Home » » Teks Biografi Tokoh Sastra Indonesia

Teks Biografi Tokoh Sastra Indonesia

Karya sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakinan dalam suatu bentuk gambaran kehidupan, yang dapat membangkitkan pesona dengan alat bahasa dan dilukiskan dalam bentuk tulisan. Pada dasarnya, karya sastra sangat bermanfaat bagi kehidupan, karena karya sastra dapat memberi kesadaran kepada pembaca tentang kebenaran-kebenaran hidup, walaupun dilukiskan dalam bentuk fiksi. Karya sastra dapat memberikan kegembiraan dan kepuasan batin. Hiburan ini adalah jenis hiburan intelektual dan spiritual. Karya sastra juga dapat dijadikan sebagai pengalaman untuk berkarya, karena siapa pun bisa menuangkan isi hati dan pikiran dalam sebuah tulisan yang bernilai seni.

Tokoh sastra Indonesia sangat banyak jumlahnya dan terdiri dari beberapa angkatan. Beberapa diantaranya adalah Angkatan Pujangga Baru, Angkatan 45, Angkatan 1950-1960, Angkatan 1966-1970, Angkatan 1980-1990, Angkatan Reformasi, dan Angkatan 2000. Dari masing-masing angkatan tersebut ada beberapa tokoh yang sangat menonjol karya-karyanya. Untuk lebih mengenal beberapa tokoh sastra yang ada di Indonesia, berikut ini saya mencoba menyajikan biografi beberapa tokoh sastra.

1. Chairil Anwar
Struktur TeksKalimat
OrientasiChairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Julai 1922. Ayahnya bernama Toeloes, mantan bupati Kabupaten Indragiri Riau. Sedangkan ibunya Saleha, berasal dari Situjuh, Limapuluh Kota. Dia masih punya pertalian keluarga dengan Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia.

Chairil Anwar dibesarkan dalam keluarga yang kurang harmonis. Chairil merupakan anak satu-satunya dari pasangan Toeloes dan Saleha. Sebagai anak tunggal, orang tuanya selalu memanjakannya. Namun, Chairil cenderung bersikap keras kepala dan tidak ingin kehilangan apa pun; sedikit cerminan dari kepribadian orang tuanya.
Peristiwa dan MasalahChairil bersekolah di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) yang kemudian dilanjutkan di MULO, tetapi tidak sampai tamat. Walaupun latar belakang pendidikannya terbatas, Chairil menguasai tiga bahasa, yaitu Bahasa Inggris, Belanda, dan Jerman.
chairil anwar
Ia mulai mengenal dunia sastra di usia 19 tahun, namun namanya mulai dikenal ketika tulisannya dimuat di Majalah Nisan pada 1942. Setelah itu, ia menciptakan karya-karya lain yang sangat terkenal bahkan sampai saat ini seperti "Krawang Bekasi" dan "Aku".

Selain dunia sastra Chairil juga berhubungan dengan banyak wanita. Chairil pernah jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Kemudian ia memutuskan untuk menikah dengan Hapsah Wiraredja pada 6 Agustus 1946. Mereka dikaruniai seorang putri bernama Evawani Alissa, namun bercerai pada akhir tahun 1948.

Selama hidupnya Chairil anwar berhasil membuat beberapa karya tulis diantaranya adalah
  1. Deru Campur Debu (1949)
  2. Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (1949)
  3. Tiga Menguak Takdir (1950) (dengan Asrul Sani dan Rivai Apin)
  4. “Aku Ini Binatang Jalang: koleksi sajak 1942-1949″, disunting oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986)
  5. Derai-derai Cemara (1998)
  6. Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948), terjemahan karya Andre Gide
  7. Kena Gempur (1951), terjemahan karya John Steinbeck

Chairil Anwar meninggal dalam usia yang masih muda yaitu sebelum menginjak usia 27 tahun. Chairil di Rumah Sakit CBZ, Jakarta pada tanggal 28 April 1949. Penyebab kematiannya tidak diketahui pasti, menurut dugaan lebih karena penyakit TBC. Ia dimakamkan sehari kemudian di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta
ReorientasiPuisi Chairil Anwar memang kaya warna. Karya-karya puisinya bertema perjuangan/herois, puisi cinta atau pun puisi tentang pandangan kegamaan Semua tulisannya dikompilasi dalam tiga buku yang diterbitkan oleh Pustaka Rakyat.  Makamnya pun diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari masa ke masa. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.

2. Putu Wijaya
Struktur TeksKalimat
OrientasiI Gusti Ngurah Putu Wijaya atau biasa dipanggil Putu Wijaya lahir di Puri Anom, Tabanan, Bali pada tanggal 11 April 1944. Putu Wijaya adalah bungsu dari lima bersaudara seayah maupun dari tiga bersaudara seibu. Ayahnya, I Gusti Ngurah Raka, seorang pensiunan punggawa yang keras dalam mendidik anak dan ibunya bernama Mekel Ermawati.

Reni Jayusman merupakan istri perta Putu Wijaya, yang kemudian kandas akibat perceraian. Setelah bercerai Putu Wijaya menikah dengan Dewi Pramunawati dan dikaruniai seorang anak perempuan. bernama I Gusti Ngurah Taksu Wijaya.
Peristiwa dan MasalahMasa sekolah dari sekolah rakyat sampai sekolah atas diselesaikan di tempat kelahirannya. Kemudian ia melanjutkan di fakultas hukum Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Ia dapat menyelesaikan studinya pada tanggal 28 Juni 1969. Selain menempuh ilmu hukum di UGM, Putu Wijaya juaga menimba ilmu di Akademi Seni Drama dan Film, Asdrafi, selama setahun, yaitu tahun 1964. Putu juga pernah mengikuti mengikuti International Writing Programme, Iowa, AS pada tahun 1974.

Putu Wijaya merupakan seorang sastrawan yang dikenal serba bisa. Ia penulis drama, cerpen, esai, novel, dan juga penulis skenario film dan sinetron. Putu juga sudah menulis kurang lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esei, artikel lepas, dan kritik drama.

Skenario film yang pernah ditulis Putu Wijaya antara lain : Perawan Desa (memperoleh Piala Citra FFI 1980), Kembang Kertas (memperoleh Piala Citra FFI 1985), Ramadhan dan Ramona, Dokter Karmila, Bayang-Bayang Kelabu, Anak-Anak Bangsa, Wolter Monginsidi, Sepasang Merpati, dan Telegram.

Penulis skenario sinetron, beberapa diantaranya adalah : Keluarga Rahmat, Pas, None, Warung Tegal, Dukun Palsu (komedi terbaik pada FSI 1995), Jari-Jari Cinta, Balada Dangdut, Dendam, Cerpen Metropolitan, Plot, Klop, Melangkah di Atas Awan (penyutradaraan), Nostalgia, Api Cinta Antonio Blanco, Tiada Kata Berpisah, Intrik, Pantang Menyerah, Sejuta Makna dalam Kata, dan Nona-Noni.

Karya drama diantaranya adalah : Dalam Cahaya Bulan (1966), Lautan Bernyanyi (1967), Bila Malam Bertambah Malam (1970), Invalid (1974), Tak Sampai Tiga Bulan (1974), Anu (1974), Aduh (1975), Dag-Dig-Dug (1976), Gerr (1986), dan lain-lain.

Karya novel diantaranya adalah : Bila Malam Bertambah Malam (1971), Telegram (1972), Stasiun (1977), Pabrik (1976), Keok (1978), Byar Pet (Pustaka Firdaus, 1995), Kroco (Pustaka Firdaus, 1995), Dar Der Dor (Grasindo, 1996), Aus (Grasindo, 1996), dan lain-lain.

Karya cerpen diantaranya adalah : kumpulan cerpen Bom (1978), Es (1980, Gres (1982), Protes (1994), Darah (1995), Yel (1995), Blok (1994), Zig Zag (1996), Tidak (1999), dan lain-lain.

Karya esainya terdapat dalam kumpulan esai Beban, Kentut, Samar, Pembabatan, Klise, Tradisi Baru, Terror Mental, dan Bertolak dari yang Ada.
ReorientasiAda yang menarik dari cerpen karya-karya Putu Wijaya ini. Lucu, lugas dan enak untuk dibaca. Mungkin itu yang menjadi ciri khas cerpen Putu Wijaya. Setiap kalimat ditulis dengan gaya lugas dan jumlah kata di dalam kalimatnya sedikit. Dengan kata lain, cerpen Putu Wijaya ini tidak berumit-rumit dengan diksi yang membingungkan.

3. Goenawan Mohammad
Struktur TeksKalimat
OrientasiGoenawan Soesatyo Mohamad lahir di Batang, Jawa Tengah pada 29 Juli 1941. Goenawan Mohamad adalah seorang jurnalis dan sastrawan yang kritis dan berwawasan luas. ia juga dikenal sebagai penyair, penulis lakon, esesis.

Goenawan Moehamad menikah dengan Widarti Djajadisastra dan memiliki dua anak, Hidayat Jati dan Paramita Mohamad. Dua cucu: Kiara dan Isaia.
Peristiwa dan MasalahMasa sekolah dasar diselesaikan di sekolah rakyat Negeri Parakan Batang, tahun 1953, kemudian melanjutkan  ke SMP Negeri II Pekalongan dan lulus tahun 1956. Setelah lulus SMP Goenawan melanjutkan pendidikannya di SMA Negeri Pekalongan dan lulus tahun 1959. Selepas SMA Goenawan mempelajari psikologi di Universitas Indonesia, mempelajari ilmu politik di Belgia dan menjadi Nieman Fellow di Harvard University, Amerika Serikat.

Karir Goenawan Mohamad, dimulai dari Redaktur Harian KAMI (1969-1970), Redaktur Majalah Horison (1969-1974), Pemimpin Redaksi Majalah Ekspres (1970-1971), Pemimpin Redaksi Majalah Swasembada (1985). Dan sejak 1971, Goenawan bersama rekan-rekannya mendirikan majalah Mingguan Tempo. Jiwa kritisnya membawanya untuk mengkritik rezim Soehart. Tempo dianggap sebagai oposisi yang merugikan kepentingan pemerintah sehingga dihentikan penerbitannya pada 1994.

Selama kurang lebih 30 tahun menekuni dunia pers, Goenawan menghasilkan berbagai karya yang sudah diterbitkan di antaranya kumpulan puisi dalam Parikesit (1969) dan Interlude (1971), yang diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Jepang, dan Prancis. Sebagian eseinya terhimpun dalam Potret Seorang penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Sek*, Sastra, dan Kita (1980), dan Catatan Pinggir (1982).

Selama kiprahnya di dunia jurnalis dan sastra Goenawan Mohammad beberapa penghargaan, diantaranya adalah Anugerah Hamengku Buwono IX bidang kebudayaan dari Universitas Gadjah Mada, Penghargaan Professor Teeuw dari Leiden University Belanda (1992), Louis Lyons dari Harvard University Amerika Serikat (1997), Internasional Editor (International Editor of the Year Award) dari World Press Review, Amerika Serikat (Mei 1999), Internasional dalam Kebebasan Pers (International Press Freedom Award) oleh Komite Pelindung Jurnalis (Committee to Protect Journalists) (1998), Wertheim Award (2005), dan Anugerah sastra Dan David Prize (2006)
ReorientasiSebagai  jurnalis dan sastrawan yang kritis dan berwawasan luas Goenawan Mohamad tanpa lelah, memperjuangkan kebebasan berbicara dan berpikir melalui berbagai tulisan dan organisasi yang didirikannya. Tulisannya banyak mengangkat tema HAM, agama, demokrasi, korupsi, dan sebagainya.

4. N.H. Dini
Struktur TeksKalimat
OrientasiNurhayati Sri Hardini Siti Nukatin lahir di Semarang, Jawa Tengah, 29 Februari 1936. NH Dini adalah sastrawan, novelis, dan feminis. NH Dini dilahirkan dari pasangan Saljowidjojo dan Kusaminah. Ia anak bungsu dari lima bersaudara, Konon ia masih berdarah Bugis,

NH Dini menikah dengan Yves Coffin, Konsul Prancis di Kobe, Jepang, pada 1960. Dari pernikahan itu ia dikaruniai dua anak, Marie-Claire Lintang (lahir pada 1961) dan Pierre Louis Padang (lahir pada 1967). NH Dini berpisah dengan suaminya, Yves Coffin pada 1984, dan mendapatkan kembali kewarganegaraan RI pada 1985 melalui Pengadilan Negeri Jakarta
Peristiwa dan MasalahRiwayat pendidikan Nh. Dini dimulai dari Sekolah Dasar  di Semarang dan lulus tahun 1950. Pada waktu dia masih SMP ayahnya meninggal dunia. Pendidikan paling tinggi yang diraih adalah sampai sekolah menengah atas jurusan sastra di Semarang pada tahun 1956. Kemudian mengikuti kursus Paramugari GIA di Jakarta pada tahun 1956. Pada tahun 1957 NH Dini mengikuti kursus B1 jurusan sejarah dan selesai tahun 1959.

Kepiawaian menulis dapat diketahui sejak berusia sembilan tahun ketika dia menulis karangan yang berjudul “Merdeka dan Merah Putih”. Karya tersebut dianggap membahayakan Belanda sehingga ayahnya harus berurusan dengan Belanda. Namun, setelah mengetahui penulisnya anak-anak, Belanda mengalah.

Karya sastranya yang berupa puisi dan cerpen dimuat dalam majalah Budaya dan Gadjah Mada di Yogyakarta (1952), majalah Mimbar Indonesia, dan lembar kebudayaan Siasat. Pada tahun 1955 ia memenangkan sayembara penulisan naskah sandiwara radio dalam Festival Sandiwara Radio di seluruh Jawa Tengah.

Aktivitas lain yang dilakukannya ialah mendirikan perkumpulan seni Kuncup Mekar bersama kakaknya.Kegiatannya ialah karawitan dan sandiwara. Nh. Dini juga bekerja, yaitu di RRI Semarang, tetapi tidak lama. Kemudian, ia bekerja di Jakarta sebagai pramugari GIA (1957—1960).

Karya-karya Nh. Dini berupa puisi diantaranya : Februari (1956), Kapal di Pelabuhan Semarang (1956), Bulan di Abad yang Akan Datang  (1969), Tetangga  (1970), Tak Ada yang Kulupa” (1971), Dua yang Pokok” (1971), Kemari Dekatkan Kursimu (1971), dan masih banyak yang lainnya.

Karya NH Dini berupa kumpulan cerita pendek antara lain : Dua Dunia (1956), Tuileries (1982), Segi dan Garis (1983), Liar (1989), dan Istri Konsul (1989).

Karya NH Dini berupa novel diantaranya adalah : Dua Dunia (1956), Hati yang Damai (1961), Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975), Namaku Hiroko (1977), Sebuah Lorong di Kotaku (1978), Langit dan Bumi Sahabat Kami (1979), Padang Ilalang di Belakang Rumah (1979), Sekayu (1981), dan lain-lain.

Selain puisi, cerpen, dan novel NH Dini juga memiliki karya lain, diantaranya adalah : Pangeran dari Negeri Seberang (Biografi penyair Amir Hamzah) (1981), Dongeng dari Galia Jilid I dan II (cerita rakyat Prancis) (1981), Peri Polybotte (cerita rakyat Prancis) (1983), dan Sampar (novel terjemahan dari La Peste karya Albert Camus) (1985).

Penghargaan yang telah diperolehnya ialah hadiah kedua untuk cerpennya “Di Pondok Salju” yang dimuat dalam majalah Sastra (1963), hadiah lomba cerpen majalah Femina (1980), dan hadiah kesatu dalam lomba mengarang cerita pendek dalam bahasa Prancis yang diselenggarakan oleh Le Monde dan Radio Frence Internasionale (1987).
ReorientasiNh. Dini, adalah perempuan novelis Indonesia yang kuat. Dia bukan masuk sastra motivasi sebagaimana umumnya perempuan penulis masa kini, tetapi sebagai angkatan lama ia seorang penulis sastra yang soliter. Bahkan dalam novel Namaku Hiroko, menampakkan munculnya pandangan generasi baru kaum perempuan. 

5. Sapardi Djoko Damono
Struktur TeksKalimat
OrientasiProf. Dr. Sapardi Djoko Damono lahir di Surakarta, 20 Maret 1940. Ia adalah seorang pujangga berkebangsaan Indonesia terkemuka. Ia dikenal melalui berbagai puisi-puisinya yang menggunakan kata-kata sederhana, sehingga beberapa di antaranya sangat populer, baik di kalangan sastrawan maupun khalayak umum.

Sapardi merupakan anak sulung dari pasangan Sadyoko dan Sapariah. Sadyoko adalah abdi dalem di Keraton Kasunanan, mengikuti jejak kakeknya. Ia menikah dengan Wardiningsih dan dikaruniai seorang putra dan seorang putri Rasti Suryandani dan Rizki Henriko.
Peristiwa dan MasalahRiwayat pendidikan Sapardi Joko Damono dimulai dari Sekolah Dasar Kasatrian di Surakarta. Setelah lulus Sekolah Dasar melanjutkan pendidikan di SMP II Mangkunagaran dan lulus tahun 1955. Masa SMA dihabiskan di SMA II di Margoyudan lulus tahun 1958. Setamat SMA ia melanjutkan studi di Jurusan Sastra Barat Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada (UGM).

Karya-karya Sapardi Joko Damono yang berupa kumpulan puisi dan essai antara lain : Duka-Mu Abadi, Bandung (1969), Lelaki Tua dan Laut (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway), Mata Pisau (1974), Sepilihan Sajak George Seferis (1975; terjemahan karya George Seferis), Puisi Klasik Cina (1976; terjemahan), Lirik Klasik Parsi (1977; terjemahan), Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak (1982, Pustaka Jaya), Perahu Kertas (1983), Sihir Hujan (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia), Water Color Poems"(1986; translated by J.H. McGlynn), Suddenly the night: the poetry of Sapardi Djoko Damono" (1988; translated by J.H. McGlynn), Afrika yang Resah (1988; terjemahan), Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks), Hujan Bulan Juni (1994), Black Magic Rain" (translated by Harry G Aveling), Arloji (1998), Ayat-ayat Api (2000), Pengarang Telah Mati (2001; kumpulan cerpen), Mata Jendela (2002), Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro? (2002), Membunuh Orang Gila (2003; kumpulan cerpen), Nona Koelit Koetjing: Antologi cerita pendek Indonesia periode awal (1870an - 1910an) (2005; salah seorang penyusun), Mantra Orang Jawa (2005; puitisasi mantera tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia), Before Dawn: the poetry of Sapardi Djoko Damono" (2005; translated by J.H. McGlynn), Kolam  (2009; kumpulan puisi), Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita" (2012), dan Namaku Sita (2012; kumpulan puisi)

Selain menerjemahkan beberapa karya Kahlil Gibran dan Jalaluddin Rumi ke dalam bahasa Indonesia, Sapardi juga menulis ulang beberapa teks klasik, seperti Babad Tanah Jawa dan manuskrip I La Galigo.

Sejak tahun 1974 ia mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, namun kini telah pensiun. Ia pernah menjadi dekan di sana dan juga menjadi guru besar. Pada masa tersebut ia juga menjadi redaktur pada majalah "Horison", "Basis", dan "Kalam".

Sapardi Djoko Damono banyak menerima penghargaan antara lain Cultural Award dari Australia (1978), Anugerah Puisi Putra dari Malaysia (1983), SEA Write Award dari Thailand (1986), Anugerah Seni dari Pemerintah Indonesia (1990), Mataram Award (1985), Kalyana Kretya (1996) dari Menristek RI, dan Penghargaan Achmad Bakrie (2003)
ReorientasiSapardi, seorang penyair, pemikir, dan kritikus sastra kenamaan kaliber dunia. Sebagai penyair, ia terkenal dengan puisinya yang melodius. Dalam sajak Sapardi Djoko Damono yang berjudul Catatan Masa Kecil tersebut, ada beberapa petanda yang mengarah pada eksistensi kemanusiaan. Eksistensi kemanusian mungkin akan selalu berubah, karena manusia sendiri merupakan makhluk yang kompleks.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae Updated at: 10:02 PM

0 komentar:

Post a Comment

Mohon tidak memasukan link aktif. Silahkan tulis url Anda dengan tanda koma (,). Jika saya sempat akan kunbal....