelajaran seni rupa, stempel akan menjadi topik dengan bentuk dan fungsi yang berbeda, yaitu sebagai bagian dari seni cetak atau lebih dikenal sebagai seni grafis.

Mari berimajinasi. Pertama, bentuk stempel bundar atau segi empat bisa diubah ke dalam bentuk-bentuk lain sesuai ide kita. Kedua, isi stempel yang biasanya berupa tulisan diganti dengan aneka flora dan fauna yang kita kenal (terutama yang merupakan kekayaan hayati dan hewani di sekitar kita.) Ketiga, tinta stempel yang biasa berbentuk biru dan merah kita ubah dengan warnawarna lain atau campuran sehingga menjadi beragam. Keempat, alat stempel yang biasanya terbuat dari karet dan kayu diganti dengan kentang dan ketela.

Seni cetak grafis
Seni grafis adalah seni dua dimensi yang diciptakan melalui teknik cetak. Misalnya cetak sablon (silkscreen), cetak tinggi (seperti stempel), cetak datar (lithography), dsb. Singkatnya, seni grafis adalah membuat cetakan yang dapat digunakan untuk mentransfer gambar atau tulisan dari cetakan ke media karya (misalnya di atas kertas).

Secara etimologi grafis berasal dari bahasa Yunani, yaitu “graphein” yang berarti menulis atau menggambar (Susanto, 2002: 47). Grafis dalam bahasa inggris adalah graph atau graphic yang berarti membuat tulisan, lukisan dengan cara ditoreh atau digores. Kata “grafis” mungkin terdengar seperti istilah “gambar” pada desain grafis, namun “grafis” yang dimaksud disini adalah seni mencetak 
manual tanpa mesin cetak.

Sejarah seni grafis
Terdapat dua pendapat mengenai berawalnya seni ini di dunia. Pertama, merunut pada penemuan seni cetak grafis tertua yang ditemukan di timur dunia, tepatnya negeri Tiongkok. Di negara tersebut seni grafis digunakan untuk menggandakan tulisan-tulisan yang beraroma religius.

Naskah-naskah keagamaan tersebut ditatah atau diukir di atas bidang kayu, kemudian di cetak di atas kertas. Cina telah menemukan kertas dan memproduksinya secara massal sejak tahun 105 di bawah kekuasaan Dinasti Yi. Penemuan kertas adalah kunci dari pesatnya perkembangan seni ini.

Karya-karya seni grafis dengan media cukilan kayu juga banyak ditemukan di negara-negara timur lainseperti Jepang dan Korea. Bangsa romawi juga telah mengenal teknik ini yang digunakan untuk menghias jubah-jubah dengan cetak stempel, namun perkembangannya terhitung stagnan.

Teknik cetak grafis kurang berkembang di Barat karena bangsa Eropa pada masa itu belum mengenal kertas. Teknik grafis baru berkembang di Eropa pada abad ke-13, dengan ditemukannya mesin cetak oleh Guttenberg dan didirikannya pabrik kertas pertama di Italia.

Pendapat lain mengatakan, seni grafis telah muncul dari sejak zaman purba dengan ditemukannya cap tangan di gua-gua prasejarah, termasuk di Sulawesi. Meskipun belum menggunakan teknik cetak muktahir, namun esensi seni grafis tetap ada, yaitu mentransfer gambar dari cetakan yang berupa tangan pada dinding gua.

Alat dan Bahan
  1. Kentang
  2. Ketela
  3. Jarum
  4. Cutter
  5. Paku
  6. Kertas
  7. Cat air/tinta
  8. Kuas

Cara Membuat
Stempel
  1. Siapkan umbi yang diperlukan, kentang dan ketela.
  2. Kentang dan ketela dikupas dan dipotong rata pada sebuah sisi
  3. Buat sketsa dengan pisau cutter, paku atau jarum
  4. Lubangi dengan cara dicukil bagian yang tudak terkena tinta
  5. Taruh tinta atau cat pada bidang yang rata
  6. Tempelkan stempel kentang atau ketela pada tinta, tekan
  7. Tempelkan tinta pada kertas terang untuki melihat hasilnya
  8. Buat berkali-kali hingga membentuk sebuah pola

Demikian pembahasan mengenai Membuat Stempel dari Kentang dan  Ketela. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Sumber : Buku Seni Rupa Kelas IV Kurikulum Merdeka, Kemendikbud
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 11:42 AM

Seni Dekoratif Menggambar Taplak Meja dan Teralis

Pada pembelajaran Seni Rupa Kelas IV Sekolah dasar Kurikulum Merdeka terdapat pembelajaran mengenai Seni Dekoratif Menggambar Taplak Meja dan TeralisTujuan pembelajaran pada ali ini adalah peserta didik mengenal ragam hias dekoratif budaya Nusantara, mengetahui jenis-jenis ragam dekoratif Nusantara, dapat membuat ragam hias dekoratif secara sederhana, dan dapat lebih mencintai tradisi lokal khas Indonesia.

Mengingat Indonesia adalah negara tropis yang subur, kebanyakan motif berupa flora/tumbuhan. Melalui materi seni dekoratif, para siswa akan diajak mengenal keindahan cita rasa seni dari daerah masing-masing. Kita bisa mengetahuinya dengan bertanya pada ibu kita tentang kain adat, rumah tradisional atau ukiran meubel. Dari ibu kita, kita akan mengetahui dari mana kain itu berasal, apa arti hiasannya serta bagaimana karya tersebut dibuat.

Seni dekoratif berasal dari kata dekoratif yang berati menggambar dengan tujuan mengolah suatu permukaan benda menjadi lebih indah. Gambar dekoratif juga dapat diartikan sebagai gambar hiasan yang dalam perwujudannya tampak rata, tidak ada kesan ruang jarak jauh dekat atau gelap terang tidak terlalu ditonjolkan.

Secara umum, seni dekoratif memiliki arti sebagai kemampuan dalam membuat tampilan suatu objek menjadi cantik dan indah. Keterampilan ini dapat dilakukan pada objek ruangan, bangunan, dinding, dan lain sebagainya dengan cara melukis, ataupun mengukir benda-benda seperti kayu, batu, logam, tekstil, dll.

B. Ciri-Ciri Seni Dekoratif
Seni dekoratif merupakan salah satu jenis seni rupa yang memiliki kaitan dengan desain serta dekorasi suatu benda. Seni dekoratif ini dapat disebut juga sebagai seni ornamen yang dapat diartikan sebagai suatu dekorasi yang digunakan untuk memperindah dari sebuah bangunan, tembok atau objek-objek tertentu. Seni ini memiliki beberapa ciri yang membedakan dengan jenis seni lainnya.

Seni dekoratif memiliki sifat kegarisan, berpola dan beritme, warna yang rata dan sempurna dengan tujuan untuk memperbarui kembali dan menarik mata yang melihat, dan dibuat untuk tujuan dasar menghias, mempercantik dan memperindah suatu objek mempercantik dan memperindah suatu objek seperti ruangan, bangunan atau objek-objek lainnya.

Seni dekoratif menjadikan manusia lebih kreatif lagi untuk membuat tampilan suatu objek menjadi enak dan nyaman dipandang mata. Seni dekoratif juga menambah wawasan dan ilmu pengetahuan mengenai cara-cara untuk mendekorasi suatu ruangan, bangunan atau objek-objek lainnya.

Seni dekoratif membantu menyampaikan pesan ataupun memudahkan orang-orang untuk dapat mencerna suatu objek yang telah dibuat. Meningkatkan nilai jual suatu objek karena tampilannya yang lebih menarik daripada sebelumnya.

C. Jenis Seni Dekoratif
Berbagai gaya seni dekoratif dan motif telah dikembangkan untuk lukisan, mural, reliefpatung, arsitektur dan seni terapan, termasuk tembikar, mebel, keramik, logam, tekstil, kertas, dinding dan benda-benda lain. Apa saja jenis seni dekoratif?

1. Seni Dekoratif Figuratif
Seni dekoratif figuratif merupakan jenis seni menghias yang meniru bentuk-bentuk atau figur dari alam. Bentuk- bentuk ini dapat berupa manusia dengan ragam jenis dan kegiatannya, binatang dengan berbagai wujudnya, tumbuhan atau tanaman, atau pemandangan - pemandangan alam seperti laut, gunung, bukit, dan lain sebagainya.

Pada seni dekoratif terdapat pula jenis hiasan yang menggambarkan tentang realita kehidupan sehari-hari. Namun meski penggambarannya menyerupai bentuk alam serta kehidupan yang nyata, tidak serta merta menjadikan dekorasi figuratif ini meniru secara persis realitas tersebut.

Seni dekoratif figuratif memiliki ciri khas menggambarkan suatu figur atau bentuk-bentuk di alam yang kita kenali. Misalnya pemandangan, hewan, kota, pasar dan lukisan kehidupan sehari-hari. Dalam penciptaan ragam hias ini dilakukan deportasi terhadap bentuk-bentuk asli dengan cara penyederhanaan dari motif aslinya, menstilir atau menggayakan, dan menggabungkan dengan bentuk lain sehingga menjadi motif baru

2. Seni Dekoratif Geometris
Seni dekoratif geometris. Jenis ini lebih cenderung tidak terikat pada bentuk-bentuk alam dan realita yang nyata melainkan pada bidang-bidang geometris yang dilipatgandakan hingga membentuk motif dan pola.
 
Seni dekoratif geometris adalah karya-karya seni rupa yang bebas dari peniruan alam, perwujudannya merupakan susunan motif, bentuk, atau pola tertentu ditata sedemikian rupa. Seni rupa ini mempunyai ciri khas menggambarkan suatu figur atau bentuk-bentuk di alam yang kita kenali.

Macam-macam seni dekoratif geometris adalah:pemandangan, hewan, perkotaan. pasar dan sebagainyaDalam lukisan geometris memiliki kecenderungan rasional dan terikat dengan pola, motif dan bentuk dan teknik pelukisan dan menuntut ketrampilan dan kesabaran dalam kreasinya.

Indonesia memiliki banyak sekali seni dekoratif dengan motif yang sangat kaya. Setiap daerah memiliki ragam hias dengan motif yang beragam pada benda- benda hasil karya seperti ukiran, hiasan pada bangunan, gerabah, mebel, hiasan pada kain dan taplak
 
Seni dekoratif di Indonesia memiliki nilai sejarah dan makna budaya yang sangat kaya. Motif yang banyak dipakai dalam seni dekoratif di Indonesia adalah motif flora atau tumbuhan 
Taplak Meja
Gambar dekoratif merupakan gambar dengan corak dekor atau hias. Corak dari gambar dekoratif biasanya menggayakan objek sehingga tidak mirip dengan aslinya. Corak gambar dekoratif dapat berupa tumbuhan, hewan, dan manusia
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 1:10 PM

Seni Rupa Kelas IV Membuat Bendera Hias

Pada pembelajaran Seni Rupa Kelas IV Kurikulum Merdeka terdapat kegiatan pembelajaran Membuat Bendera Hias. Tujuan pembelajaran kali ini adalah siswa dapat mengidentifikasi dan mengklasifikasi bendera berdasarkan  bentuk dan fungsinya. Siswa dapat membangun ide dan rancangan sebuah bendera hias. Siswa dapat membuat bendera sebagai gambaran dari suatu hal (jati diri, cita-cita atau suasana hati). Siswa dapat menjelaskan tentang bendera hias ciptaannya

Materi pembelajaran unit 4 berupa membuat bendera hias dapat diajarkan dengan model pembelajaran berbasis penemuan (discovery learning) yang menekankan penjelajahan gagasan, imajinasi dan eksperimen. Model pembelajaran ini dilakukan dengan menyatukan berbagai unsur pengetahuan (misalnya, seni rupa dengan wawasan budaya mengenai identitas seseorang atau kelompok sosial) yang dimiliki siswa melalui pengalaman, penjelasan guru serta sumber lainnya.

Di samping itu, model pembelajaran ini menempatkan siswa sebagai subjek utama dalam pembelajaran dengan berperan aktif. Selama proses pembelajaran, guru menyampaikan pokok-pokok materi yang telah disediakan, menambah pengetahuan dari berbagai sumber serta menyampaikannya secara inspiratif. Pada akhir pembelajaran, para siswa akan membuat sebuah karya yang diapresiasi bersama-sama serta dievaluasi dan dinilai oleh guru.

Bendera merupakan produk seni rupa yang mengandung unsur desain (rancangan), warna, komposisi. Selain unsur seni rupa juga mengandung unsur budaya yaitu sebagai lambang identitas suatu negara atau kelompok, gambaran dari sebuah gagasan dan perasaan pembuatnya. 

Pada unit pembelajaran kali ini, guru menjelaskan secara inspiratif mengenai bendera secara umum, memperhatikan berbagai jenis, fungsi dan bentuk-bentuknya. Setelah mengetahui gambaran bendera secara umum, guru membuka imajinasi para siswa mengenai bendera hias buatannya sendiri. Bendera tersebut dibuat untuk menggambarkan suatu hal dan dihias sedemikian rupa. Misalnya,benderanya berupa huruf-huruf yang membentuk kalimat atau nama dengan diberi hiasan yang mewakili gagasan dan perasaan siswa. Bentuknya pun bisa segi empat, segitiga, bulat, bahkan bisa berbentuk figuratif misal binatang dan manusia. 

Adapun unsur seni rupa yang diperkenalkan adalah komposisi, warna, rancangan dan ragam hias dekoratif. 
  1. Rancangan atau desain (design) adalah perencanaan dalam sebelum objek dibuat agar memiliki fungsi, keindahan dan manfaat bagi manusia.
  2. Komposisi adalah penempatan, tata letak atau pengorganisian berbagai objek visual agar tampil menarik dengan adanya keteraturan, keseimbangan, ritme dan pusat perhatian (focus of interest) dalam sebuah karya seni.
  3. Warna dalam seni rupa adalah pantulan cahaya yang dipengaruhi oleh pigmen yang terdapat di permukaan benda. Singkatnya, warna adalah pigmen dari sebuah benda. Dalam seni rupa terdapat warna primer yang tidak merupakan campuran dari warna-warna lain merah, biru, dan kuning. Warna primer bisa juga disebut sebagai warna pokok, warna dasar ataupun warna pertama. Kemudian warna sekunder sebagai hasil pencampuran warna-warna primer dengan. Warna sekunder sering disebut sebagai warna kedua. Terakhir adalah warna tersier sebagai campuran salah satu warna primer dengan salah satu warna sekunder. Misalnya warna jingga kekuningan didapat dari pencampuran warna kuning dan jingga. Unsur seni rupa berikutnya adalah ragam hias dekoratif, yaitu hiasan yang berpola seperti batik, relief atau teralis.
  4. Ragam Hias Dekoratif merupakan ragam hias buatan manusia dan biasanya merupakan penggabungan dari beberapa inspirasi ragam hias pada kelompok yang ada sebelumnya yang dimodifikasi sehingga menjadi sebuah bentuk ragam hias yang baru dan memiliki nilai estetika tersendiri.

Alat dan Bahan
  1. Kertas Origami berwarna merah
  2. Gunting
  3. Lem
  4. Benang jahit

Langkah Langkah
Bendera Hias
  1. Posisikan bagian kertas origami berwarna merah di depan, dan lipat kedua sisi bawah kertas ke belakang hingga sudut bawah membentuk segitiga.
  2. Rekatkan lipatan kedua sisi tersebut dengan menggunakan lem.
  3. Kemudian lipat sisi berwarna putih ke belakang hingga semua bagian origami berwarna merah. 
  4. Masukkan benang jahit ke dalam lipatan tersebut dan rekatkan menggunakan lem.
  5. Satu bendera berwarna merah sudah jadi, deh!
  6. Lakukan hal yang sama pada bagian kertas origami berwarna putih sehingga bendera yang tertempel di benang adalah bendera berwarna merah dan putih secara selang-seling.
  7. Buatlah bendera tersebut beberapa kali sesuai dengan kebutuhanmu menghias rumahmu

Demikian pembahasan mengenai Membuat Bendera Hias. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Sumber : Buku Seni Rupa Kelas IV Kurikulum Merdeka, Kemendikbud
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 3:31 PM

Bereksperimen Dengan Tekstur

Pada pembelajaran Seni Rupa Kelas IV Sekolah Dasar Kurikulum Merdeka terdapat pemahasan mengenai Bereksperimen Dengan Tekstur. Tujuan pembelajaran kegiatan ini adalah siswa dapat memahami pengertian dan jenis-jenis tekstur. Siswa dapat mengetahui bahan-bahan alami untuk membuat tekstur. Siswa dapat mengetahui teknik pembuatan tekstur. Siswa dapat merancang sebuah tekstur berdasarkan ide, pengetahuan, bahan dan teknik yang dipelajari. Siswa dapat membuat tekstur sesuai rancangan yang dibuat 

a. Tekstur dan jenis-jenisnya
Tekstur merupakan permukaan setiap benda yang dapat diketahui coraknya dengan cara diraba. Pensil dan buku yang kita pegang, kursi yang kita duduki, wajah kita sendiri, permukaan tanah yang sering kita lewati, masing-masing memiliki teksturnya sendiri. Ada tesktur kasar, halus, bergelombang dan lain sebagainya.

Testur bisa dihasilkan dengan bermacam cara dan bahan. Misalnya dengan semen, kayu, pasir, bubuk bata merah, pasir, gergaji, tanah dan banyak lagi lainnya. Agar bisa lekat, biasanya unsur-unsur alam yang bertekstur tersebut dicampur dengan lem kayu, lantas ditaruh pada kanvas, kertas atau bidang tertentu sesuai keinginan dan kebutuhan kita.

Selain membuat tekstur nyata (dapat diraba) kita juga bisa membuat tesktur maya/semu (terkesan bertekstur namun aslinya tidak), misalnya menggambar batu atau pohon hingga terkesan bergelombang dan berserat. Biasanya, tekstur maya/semu digunakan untuk membuat model/rancangan sebelum kita membuat tekstur nyata.

Dalam sejarah seni rupa Indonesia terdapat beberapa seniman yang sering menggunakan tekstur. Misalnya, pelukis Affandi membuat tekstur dengan menggunakan cat yang tebal, pelukis Ahmad Sadali dan AD Pirous menggunakan bubuk marmer dan pelukis Fadjar Sidik menggunakan tekstur semu berupa bidang-bidang geomertis. Di beberapa daerah juga terdapat pelukis yang membuat tekstur dari daun dan bulu.

b. Teknik dan bahan pembuatan tekstur
Dalam membuat tekstur terdapat beberapa teknik yang telah dikenal dan dapat diimplementasikan dalam pembelajaran:
  1. Tekstur dengan teknik frottage (meletakkan kertas di atas permukaan benda bertekstur, lalu kertas ditekan dan diarsir dengan pensil atau pastel).
  2. Tekstur teknik grattage (menguaskan cat minyak warna gelap pada papan hingga kering lalu ditimpa warna terang selanjutnya digores-gores menggunakan benda runcing, seperti paku, sendok garpu, sisir)
  3. Tekstur teknik tempel (kertas ditempelkan dengan lem secara merata di atas permukaan benda bertekstur kasar. 
  4. Membuat tekstur nyata dari lempengan tanah liat dengan cara dipukul-pukul/ditekan menggunakan batu bertekstur, digores dengan sisir, parut dan lain sebagainya.
  5. Membuat tekstur dari bubuk batu bata atau bubuk kayu lalu ditaburkan di atas papan/triplek yang telah diberi lem.
  6. Membuat tekstur semu dengan teknik ebru/swirling (cat minyak sejumlah 2 atau 3 warna di tuang dalam ember/nampan lalu dicampur dengan minyak dan air kemudian diaduk pelan agar warna-warna tesebut membentuk tekstur semu. Selanjutnya kertas putih dicelupkan pada larutan cat dalam ember tersebut lalu diangkat. Cat yang menempel pada kertas akan membentuk tekstur semu.
Contoh Tekstur
c. Manfaat membuat tekstur
Dengan pengolahan tekstur yang baik, maka tata ruang luarnya akan menghasilkan kesan dan kualitas ruang yang lebih menarik. Berikut ini beberapa manfaat membuat tekstur
  1. Tekstur dapat mempertegas dan memperkuat gambar/lukisan yang dibuat
  2. Tekstur menyatukan untur lukisan dan kriya/kerajinan dalam sebuah karya
  3. Tekstur membuat kita bereksperimen dengan berbagai bahan alami di sekitar kita dan mengubahnya menjadi karya seni
  4. Membuat tekstur melatih indera peraba dan penglihatan kita secara lebih seksama

Demikian pembahasan mengenai Bereksperimen Dengan Tekstur. Semoga tulisan ini bermanfaat,

Sumber : Buku Seni Rupa Kelas IV Kurikulum Merdeka
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 8:45 AM

Kerajinan Bunga dari Plastik Bekas

Pada pembelajaran seni rupa kelas IV sekolah dasar Kurikulum Merdeka terdapat kegiatan Daur Ulang Kerajinan dari Plastik Bekas. Tujuan pembelajaran kali ini adalah siswa dapat menganalisis masalah sampah plastik dalam kelestarian lingkungan sekitar. Siswa dapat memilih dua bahan dari sampah plastik untuk dimanfaatkan dalam pembuatan seni kriya. Siswa dapat merancang seni kriya berdasarkan bahan sampah plastik yang telah dimilikinya. Siswa dapat membuat satu karya seni kerajinan dengan memanfaatkan sampah plastik.

Pada pembelajaran ini siswa akan memahami masalah lingkungan terutama masalah limbah plastik di sekitar lingkungan sekolah atau luar sekolah. Dalam proses pembelajaran, guru dapat memilih model pembelajaran berbasis proyek secara berkelompok atau model lain yang dipandang cocok untuk mengeksplorasi limbah plastik dan pemenfaatannya sebagai bahan untuk pembeuatan seni kriya. Untuk mengukur kompetensi dilakukan melalui penilaian tes tertulis dan uji kinerja membuat karya daur ulang limbah plastik menjadi seni kriya.

Sampah plastik terus bertambah setiap hari hingga lingkungan kita dipenuhi oleh sampah jenis ini. Salah satu masalah dari sampah plastik adalah ia tidak bisa dilenyapkan atau dipunahkan sehingga jumlahnya terus bertambah seiring dengan benda-benda dari plastik yang terus diproduksi. Jalan keluar yang mungkin dilakukan adalah mendaur ulang sampah plastik atau mengolahkan menjadi benda yang berguna seperti vas bunga, wadah alat-alat tulis, akuarium atau hiasan. 

Keberadaan bahan limbah plastik yang dapat digunakan untuk membuat karya seni kriya yang dapat diperoleh dari lingkungan sekitar kita. Beberapa contoh bahan limbah plastik, di antaranya: sedotan minuman, plastik bekas botol air kemasan dan lain sebagainya.

Sebelum membuat karya kriya dari bahan limbah plastik, para siswa di bawah bimbingan guru merancang sebuah karya kriya melalui pemanfaatan plastik. Sebagai contoh, guru dan siswa bisa membuat rancangan bunga plastik dati sedotan minuman dengan Langkah-langkah:
  1. Mengumpulkan bahan sedotan plastik
  2. Membersihkan bahan sedotan plastik agar aman
  3. Menggambar model bunga plastik
  4. Memotong bahan sedotan plastik sesuai rancangan gambar
  5. Menyusun potongan bahan plastik sesuai rancangan 
  6. Mengkomposisikan bahan dengan memilih ukuran dan warna yang diiinginkan
  7. Finishing karya

Para siswa secara mandiri membuat seni kriya berupa bunga plastik yang berfungsi sebagai hiasan di ruangan. Teknik yang digunakan dengan cara memotong, mengikat, menempel dan mengkomposisikannya sehingga membentuk bunga dan rumpun bunga. Alat dan bahan yang digunakan, di antaranya: 
  1. 4 buah sedotan warna kuning (mahkota), 2 buah sedotan warna ungu (putik), 2 sedotan warna hijau (tangkai dan daun)
  2. Gunting
  3. Jarum dan benang
  4. Lem tembak

Langkah pembuatan:
Bunga Plastik
  1. Potong sedotan warna kuning menjadi 3 bagian, sehingga ada 12 potong sedotan warna kuning.
  2. Potong sedotang warna ungu menjadi 6 bagian, sehingga ada 8 potong sedotan warna ungu.
  3. Satukan potongan sedotan warna kuning menggunakan benang dan jarum tepat pada bagian tengah sedotan kemudian ikat dengan kuat. Bentuklan sedotatan yang sudah diikat agar melingkar menyerupai mahkota bunga. Berhati-hatilah saat memasukan jarum ke dalam sedotan
  4. Potong bagian ujung sedotan agar runcing.
  5. Lakukan hal yang sama pada potongan sedotan yang berwarna ungu.
  6. Satukan lingkaran sedotan kuning dan sedotan ungu menggunakan lem tembak. Posisi sedotan ungu berada di atas sedotan kuning.
  7. Ambil sedotan berwarna hijau dan potong sepanjang 5 cm sebanyak 2 buah.
  8. Bentuk potongan sedotan hijau membentuk daun lalu lemaskan menggunakan ujung gunting atau alat lainnya.
  9. Tempelkan potongan sedotan hijau pada sedotan hijau yang satunya sehingga terbentuk tangkai dan daun.
  10. Terakhir tempelkan mahlota dan putik bunga pada tangkai bunga menggunakan lem tembak.

Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran ini guru dapat menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan tujuan dan materi pembelajaran serta perkembangan siswa. Sejalan dengan tujuan, materi dan karakteristik siswa maka guru dapat memilih model atau metode yang relevan. Salah satu model pembelajaran yang dapat dipilih adalah Model Pembelajaran Berbasis Proyek.

Menurut Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Guruan dan Kebudayaan (2020: 39), Project-based Learning merupakan model pembelajaran yang melibatkan keaktifan siswa dalam memecahkan masalah. Dilakukan secara berkelompok/mandiri melalui tahapan ilmiah dengan batasan waktu tertentu yang dituangkan dalam sebuah produk untuk selanjutnya dipresentasikan kepada orang lain. 

Demikian pembahasan mengenai Kerajinan Bunga dari Plastik Bekas. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Sumber : Buku Seni Rupa Kelas IV Kurikulum Merdeka, Kemendikbud
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 10:25 AM