Home » » Jenis Puasa Wajib dan Puasa Sunah

Jenis Puasa Wajib dan Puasa Sunah

Puasa berasal dari kata “saumu” yang artinya menahan diri dari segala sesuatu, seperti: menahan makan, minum, nafsu, dan menahan bicara yang tidak bermanfaat. Puasa wajib ada empat yaitu: puasa di bulan Ramadan, puasa kifarat, puasa qada, dan puasa nazar. Puasa sunnah apabila dikerjakan akan mendapatkan pahala, tetapi jika tidak dikerjakan tidak mendapat dosa. Contoh puasa sunnah adalah puasa enam hari pada bulan Syawal, puasa hari Arafah, dan puasa hari Senin Kamis.

Sedangkan menurut istilah puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat dan beberapa syarat tertentu, sesuai dengan firman Allah sebagai berikut:

...وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ....
Artinya:
“Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar...”(Q.S. al-Baqārah/2 :187)

Setiap orang yang percaya kepada Allah diwajibkan untuk berpuasa di bulan Ramadan sebagaimana firman Allah sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. al-Baqārah/2 : 183)

A. Puasa Wajib
Puasa wajib adalah puasa yang harus dilaksanakan oleh setiap umat Islam yang sudah balig dan apabila ditinggalkan akan mendapat dosa. Macam-macam puasa wajib ada empat yaitu:
Macam dan Jenis Puasa Wajib dan Puasa Sunah

1. Puasa Ramadhan
AspekKeterangan
PengertianPuasa Ramadhanadalah puasa yang dilaksanakan di bulan Ramadan. Puasa wajib ini mulai diperintahkan mulai tahun kedua hijrah, setelah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Hukumnya adalah fardu ‘ain.
Syarat wajiba) berakal, b) balig, dan c) mampu berpuasa.
Syarat sahnyaa) Islam,, b) Mumayiz (sudah dapat membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik), c) Suci dari darah haid dan nifas, dan d) Dalam waktu yang diperbolehkan untuk berpuasa.
Rukun puasa
  1. Niat untuk berpuasa. Apabila diucapkan, maka niat puasa tersebut adalah sebagai berikut :
اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ
Artinya:
“Saya berniat puasa Ramadan esok hari untuk menjalankan kewajiban di bulan Ramadan tahun ini karena mentaati perintah Allah Ta’ala.”
Niat untuk melaksanakan puasa dilakukan pada malam hari sebelum memulai puasa dan selambat-lambatnya sebelum terbit fajar.
  1. Menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari.
Hal-hal yang membatalkana) Makan dan minum, b) Muntah yang disengaja atau dibuat-buat, c) Berhubungan suami istri, d) Keluar darah haid atau nifas bagi perempuan,, e) Gila, dan f) Keluar cairan mani dengan sengaja.
Hal-hal yang disunnahkana) Berdoa ketika berbuka puasa, b) Memperbanyak sedekah, c) Śalat malam, termasuk salat tarawih, dan d) Tadarus atau membaca al-Qur’ān.
Hal-hal yang mengurangi pahala puasaMembicarakan kejelekkan orang lain, berbohong, mencaci maki orang lain, dan sebagainya
Orang-orang yang boleh berbuka pada bulan Ramadan
  1. Orang yang sedang sakit dan tidak kuat untuk berpuasa atau apabila berpuasa sakitnya semakin parah, ia harus menggantikannya di hari lain apabila sudah sembuh nanti.
  2. Orang yang sedang dalam perjalanan jauh. Ia pun wajib mengqada puasanya di hari lain.
  3. Orang tua yang sudah lemah sehingga tidak kuat lagi untuk berpuasa. Ia wajib membayar fidyah (bersedekah) tiap hari ¾ liter beras atau yang sama dengan itu kepada fakir miskin.
  4. Orang yang sedang hamil dan menyusui anak, mereka wajib mengqada puasanya sebagaimana orang yang sedang sakit. Kalau hanya khawatir akan menimbulkan mudarat bagi anaknya, ia wajib mengqada puasanya dan membayar fidyah kepada fakir miskin

2. Puasa Nazar
AspekKeterangan
PengertianPuasa nazar adalah puasa yang dilakukan karena mempunyai nazar (janji kebaikan yang pernah diucapkan). Puasa ini wajib dilaksanakan ketika keinginannya atau cita-citanya terpenuhi.
HukumHukum puasa nazar adalah wajib dilaksanakan sebagaimana firman Allah sebagai berikut:
يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا
Artinya:
”Mereka memenuhi nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana”. (Q.S. al-Insan/76:7)

Nazar harus berupa amal kebaikan. Jika seseorang kelepasan bernazar untuk
berbuat maksiat kepada Allah, maka hal tersebut tidak wajib bahkan tidak
boleh dilakukan, bahkan ia harus beristigfar memohon ampun kepada Allah atas nazar berbuat maksiat tadi.

3. Puasa Qada
AspekKeterangan
PengertianPuasa Qadaadalah puasa yang kita niatkan untuk mengganti kewajiban
sesudah lewat waktunya. Misalnya orang yang meninggalkan puasa
karena sedang haid, berkewajiban mengganti puasa tersebut di bulan
yang lainnya.
KetentuanApabila meninggalkan puasanya enam hari, wajib baginya mengqada enam hari (sebanyak jumlah hari yang ditinggalkan). Batas waktu untuk mengqada puasanya adalah sampai datang bulan puasa berikutnya. Apabila tidak dilakukan, ia wajib mengqada serta membayar fidyah.

4. Puasa Kifarat
AspekKeterangan
PengertianPuasa Kifarat Puasa kifarat adalah puasa yang wajib dikerjakan karena melanggar suatu aturan yang telah ditentukan.
KetentuanPuasa kifarat wajib dilaksanakan apabila terjadi hal-hal berikut:
  1. Tidak mampu memenuhi nazar (Jika tidak mampu membayar fidyah, kita wajib berpuasa selama tiga hari.
  2. Berkumpul dengan istri di siang hari pada bulan puasa ( wajib melaksanakan puasa kifarat selama dua bulan berturut-turut.
  3. Membunuh secara tidak sengaja ( membayar kifarat berupa memerdekakan hamba sahaya sambil memberikan santunan kepada pihak korban. Jika tidak mampu, dia harus berpuasa selama dua bulan berturut-turut)
  4. Melakukan zihar kepada istrinya (menyamakan istri dengan ibunya (membayar kifarat dengan memerdekaan hamba sahaya atau berpuasa dua bulan berturut-turut)
  5. Mencukur rambut ketika ihram (memberikan sedekah kepada enam fakir miskin atau berpuasa tiga hari)
  6. Berburu ketika ihram (ditentukan oleh keputusan hakim yang dinilai jujur)
  7. Mengerjakan haji dan umrah dengan cara tamattu’ atau qiran (menyembelih seekor kambing yang pantas untuk berqurban. Apabila tidak sanggup ia wajib melaksanakan puasa selama sepuluh hari. Tiga hari wajib ia kerjakan pada saat ihram paling lambat pada hari raya Haji dan tujuh harinya wajib dilaksanakan sesudah ia kembali ke tanah airnya)

B. Puasa Sunnah
Puasa Sunnah adalah puasa yang dalam pelaksanaannya tidak diwajibkan, akan tetapi sangat dianjurkan dan waktu pelaksanaannya juga pada waktu-waktu yang tertentu. Cara mengerjakan puasa sunah sama seperti melaksanakan puasa Ramadan, yaitu dimulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Beberapa puasa yang disunnahkan untuk dilaksanakan
selain puasa wajib, yaitu:

1. Puasa Syawal
Puasa ini dilaksanakan sesudah tanggal 1 Syawal. Jumlahnya ada enam hari. Cara mengerjakannya boleh dikerjakan enam hari berturut-turut atau boleh juga dilaksanakan dengan cara berselang-seling. Misalnya sehari puasa sehari tidak. Hal ini berdasarkan hadis sebagai berikut:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Artinya :
“Dari Abu Ayub, dari Rasulullah saw. berkata : siapa berpuasa Ramadan kemudian mengikutinya dengan berpuasa 6 hari di bulan Syawal, yang demikian itu (pahalanya) seperti puasa setahun.” (H.R. Jama’ah kecuali Bukhari dan Nasa’i).

2. Puasa Arafah (Tanggal 9 Zulhijjah)
Puasa ini dilaksanakan ketika orang yang melaksanakan ibadah haji sedang wukuf di Padang Arafah. Sedangkan orang yang menunaikan ibadah haji tidak disunnahkan melaksanakan puasa ini.

Keistimewaan puasa Arafah ini dapat menghapus dosa selama dua tahun: yaitu satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang sebagaimana tertuang dalam Hadis yang artinya:
“Dari Abu Qatadah, nabi saw., telah berkata,” puasa hari Arafah itu menghapuskan dosa dua tahun: satu tahun yang telah lalu, dan satu tahun yang akan datang.”(H.R.Muslim)

3. Puasa Hari Senin dan Kamis
Puasa hari Senin dan Kamis adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada hari Senin dan Kamis. Sebagaimana Hadis yang artinya :
“Rasulullah bersabda : Ditempakan amal-amal umatku pada hari Senin dan Kamis dan aku senang amalku ditempakan, maka aku berpuasa”. (H.R. Ahmad dan at-Tirmidzi)

C. Waktu yang diharamkan untuk berpuasa
Allah Swt. Maha Adil dan Maha Bijaksana. Dalam waktu-waktu tertentu kita dilarang berpuasa. Adapun waktu yang diharamkan untuk berpuasa adalah:
  1. Hari raya Idul Fitri dan Idul Adha
  2. Hari tasyrik yaitu tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijah
  3. Hari yang diragukan (apakah sudah tanggal satu Ramadan atau belum)

D. Hikmah Berpuasa
Orang muslim yang senantiasa melaksanakan puasa akan mendapatkan banyak manfaat, antara lain:
  1. Meningkatkan iman dan takwa serta mendorong seseorang untuk rajin bersyukur kepada allah Swt. Ini merupakan tujuan utama orang yang berpuasa.
  2. Menumbuhkan rasa solidaritas terhadap sesama terutama kasih sayang terhadap fakir miskin.
  3. Melatih dan mendidik kesabaran dalam kehidupan sehari-hari karena orang yang berpuasa terdidik menahan kelaparan, kehausan, dan keinginan. Tentulah dengan sabar ia dapat menahan segala kesulitan tersebut.
  4. Dapat mengendalikan hawa nafsunya dari makan minum dan segala yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari.
  5. Mendidik diri sendiri untuk bersifat sidiq karena dengan berpuasa dapat menjaga diri dari sifat pendusta. Sifat ini dapat menghilangkan pahala puasa.
  6. Dengan berpuasa kita juga memberikan waktu istirahat bagi organorgan yang ada di tubuh kita. Sehingga tidak mengherankan bahwa orang yang berpuasa akan menjadi lebih sehat.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae Updated at: 2:44 PM

0 komentar:

Post a Comment

Mohon tidak memasukan link aktif.