Penyebab dan Bentuk Keragaman Budaya

Keragaman adalah suatu kondisi pada kehidupan masyarakat. Keragaman yang ada di Indonesia adalah kekayaan dan keindahan bangsa. Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang majemuk. Hal tersebut tercermin pada semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Semboyan Bhinneka tunggal ika sering kita temukan pada lambang negara kita, Burung Garuda Pancasila. Semboyan tersebut tertulis dalam seuntai pita yang digenggam oleh dua kaki burung garuda sebagai lambang Negara Republik Indonesia.

Semboyan Bhinneka tunggal ika berasal dari bahasa Sansakerta. Semboyan ini diambil dari sebuah kalimat yang terdapat dalam buku Sutasoma karya Mpu Tantular pada zaman kerajaan Majapahit. Kalimat tersebut sebenarnya tidak hanya terdiri dari tiga kata, tetapi lebih panjang. Kalimat lengkapnya adalah Bhinneka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa yang artinya adalah meskipun kita berbeda-beda, kita tetap satu jua, tidak ada hukum yang mendua.

Kalimat tersebut menggambarkan keadaan masyarakat kerajaan Majapahit yang beranekaragam. Keanekaragaman mereka terutama dalam hal agama yang dipeluknya. Mereka ada yang memeluk agama Syiwa, Budha dan kepercayaan yang telah ada sebelumnya. Mereka hidup rukun berdampingan secara damai. Adapun hukum yang berlaku bagi seluruh masyarakat dan negara adalah satu, yaitu hukum Negara Majapahit.

Salah satu alasan mengapa kita menjadikan Bhinneka tunggal ika sebagai semboyan negara adalah bahwa keadaan bangsa Indonesia mirip dengan keadaan masyarakat Kerajaan Majapahit tempo dulu. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang beranekaragam. Keanekaragaman bangsa Indonesia meliputi banyak hal diantaranya agama, suku bangsa, budaya daerah dan sebagainya.

Keanekaragaman suku bangsa, budaya dan agama tidak boleh menimbulkan perpecahan di antara warga. Keanekaragaman itu justru harus membuat kita bersatu sebagai bangsa yang kuat dan disegani oleh negara lainnya.

1. Penyebab Keragaman Masyarakat
Lima penyebab keberagaman masyarakat Indonesia adalah letak strategis wilayah Indonesia, kondisi negara yang berbentuk kepulauan, perbedaan kondisi alam, penerimaan masyarakat terhadap perubahan, serta keadaan transportasi dan komunikasi.
  • Letak strategis wilayah Indonesia. Indonesia terletak di antara dua samudra, yakni Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, serta dua benua, yaitu Benua Asia dan Australia. Indonesia menjadi salah satu jalur perdagangan lintas negara. Para pedagang tersebut akan berinteraksi dengan masyarakat lokal, termasuk mempelajari bahasa dan budayanya.
  • Kondisi negara yang berbentuk kepulauan. Indonesia terdiri atas beribu-ribu pulau yang secara fisik terpisahkan oleh lautan. Kondisi ini menimbulkan lahirnya banyak kebudayaan baru. Karena setiap wilayah Indonesia memiliki budaya, suku, ras, dan bahasanya masing-masing.
  • Perbedaan kondisi alam. Perbedaan kondisi alam mengakibatkan timbulnya perbedaan di masyarakat. Kondisi alam ini juga memengaruhi kekayaan alam dan budaya masyarakat di daerah tersebut. Misalnya pegunungan dikenal kaya akan sumber daya pohonnya, sementara pantai sangat kaya akan sumber daya lautnya.
  • Penerimaan masyarakat terhadap perubahan. Tiap individu dan masyarakat punya sikap yang berbeda dalam menerima dan menanggapi perubahan yang terjadi. Ada masyarakat yang mau menerima perubahan, seperti masyarakat perkotaan. Namun, ada pula yang enggan, karena berupaya mempertahankan kekayaan serta kelestarian budayanya.
  • Keadaan transportasi dan komunikasi. Majunya sarana transportasi dan komunikasi menyebabkan masyarakat dapat dengan mudah terhubung dengan orang lain, walau memiliki perbedaan jarak serta kondisi alam. Meski begitu, keterbatasan transportasi dan komunikasi turut memengaruhi kondisi keberagaman di masyarakat.

2. Bentuk Keragaman Suku Bangsa dan Budaya
a. Keragaman Suku Bangsa
Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang paling banyak memiliki suku bangsa. Selain itu, juga bangsa Indonesia terkenal sebagai bangsa yang kaya akan berbagai macam budaya yang menjadi ciri khas setiap suku bangsa di Indonesia. Saat ini suku bangsa yang menempati wilayah Indonesia terdiri dari 400 suku bangsa. Berikut ini beberapa suku yang ada di Indonesia.
  • Aceh, Alas, Gayo, Kluet, Singkil (Nanggroe Aceh Darussalam)
  • Batak, Nias, Mandailing (Sumatera Utara)
  • Anak Dalam, Bonai, Sakai (Riau)
  • Jawa ( Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Jogjakarta)
  • Sunda (Jawa Barat)

b. Pakaian Adat
Setiap daerah mempunyai pakaian adat. Pakaian adat menunjukkan ciri khas daerah yang bersangkutan dan membedakannnya dengan daerah lainnya. Berikut beberapa pakaian adat yang ada di Indonesia.
  • Pakaian Adat Melayu: Pakaian Adat Provinsi Riau
  • Melayu Jambi: Pakaian Adat Provinsi Jambi
  • Paksian: Pakaian Adat Bangka Belitung
  • Melayu Bengkulu: Pakaian Adat Provinsi Sumatera Selatan
  • Tulang Bawang: Pakaian Adat Provinsi Lampung
Pakaian Adat
c. Tarian Daerah
Suatu  daerah biasanya mempunyai lebih dari satu tarian daerah. Berbagai macam tarian daerah tersebut memiliki arti dan tujuan masing-masing. Ada tari untuk menyambut kedatangan tamu. Ada juga tarian pergaulan seperti tari Jaipong. Tarian-tarian daerah bisanya berisikan tentang nilai-nilai agama atau adat istiadat yang dipegang oleh daerah asal tarian tersebut. Berikut ini beberapa tari daerah.
  • Tanggai, Putri Bekhusek Sumatera Selatan
  • Andum, Bidadari Teminang Anak Bengkulu
  • Yapong, Enjot-enjotan DKI Jakarta
  • Jaipongan, Topeng Jawa Barat
  • Serimpi, Bambangan Cakil Jawa Tengah

d. Lagu Daerah
Lagu daerah merupakan sebuah lagu yang berasal dari suatu daerah dan biasanya mempunyai tema kehidupan sehari – hari masyarakat setempat. Pengambilan tema tersebut bertujuan agar lagu daerah mudah dipahami oleh para pendengar dan bisa diterima di berbagai kegiatan masyarakat. Berikut beberapa lagu daerah
  • Gambang Suling Jawa Tengah
  • Suwe Ora Jamu D.I Yogyakarta
  • Tanduk Majeng Jawa Timur
  • Cik-cik Periuk Kalimantan Barat
  • Nuluya Kalimantan Tengah

e. Bahasa Daerah
Selain mempunyai bahasa nasional, yaitu bahasa Indonesia, bangsa Indonesia juga mempunyai banyak sekali bahasa daerah.Bahasa daerah digunakan sebagai alat komunikasi dengan orang-orang yang berasal dari daerah atau suku bangsa yang sama, sedangkan ketika berkomunikasi dengan orang-orang yang berasal dari daerah lain harus menggunakan Bahasa Indonesia, supaya komunikasi dapat berjalan dengan lancar. Berikut beberapa nama bahasa daerah.
  • Banjar Kalimantan Selatan
  • Kayan Kalimantan Timur
  • Tondano Sulawesi Utara
  • Bulanga Gorontalo
  • Bugis, Makassar Sulawesi Selatan
  • Alor, Ternate Maluk

f. Alat Musik Daerah
Alat musik daerah biasanya digunakan untuk mengiringi lagu dan tarian daerah serta pertunjukkan-pertunjukkan tradisional. Alat musik daerah merupakan produk asli daerah yang bersangkutan. Berikut beberapa alat musik daerah.
  • Kecapi, yaitu gitar kecil dengan dua dawai di seluruh nusantara
  • Kledi, yaitu alat musik tiup di seluruh Kalimantan
  • Marwas, yaitu alat musik pukul Sumatera Timur
  • Hapetan, yaitu sejenis kecapi Sumatera Utara
  • Popondi, yaitu alat musik petik Sulawesi Selatan

g. Seni Pertunjukan
Salah satu bentuk keanekaragaman budaya lainnya adalah keanekaragaman seni pertunjukan. Setiap daerah bisanya memiliki beberapa seni pertunjukan yang diangkat dari cerita rakyat daerah setempat. Seni pertunjukan ini tidak jarang sering dipertunjukkan baik di tingkat nasional maupun internasional. Berikut beberapa seni pertunjukkan
  • Banjet Jawa Barat
  • Ketoprak Jawa Tengah
  • Sintren Jawa Tengah
  • Lenguk Jawa Tengah
  • Lenong DKI Jakarta
  • Ludruk Jawa Timu

h. Rumah Adat
Setiap suku bangsa mempunyai rumah adat. Rumah adat ini biasanya digunakan sebagai tempat tinggal masyarakat adat. Setiap suku bangsa memberikan istilah atau nama tertentu terhadap rumah adatnya untuk membedakannya dengan rumah adat suku bangsa atau daerah lainnya. Berikut beberapa rumah adat di Indonesia.
  • Rumah Panjang Kalimantan Barat
  • Rumah Betang Kalimantan Tengah
  • Rumah Banjar Kalimantan Selatan
  • Rumah Lamin Kalimantan Timur
  • Rumah Bolaang Mongondow Sulawesi Utara
  • Tongkonan Sulawesi Selatan

i. Senjata Tradisional 
Setiap daerah atau suku bangsa juga mempunyai senjata tradisional. Dulu senjata tersebut biasanya digunakan sewaktu terjadi perang suku. Akan tetapi saat ini, senjata tradisional sering dijadikan hiasan rumah. Setiap senjata tradisonal juga mempunyai nama. Berikut beberapa nama senjata tradisional.
  • Badik/Golok DKI Jakarta
  • Kujang Jawa Barat
  • Keris Jawa Tengah dan D.I Yogyakarta
  • Clurit Jawa Timur
  • Mandau Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah
Demikian pembahasan mengenai Penyebab dan Bentuk Keragaman Budaya. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Sumber : Buku Pendidikan Pancasila Kelas IV Kurikulum Merdeka, Kemendikbud
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 10:23 AM

Soal Latihan Tes Sumatif Tengah Semester 1 Pendidikan Pancasila

Pada setiap tengah semester I biasanya diadakan Tes SUmatif Tengah Semester I. Tes Sumatif Tengah Semester adalah penilaian kinerja dan belajar siswa selama setengah semester. Tujuan dari Tes Sumatif Tengah Semester bertujuan untuk mengukur sejauh mana capaian pembelajaran serta penilaian tengah semester ganjil. Selain itu juga mengetahui apakah materi yang sudah diberikan oleh guru setiap mata pelajaran selama setengah semester berlangsung pada kegiatan belajar mengajar sudah dipahami dengan baik atau belum.

Pada pembelajaran Pendidikan Pancasila Kelas IV Kurikulum Merdeka materi yang diteskan adalah Pancasila dan Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Berikut ini beberapa contoh soal Tes Sumatif Tengah Semester I mata pelajaran Pendidikan Pancasila Kelas IV sekolah dasar Kurikulum Merdeka,

I. BERILAH TANDA SILANG ( X ) PADA HURUF A, B, C, ATAU D DI DEPAN JAWABAN YANG PALING TEPAT!
1.Fungsi utama Pancasila adalah sebagai ....
A.dasar negara
B.jiwa bangsa
C.penjaga negara
D.pelindung negara
2.Para perumus Pancasila dalam bermusyawarah sangat menghargai perbedaan pendapat. Mereka menjunjung tinggi ....
A.kerja keras
B.egoisme
C.toleransi
D.kesukuan
3.Bunyi dari lambang sila Pancasila di bawah ini adalah ....
SIla 1
A.Kemanusiaan yang adil dan beradab
B.Persatuan Indonesia
C.Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
D.Ketuhanan yang Maha Esa
4.Meminta maaf dan mau memaafkan merupakan pengamalan sila ke ... Pancasila
A.dua
B.tiga
C.empat
D.lima
5.Udin ingin bermain kelereng. Teman – temanmu ingin bermain layang-layang. Kamu dan teman-temanmu berdiskusi, lalu menyepakati untuk bermain layang-layang. Tindakan sesuai sila keempat Pancasila yang sebaiknya Udin lakukan adalah ....
A.memaksa teman-teman untuk bermain kelereng
B.menerima kesepakatan untuk bermain laying-layang dengan gembira
C.bermain kelereng sendiri karena tidak mau menerima kesepakatan
D.menerima kesepakatan, tetapi tidak mau ikut bermain layang - layang
6.Dalam bekerja, kita harus menerapkan sikap  ... sehingga kita selalu berhati-hati dalam bertindak.
A.takut kepada tuhan
B.saling membantu
C.toleransi
D.kejujuran 
7.Agar mudah berkomunikasi dengan teman yang berbeda suku, kita sebaiknya ....
A.menggunakan bahasa asing
B.menggunakan bahasa daerah sendiri
C.menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
D.menggunakan bahasa isyarat
8.Warga di desa mengadakan musyawarah untuk kegiatan bersih desa. Tindakan yang harus mereka lakukan dalam musyawarah adalah ....
A.mengikuti jalannya musyawarah dengan tertib
B.memotong pembicaraan warga lain
C.memaksa agar pendapat kelompoknya diterima
D.berbicara dengan kelompok sendiri
9.Contoh penerapan sila ke lima dalam kehidupan sehari-hari adalah ....
A.tidak main hakim sendiri
B.mengutamakan kepentingan bersama
C.menghormati orang tua dan guru
D.berprasangka baik terhadap orang lain
10.Ketika akan mengambil pemungutan suara untuk menentukan bentuk negara, para pendiri negara diliputi suasana, kecuali ....
A.toleransi
B.permufakatan
C.religius
D.perdebatan
11.Berikut yang bukan komitmen para pendiri negara dalam perumusan Pancasila adalah ....
A.selalu bersemangat dalam berjuang
B.memiliki semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme
C.memiliki sikap cinta tanah air yang rendah
D.adanya rasa memiliki terhadapat bangsa indonesia
12.Sikap yang tidak boleh dicontoh dari tokoh pendiri negara pada saat merumuskan Pancasila adalah ....
A.menghargai perbedaan pendapat
B.mengutamakan kepentingan bangsa dan negara
C.mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa
D.mengutamakan kepentingan golongan
13.Salah satu contoh penerapan sila ke dua di lingkungan sekolah adalah ....
A.menghormati guru dan menghargai teman
B.tidak berkelahi dengan teman
C.tidak memaksanakan pendapat teman
D.menghargai karya teman disekolah
14.Salah satu contoh penerapan sila ke satu di lingkungan masyarakat adalah ....
A.menjaga nilai-nilai luhur bangsa Indonesia
B.ikut berpartisipasi dalam pemilihan umum
C.tetap bergaul dengan tetangga meski berbeda agama
D.mendahulukan kepentingan bersama
15.Berbuat baik kepada sesama manusia, termasuk dalam penerapan norma ....
A.agama
B.kesusilaan
C.kesopanan
D.hukum
16.Sesuatu yang harus didapatkan atau diterima seseorang karena telah melakukan kewajiban disebut ....
A.tanggung jawab
B.hak
C.kewajiban
D.keseimbangan
17.Apabila pendapatnya saat musyawarah tidak diterima, yang harus dilakukan adalah ...
A.meninggalkan tempat musyawarah
B.memukul meja
C.menerima keputusan dengan ikhlas
D.membuat kegaduhan
18.Musyawarah merupakan cara pengambilan keputusan bersama yang sesuai dengan prinsip ....
A.demokrasi pancasila*
B.kebersamaan
C.kesetaraan
D.kebersamaan
19.Salah satu contoh kegiatan musyawarah di lingkungan sekolah adalah ...
A.pelaksanaan acara 17 Agustus-an
B.membuat aturan sekolah
C.pembagian jadwal ronda/siskamling
D.pemilihan ketua kelas
20.Salah satu contoh kegiatan musyawarah di lingkungan masyarakat adalah....
A.membuat surat undangan pertemuan
B.merumuskan jadwal kegiatan ronda
C.membuat aturan lalu lintas
D.membersihkan lingkungan RT

II. ISILAH TITIK-TITIK DI BAWAH INI DENGAN JAWABAN YANG TEPAT !
  1. Sila ketiga Pancasila dilambangkan dengan gambar ....
  2. Gambar di bawah ini merupakan lambang sila ke …. 
  1. Sila 4
    Berdoa merupakan penerapan sila ke ... Pancasila
  2. Sesuai pengamalan sila keempat Pancasila, kita harus menyelesaikan permasalahan bersama dengan jalan ....
  3. Sikap saling membantu dan tolong menolong di tengah masyarakat merupakan salah satu bentuk pengamalan Pancasila, yang dilambangkan ....
  4. Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain, termasuk meneladani nilai juang perumus Pancasila berupa ....
  5. Menghormati guru dan menghargai teman, merupakan penerapan Pancasila sila ke ... di lingkungan sekolah.
  6. Perilaku yang terjadi secara berulang-ulang dalam bentuk yang sama, disebut norma ....
  7. Musyawarah dilaksanakan untuk mencapai kata ....
  8. Pelaksanaan pemilihan ketua kelas merupakan penerapan Musyawarah di lingkungan ….

III.JAWABLAH PERTANYAAN-PERTANYAAN  DI BAWAH INI DENGAN TEPAT DAN JELAS !
  1. Sebutkan lambang sila pada Pancasila sesuai urutannya!
  2. Sebutkan 3 (tiga) nilai juang dalam perumusan Pancasila!
  3. Sebutkan 3 (tiga) contoh penerapan sila kesatu Pancasila dalam kehidupan sehari-hari!
  4. Apa yang dimaksud dengan norma!
  5. Sebutkan 3 (tiga) contoh musyawarah di lingkungan keluarga!

Demikian pembahasan mengenai Soal Latihan Tes Sumatif Tengah Semester 1 Pendidikan Pancasila. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 8:04 PM

Hakikat dan Klasifikasi Norma

Pada pembelajaran Pendidikan Pancasila kelas IV Sekolah Dasar Unit 2 Konstitusi dan Norma di Masyarakat terdapat muatan pembelajaran mengenai Hakikat dan Klasifikasi Norma. Tujuan kegiatan pembelajaran ini adalah peserta didik dapat mengklasifikasikan norma dan aturan yang berlaku di lingkungan sekitarnya dan peserta didik dapat memberikan contoh pelaksanaan norma di lingkungan sekitarnya. Berikut ini penjelasan mengenai Hakikat dan Klasifikasi Norma.

A. Hakikat Norma
1. Makna Norma
Secara etimologi, kata norma berasal dari bahasa Belanda, yaitu “norm” yang artinya patokan, pokok kaidah, atau pedoman, baik tertulis maupun tidak tertulis. Secara sederhana, norma dapat diartikan sebagai kaidah atau ketentuan yang harus dipedomani oleh setiap manusia dalam menjalankan kehidupannya.

Beberapa ciri yang melekat pada norma yang ada dalam masyarakat setelah menyimak karekteristik yang dikemukakan di atas, diantaranya:
  1. Biasanya berbentuk tidak tertulis;
  2. Bersifat mengingat dan memiliki sanksi bagi anggota masyarakat yang melanggaranya;
  3. Merupakan hasil dari permufakatan para anggota masyarakat;
  4. Wajib dipatuhi oleh setiap anggota masyarakat;
  5. Bersifat dinamis, artinya dapat mengalami perubahan sesuai perkembangan masyarakat.

2. Klasifikasi Norma
Terdapat beberapa norma yang berlaku di lingkungan masyarakat dilihat dari sumber dan sanksinya, antara lain:

a. Norma Agama
Norma agama, adalah kaidah-kaidah atau pengaturan hidup yang dasar sumbernya dari wahyu Ilahi. Norma agama merupakan suatu aturan hidup yang harus diterima dari sang Kholik (pencipta) kepada manusia sebagai mahluk (yang diciptakaan) sebagai pedoman baik itu sebagai perintah, larangan atau anjuran lainnya. Norma ini dimaksudkan untuk mencapai kesucian hidup beriman dan sanksinya berasal dari yang maha kuasa. Contoh norma agama ini, diantaranya sebagai berikut:
  • Kewajiban melaksanakan beribadah.
  • Menjauhi larangan, seperti membunuh, mencaci, menyakiti diri sendiri dan orang lain, menghina, mencuri, memfitnah, berjudi, meminum-minuman keras, menipu, dan sebagainya.
  • Melaksanakan anjuran, seperti berbagi harta berupa sumbangan, membantu fakir miskin, memelihara tali persaudaraan, memelihara lingkungan, dan lainnya, tidak membantah terhadap orang tua, dan sebagainya.
  • Berdoa sebelum makan, sebelum tidur, sebelum perjalanan, sebelum belajar, sebelum memasuki tempat ibadah, dan lain-lain.
  • Tidak mencuri barang atau sesuatu yang bukan milik kita.
  • Tidak menghina maupun mencela orang lain.

b. Norma Kesusilaan
Norma Kesusilaan, yaitu norma yang lahir dari hati nurani manusia. Setiap manusia memiliki hati nurani yang merupakan pembeda dari mahluk-mahluk lain ciptaan yang Maha Kuasa. Norma kesusilaan ini sama dengan moral atau akhlak. Norma ini lahir untuk menjaga kesucian atau kebersihan hati nurani serta akhlaq. Adapun sanksinya bagi pelanggar adalah berupa sanksi moral yang lahir dari hati nurani itu sendiri, biasanya berupa penyesalan. Di antara norma kesusilaan yang nampak dalam kehidupan masyarakat, antara lain:
  • Kita harus berlaku jujur;
  • Jangan membuat kegaduhan dalam kehidupan masyarakat;
  • Tidak melakukan penipuan;
  • Jauhi sifat bohong terhadap diri sendiri atau orang lain;
  • Menghargai dan menghormati orang lain;
  • Berlaku adil dan berbuat baik terhadap sesama;
  • Berlaku jujur dan benar, dan lainnya.

c. Norma Kesopanan
Norma Kesopanan, yaitu ketentuan yang timbul dan diadakan oleh masyarakat itu sendiri untuk mengatur pergaulan. Norma ini biasanya berupa kepantasan, kepatutan, atau kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Contoh norma ini, di antaranya sebagai berikut:
  • Bertutur kata yang sopan dengan tidak menyakiti yang lain.
  • Memohon izin untuk memasuki rumah orang lain.
  • Menghormati orang tua.
  • Memberikan kesempatan untuk duduk kepada orang tua, atau orang sakit, dan lainnya ketika di kendaraan umum.
  • Menghormati guru dan lainnya.
  • Tidak berkata kasar dan membentak orang tua.
  • Menaati perintah kedua orang tua.
  • Tidak memaksakan keinginan pada orang yang lebih tua.
  • Berbicara sopan dan baik kepada orang yang lebih tua.
Norma
d. Norma Hukum
Norma Hukum, merupakan ketentuan yang dibuat atau ditetapkan oleh pemerintah atau lembaga yang berwenang membuat ketentuan tersebut. Norma hukum dibuat untuk mengatur pergaulan manusia untuk mencapai ketertiban dan kedamaian. Setiap manusia dipaksa untuk mematuhi norma hukum, serta diancam diberikan sanksi/hukuman apabila melanggar norma tersebut. Contoh norma ini, di antaranya sebagai berikut:
  • Melakukan penganiayaan kepada orang lain diancam hukuman terdapat dalam KUHP.
  • Melakukan penipuan dalam proses jual beli, apapun barang dan jenisnya diancam dalam KUHP. 
  • Pembunuh diancam dengan hukuman yang sesuai yang terdapat dalam KUHP dan sebagainya.
  • Menaati rambut lalu lintas. Jika melanggar sanksi yang diberikan jika melanggar adalah tilang berupa denda.
  • Membayar pajak tepat waktu. Jika melanggar  sanksi yang diberikan jika melanggar adalah membayar denda.

Demikian pembahasan mengenai Hakikat dan Klasifikasi Norma. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Sumber : Buku Pendidikan Pancasila Kelas IV Kurikulum Merdeka, Kemendikbud
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 10:28 AM

Menyampaikan Pendapat Ketika Bermusyawarah

Musyawarah merupakan satu di antara hal yang amat penting bagi kehidupan manusia, bukan saja dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melainkan dalam kehidupan berumah tangga dan lain-lainnya. Kata musyawarah berasal dari bahasa Arab yaitu Syawara yang artinya berunding, urun rembuk atau mengajukan sesuatu. Musyawarah memiliki tujuan untuk mencapai mufakat atau persetujuan.

Semua orang memiliki hak untuk menyatakan pendapatnya di manapun, misalnya, saat berdiskusi bersama keluarga, bersama teman sekelas, atau teman bermain. Pendapat adalah buah pemikiran atau perkiraan tentang suatu hal (seperti orang atau peristiwa).

Dalam mengemukakan sebuah pendapat ada beberapa hal yang harus sangat kita perhatikan. Mengungkapkan sebuah pendapat tidak boleh dilakukan secara semena-mena dan seenaknya saja, karena tanpa kita sadari pendapat kita nantinya dapat menyakiti dan melukai perasaan banyak orang. 

Suatu keputusan bersama tidak akan tercapai jika semua orang saling memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Keputusan bersama bukan merupakan keinginan dari satu orang atau satu golongan saja. Akan tetapi, merupakan hasil pertimbangan dari semua pandangan atau pendapat yang dikemukakan oleh semua peserta musyawarah dengan berdasarkan kepada prinsip keadilan.
Musyawarah
Oleh karena itu, dalam mengambil suatu keputusan bersama diperlukan kebijaksanaan untuk menampung aspirasi dari para peserta musyawarah sehingga keputusan dapat diterima oleh semua pihak yang terlibat dalam proses perumusan keputusan tersebut

Untuk mencapai tujuan, pendapat harus disampaikan secara benar, beretika, dan bertanggung jawab. Ada beberapa hal yang harus dipikirkan dan perhatikan terlebih dahulu sebelum menyampaikannya, agar tidak menyinggung atau bahkan menimbulkan perselisihan.

1. Menggunakan bahasa yang santun
Saat ingin mengungkapkan pendapat, sampaikan dengan kata-kata yang sopan dan santun. Tidak dengan kata-kata yang kasar yang disertai dengan makian sehingga akan menyakiti orang lain. Penyampaian pendapat menggunakan bahasa yang santun membuat jalanya musyawarah berjalan dengan baik.

2. Menghargai pendapat teman dan tidak memotong pembicaraan
Setiap orang yang hadir dalam musyawarah mempunyai hak dan kesempatan untuk mengutarakan pendapat. Kita harus bisa menghargai perbedaan pendapat dan jangan selalu ingin mendominasi pembicaraan.

Jika ingin mengutarakan atau menanggapi pendapat, tunggu hingga teman yang lain selesai berbicara. Memotong pembicaraan merupakan tindakan yang kurang baik. Hal ini memungkinkan pendapat mereka belum tersampaikan secara keseluruhan. 

3. Tidak memaksakan pendapat
Setiap orang pasti memiliki pemikiran atau pandangan berbeda. Penolakan merupakan hal yang sangat wajar dalam sebuah musyawarah, kita tidak bisa memaksakan teman untuk selalu setuju pada gagasanmu.

Tidak perlu marah jika pendapatmu kurang mendapatkan respon baik atau bahkan ditolak sekali pun. Berbesar hatilah, dan bersikap baik. Mungkin saja pendapatmu tidak salah, tetapi ada pendapat lain yang lebih mewakili kepentingan bersama.

Bentuk Bentuk Keputusan Bersama
Mengambil sebuah keputusan merupakan salah satu cara supaya musyawarah bisa berjalan dengan baik. Ada beberapa bentuk cara mengambil keputusan bersama dalam sebuah musyawarah. Berikut ini penjelasannya.

1. Keputusan aklamasi
Aklamasi adalah pernyataan setuju secara lisan dari seluruh peserta rapat dan sebagainya terhadap suatu usul tanpa melalui pemungutan suara. Jadi keputusan aklamasi adalah sebuah keputusan tanpa melalui pemungutan suara terlebih dahulu karena semua peserta memiliki pendapat yang sama.

Syarat bisa dilakukannya keputusan aklamasi adalah tidak terdapat perbedaan pendapat di antara para peserta musyawarah, semua peserta setuju pengambilan keputusan dilakukan secara aklamasi.

2. Musyawarah mufakat
Musyawarah diartikan sebagai pembahasan untuk menyatukan pendapat dalam penyelesaian suatu masalah bersama. Sedangkan mufakat adalah sesuatu yang telah disetujui sebagai keputusan berdasarkan kebulatan pendapat sebagai hasil musyawarah.

Musyawarah untuk mencapai mufakat adalah bentuk pengambilan keputusan bersama yang paling baik. Sebab dengan musyawarah mufakat berarti semua orang yang terlibat dalam musyawarah menyatakan setuju terhadap keputusan yang diambil bersama.

3. Pemungutan suara terbanyak
Cara pengambilan keputusan berdasarkan suara terbanyak akan dilakukan, apabila cara pengambilan keputusan dengan cara musyawarah tidak mencapai mufakat. Karena itu para peserta musyawarah harus mengambil keputusan bersama dengan cara pengambilan suara terbanyak.

Dalam proses pemungutan suara, bisa dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
1. Mengacungkan tangan.
2. Berdiri dari tempat duduk.
3. Berpindah tempat sesuai dengan pilihan.
4. Menuliskan pilihan di atas kertas kemudian dikumpulkan.

Pengambilan keputusan bersama berdasarkan suara terbanyak ini pada umumnya dilakukan oleh berbagai organisasi, baik yang ada di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Demikian pembahasan mengenai Menyampaikan Pendapat Ketika Bermusyawarah. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Sumber : Buku Pendidikan Pancasila Kelas IV Kurikulum Merdeka, Kemendikbud.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 7:58 PM

Hak dan Kewajiban Anak di Rumah dan di Sekolah

Siswa merupakan bagian dari warga sekolah selain sebagai anggota keluarga, sehingga tak luput dari kewajiban dan hak. Kewajiban-kewajiban dan hak tersebut harus dilaksanakan agar dapat memperoleh haknya. Apabila kewajiban-kewajiban tersebut tidak dilaksanakan atau dipatuhi, maka siswa tidak akan mendapatkan haknya.

Setiap anak memiliki hak dan kewajiban baik sebagai seorang anak, dan sebagai seorang pelajar. Hak adalah segala sesuatu yang harus diterima. Sementara itu, kewajiban adalah segala sesuatu yang harus dilakukan menurut aturan yang berlaku. Kewajiban dan hak harus dilaksanakan dengan seimbang agar tidak terjadi ketimpangan. Hak diperoleh setelah melaksanakan kewajiban.

Dengan kata lain, hak adalah sesuatu yang harus kita dapatkan, dan kewajiban adalah sesuatu yang harus kita lakukan. Berikut adalah hak dan kewajiban siswa di sekolah anak di rumah dan di sekolah.

A. Hak Anak di Rumah dan di Sekolah
Ada sejumlah hak anak di rumah yang perlu dipenuhi, mulai dari hak mendapatkan kebutuhan, hak memperoleh kasih sayang, hak mendapatkan perlindungan, hingga hak dibesarkan dengan baik. Penting bagi para orang tua untuk memenuhi berbagai hak ini supaya mereka bisa hidup dengan layak.

1. Hak Anak di Rumah
Setiap anak mempunyai hak. Hak adalah sesuatu yang harus diterima oleh seseorang. Hak anak di rumah, antara lain sebagai berikut:
  1. Hak mendapatkan kasih sayang dan perlindungan dari orang tua.
  2. Hak mendapatkan tempat tinggal dan pakaian.
  3. Hak mendapatkan makanan dan uang jajan.
  4. Hak mendapatkan pendidikan dan kesehatan.
  5. Hak untuk bermain.
  6. Hak untuk didengar pendapatnya.
  7. Mendapatkan perlindungan dari kekerasan

2. Hak Anak di Sekolah
Sekolah merupakan tempat sang anak belajar berbagai hal. Agar anak dapat belajar dengan baik maka ada beberapa hak anak yang harus dipenuhi saat mereka berada di sekolah. Selain mempunyai hak di rumah, anak juga mempunyai hak  di sekolahnya. Hak-hak mereka, di antaranya sebagai berikut:
  1. Hak mendapatkan pelajaran.
  2. Hak bertanya kepada guru
  3. Hak mendapat suasana belajar tenang dan aman.
  4. Hak menjadi anggota perpustakaan.
  5. Hak meminjam buku di perpustakaan.
  6. Hak mendapatkan nilai.
  7. Hak mendapatkan sarana belajar seperti buku, meja, dan kursi yang baik.
Hak Anak
B. Kewajiban Anak di Rumah dan di Sekolah
Seorang anak yang baik harus melaksanakan kewajibannya dengan baik pula dan harus ditanamkan sejak dini. Lantas, apa saja kewajiban anak di rumah dan di sekolah. Berikut ini beberapa kewajiban anak baik di rumah maupun di sekolah.

1. Kewajiban di Rumah
Rumah merupakan tempat anak banyak menghabiskan waktu sepanjang hari. Agar kehidupan di rumah berjalan dengan baik tentunya ada beberapa kewajiban yang harus dilaksanakan sang anak. Setiap anak memiliki kewajiban di rumahnya. Kewajiban itu antara lain sebagai berikut
  1. Menghormati kedua orang tua
  2. Menyayangi semua anggota keluarga
  3. Mematuhi peraturan keluarga
  4. Menjaga kebersihan rumah
  5. Mendengarkan nasihat orangtua
  6. Belajar dan membantu orang tua
  7. Beribadah sesuai keyakinan

2. Kewajiban di Sekolah
Pada hari sekolah anak-anak akan berada di lingkungan sekolah unuk menuntut ilmu. Di lingkungan sekolah mereka juga harus melaksanakan kewajibanya dengan baik. Kewajiban seagai seorang pelajar di sekolah, yaitu:  
  1. Memakai seragam yang ditentukan
  2. Datang tidak terlambat
  3. Memerhatikan guru ketika menjelaskan
  4. Menjaga kebersihan sekolah
  5. Menjaga ketenangan belajar
  6. Mengikuti semua pelajaran
  7. Mengerjakan tugas yang diberikan guru.

Demikian pembahasan mengenai Hak dan Kewajiban Anak di Rumah dan di Sekolah. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Sumber : Buku Pendidikan Pancasila Kelas IV Kurikulum Merdeka, Kemendikbud
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 10:57 PM

Norma-norma yang Berlaku di Masyarakat

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), norma merupakan ketentuan yang bersifat mengikat, digunakan sebagai panduan dan pengendali tingkah laku yang sesuai. Norma adalah bentuk nyata dari nilai-nilai sosial di dalam masyarakat yang berbudaya, memiliki aturan-aturan, dan kaidah-kaidah, baik yang tertulis maupun tidak. Aturan adalah tata tertib yang harus di ikuti dan apabila dilanggar akan mendapatkan sanksi. Banyak norma yang berlaku di masyarakat. Di Indonesia, ada beberapa tatanan norma yang harus dipatuhi. Mulai norma agama, norma hukum, kesusilaan, dan kesopanan atau adat.

A. Hakikat Norma
Norma merupakan kaidah atau aturan yang harus dipatuhi oleh setiap manusia dalam menjalankan berbagai aktivitas kehidupannya dalam kehidupan di keluarga, masyarakat, maupun kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Setiap manusia berhubungan dengan manusia yang lainnya. Mereka saling bekerja sama, tolong-menolong, saling bantu, dan sebagainya dengan tujuan untuk memenuhi kepentingannya itu. Untuk mengatur hubungan antarmanusia ini sangat diperlukan suatu norma. Dengan demikian, norma itu sangat penting dan diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Apakah norma sama dengan peraturan? Jawabannya tidak sama. Peraturan mempunyai arti yang lebih luas. Peraturan itu adalah aturan-aturan yang mengatur perilaku atau perbuatan kita. Biasanya peraturan itu tertulis dan bagi yang melanggar ada sanksinya atau hukumannya. Misalnya, peraturan lalu lintas. Biasanya, peraturan lalu lintas itu tertulis. Bagi yang melanggar akan dikenakan sanksi yang tegas. Sanksinya bisa berupa teguran, hukuman kurungan atau denda. Sanksi yang berupa denda atau hukuman kurungan diputuskan setelah diproses di pengadilan. Pengadilan adalah tempat untuk memutuskan seseorang bersalah atau tidak.

Norma merupakan ukuran perilaku baik atau buruk, dan pantas atau tidak pantas. Biasanya norma itu disesuaikan dengan kebiasaan atau adat istiadat masyarakat setempat. Norma juga dipengaruhi oleh keyakinan agama yang dianut warga. Norma disebut juga sebagai peraturan yang tidak tertulis. Misalnya, kewajiban menghormati orang tua. Anak yang menghormati orang tua berarti dia telah mematuhi norma yang berlaku. Sedangkan anak yang tidak hormat, berarti dia telah melanggar norma yang berlaku di masyarakatnya. Nah, itulah bedanya antara norma dan peraturan. Jadi norma itu berbeda dengan peraturan.

Bentuk-bentuk Norma 
Berdasarkan sumbernya norma-norma yang berlaku di masyarakat dikelompokan ke dalam empat macam, yaitu norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, dan norma hukum.
  1. Norma agama, yaitu ketentuan hidup manusia yang bersumber dari ketentuan Tuhan Yang Maha Esa yang tercantum dalam kitab suci setiap agama. Contoh norma agama di antaranya adalah kewajiban untuk beribadah bagi umatnya. Jika mereka tidak beribadah maka akan mendapatkan sanksi dari Tuhan nanti dalam kehidupan di akhirat.
  2. Norma kesusilaan, yaitu ketentuan dalam pergaulan manusia yang bersumber dari hati nuraninya. Sanksi terhadap pelanggaran norma kesusilaan sifatnya tidak tegas karena hanya diri sendiri yang merasakan (merasa bersalah, menyesal, malu, dan sebagainya). Contoh norma kesusilaan, seperti kewajiban untuk berkata jujur, jika tidak berkata jujur atau suka berbohong akan mendapatkan sanksi berupa perasaan bersalah di dalam hatinya.
  3. Norma kesopanan, yaitu ketentuan dalam kehidupan manusia yang timbul dari hasil pergaulan manusia di dalam masyarakat. Sanksi terhadap pelanggaran norma kesopanan sifatnya tidak tegas, tapi dapat diberikan oleh masyarakat dalam bentuk celaan, cemoohan, atau pengucilan dalam pergaulan. Contoh norma kesopanan, seperti kewajiban untuk menghormati orang tua, tidak menyinggung perasaan orang tua, mematuhi nasihat orang tua, dan sebagainya. Jika sang anak tidak menjalankan norma kesopanan akan dikucilkan oleh orang tuanya, saudaranya ataupun oleh anggota masyarakat lainnya.
  4. Norma hukum, yaitu aturan yang dibuat dan ditetapkan oleh badan yang berwenang mengatur manusia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara (berisi perintah dan larangan). Sanksi terhadap pelanggaran norma hukum sifatnya tegas dan nyata serta mengikat dan memaksa bagi setiap orang tanpa kecuali, biasanya berbentuk hukuman penjara dan denda. Contoh norma hukum, seperti larangan untuk melanggar aturan lalu lintas. Setiap orang yang melakukan pelanggaran lalu lintas maka dia akan di hukum dengan membayar denda bukti pelanggaran.

Norma-norma yang disebutkan di atas harus dipatuhi oleh setiap anggota masyarakat. Dengan mematuhi norma-norma maka kehidupan masyarakat menjadi harmonis, saling menghormati, saling menghargai, dan tolong menolong antarsesama.

B. Melaksanakan Norma-Norma yang Berlaku di Lingkungan Masyarakat Sekitar
1. Melaksanakan Norma-Norma di Sekolah
Salah satu norma yang ada di sekolah adalah tata tertib. Tata tertib sekolah merupakan semua peraturan dan ketentuan yang telah dibuat oleh pihak sekolah. Tujuannya adalah untuk menciptakan suasana di lingkungan sekolah yang aman dan juga nyaman. Peraturan tata tertib di sekolah adalah contoh atau jenis norma kesopanan
Norma di sekolah
Tata tertib di sekolah mewajibkan para peserta didiknya untuk berpakaian seragam, datang tepat waktu dan memotong rambutnya dengan rapi. Jika ada peserta didik yang melanggar tata tertib, ia harus diberi sanksi. Beberapa contoh norma di sekolah antara lain sebagai berikut :
  1. Berpakaian seragam sesuai dengan ketentuan sekolah.
  2. Tidak boleh memakai perhiasan/aksesoris bagi siswa laki-laki.
  3. Tidak boleh memakai perhiasan yang berlebihan bagi siswi perempuan.
  4. Tidak boleh berambut panjang bagi siswa laki-laki atau tidak sesuai dengan tampilan anak sekolah.
  5. Bagi siswa perempuan yang berambut panjang melebihi bahu harus diikat
  6. Tidak boleh membawa barang yang tidak berhubungan dengan pembelajaran
  7. Tidak boleh membawa HP kecuali ada tugas yang berhubungan dengan pelajaran.
  8. Tidak boleh membawa kendaraan bermotor
  9. Tidak boleh melakukan perundungan fisik maupun nonfisik.
  10. Tidak boleh mengotori lingkungan sekolah mencurat coret tembok / meja
  11. Selalu membuang sampah pada tempatnya
  12. Tidak boleh berbicara tidak sopan dan kasar

Pentingnya mematuhi peraturan atau tata tertib di sekolah agar proses pembelajaran tidak terganggu dan dapat berjalan dengan tertib. Dengan melaksanakan tata tertib sekolah maka para peserta didik sudah melaksanakan norma-norma yang berlaku di sekolah.

2. Melaksanakan Norma-Norma di Keluarga
Bukan hanya di masyarakat, tetapi dalam kehidupan di keluarga pun kita harus mematuhi norma. Hal itu dikarenakan kita merupakan anggota keluarga dan bagian dari masyarakat. Norma-norma yang berlaku dibuat untuk ditaati oleh semua warganya. Sehingga akan tercipta kehidupan yang aman, damai, dan tertib.

Dalam kehidupan keluarga kita harus saling menghargai, menghormati, dan tolong-menolong dengan sesama anggota keluarga yang lain. Selain itu, kita juga harus bertutur kata yang lembut ketika berbicara. Sehingga kerukunan hidup akan selalu terjaga. Beberapa contoh norma dalam keluarga antara lain sebagai berikut :
  1. Saling menghargai, menghormati, dan tolong-menolong
  2. Bertutur kata yang lembut ketika berbicara
  3. Saling membantu antar anggota keluarga.
  4. Senantiasa beribadah tepat pada waktunya.
  5. Saling menyangi dan mengasihi antar sesama anggota keluarga
  6. Makan dengan tenang dan rapi.
  7. Memperlakukan orang tua dengan kasih sayang dan rasa hormat.
  8. Membereskan pekerjaan rumah sebelum bermain.
  9. Menjaga nama baik keluarga.
  10. Patuh terhadap apa yang perintahkan oleh orang tua.

Demikian pembahasan mengenai Norma-norma yang Berlaku di Masyarakat. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Sumber : Buku Pendidikan Pacasila Kelas IV Kurikulum Merdeka, Kemendikbud
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 8:37 PM

BPUPKI, PPKI, dan Piagam Jakarta

Pada akhir tahun 1944, Jepang terdesak oleh sekutu akibat kekalahannya dalam perang Asia-Pasifik. Berkaitan dengan hal itu, tepatnya pada tanggal 7 September 1944 di Kota Tokyo, Perdana Menteri Jepang, Koiso, mengumumkan dalam sidang istimewa Parlemen bahwa wilayah Hindia Timur (Indonesia) pada kemudian hari akan memperoleh kemerdekaan. Setelah janji kemerdekaan oleh pemerintah Jepang tersebut dan demi terwujudnya kemerdekaan Indonesia yang hakiki, maka suatu dasar negara harus dibentuk. 

Dengan demikian, diperlukan semua hal yang berhubungan dengan tata pemerintahan dalam suatu negara. Jepang lalu membentuk suatu lembaga persiapan kemerdekaan Indonesia dengan tujuan membahas hal tersebut termasuk penentuan dasar negara. Lembaga yang diketuai oleh Dr. Radjiman Wedyodiningrat tersebut adalah BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau dalam Bahasa Jepang disebut Dookoritsu Junbi Coosakai.
BPUPKI dan PPKI
Selama sidang pertama BPUPK (29 Mei-1 Juni 1945) dalam pembahasan mengenai dasar negara, terdapat 33 orang pembicara dalam sidang itu. Setelah Ir. Soekarno menyampaikan pidatonya, ada anjuran dari dr. Radjiman Wedyodiningrat selaku ketua BPUPKI agar para anggota mengajukan usulnya secara tertulis. Paling lambat 20 Juni 1945 usulan tertulis tersebut harus sudah masuk.

Maka, mengenai hal itu dibentuklah Panitia Kecil (Panitia Delapan) yang akan menampung usulan lain dan memeriksa rumusan dasar negara yang akan disusun. Anggota panitia ini terdiri atas delapan orang:
  1. Ir. Soekarno (Ketua), dengan anggota-anggotanya terdiri atas:
  2. Drs. Mohammad Hatta (anggota)
  3. Mr. Muhammad Yamin (anggota)
  4. K.H. Wahid Hasjim (anggota)
  5. Ki Bagoes Hadikoesoemo (anggota)
  6. M. Soetardjo Kartohadikoesoemo (anggota)
  7. Rd. Otto Iskandardinata (anggota)
  8. Mr. A.A. Maramis (anggota)

Hari Jumat, 22 Juni 1945 antara BPUPKI, Panitia Delapan, dan Tyuo Sangi In (Badan Penasihat Pemerintah Pusat Bala Tentara Jepang) mengadakan rapat gabungan dan dipimpin oleh Ir. Soekarno bertempat di sebuah rumah yang ditempati beliau dan merupakan hibah dari Faradj bin Said bin Awadh Martak di Jalan Pegangsaan Timur no. 56, Jakarta.

Pada saat rapat disepakati bahwa Indonesia harus merdeka secepatnya menjadi sebuah negara hukum yang memiliki hukum dasar dan memuat dasar negara dalam pembukaannya. Untuk menuntaskan hukum dasar tersebut maka dibentuk Panitia Sembilan dengan keanggotaan berikut ini.
  1. Ir. Soekarno (Ketua)
  2. Drs. Mohammad Hatta (Anggota)
  3. H. Agoes Salim (Anggota)
  4. K.H. Wahid Hasjim (Anggota)
  5. Mr. Muhammad Yamin Anggota)
  6. Abdoel Kahar Moezakir (Anggota)
  7. Abikoesno Tjokrosoejoso (Anggota)
  8. Mr. Achmad Soebardjo (Anggota)
  9. Mr. A.A. Maramis (Anggota)

Pada malam harinya di tanggal yang sama, Panitia Sembilan bersegera mengadakan rapat di rumah kediaman Ir. Soekarno. Selama pertemuan rapat berlangsung, sulit menemukan pemecahannya. Hal ini terjadi karena perbedaan pandangan dan pendapat antara golongan Islam dan nasionalis tentang rumusan dasar negara. Akhirnya, dalam Mukadimah (Pembukaan) Hukum Dasar disepakati agar mencantumkan rumusan dasar negara sebagai berikut:
  1. Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemelukpemeluknya, menurut dasar.
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
  3. Persatuan Indonesia.
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kemudian seluruh anggota Panitia Sembilan menandatangani Naskah Mukadimah yang dikenal dengan nama “Jakarta Charter” atau Piagam Jakarta. Selanjutnya, pada tanggal 10-17 Juli 1945, Mukadimah tersebut dibawa ke sidang BPUPKI dan disepakati pada tanggal 14 Juli 1945. Pada akhir sidang musyawarah tanggal 17 Juli 1945 rumusan Hukum Dasar dan  Pernyataan Indonesia Merdeka berhasil diselesaikan.

Pada perkembangan selanjutnya, kekalahan dialami Jepang dalam peperangannya melawan sekutu. Kemudian terbentuklah Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) atau Dokuritsu Junbi Inkai oleh pemerintahan Jepang. Pada tanggal 8 Agustus 1945 demi kepentingan pembentukan panitia tersebut dan memenuhi panggilan Jenderal Besar Terauchi, Ir Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, dan dr. Radjiman Widyodiningrat berangkat ke Saigon.

Menurut Ir. Soekarno, Terauchi memberikan keputusan seperti:Ir. Soekarno diangkat sebagai Ketua PPKI, Drs. Mohammad Hatta sebagai wakil ketua dan dr. Radjiman Wedyodiningrat sebagai anggota.Panitia persiapan sudah bisa bekerja pada tanggal 9 Agustus 1945. Cepat atau tidaknya pekerjaan panitia diserahkan sepenuhnya kepada panitia.

Setelah pertemuan di Saigon tersebut, terdapat dua peristiwa yang menjadi sejarah penting mengiringi proses kemerdekaan Republik Indonesia. Pertama, Jepang menyerah tanpa syarat pada tanggal 14 Agustus 1945. Kedua, pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamirkan kemerdekaanya. 

Sehari setelah proklamasi, 18 Agustus 1945, sidang dilaksanakan oleh PPKI untuk mengesahkan naskah Hukum Dasar Indonesia yang dikenal sekarang menjadi Undang-Undang Dasar Tahun 1945 (UUD ‘45). UUD 1945 ini sendiri terdiri dari tiga bagian; yaitu Pembukaan, Batang Tubuh (berisi 37 pasal, 4 pasal aturan peralihan dan 2 pasal aturan tambahan) dan Penjelasan. Pembukaan UUD 1945 terdiri atas empat alinea. Pada alinea keempat tercantum rumusan Pancasila yang berbunyi sebagai berikut:
  1. Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Atas dasar itulah kata Pancasila telah menjadi istilah umum dan merupakan salah satu kosakata dalam Bahasa Indonesia. Meskipun dalam alinea terakhir Pembukaan UUD 1945 tidak termuat istilah Pancasila, namun yang tersebut di dalamnya bermaksud dasar negara Republik Indonesia ialah Pancasila
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 9:54 AM

Meneladani Sikap Kebersamaan dalam Musyawarah

Piagam Jakarta merupakan hasil keputusan bersama para tokoh dalam Panitia Sembilan yang dipimpin oleh Ir. Soekarno pada tanggal 22 Juni 1945. Pada Piagam Jakarta terutama pada alenia keempat tercantum rumusan dasar negara yang telah disusun secara bersama. Dengan demikian, rumusan dasar negara Republik Indonesia bukan diambil dari pendapat yang dikemukakan oleh Mr. Muhammad Yamin, Mr. Soepomo atau Ir. Soekarno, akan tetapi merupakan hasil musyawarah para tokoh bangsa yang tergabung dalam Panitia Sembilan.

Piagam Jakarta disusun oleh tokoh-tokoh terbaik yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Mereka merupakan para negarawan. Sebagai seorang negarawan mereka selalu menampilkan sikap dan perilaku yang terpuji dalam segala hal. Sikap dan perilaku tersebut mereka tampilkan pada saat perumusan Pancasila sebagai dasar negara. Berikut ini beberapa contoh sikap yang ditampilkan oleh para tokoh pendiri negara pada saat merumuskan Pancasila:

a. Menghargai perbedaan pendapat
Pada saat musyawarah perumusan Pancasila banyak sekali tokoh yang mengemukakan gagasannya mengenai rumusan dasar negara tersebut, diantaranya Muhammad Yamin, Soepomo, dan Soekarno. Mereka masing-masing mengemukakan gagasan yang cemerlang. Akan tetapi meskipun demikian pendapat tersebut tidak semuanya dapat dijadikan keputusan.

Kondisi tersebut tidak membuat para tokoh berlomba-lomba untuk mempengaruhi peserta musyawarah yang lain untuk memilih pendapat yang dikemukakannya, namun mereka justru mendorong tokoh yang lainnya untuk mengemukakan gagasan yang lain. Mereka juga tidak memaksakan pendapatnya kepada yang lain.

Sikap yang ditampilkan para tokoh tersebut menunjukkan bahwa mereka menghargai perbedaan pendapat. Mereka menganggap perbedaan pendapat sebagai keuntungan bagi bangsa Indonesia. Mereka kemudian mencari titik persamaan diantara perbedaan pendapat tersebut dengan selalu berlandaskan kepada kepentingan bangsa dan negara.b. Mengutamakan kepentingan bangsa dan negara

b. Mengutamakan kepentingan bangsa dan negara
Para tokoh yang ikut merumuskan Pancasila tidak hanya berasal dari satu golongan saja. Mereka berasal dari berbagai golongan. Agama dan suku bangsa mereka juga berbeda. Akan tetapi mereka ikut serta dalam proses perumusan Pancasila dengan tujuan utama memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara. Mereka mengesampingkan kepentingan golongannya.

Hal tersebut bisa kita lihat ketika para anggota PPKI dari kalangan umat Islam menerima perubahan isi sila pertama Pancasila. Mereka tidak ngotot mempertahankan isi sila yang tercantum dalam rumusan Piagam Jakarta, akan tetapi mereka sadar bahwa kepentingan bangsalah yang harus diutamakan.

c. Menerima hasil keputusan bersama
Tokoh-tokoh pendiri negara yang tergabung dalam PPKI pada saat merumuskan perubahan Piagam Jakarta memberi teladan dalam menerima keputusan bersama. Pada saat itu PPKI menerima masukan agar rumusan dasar negara pada Piagam Jakarta diubah. Seluruh anggota PPKI tidak nenolak masukan tersebut. Para anggota PPKI bermusyawarah untuk mencari jalan keluar yang terbaik demi keutuhan bangsa dan negara Indonesia. Pada akhirnya, para anggota PPKI berhasil mencapai kesepakatan. 

Perubahan Piagam Jakarta disetujui sebagai keputusan bersama. Keputusan tersebut bukanlah keputusan perseorangan, namun merupakan keputusan yang telah dipertimbangkan secara matang. Semua anggota PPKI menerima dan melaksanakan keputusan tersebut secara ikhlas dan bertanggung jawab.

d. Mengutamakan persatuan dan kesatuan
Proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara dilakukan melalui proses musyawarah untuk mufakat dalam sidang BPUPKI. Pada sidang tersebut, semua anggota BPUPKI diberi kesempatan untuk menyampaikan gagasannya mengenai rumusan dasar negara, kemudian dibahas dan didiskusikan bersama. Dengan demikian dalam persidangan tersebut muncul perbedaan pendapat, akan tetapi meskipun demikian mereka tetap mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa dan negara.

Perubahan Piagam Jakarta dilakukan untuk mencegah perpecahan. Demi persatuan dan kesatuan isi sila pertama Pancasila yang terdapat dalam rumusan Piagam Jakarta diubah dari Ketuhanan, dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa.

Ceritakan dua gambar berikut ini di depan kelas
musyawarah
Gambar 1 adalah beberapa siswa yang sedang melaksanakan shalat berjamaan. Kegiatan tersebut merupakan bentuk kebersamaan dan merupakan pengamalan sila pertama Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

Gambar 2 adalah sekelompok orang yang sedang bermusyawarah. Kegiatan tersebut merupakan bentuk pengamalan sila keempat Pancasila yaitu Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.

Demikian pembahasan mengenai Meneladani Sikap Kebersamaan dalam Musyawarah. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Sumber : Buku PKn Kelas IV Kurikulum Merdeka, Kemendikbud
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 6:38 PM

Nilai Kebersamaan dalam Proses Perumusan Pancasila

Pancasila memiliki sejarah yang panjang sebagai dasar negara sekaligus falsafah hidup bangsa Indonesia. Dalam rangkaian proses perumusan Pancasila, terdapat nilai-nilai kebersamaan dari berbagai perbedaan yang muncul sebelum kemerdekaan Republik Indonesia akhirnya bisa diwujudkan. Secara etimologi, Pancasila berakar dari bahasa Sansekerta panca yang artinya "lima" dan sila yang berarti "asas" atau "prinsip".

Dengan demikian, Pancasila bisa dimaknai sebagai rumusan dan pedoman dalam kehidupan seluruh rakyat Indonesia. Istilah Pancasila muncul dalam Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca yang disusun tahun 1365 Masehi atau masa Kerajaan Majapahit. Menurut buku Pancasila Sebagai Ideologi dan Dasar Negara (2012), istilah ini kembali diangkat dalam sidang pertama Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Perjuangan untuk merebut kemerdekaan tidak sekadar bersama-sama melakukan perlawanan terhadap penjajah. Kebersamaan dalam proses musyawarah yang dilakukan oleh para bapak bangsa (the Founding Fathers) dalam merumuskan dasar negara juga merupakan salah satu bentuk perjuangan melepaskan diri dari tangan penjajah. Ketika semangat kemerdekaan rakyat Indonesia sedang memuncak, proses perumusan dasar negara yang dilakukan demi menuju kemerdekaan adalah hal yang tidak bisa ditunda lagi.
Founding Father
Perjuangan yang dilakukan oleh para bapak bangsa dalam proses perumusan dasar negara tidaklah semudah yang dibayangkan. Dalam proses tersebut bermunculan banyak sekali pendapat yang diajukan mengenai rumusan dasar negara. Tiga orang tokoh; Mr. Muhammad Yamin, Mr. Soepomo dan Ir. Soekarno merupakan bagian dari para bapak bangsa yang mengemukakan gagasan dan pendapatnya mengenai rumusan dasar negara Indonesia merdeka.

Namun, dalam menghasilkan suatu keputusan sidang tidak semua pendapat harus diterima. Akhirnya setelah melalui proses sidang musyawarah yang panjang, maka disepakati rumusan dasar negara bernama Pancasila yang dapat kita kenali hingga saat ini.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat dibilang bahwa nilai perjuangan dalam proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara pasti dilandasi dengan kepentingan bangsa dalam semangat kebersamaan yang tinggi. Nilai juang dalam semangat kebersamaan tersebut tertuang sebagai berikut:
  1. Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Semangat anti penjajah dan penjajahan.
  3. Harga diri yang tinggi sebagai bangsa yang merdeka.
  4. Semangat persatuan dan kesatuan.
  5. Setia kawan, senasib sepenanggungan, dan kebersamaan.
  6. Jiwa dan semangat merdeka.
  7. Semangat perjuangan yang tinggi.
  8. Pantang mundur dan tidak kenal menyerah.
  9. Ulet dan tabah menghadapi segala macam, tantangan, hambatan, dan gangguan.
  10. Berani, rela dan ikhlas berkorban untuk tanah air, bangsa dan negara.
  11. Cinta tanah air dan bangsa.
  12. Tanpa pamrih dan banyak bekerja.
  13. Disiplin yang tinggi.
  14. Percaya kepada hari depan yang gemilang dari bangsanya

Landasan perjuangan bangsa Indonesia termaktub dalam nilai-nilai tersebut yang menjadi bagian dalam merumuskan dasar negara kita Pancasila. Selain itu, para bapak bangsa dan rakyat Indonesia pada waktu itu telah mendalami nilai-nilai tersebutsehingga menyatu dalam diri.

Keputusan yang diambil dan disepakati dalam proses perumusan dasar negara pada saat itu merupakan keputusan terbaik yang mengutamakan kepentingan bangsa dan negara. Berdasarkan nilai-nilai itulah, Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia dapat dipertahankan hingga sekarang.

Jawablah pertanyaan berikut ini!
1. Sebutkan empat macam sikap atau perilaku yang sesuai dengan sila pertama Pancasila!
  1. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing.
  2. Hidup rukun dan dapat bekerja sama antar pemeluk agama dan penganut kepercayaan yang berbeda-beda.
  3. Menghormati setiap orang dalam kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya.
  4. Yakin terhadap agama atau kepercayaan yang dianutnya tetapi tidak memaksakannya kepada orang lain

2. Sebagai seorang peserta didik, bagaimana bersikap yang sesuai dengan nilai Pancasila ketika berada di lingkungan sekolah dan rumah?
  1. Lingkungan sekolah: Berkawan baik kepada semua teman di kelas, jujur ketika ulangan/ujian, mengerjakan tugas piket sesuai jadwal yang diberikan/disepakati.
  2. Lingkungan rumah: Membuka diri untuk menerima masukan dari anggota keluarga yang lain, membantu pekerjaan rumah orang tua, menjaga adik/tidak menggangunya

Demikian pembahasan mengenai Nilai Kebersamaan dalam Proses Perumusan Pancasila. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Sumber : Buku PKn Kelas IV Kurikulum Merdeka, Kemendikbud
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 1:29 PM

Gagasan Perumusan Dasar Negara

Pancasila menjadi dasar negara Indonesia. Setiap tahunnya terdapat dua peringatan Pancasilan di Indoensia. Pertama pada tanggal 1 Juni yang menjadi Hari Lahir Pancasila dan setiap tanggal 1 Oktober yang menjadi Hari Kesaktian Pancasila untuk memeringati para pahlawan yang gugur. Selama ini kita mengetahui bahwa di balik terciptanya Pancasila, terdapat tiga tokoh penting yang berperan dalam perumusan Pancasila. Berikut ini penjelasannya.

Selaku ketua Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK), dr.Radjiman Wedyodiningrat dari mulai sidang mengajukan suatu masalah sebagai agenda utamanya. Masalah tersebut merupakan hal penting dan mendasar dalam suatunegara yang baru terbentuk. Dalam sidang BPUPK tersebut, proses perumusan dasar negara Indonesia dimulai.

Pada pembicaraan rumusan calon dasar negara majulah beberapa orang pembicara dalam sidang tersebut, diantaranya Mr. Muhammad Yamin, Prof. Dr. Mr. Soepomo, dan Ir. Soekarno untuk memaparkan gagasannya. Gagasan tersebut kemudian dimusyawarahkan dan disepakati hingga akhirnya bernama Pancasila yang menjadi dasar negara Indonesia merdeka. Gagasan dari ketiga tokoh tersebut dijabarkan dalam uraian berikut ini.

a) Mr. Muhammad Yamin
Pada pelaksanaan sidang pertama BPUPK tanggal 29 Mei 1945, peristiwa ini menjadi tonggak sejarah karena pada saat itu yang mendapat kesempatan pertama berbicara adalah Mr. Muhammad Yamin untuk menyampaikan mengenai buah pikirannya tentang dasar negara. Pidatonya berisi lima asas dasar negara Indonesia Merdeka, yaitu:
(1) Peri Kebangsaan.
(2) Peri Kemanusiaan.
(3) Peri Ketuhanan.
(4) Peri Kerakyatan.
(5) Kesejahteraan Rakyat.
Muhammad Yamin
b) Prof. Dr. Mr. Soepomo
Selanjutnya tampil Prof. Dr. Mr. Soepomo berpidato di hadapan sidang BPUPK pada tanggal 31 Mei 1945. Dalam pidatonya beliau menyampaikan usulan tentang dasar negara Indonesia merdeka yang terdiri dari lima gagasan:
(1) Persatuan
(2) Kekeluargaan
(3) Keseimbangan lahir batin
(4) Musyawarah
(5) Keadilan rakyat

c) Ir. Soekarno (1 Juni 1945)
Di hadapan sidang BPUPK, Ir. Soekarno menyampaikan pandangan dan pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945. Usulan secara lisan berupa lima asas yang diajukan dalam pidatonya sebagai bentuk dasar negara Indonesia. Adapun rumusan dasar negara tersebut adalah sebagai berikut:
(1) Nasionalisme atau Kebangsaan Indonesia.
(2) Internasionalisme atau Perikemanusiaan.
(3) Mufakat atau Demokrasi.
(4) Kesejahteraan sosial.
(5) Ketuhanan yang berkebudayaan.

Ir. Soekarno mengatakan bahwa saran dari salah seorang ahli bahasa, lima asas di atas diusulkan agar diberi nama “Pancasila”. Istilah “Pancasila” sebagai dasar negara tersebut diterima oleh sidang secara penuh. Selanjutnya, beliau mengungkapkan usulan bahwa kelima sila tersebut dapat diperas lagi menjadi Tri Sila yang rumusannya:
(1) Sosio Nasionalisme, yaitu Nasionalisme dan Internasionalisme.
(2) Sosio Demokrasi, yaitu Demokrasi dengan Kesejahteraan Rakyat.
(3) Ketuhanan Yang Maha Es

Kemudian, Ir. Soekarno menyampaikan kembali bahwa Tri Sila tersebut masih dapat diperas lagi menjadi Eka Sila atau satu sila yang intinya adalah “gotong-royong”

Jawablah pertanyaan berikut ini!
1. Sebutkan teks Pancasila dengan benar dan berurutan!
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusian yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia

2. Sebutkan lembaga-lembaga yang berperan penting dalam pembuatan rumusan  dasar Negara Indonesia.
BPUPK dan PPKI
3. dr.Radjiman Wedyodiningrat sebagai ketua Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK), dari mulai sidang mengajukan suatu masalah sebagai agenda utamanya. Masalah tersebut merupakan hal penting dan mendasar dalam suatu negara yang baru terbentuk. Dalam sidang BPUPK tersebut, proses perumusan dasar negara Indonesia dimulai. Pada pembicaraan rumusan calon dasar negara tersebut tampil dalam sidang antara lain yaitu Mr. Muhammad Yamin, Prof. Dr. Mr. Soepomo, dan Ir. Soekarno untuk memaparkan gagasannya. Gagasan tersebut kemudian dimusyawarahkan dan disepakati hingga akhirnya bernama Pancasila yang menjadi dasar negara Indonesia merdeka. 

Berkaitan dengan cerita singkat tersebut, silakan jawab pertanyaan berikut:
a. Apa masalah yang terjadi pada masa persiapan kemerdekaan Indonesia?
Merupakan hal penting dan mendasar dalam suatu negara yang baru terbentuk (rumusan dasar negara Indonesia)
b. Menurut kalian, bagaimana penyelesaian masalah tersebut?
Tampil dalam sidang tiga orang pembicara; yaitu Mr. Muhammad Yamin, Prof. Dr. Mr. Soepomo, dan Ir. Soekarno untuk memberikan gagasan yang disepakati dalam musyawarah
Demikian pembahasan mengenai Gagasan Perumusan Dasar Negara. Semoga tulisan ini bermafaat.

Sumber : Buku PKn Kelas IV Kurikulum Merdeka, Kemendikbud
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 7:23 PM