Home » » Model Pembelajaran Matematika Kurikulum 2013

Model Pembelajaran Matematika Kurikulum 2013

Strategi pembelajaran matematika adalah usaha yang dilakukan pendidik dalam mengorganisasikan materi pembelajaran melalui perencanaan dalam penggunaan pendekatan, metode, dan sumber daya pembelajaran. Hal ini berdasarkan karakteristik siswa maupun dalam mengembangkan, menilai, dan merevisi material pembelajaran matematika yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan pelajaran matematika secara efektif.

Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Dalam hal ini model pembelajaran merupakan cara yang digunakan guru dalam mengorganisasikan kelas pada umumnya atau dalam menyajikan bahan pelajaran pada khususnya. Di mana hal ini merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan.

Model pembelajaran tidak hanya berfungsi sebagai cara untuk menyampaikan materi saja. Akan tetapi berfungsi juga untuk pemberian dorongan, pengungkap tumbuhnya minat belajar, penyampaian bahan belajar, pencipta iklim belajar yang kondusif, tenaga untuk melahirkan kreativitas, pendorong untuk penilaian diri dalam proses, hasil belajar, dan pendorong dalam melengkapi kelemahan hasil belajar.

1. Model Discovery Learning
Kemendikbud (2014) menjelaskan bahwa prinsip belajar yang nampak jelas dalam Discovery Learning adalah materi atau bahan pelajaran yang akan disampaikan tidak disampaikan dalam bentuk final akan tetapi siswa sebagai siswa didorong untuk mengidentifikasi apa yang ingin diketahui dilanjutkan dengan mencari informasi sendiri kemudian mengorganisasi atau membentuk (konstruktif) apa yang mereka ketahui dan mereka pahami dalam suatu bentuk akhir. Syah (2004) menjelaskan fase (syntax) model discovery learning adalah sebagai berikut.
Model Discovery Learning
  1. Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan)
  2. Problem statement (pernyataan/identifikasi masalah)
  3. Data collection (pengumpulan data)
  4. Data processing (pengolahan data)
  5. Verification (pembuktian)
  6. Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi

2. Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning/PBL)
Arends (2008) menyatakan bahwa Problem Based Learning (PBL), berusaha untuk memandirikan siswa. Tuntutannya adalah guru mendorong dan mengarahkan siswa untuk bertanya dan mencari solusi sendiri masalah nyata, dan siswa menyelesaikan tugas-tugas dengan kebebasan berpikir dan dengan dorongan inkuiri terbuka. Problem Based Learning (PBL) juga sering disebut Problem Based Instruction. Menurut Nur (2011) ciri khas sebagai berikut.
Problem Based Learning/PBL
  1. Mengajukan pertanyaan atau masalah. PBL menekankan pada mengorganisasikan pembelajaran di sekitar pertanyaan-pertanyaan atau masalah-masalah yang penting secara sosial dan bermakna secara pribadi bagi siswa. Pelajaran diarahkan pada situasi kehidupan nyata, menghindari jawaban sederhana, dan memperbolehkan adanya keragaman solusi beserta argumentasinya.
  2. Berfokus pada interdisiplin. Meskipun PBL dapat berpusat pada mata pelajaran tertentu (sains, matematika, IPS) namun solusinya menghendaki siswa melibatkan banyak mata pelajaran.
  3. Penyelidikan otentik. PBL menghendaki siswa menggeluti penyelidikan otentik dan berusaha memperoleh pemecahan nyata terhadap masalah nyata, seperti mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis dan membuat prediksi, mengupulkan dan menganalisis informasi, melaksanakan eksperimen (jika diperlukan), dan membuat kesimpulan.
  4. Menghasilkan karya nyata dan memamerkan. PBL menghendaki siswa menghasilkan produk dalam bentuk karya nyata dan memamerkannya. Produk ini mewakili solusi-solusi mereka, misalnya skrip sinetron, sebuah laporan, modul fisik, rekaman video, atau program komputer
  5. Kolaborasi. Seperti pembelajaran kooperatif, PBL juga ditandai oleh siswa yang bekerja sama dengan siswa lain.

3. Model Pembelajaran Berbasis Proyek
Kemendikbud (2014) menjelaskan bahwa Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning/PjBL) adalah model pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai inti pembelajaran. Siswa melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar.

Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan model belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas secara nyata. Pembelajaran Berbasis Proyek dirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek yang diperlukan siswa dalam melakukan insvestigasi dan memahaminya. Melalui PjBL, proses inquiry dimulai dengan memunculkan pertanyaan penuntun (a guiding question) dan membimbing siswa dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam kurikulum.
Model Pembelajaran Berbasis Proyek
Pembelajaran Berbasis Proyek memiliki karakteristik seperti
  • Siswa membuat keputusan tentang sebuah kerangka kerja,
  • Adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada siswa,
  • Siswa mendesain proses untuk menentukan solusi atas permasalahan atau tantangan yang diajukan,
  • Siswa secara kolaboratif bertanggungjawab untuk mengakses dan mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan,
  • Proses evaluasi dijalankan secara kontinyu,
  • Siswa secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah dijalankan,
  • Produk akhir aktivitas belajar akan dievaluasi secara kualitatif,
  • Situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan.

4. Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Solihin, E dan Rahardjo (2007:4): Pembelajaran kooperatif dapat diartikan sebagai suatu struktur tugas bersama dalam suasana kebersamaan diantara anggota kelompok. Lie (2008:17) mengemukakan: Pembelajaran kooperatif adalah suatu sikap atau prilaku bersama dalam bekerja atau membantu diantara sesama dalam struktur dalam kerjasama yang teratur dalam kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih. Keberhasilan kerja dipengaruhi oleh keterlibatan oleh setiap kelompok itu sendiri.

Model-model pembelajaran kooperatif, antara lain sebagai berikut.
  1. Student Team-Achievement Division (STAD)/Divisi Pencapaian-Kelompok Siswa.
  2. Pembelajaran kooperatif Tipe Team Games Turnament (TGT).
  3. Model pembelajaran investigasi kelompok/Group Investigastion (GI).

Dari ketiga model kooperatif di atas yang paling tepat untuk pembelajaran matematika adalah tipe STAD. Langkah-langkah untuk menggunakan STAD adalah sebagai berikut.
Team-Achievement Division
  1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara hetrogen (campuran menuru presatasi, jenis kelamin, suku, dan lain-lain).
  2. Guru menyajikan pelajaran.
  3. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok. Anggotanya yang sudah mengerti dapat menjelaskan pada anggota lainya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
  4. Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu.
  5. Memberi evaluasi.
  6. Kesimpulan.

5. Pembelajaran Matematika Realistik Indonesia
PMRI adalah singkatan dari Pembelajaran Matematika Realistik Indonesia. PMRI digagas oleh sekolompok pendidik matematika di Indonesia. PMRI merujuk RME (Realistic Mathematics Education) yang diterapkan dengan sukses di Belanda sejak 1970-an dan juga di beberapa negara lain, seperti di Amerika Serikat yang dinamakan Mathematics in Context. Salah satu permasalahan terbesar dengan matematika modern ialah menyajikan matematika sebagai produk jadi, siap pakai, abstrak dan diajarkan secara mekanistik: guru mendiktekan rumus dan prosedur ke siswa.

Tim PMRI Universitas Sanata Darma Yogyakarta mengembangkannya dalam kondisi sosial dan budaya Indonesia, menjabarkannya dan mencoba mempraktikkannya di kelas adalah sebagai berikut.
  1. Murid aktif, guru aktif (Matematika sbg aktivitas manusia).
  2. Pembelajaran sedapat mungkin dimulai dengan menyajikan masalah kontekstual/ realistik.
  3. Guru memberi kesempatan pada siswa menyelesaikan masalah dengan cara sendiri.
  4. Guru menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan.
  5. Siswa dapat menyelesaikan masalah dalam kelompok (kecil atau besar).
  6. Pembelajaran tidak selalu di kelas (bisa di luar kelas, duduk di lantai, pergi ke luar sekolah untuk mengamati atau mengumpulkan data).
  7. Guru mendorong terjadinya interaksi dan negosiasi, baik antara siswa dan siswa, juga antara siswa dan guru.
  8. Siswa bebas memilih modus representasi yang sesuai dengan struktur kognitifnya sewaktu menyelesaikan suatu masalah (Menggunakan model).
  9. Guru bertindak sebagai fasilitator (Tutwuri Handayani).
  10. Kalau siswa membuat kesalahan dalam menyelesaikan masalah jangan dimarahi tetapi dibantu melalui pertanyaan-pertanyaan dan usaha mereka hendaknya dihargai. (Gunakan pendekatan Sani, praktekkan tepa selira dan ngewongké wong) (Y. Marpaung)

Sumber : Buku Matematika Kelas V Kurikulum 2013, Kemendikbud
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 5:53 PM

0 komentar:

Post a Comment

Mohon tidak memasukan link aktif.