Meneladani Nilai-nilai Perjuangan Rasulullah saw. di Madinah

Hijrah artinya pindah. Hijrah Rasul artinya perpindahan Rasulullah saw. beserta sahabatnya dari Mekah ke Madinah. Beliau bisa menyatukan penduduk di Madinah dengan berbagai macam keyakinan. Membuat suatu kebijakan di mana seluruh kelompok tidak ada yang tersinggung dan tersakiti.

Beberapa Penyebab Nabi Muhammad saw. hijrah adalah: karena atas perintah Allah Swt., serangan kafir Quraisy Mekah yang semakin meningkat, ada harapan baru untuk mengembangkan Islam di Madinah. Muhajirin adalah orang-orang Mekah yang hijrah, sedangkan Anaar adalah orang-orang Madinah yang menyambut kedatangan kaum Muhajirin.

A.Sebab-Sebab Rasulullah Hijrah
Bertahun-tahun Nabi Muhammad saw. menyerukan Islam di Mekah, tetapi hasilnya hanya sedikit yang mengikuti ajaran-Nya. Pada saat Nabi Muhammad saw. membutuhkan dorongan dan motivasi dari orang-orang terdekatnya, justru isterinya, Siti Khadijah dan pamannya, Abu Thalib, berpulang ke rahmatullah dalam waktu yang hampir bersamaan.Wafatnya Siti Khadijah dan Abu Thalib membuat Nabi berada dalam suasana duka.

Di tengah kesedihannya, Nabi Muhammad saw. mengalami peristiwa luar biasa, yaitu Isra’
Mi’raj. Peristiwa itu terjadi pada 27 Rajab 621 M. Peristiwa ini memberikan pelajaran yang sangat
berharga kepada Nabi Muhammad saw. Pada peristiwa tersebut, Nabi Muhammad saw. menerima perintah shalat 5 waktu dalam sehari semalam.

Setelah Isra’ Mi’rajNabi Muhammad saw. meneruskan dakwahnya dan mengabarkan peristiwa yang dialaminya. Kabar itu membuat kafir Quraisy menganggap Nabi Muhammad saw. telah melakukan pembohongan. Usaha-usaha pembunuhan terhadap Nabi Muhammad saw. dan pengikutnya terus digalakkan. Penyebab Nabi Muhammad saw. hijrah adalah:
  1. Karena atas perintah Allah Swt.,
  2. Karena serangan kafir Quraisy Mekah yang semakin meningkat,
  3. Karena ada harapan baru untuk mengembangkan Islam di Madinah.

Pada tahun 621 M datanglah sejumlah orang dari Madinah, menemui Nabi di Bukit Aqaba. Mereka memeluk agama Islam. Peristiwa tersebut dikenal dengan Bai’at Aqaba I. Tahun 622 M, datanglah 73 orang dari Madinah ke Mekah. Mereka merupakan Suku Aus dan Khazraj yang menemui Nabi dan mengajak berhijrah ke Madinah. Mereka menyatakan siap membela dan melindungi Nabi dan para pengikutnya dari Mekah. Peristiwa ini dikenal dengan Bai’at Aqabah II.

B.Perjalanan Hijrah Rasulullah saw
Dalam upaya menyelamatkan dakwah Islam dari gangguan kafir Quraisy, Nabi Muhammad, atas perintah Allah, memutuskan hijrah dari Mekah ke Madinah. Namun sebelumnya, Nabi telah memerintahkan kaum mukminin agar hijrah terlebih dahulu ke Madinah. Para sahabat pun segera berangkat secara diam-diam agar tidak dihadang oleh kelompok kafir Quraisy.

Menjelang larut malam, Nabi Muhammad saw. menuju ke rumah Abu Bakar dan mengajaknya hijrah. Dalam perjalanannya, mereka berdua sempat bersembunyi di Gua ¢ur selama tiga hari tiga malam. Tidak ada seorang pun yang mengetahui tempat persembunyian itu selain Abdullah bin Abu Bakar, kedua orang puterinya, Aisyah dan Asma, dan pembantu mereka ‘Amir bin Fuhaira.

Pada hari ketiga, mereka berdua berangkat dan melanjutkan perjalanan. Supaya aman, Nabi Muhammad saw. dan Abu Bakar mengambil jalan yang tidak pernah dilalui manusia. Abdullah bin Uraiqit dari Banu Du’il diminta sebagai penunjuk jalan. Keduanya membawa Nabi
Muhammad saw. dan Abu Bakar menuju Tihama di dekat pantai Laut Merah.

Di tengah perjalanan menuju Madinah, Rasulullah saw. singgah di Quba’. Di sana beliau membangun sebuah masjid. Masjid ini menjadi masjid pertama dalam sejarah Islam. Pada hari Jumat pagi, beliau berangkat dari Quba’ dan tiba di perkampungan Bani Salim bin Auf tepat pada waktu Shalat Jumat. Shalat-lah beliau di sana. Inilah Shalat Jumat pertama dalam Islam. Khotbahnya pun merupakan khotbah yang petama.

Nabi Muhammad saw. dan Abu Bakar tiba di Madinah pada tanggal 12 Rabiul Awal. Kedatangan beliau telah dinanti-nanti masyarakat Madinah.

C. Dakwah Nabi Muhammad saw. di Madinah
Setelah sampai di Madinah, Nabi Muhammad saw. mulai membuat program kerja dan melaksanakannya yaitu membangun masjid, mempersaudarakan antara Muhajirin dan Ansar, dan membuat perjanjian dengan penduduk Madinah

Langkah pertama, membangun masjid. Masjid yang pertama dibangun Nabi di Madinah adalah masjid Nabawi. Masjid Nabawi dibangun pada bulan rabiulawal 1 hijriah (september 622 SM). Di antara fungsi masjid pada zaman Nabi adalah sebagai tempat mempersatukan umat, bermusyawarah tentang perkembangan Islam, mengkaji ilmu agama, bahkan sebagai pusat pemerintahan
masjid Nabawi
Langkah berikut Nabi Muhammad saw. adalah mempersaudarakan antara orang-orang Muhajirin dengan Ansar. Di antara para sahabat yang dipersaudarakan adalah:
No. Muhajirin Ansar
1. Abu Bakar Kharijah bin Zuhair
2. Umar bin Khattab Itban bin Malik
3. Bilal bin Rabah Abu Ruwaihah
4. Amir bin Abdillah Sa’ad bin Muadz
5. Abdul Rahman bin Auf Sa’ad bin Rabi’
6. Zubair bin Awwam Salamah bin Salamah
7. Usman bin Affan Aus bin Tsabit
8. Thalhah bin Ubaidillah Ka’ab bin Malik
9. Abu Huzaifah bin Utbah Ubbah bin Bisyr
10. Ammar bin Yasir Huzaifah bin Al Yaman

Selanjutnya, Nabi Muhammad saw. merumuskan piagam yang berlaku bagi seluruh kaum muslimin dan orang-orang nonmuslim di Madinah, yang kemudian disebut “Piagam Madinah”. Adapun isi piagam Madinah antara lain:
  1. Kaum Yahudi bersama kaum muslimin wajib turut serta dalam peperangan.
  2. Kaum Yahudi dari Bani Auf diperlakukan sama kaum muslimin.
  3. Kaum Yahudi tetap dengan Agama Yahudi mereka, dan demikian pula dengan kaum muslimin.
  4. Semua kaum Yahudi dari semua suku dan kabilah di Madinah diberlakukan sama dengan kaum Yahudi Bani Auf.
  5. Kaum Yahudi dan muslimin harus saling tolong menolong dalam memerangi atau menhadapi musuh.
  6. Kaum Yahudi dan muslimin harus senantiasa saling berbuat kebajikan dan saling mengingatkan ketika terjadi penganiayaan atau kedhaliman.
  7. Kota Madinah dipertahankan bersama dari serangan pihak luar.
  8. Semua penduduk Madinah dijamin keselamatanya kecuali bagi yang berbuat jahat.

Dengan program-program cerdas yang dilakukan Nabi Muhammad saw., Madinah menjadi daerah yang sangat maju baik peradaban maupun kebudayaannya sehingga terkenalah dengan sebutan al-Madinah al-Munawarah (kota yang bercahaya).
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 9:43 AM

Ketentuan dan Hikmah Shalat Jum’at.

Hari Jum’at disebut juga “Sayyidul Ayyam”, artinya “tuannya hari”. Hari Jum’at mempunyai keistimewaan dibandingkan hari lain. Kata Jum’at diambil dari kata “jama’a” yang artinya “berkumpul”. Yaitu hari berkumpulnya umat muslim untuk melaksanakan kebaikan berupa shalat Jum’at.

Salah satu bukti keistimewaan hari Jum’at adalah disyariatkannya shalat Jum’at. Yaitu shalat Zuhur berjamaah pada hari Jum’at. Bahkan mandinya hari Jum’at pun mengandung unsur ibadah, karena hukumnya sunnah. Oleh karena itu, sebaiknya kita selalu menyertakan niat setiap mandi di pagi hari Jum’at. Karena hal itu akan memberikan nilai ibadah pada mandi kita.

shalat Jumat adalah shalat dua rakaat dengan berjamaah yang dilaksanakan sesudah khotbah Jumat pada waktu Zuhur di hari Jumat. Hukumnya wajib bagi laki-laki yang sudah memenuhi syarat.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya :
"Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum´at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui". QS al-Jumu'ah/62:9.

A. Ketentuan Shalat Jum'at
Shalat Jumat pada prinsipnya sama dengan shalat wajib yang dilaksanakan secara berjamaah. Shalat Jumat adalah shalat wajib atau fardu ain yang dilaksanakan oleh setiap muslim laki-laki dalam setiap minggunya pada hari Jumat.
No. Ketentuan Penjelasan
1. Syarat Wajib Shalat Jum'at Shalat Jumat dilaksanakan dengan syarat-syarat sebagai berikut.
  1. Islam.
  2. Baligh (dewasa), anak-anak tidak diwajibkan.
  3. Berakal, orang gila tidak wajib.
  4. Laki-laki, perempuan tidak diwajibkan.
  5. Sehat, orang yang sedang sakit atau berhalangan tidak diwajibkan.
  6. Menetap (bermukim), orang yang sedang dalam perjalanan (musafir) tidak wajib.
2. Syarat Sah Mendirikan Shalat Jumat Shalat Jumat dianggap sah apabila memenuhi syarat sebagai berikut.
  1. Dilaksanakan di tempat yang telah dijadikan tempat bermukim oleh penduduknya, baik di perkotaan maupun di pedesaan.
  2. Dilaksanakan secara berjamaah. Tidak sah hukumnya apabila shalat Jumat dilaksanakan sendiri-sendiri. Sebagian ulama mengatakan minimal 40 orang dan ada yang mengatakan minimal 2 orang.
  3. Dilaksanakan pada waktu Zuhur. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi:
عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص كَانَ يُصَلّى اْلجُمُعَةَ حِيْنَ تَمِيْلُ الشَّمْسُ. البخارى
Dari Anas bin Malik RA, bahwasanya Nabi SAW shalat Jum’at ketika matahari sudah tergelincir. [HR. Bukhari juz 1, hal. 217]
  1. Shalat Jumat dilaksanakan dengan didahului dua khotbah.
3. Khotbah Jumat Khotbah Jumat merupakan nasihat dan tuntunan ibadah yang disampaikan oleh khatib kepada jamaah shalat Jumat. Perhatikan rukun dan syarat khotbah Jumat ini.

a. Rukun khotbah Jumat
  1. Mengucapkan puji-pujian kepada Allah Swt.
  2. Membaca salawat atas Rasulullah saw.
  3. Mengucapkan dua kalimat syahadat.
  4. Berwasiat (bernasihat).
  5. Membaca ayat al-Qur'an pada salah satu dua khotbah.
  6. Berdoa untuk semua umat Islam pada khotbah yang kedua
b. Syarat Khotbah Jumat
  1. Khotbah Jumat dilaksanakan tepat siang hari saat matahari tinggi dan mulai bergerak condong ke arah Barat.
  2. Khotbah Jumat dilaksanakan dengan berdiri jika mampu.
  3. Khatib hendaklah duduk di antara dua khotbah.
  4. Khotbah disampaikan dengan suara yang keras dan jelas.
  5. Khotbah dilaksanakan secara berturut-turut jarak antara keduanya.
  6. Khatib suci dari hadas dan najis.
  7. Khatib menutup aurat.
c. Sunah Khotbah Jumat
  1. Khotbah dilaksanakan di atas mimbar atau tempat yang tinggi.
  2. Khotbah disampaikan dengan kalimah yang fasih, terang, dan mudah dipahami.
  3. Khatib menghadap ke jamaah shalat Jumat.
  4. Khatib membaca salawat atau yang lainnya di antara dua khotbah.
  5. Khatib menertibkan tiga rukun, yaitu dimulai dengan puji-pujian, salawat Nabi, dan berwasiat.
  6. Jamaah shalat Jumat hendaklah diam, tenang dan memperhatikan khotbah Jumat.
  7. Khatib hendaklah memberi salam.
  8. Khatib hendaklah duduk di kursi mimbar sesudah memberi salam dan mendengarkan azan.
4. Sunah yang Berkaitan dengan shalat Jumat Sunah yang Berkaitan dengan shalat Jumat
  1. Mandi terlebih dahulu sebelum pergi ke masjid.
  2. Memakai pakaian yang bagus dan disunahkan berwarna putih.
  3. Memakai wangi-wangian.
  4. Memotong kuku, menggunting kumis, dan menyisir rambut.
  5. Menyegerakan pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat Jumat.
  6. Melaksanakan shalat tahiyatul masjid.
  7. Membaca al-Qur'an atau zikir sebelum khotbah Jumat.
  8. Memperbanyak doa dan salawat atas Nabi Muhammad saw.
5. Adab Melaksanakan shalat Jumat
  1. Meluruskan saf (barisan shalat). Saf di depan yang masih kosong segera diisi. Salah satu kesempurnaan shalat berjamaah adalah saf-nya lurus dan rapat.
  2. Ketika khatib sedang berkhotbah, tidak boleh berbicara satu kata pun. Berkata-kata saat khotbah berlangsung menjadikan shalat Jumat sia-sia.

B.Hikmah Shalat Jumat
Beberapa hikmah yang dapat diambil pada waktu melaksanakan shalat Jum'at antara lain sebagai berikut:
  1. Memuliakan hari Jumat.
  2. Menguatkan tali silaturrahmi karena bisa mewujudkan semangat tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa sekaligus saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran dengan amar ma'ruf dan nahi munkar.
  3. Berkumpulnya umat Islam dalam masjid merupakan salah satu cara untuk mencari barakah Allah Swt.
  4. Dengan sering berjamaah di masjid, bisa menambah semangat bekerja kita karena terbiasa melihat orang-orang yang semangat beribadah di masjid.
  5. Melipatgandakan pahala kebaikan.
  6. Membiasakan diri untuk disiplin terhadap waktu.

C. Halangan Shalat Jumat
Hal-hal yang dapat dijadikan alasan untuk boleh tidak shalat Jumat adalah sebagai berikut.
  1. Sakit. Orang yang sakit diperbolehkan tidak melaksanakan shalat Jumat, tetapi harus melaksanakan shalat Zuhur.
  2. Hujan lebat, angin kencang, dan bencana alam yang menyulitkan untuk melaksanakan shalat Jumat.
  3. Musafir, yaitu seseorang yang sedang melaksanakan perjalanan jauh.
  4. Perjalanan menuju tempat melaksanakan shalat Jumat tidak aman

D. Tata Cara Melaksanakan Shalat Jum'at
Walaupun shalat Jumat hanya diwajibkan kepada laki-laki, perempuan juga harus mengerti tentang tata cara atau ketentuannya. Tata cara pelaksanaan shalat Jumat secara umum adalah sebagai berikut.
Shalat Jum’at.
  1. Bersihkan terlebih dahulu badan, pakaian, dan tempat dari hadas dan najis atau kotoran.
  2. Sebelum berangkat ke masjid disunahkan untuk mandi terlebih dahulu, memotong kuku, mencukur kumis, dan menghilangkan bau yang tidak sedap.
  3. Pakailah pakaian yang bersih (disunahkan yang berwarna putih, memakai kopiah, dan memakai wangi-wangian.)
  4. Segera pergi ke masjid dan melaksanakan shalat tahiyyatul masjid ( shalat menghormati masjid) dua rakaat sebelum duduk.
  5. Sambil menunggu khatib naik mimbar disunahkan membaca zikir, salawat Nabi dan membaca Al-Qur'an.
  6. Ketika masuk waktu zuhur muadzin mengumandangkan azan yang pertama.
  7. Setelah selesai azan jamaah melaksanakan shalat sunnah qabliyyah/shalat sunat Jumat.
  8. Khatib naik ke mimbar mengucapkan salam, muadzin mengumandangkan azan yang kedua.
  9. Bagi yang melaksanakan shalat Jumat dengan azan sekali, maka sebelum azan khatib naik mimbar, kemudian dikumandangkan azan. Setelah azan selesai, khatib melaksanakan khutbah.
  10. Khatib menyampaikan khotbahnya dengan dua kali khotbah diselingi dengan duduk di antara dua khotbah.
  11. Pada saat khotbah dibacakan, jamaah memperhatikan dengan khusuk, tidak bercakap-cakap, meskipun suara khotbah tidak terdengar.
  12. Setelah selesai khotbah, muadzin mengumandangkan iqomah, sebagai tanda dimulainya shalat Jumat.
  13. Jamaah bersiap-siap untuk melaksanakan shalat Jumat.
  14. Sebelum shalat dimulai, imam hendaknya mengingatkan makmum untuk merapatkan dan meluruskan saf serta mengisinya yang masih kosong.
  15. Imam memimpin shalat Jumat berjamaah dua rakaat.
  16. Jamaah disunahkan untuk berzikir dan berdoa setelah selesai shalat Jumat.
  17. Sebelum meninggalkan masjid jamaah disunahkan untuk melaksanakan shalat sunnah ba’diyah terlebih dahulu.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 6:44 PM

Iman Kepada Malaikat-malaikat Allah

Iman kepada malaikat adalah percaya dan yakin bahwa Allah Swt. menciptakan malaikat dari cahaya (nur) untuk mengatur dan mengurus alam semesta. Beriman kepada malaikat dapat diwujudkan dengan cara mengetahui tugas malaikat kemudian menjadikan tugas malaikat itu sebagai pedoman
untuk melakukan perbuatan.

Allah Swt. telah menciptakan malaikat sebelum diciptakannya manusia. Para malaikat merupakan makhuk yang berbeda dengan kita. Mereka makhluk gaib yang diciptakan dari cahaya oleh Allah Swt. Mereka memiliki sifat sangat taat dalam menjalankan perintah-Nya dan tidak pernah ingkar sedikit pun. Mereka adalah hamba-hamba Allah Swt. yang mulia. Mereka sangat senang dan cinta kepada manusia yang berbuat mulia.

Sama halnya dengan manusia malaikat juga termasuk makhluk Allah Swt. Mahasuci Allah yang telah menciptakan makhluk dengan berbagai macam bentuk dan keadaan. Meskipun tidak pernah berjumpa dengan malaikat, kita harus percaya akan keberadaannya. Allah Swt. menjelaskan dalam Q.S. al-Anbiya/21: 19 berikut ini.

وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَمَنْ عِنْدَهُ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلَا يَسْتَحْسِرُونَ ﴿ ١٩

Artinya :
“Dan milik-Nya siapa yang di langit dan di bumi. Dan (Malaikat-malaikat) yang di sisi-Nya, tidak mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak (pula) merasa letih.”(Q.S. al-Anbiya/21: 19).
Iman Kepada Malaikat-malaikat Allah
A. Sifat-sifat Malaikat
Iman kepada malaikat termasuk rukun iman yang kedua. Malaikat diciptakan dari nur Ilahi (cahaya Allah). Malaikat diciptakan oleh Allah Swt. sebagai utusan- Nya untuk mengurusi berbagai urusan. Sifat-sifat dan perilaku malaikat antara lain:
  1. Selalu patuh kepada Allah Swt. dan tidak pernah berbuat maksiat kepada-Nya.
  2. Malaikat dapat berubah wujud sesuai kehendak Allah. Kadang-kadang Jibril datang kepada Nabi Muhammad saw. menyamar seperti sahabat yang bernama Dihyah al-Kalbi, terkadang seperti sahabat dari Arab Badui.
  3. Malaikat tidak makan dan tidak minum.
  4. Malaikat tidak memiliki jenis kelamin.
  5. Malaikat tidak pernah letih dan tidak pula berhenti beribadah kepada Allah Swt.
  6. Malaikat senang mencari dan mengelilingi majelis zikir.
  7. Malaikat berdoa bagi hamba yang duduk menunggu shalat berjamaah.

Mencari ayat-ayat tentang keberadaan malaikat-malaikat Allah Swt. (dari mulai malaikat Jibril sampai malaikat Ridwan)
No. Malaikat Ayat
1. Jibril QS.at-takwir/81:23,
وَلَقَدْ رَءَاهُ بِٱلْأُفُقِ ٱلْمُبِينِ
Artinya :
"Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang"

QS.al-baqarah/2 :97

قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَىٰ قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ
Artinya :
Katakanlah: "Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.

QS.an-nahl/16:102
قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
Artinya :
Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".
2. Mikail QS.al-baqarah:98
مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ
Artinya :
Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.
3. Izrafil QS.al-an'am/6 :73.
وَهُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ بِٱلْحَقِّ وَيَوْمَ يَقُولُ كُن فَيَكُونُ قَوْلُهُ ٱلْحَقُّ وَلَهُ ٱلْمُلْكُ يَوْمَ يُنفَخُ فِى ٱلصُّورِ عَٰلِمُ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ وَهُوَ ٱلْحَكِيمُ ٱلْخَبِيرُ
Artinya :
Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: "Jadilah, lalu terjadilah", dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

QS.Yasin/36:51
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ
Artinya :
Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka.
4. Israil QS.as-sajdah/32 :11
قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ
Artinya :
Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan"

QS.an-nahl/16:32
الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ ۙ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya :
(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): "Salaamun´alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan".
5. Munkar dan Nakir QS.al-mulk/67 :2
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
Artinya :
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,
6. Rakib dan Atid QS.qaaf/50 :17
إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ
Artinya :
(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.

QS.qaaf/50 :18
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Artinya :
Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.
7. Ridwan dan Malik QS.az-zumar/39 :73
وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ
Artinya :
Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: "Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya".

QS. az-zuhruf/43: 77
وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ ۖ قَالَ إِنَّكُمْ مَاكِثُونَ
Artinya :
Mereka berseru: "Hai Malik biarlah Tuhanmu membunuh kami saja". Dia menjawab: "Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)".

Perbedaan Malaikat, Jin dan Manusia
Perbedaan Malaikat Jin Manusia
Malaikat Jin Manusia
Diciptakan dari nur atau cahaya Diciptakan dari api Diciptakan dari tanah
Makhluk gaib Makhluk gaib Makhluk yang terlihat mata
Selalu patuh dan taat kepada perintah Allah Swt Ada yang patuh dan ada yang durhaka kepada Allah Swt Ada yang patuh dan ada yang durhaka kepada Allah Swt
Tidak makan dan tidak minum Makan dan minum Makan dan minum
Pikirannya jernih dan lurus Pikirannya berubah-ubah Pikirannya berubah-ubah
Tidak mempunyai nafsu Mempunyai nafsu Mempunyai nafsu

B. Nama dan Tugas Malaikat
Al-Qur’an tidak menyebutkan berapa jumlah malaikat secara pasti. Namun pada bagian ini hanya akan dijelaskan malaikat-malaikat yang namanya tercatat di dalam al-Qur’an maupun hadis. Nama-nama itu adalah sebagai berikut.
No. Nama Malaikat Tugas
1. Jibril Menyampaikan wahyu kepada nabi dan rasul. Nama lain malaikat Jibril adalah Rμh al-Quds, ar-Ruh al-Amin, dan Namμs.
2. Mikail Mengatur kesejahteraan makhluk, seperti mengatur awan, menurunkan hujan, melepaskan angin, dan membagi-bagikan rezeki.
3. Izrafil Meniupkan terompet (sangkakala), saat dimulainya kiamat hingga saat hari berbangkit di Padang Mahsyar.
4. Israil Mencabut nyawa seluruh makhluk hidup, baik manusia, jin, iblis, setan, dan malaikat apabila telah tiba waktunya.
5. Munkar Menanyai orang yang sudah meninggal dan berada di alam kubur.
6. Nakir Menanyai orang yang sudah meninggal dan berada di alam kubur.
7. Rakib Mencatat semua pekerjaan baik setiap manusia sejak aqil balig sampai akhir hayat.
8. Atid Meencatat semua pekerjaan buruk setiap manusia sejak aqil balig sampai akhir hayat.
9. Ridwan Menjaga dan mengatur kesejahteraan penghuni surga.
10. Malik Menjaga dan mengatur siksa (azab) bagi para penghuni neraka.

C. Hikmah Iman Kepada Malaikat
Dengan memperhatikan tugas para malaikat, ada beberapa hikmah yang dapat kita petik dari beriman kepada malaikat, antara lain:
  1. Memberi motivasi kita untuk selalu taat dan bertakwa kepada Allah Swt. seperti ketaatan para malaikat;
  2. Malaikat mengawasi perkataan dan perbuatan kita;
  3. Memberi rasa optimis untuk selalu berusaha karena Allah Swt. akan memberi ilmu melalui malaikat Jibril dan memberi rezeki melalui malaikat Mikail;
  4. Memotivasi kita untuk selalu beramal saleh karena bekal itulah yang kita bawa kelak ketika meninggal dunia untuk menghadapi pengadilan Allah Swt.

D. Perilaku Iman Kepada Malaikat
Iman kepada malaikat merupakan yakin dengan sepenuh hati jika Allah SWT telah menciptakan malaikat sebagai makhluk ghaib yang diutus guna melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Beberapa contoh perilaku iman kepada malaikat antara lain sebagai berikut.
No. Nama Malaikat Contoh Perilaku
1. Jibril Selalu berusaha mencari dan memohon hidayah kepada Allah. Bersyukur dengan cara banyak berbagi ilmu.
2. Mikail Berusaha secara maksimal untuk mencari rezeki yang baik dan halal.
3. Izrafil Selalu memohon kepada Allah Swt. agar diselamatkan dalam menghadapai musibah dan huru hara dunia, maupun saat terjadinya hari kiamat.
4. Israil Berusaha mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian. Selalu berdoa agar terhindar dari siksaan sakaratul maut (ketika ajal menjemput kita).
5. Munkar dan Nakir Selalu memohon kepada Allah Swt. agar dilapangkan di alam kubur dan diringankan dari siksa kubur.
6. Rakib Selalu memiliki niat baik, dalam segala perbuatan, baik ucapan maupun perbuatan.
7. Atid Menjauhi niat buruk, perkataan yang kotor, perbuatan yang jelek dan menjauhi perilaku tercela.
8. Ridwan Selalu memohon kepada Allah Swt. agar masuk surga dengan aman. Menciptakan kedamaian dan ketentraman di dunia ini.
9. Malik Selalu memohon kepada Allah Swt. agar terhindar dari siksaan api neraka.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 4:09 PM

Pengertian dan Tata Cara Shalat Berjamaah

Masjid merupakan tempat beribadah umat Islam. Di masjid mereka saling berdekatan, bertatapan, berjabatan tangan, bersapa, dan berpautan hati demi mewujudkan semangat ukhuwah ( menjalin persatuan). Rasa persatuan yang paling indah adalah persatuan dan kebersamaan orang yang shalat berjamaah. Salat dipimpin satu imam, sama-sama bermunajat hanya kepada Allah Swt., membaca kitab suci yang satu, dan menghadap ke kiblat yang sama. Mereka melakukan amal yang sama, rukuk dan sujud kepada Allah Swt. Subhanallah.

A. Pengertian Shalat Berjamaah
Shalat berjamaah adalah shalat yang dikerjakan oleh dua orang atau lebih secara bersama-sama dan salah seorang dari mereka menjadi imam, sedangkan yang lainnya menjadi makmum. Shalat lima waktu yang kita lakukan sangat diutamakan untuk dikerjakan secara berjamaah, bukan sendiri-sendiri (munfarid). Hukum shalat wajib berjamaah adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat
dianjurkan. Bahkan, sebagian ulama mengatakan hukum shalat berjamaah adalah fardu kifayah.

Keutamaan shalat berjamaah bila dibandingkan shalat munfarid adalah dilipatkan 27 derajat. Dari Ibnu Umar r.a., Rasulullah saw. bersabda :

صَلاَةُ الْجَمَاعَة أفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

Artinya :
“Shalat berjamaah lebih utama dibandingkan shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.”(H.R. Bukhari dan Muslim)

Keistimewaan lain bagi orang yang rajin shalat berjamaah adalah akan dibebaskan oleh Allah Swt. dari api neraka. Perhatikan keterangan dari hadis berikut ini.

عَنْ أَنَسِ ابْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه عَنِ النّبِيِّ صلى الله عليه وسلم اَنَّهُ كاَنَ يَقُوْلُ: من صَلَّى فِيْ مَسْجِدٍ جَمَا عَةً اَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً لاَتفُوْتُهُ الرَّكْعَةُالأُوْلَى مِن صَلاَةِالْعِشَاءِ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِهَا عِتْقًا مِنَ النَّارِ

Artinya :
Dari Anas bin Malik r.a., dari Nabi Muhammad saw.,sesungguhnya beliau bersabda: “Barangsiapa shalat di masjid dengan berjamaah selama empat puluh malam, dan tidak pernah tertinggal pada rakaat pertama dari shalat Isya, maka Allah akan membebaskan baginya dari api neraka.” (H.R. Ibnu Majah).

B. Syarat Sah Shalat Berjamaah
Dalam mengerjakan shalat berjamaah, ada beberapa syarat yang wajib dipenuhi. Adapun syarat-syarat sah shalat berjamaah adalah sebagai berikut :
  1. Ada imam.
  2. Makmum berniat untuk mengikuti imam. 
  3. Shalat dikerjakan dalam satu majelis.
  4. Shalat makmum sesuai dengan shalat-nya imam.
Shalat Berjamaah
Kedudukan imam dalam shalat berjamaa sangat penting. Dia akan menjadi pemimpin seluruh jamaah shalat sehingga untuk menjadi imam ada syarat tersendiri. Syarat yang dimaksud adalah :
  1. Mengetahui syarat dan rukun, serta perkara yang membatalkan
  2. Fasih dalam membaca ayat-ayat al-Qur'an,
  3. Paling luas wawasan agamanya dibandingkan yang lain,
  4. Berakal sehat,
  5. Ballig,
  6. Berdiri pada posisi paling depan,
  7. Seorang laki-laki (perempuan juga boleh jadi imam kalau makmumya perempuan semua), dan
  8. Tidak sedang bermakmum kepada orang lain.

Sedangkan syarat-syarat menjadi makmum adalah seperti berikut.
  1. Makmum berniat mengikuti imam,
  2. Mengetahui gerakan shalat imam,
  3. Berada dalam satu tempat dengan imam,
  4. Posisinya di belakang imam, dan
  5. Hendaklah shalat makmum sesuai dengan shalat imam, misalnya imam shalat Asar makmum juga shalat Asar
Makmum Masbμq
Makmum adalah makmum yang tidak sempat membaca surat al-Fati¥ah bersama imam di rakaat pertama. Lawan katanya adalah makmum muwafiq, yakni makmum yang dapat mengikut luruh rangkaian shalat berjamaah bersama imam.

Jika kalian dalam kondisi ketinggalan berjamaah seperti ini, perlu kecermatan dalam tata cara menghitung jumlah rakaat. Untuk itu, perhatikan beberapa ilustrasi peristiwa berikut. Penjelasan ini sangat penting, siapa tahu kalian mengalaminya:
  1. Pada saat makmum datang untuk berjamaah shalat Asar, imam masih berdiri pada rakaat pertama. Makmum berniat, takbiratul ihram, dan membaca al-Fatihah. Namun, sebelum selesai membaca al-Fatiaah imam rukuk, maka dalam keadaan ini makmum harus segera rukuk mengikuti imam tanpa harus menyelesaikan bacaan al-Fatiaah.
  2. Pada saat makmum datang untuk berjamaah £alat Asar, imam sedang rukuk untuk rakaat pertama. Makmum berniat, takbiratul ihram, dan membaca al-Fatiaah meskipun hanya satu ayat. Lalu, makmum segera rukuk mengikuti imam tanpa harus menyelesaikan bacaan al-Fatihah. Makmum semacam ini masih dinyatakan mendapatkan seluruh rakaat bersama imam. 
  3. Pada saat m akmum datang untuk berjamaah imam sedang i‘tidal atau sujud untuk rakaat pertama. Makmum berniat, takbiratul ihram, dan langsung i‘tidal atau sujud bersama imam. Pada saat imam menutup shalat dengan salam, makmum berdiri lagi untuk menambah kekurangan rakaat yang belum selesai.
C. Halangan Shalat Berjamaah
Shalat berjamaah dapat ditinggalkan, kemudian melakukan shalat sendirian (munfarid). Faktor yang menjadi halangan itu adalah:
  1. Hujan yang mengakibatkan susah menuju ke tempat shalat berjamaah,
  2. Angin kencang yang sangat membahayakan,
  3. Sakit yang mengakibatkan susah berjalan menuju ke tempat shalat berjamaah,
  4. Sangat ingin buang air besar atau buang air kecil, dan
  5. Karena baru makan makanan yang baunya sukar dihilangkan, seperti bawang, petai, dan jengkol.

D. Tata Cara Shalat Berjamaah
Berdasarkan ketentuan di atas shalat wajib berjamaah adalah sebagai berikut.
  1. Shalat berjamaah diawali dengan adzan dan iqomah, tetapi kalau tidak memungkinkan cukup dengan iqomah saja.
  2. Barisan shalat ( saf) di belakang imam diisi oleh jamaah laki-laki, sementara jamaah perempuan berada di belakangnya.
  3. Di dalam melaksanakan shalat berjamaah seorang imam membaca bacaan shalat ada yang nyaring (jahr) dan ada yang dilirihkan (sir). Bacaan yang dinyaringkan adalah: Bacaan takbiratul ikhram, takbir intiqal, tasmi’, dan salam; Bacaan al-Fatihah dan ayat-ayat al-Qur'an pada dua rakaat pertama shalat Magrib, Isya, dan Subuh. Begitu juga dengan shalat Jumat, gerhana, istisqo, ’idain (dua hari raya), Tarawih dan Witir; Bacaan amin bagi imam dan makmum setelah imam selesai membaca al-Fatihah
  4. Makmum harus mengikuti gerakan imam dan tidak boleh mendahului gerakan  imam;
  5. Setelah salam, imam membaca dzikir dan doa bersama-sama dengan makmum atau membacanya sendiri-sendiri.

E. Keutamaan Shalat Berjamaah
Perbandingan pahala antara £alat sendirian dan dengan shalat berjamaah, yaitu satu berbanding 27 derajat. Hal ini karena shalat berjamaah memiliki keutamaan, yaitu:
  1. Menjalin silaturahmi antarsesama;
  2. Mengajarkan hidup disiplin, saling mencintai, dan menghargai;
  3. Menjaga persatuan, kesatuan, dan kebersamaan;
  4. Menahan dari kemauan sendiri (egois);
  5. Mengajarkan kepatuhan seorang muslim kepada pimpinannya.

Sikap kecintaan kepada shalat berjamaah dapat diwujudkan melalui perilaku sebagai berikut.
  1. Ketika masuk waktu shalat segera menuju ke masjid dan mengumandangkan atau mendengarkan azan.
  2. Ketika mendengar azan segera menuju masjid.
  3. Mengajak teman-temannya untuk shalat berjamaah.
  4. Suka menjalin tali silaturahmi antara sesama di masjid.
  5. Senang mendatangi majelis taklim untuk menuntut ilmu agama.
  6. Tidak suka membeda-bedakan status sosial seseorang, karena kedudukannya sama di hadapan Allah Swt.
  7. Bersikap demokratis, taat kepada pimpinan selama tidak melakukan kesalahan. Apabila pimpinan salah kita wajib mengingatkan ke jalan yang benar, temasuk di dalam taat kepada kedua orang tua dan guru.
  8. Menjaga persatuan, kesatuan, dan bersikap demokratis.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 9:37 AM

Pengertian, Jenis dan Hikmah Berthaharah

Kebersihan merupakan salah satu kebutuhan pokok yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan sehari-hari. Tidak akan terwujud kenyamanan tanpa adanya kebersihan. Kebersihan di sini meliputi: diri sendiri, pakaian, lingkungan, dan yang lainnya. Islam menaruh perhatian sangat tinggi pada masalah kebersihan atau kesucian, baik kebersihan dari najis maupun kebersihan dari hadas.

A. Pengertian Taharah
Secara bahasa thaharah artinya membersihkan kotoran, baik kotoran yang berwujud maupun yang tak berwujud. Kemudian secara istilah, thaharah artinya menghilangkan hadas, najis, dan kotoran (dari tubuh, yang menyebabkan tidak sahnya ibadah lainnya) menggunakan air atau tanah yang bersih.

Najis adalah kotoran yang menjadi sebab terhalangnya seseorang untuk beribadah kepada Allah Swt. sedangkan hadas adalah keadaan tidak suci pada diri seorang muslim yang menyebabkan ia tidak boleh shalat , tawaf, dan lain sebagainya. Thaharah meliputi 2 hal yaitu: Thaharah dari najis dan Taharah dari hadas.

1. Najis
Najis menurut bahasa adalah kotor. Sedangkan menurut istilah adalah kotoran yang wajib dihindari dan dibersihkan oleh setiap muslim manakala terkena olehnya. Najis juga bisa diartikan kotor yang menjadi sebab terhalangnya seseorang untuk beribadah kepada Allah Seperti shalat atau thawaf. Thaharah dari najis maksudnya adalah membersihkan sesuatu dari najis. Ada tiga macam najis, yaitu najis mukhfffafah, najis Mutawassitah, dan najis mugaladah.
  1. Najis mukhaffafah adalah najis yang ringan, seperti air seni bayi laki-laki yang belum berumur dua tahun dan belum makan apapun kecuali air susu ibu. Cara menyucikannya sangat mudah, cukup dengan memercikkan atau mengusapkan air yang suci pada permukaan yang terkena najis.
  2. Najis mutawassilah adalah najis pertengahan. Contoh najis jenis ini adalah darah, nanah, air seni, tinja, bangkai binatang, dan sebagainya. Najis jenis ini ada dua macam, yaitu najis hukmiyyah dan najis ‘ainiyyah. Najis hukmiyyah diyakini adanya tetapi tidak nyata wujudnya (zat-nya), bau dan rasanya. Cara menyucikannya adalah cukup dengan mengalirkan air pada benda yang terkena najis. Najis ‘ainiyyah adalah najis yang tampak wujudnya (zat-nya) dan bisa diketahui melalui bau maupun rasanya. Cara menyucikannya adalah dengan menghilangkan zat, rasa, warna, dan baunya dengan menggunakan air yang suci.
  3. Najis mugaladah adalah najis yang berat. Najis ini bersumber dari anjing dan babi. cara menyucikkannya melalui beberapa tahap, yaitu dengan membasuh sebanyak tujuh kali. Satu kali diantaranya menggunakan air yang dicampur dengan tanah.

2. Hadas
Hadas adalah kondisi tidak suci yang mengenai pribadi seseorang muslim, menyebabakan terhalangnya-orang itu melakukan shalat atau tawaf. Artinya Shalat dan tawaf yang dilakukan tidak sah karena dirinya dalam keadaan tidak berhadas. Menurut ahli fiqhi sebab seorang dihukumkan dirinya dalam kondisi berhadats, ada dua kelompok;
Hadas Kecil Hadas Besar
Kita terkena hadas kecil apabila mengalami/melakukan salah satu dari 4 hal, yaitu:
  1. Keluar sesuatu dari qubul (kemaluan) dan dubur,
  2. Hilang akal (contoh tidur),
  3. Bersentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan yang bukan mukhrim, dan
  4. Menyentuh qubul (kemaluan) dan dubur dengan telapak tangan.

Cara menyucikan hadas kecil dengan berwudu. Apabila tidak ada air atau karena sesuatu hal, maka bisa dengan tayammum.
Kita terkena hadas besar apabila mengalami/melakukan salah satu dari enam perkara, yaitu:
  1. Berhubungan suami istri (setubuh),
  2. Keluar mani,
  3. Haid (menstruasi),
  4. Melahirkan,
  5. Nifas, dan
  6. Meninggal dunia.

Cara menyucikannya adalah dengan mandi wajib, yaitu membasahi seluruh tubuh dari ujung rambut sampai ujung kaki. Apabila tidak ada air atau karena sesuatu hal, maka bisa dengan tayammum.

B. Cara Bertharah
Tata cara taharah dari hadas meliputi: mandi wajib, wudu dan, tayammum. Adapun sarana yang dapat digunakan untuk taharah, yakni: air, debu, dan batu.

1. Mandi Wajib
Mandi wajib adalah mandi untuk menghilangkan hadas besar. Sering disebut juga mandi janabat/ junub. Adapun cara mandi wajib adalah sebagai berikut:
  1. Niat mandi untuk menghilangkan hadas besar. jika dilafalkan maka bacaanya sebagai berikut :
نو يت الغسل لرفعل الحد ث الأ كبر فر ضالله تعا لى
Artinya :
“Saya niat mandi menghilangkan hadas besar karena Allah ta’ala”.
  1. Menghilangkan najis apabila terdapat di badannya seperti bekas tetesan darah.
  2. Membasahi seluruh tubuh mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Pada saat mandi wajib, kita juga disunahkan untuk mambaca basmalah, mencuci kedua tangan sebelum dimasukkan ke dalam bejana, ber-wudu terlebih dahulu, mendahulukan yang kanan dari yang kiri, menggosok tubuh, dan sebagainya.

2. Wudu
Wudu adalah cara bersuci untuk menghilangkan hadas kecil. Adapun tata cara wudu adalah sebagai berikut:
  1. Niat dalam hati, jika dilafalkan maka bacaannya sebagai berikut:
نو يت الو ضوء لر فع الحد ث الأ صغر فر ضالله تعا لى
Artinya :
“Saya niat wudu menghilangkan hadas kecil karena Allah ta’ala”.
  1. Disunahkan mencuci kedua telapak tangan, berkumur-kumur dan membersihkan lubang hidung.
  2. Membasuh muka.
  3. Membasuh kedua tangan sampai siku.
  4. Mengusap kepala.
  5. Disunahkan membasuh telinga.
  6. Membasuh kaki sampai mata kaki.
  7. Tertib (dilakukan secara berurutan).
  8. Berdoa setelah wudu.
Berwudlu
3. Tayammum
Tayammum adalah pengganti wudu atau mandi wajib. Hal ini dilakukan sebagai rukhsah (keringanan) untuk orang yang tidak dapat memakai air karena beberapa halangan (‘uzur). Untuk lebih mudah memahaminya bacalah ilustrasi berikut ini.

Suatu ketika, kita sedang memiliki hadas kecil atau besar. Sementara kita harus segera salat. Namun, pada saat itu tidak tersedia air atau tidak bisa menggunakan air karena sesuatu hal. Nah, solusinya adalah tayammum dengan menggunakan debu yang suci. Tidak sulit, bukan?

Jadi, tayammum dilakukan dengan menggunakan sarana debu yang suci. Debu ini digunakan sebagai pengganti air. Apabila kita berada di dalam pesawat atau kendaraan, debu yang digunakan untuk tayammum cukup mengusap debu yang ada di dinding pesawat atau kendaraan. Cara ini boleh dilakukan jika:
  1. Tidak ada air dan telah berusaha mencarinya.
  2. Berhalangan menggunakan air, misalnya karena sakit.
  3. Telah masuk waktu salat .

Ber-tayammum itu mudah, caranya adalah sebagai berikut:
  1. Niat (untuk dibolehkan mengerjakan salat );
نو يت التيمم لا ستبا حة الصلا ة فر ضالله تعا لى
Artinya :
“Aku niat bertayammum untuk dapat mengerjakan salat, karena Allah ta’ala”.
  1. Mengusap muka dengan tanah (debu yang suci);
  2. Mengusap tangan kanan hingga siku-siku dengan debu;
  3. Mengusap tangan kiri hingga siku-siku dengan debu

C. Hikmah Taharah
Betapa pentingnya bersuci (Taharah) dalam kehidupan kita, baik dari najis maupun dari hadas. Bersuci memiliki keutamaan dan manfaat yang luar biasa. Keutamaan-keutamaan itu, antara lain:
  1. Orang yang hidup bersih akan terhindar dari segala macam penyakit karena kebanyakan sumber penyakit berasal dari kuman dan kotoran.
  2. Rasulullah saw. bersabda bahwa orang yang selalu menjaga wudu akan bersinar wajahnya kelak saat dibangkitkan dari kubur.
  3. Dapat dijadikan sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt.
  4. Rasulullah saw. menegaskan bahwa kebersihan itu sebagian dari iman dan ada ungkapan bijak pula yang mengatakan ”kebersihan pangkal kesehatan”.
  5. Kebersihan akan membuat kita menjalani hidup dengan lebih nyaman.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 7:10 PM

Pengertian dan Hikmah Sikap Jujur, Amanah, dan Istiqomah

Jujur adalah kesesuaian sikap antara perkataan dan perbuatan yang sebenarnya. Hikmah atau manfaat perilaku jujur adalah akan dipercaya orang lain dan mendapat banyak teman. Hidupnya tenteram karena tidak memiliki kesalahan dengan orang lain.

Amanah artinya terpercaya (dapat dipercaya). Amanah ada tiga macam, yaitu: am±nah terhadap Allah Swt. amanah terhadap sesama manusia, dan amanah terhadap sendiri. Amanah dapat diwujudkan melalui perbuatan, seperti menjaga titipan rahasia, tidak menyalahgunakan jabatan, menunaikan kewajiban dengan baik, dan memelihara semua nikmat yang telah diberikan oleh Allah Swt.

Istiqomah berarti tegak, lurus, tekun, dan ulet. Istiqomah dapat diwujudkan melalui perbuatan: selalu menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, melaksanakan £alat tepat waktu, belajar secara terus menerus, selalu menaati peraturan yang ada di sekolah, dan selalu menjalankan kewajiban.

A. Pengertian Jujur, Amanah dan Istiqomah
Berikut ini sedikit penjelasan mengenai sikap jujur, amanah, dan istiqomah dalam kehidupan sehari-hari.

1. Jujur
Jujur adalah kesesuaian sikap antara perkataan dan perbuatan yang sebenarnya. Apa yang diucapkan memang itulah yang sesungguhnya dan apa yang diperbuat itulah yang sebenarnya.

Bila kita melakukan sesuatu yang tidak sesuai hati nurani, maka itulah yang disebut dusta. Apabila kita katakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan, itulah yang dinamakan bohong. Dusta atau bohong merupakan lawan kata jujur.
Jujur

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿ ٤٢Artinya :
“Dan janganlah kamu campur adukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya ” (Q.S. al-Baqarah/2: 42)

2. Amanah
Amanah artinya terpercaya (dapat dipercaya). Am±nah juga berarti pesan yang dititipkan dapat disampaikan kepada orang yang berhak. Am±nah yang wajib ditunaikan oleh setiap orang adalah hak-hak Allah Swt., seperti salat, zakat, puasa, berbuat baik kepada sesama, dan yang lainnya.

Am±nah berkaitan erat dengan tanggung jawab. Orang yang menjaga amanah biasanya disebut orang yang bertanggung jawab. Sebaliknya, orang yang tidak menjaga amanah disebut orang yang tidak bertanggung jawab.

Siapa tahu kelak di antara kalian ada yang mendapat amanah untuk menjadi seorang pemimpin. Jika kalian berlatih mulai dari sekarang, pada saat menjadi pemimpin tentu tidak sulit untuk menjaga amanah.Rasulullah saw. bersabda.

وعن بن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلّم قال: كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعيّتِهِ, والأميرُ راعٍ, والرّجُلُ راعٍ على أهلِ بيتِهِ, والمرأةُ رَاعِيَّةٌ على بيتِ زوجِها وَوَلَدِهِ, فكلّكم راعٍ وكلّكم مسئولٌ عنْ رَعِيَّتِهِ. (متفق عليه
Artinya :
“Dari Ibnu Umar r.a., Rasulullah saw. bersabda:“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang kepala negara adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya...” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Amanah itu dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
a. Amanah terhadap Allah Swt.
Amanah ini berupa ketaatan akan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Allah wt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿ ٢٧
Artinya :
”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad), dan (juga) janganlah kalian mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (Q.S. al-Anfal/8: 27)
Contoh amanah kepada Allah Swt. yaitu menjalankan semua yang diperintahkan dan meninggalkan semua yang dilarangnya.

b. Amanah terhadap sesama manusia.
Amanah ini meliputi hak-hak antar sesama manusia. Misalnya, ketika dititipi pesan atau barang, maka kita harus menyampaikannya kepada yang berhak. Allah Swt. berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا ...... ﴿ ٥٨
Artinya :
“Sesungguhnya Allah Swt. menyuruh kamu untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya... ” (Q.S. an-Nisa/4: 58)
c. Amanah terhadap diri sendiri.
Amanah ini dijalani dengan memelihara dan menggunakan segenap kemampuannya demi menjaga kelangsungan hidup, kesejahteraan, dan kebahagiaan diri. Allah Swt. berfirman:

وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ ﴿ ٨
Artinya :
“Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya ”(Q.S. al-Mu’minμn/23: 8)
Perilaku Amanah dalam Kehidupan Sehari-hari dapat diwujudkan melalui kegiatan-kegiatan
sebagai berikut.
  1. Menjaga titipan dan mengembalikannya seperti keadaan semula. Apabila kita dititipi sesuatu oleh orang lain, misalnya barang berharga, emas, rumah, atau barang-barang lainnya, maka kita harus menjaganya dengan baik.
  2. Menjaga rahasia. Apabila kita dipercaya untuk menjaga rahasia, baik itu rahasia pribadi, rahasia keluarga, rahasia organisasi, atau rahasia negara, maka kita wajib menjaganya supaya tidak bocor kepada orang lain.
  3. Tidak menyalahgunakan jabatan. Jabatan adalah amsnah yang wajib dijaga. Apabila kita diberi jabatan apapun bentuknya, maka kita harus menjaga amanah tersebut.
  4. Memelihara semua nikmat yang telah diberikan oleh Allah Swt. berupa umur, kesehatan, harta benda, ilmu, dan sebagainya.
C. Istiqomah
Istiqomah berarti sikap kukuh pada pendirian dan konsekuen dalam tindakan. Dalam makna yang luas, istiqomah adalah sikap teguh dalam melakukan suatu kebaikan, membela dan mempertahankan keimanan dan keislaman, walaupun menghadapi berbagai macam tantangan dan godaan.

Istiqomah terwujud karena adanya keyakinan akan kebenaran dan siap menanggung risiko. Istiqomah dapat membantu kita untuk membentuk sikap dan perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam. Oleh karena itu, kita sebagai pelajar harus memberi contoh yang baik kepada siapa saja dalam kehidupan kita sehari-hari.Allah Swt. berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿ ١٣
Artinya :
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka tetap istiqomah, tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih hati ” (Q.S. al- Ahqaf/46: 13)
Perilaku istiqomah dapat diwujudkan melalui kegiatan:
  1. Selalu menjalankan perintah Allah Swt. dan menjauhi larangan-Nya dalam keadaan apa pun dan di mana pun;
  2. Melaksanakan shalat tepat pada waktunya;
  3. Belajar terus-menerus hingga paham;
  4. Selalu menaati peraturan, baik yang ada di rumah, sekolah, maupun masyarakat;
  5. Selalu menjalankan kewajibannya dengan rasa senang dan nyaman, tidak merasa dipaksa atau dibebani.

B. Hikmah Perilaku Jujur, Amanah, dan Istiqomah
Perilaku Hikmah
Jujur
  1. Mendapatkan kepercayaan dari orang lain,
  2. Mendapatkan banyak teman, dan
  3. Mendapatkan ketentraman hidup karena tidak memiliki kesalahan terhadap orang lain.
Amanah
  1. Dipercaya orang lain, ini merupakan modal yang sangat berharga dalam menjalin hubungan atau berinteraksi antara sesama manusia.
  2. Mendapatkan simpati dari semua pihak, baik kawan maupun lawan.
  3. Hidupnya akan sukses dan dimudahkan oleh Allah Swt.
Istiqomah
  1. Orang yang istiqomah akan dijauhkan oleh Allah Swt. dari rasa takut dan sedih sehingga dapat mengatasi rasa sedih yang menimpanya, tidak hanyut dibawa kesedihan, dan tidak gentar dalam menghadapi kehidupan masa yang akan datang.
  2. Orang yang istiqomah akan mendapatkan kesuksesan dalam kehidupan di dunia karena ia tekun dan ulet.
  3. Orang yang istiqomah dan selalu sabar serta mendirikan shalat dilindungi oleh Allah wt.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 5:32 PM

Ketentuan Shalat Jama' dan Qashar

Shalat bagi seorang muslim, adalah hal terpenting melebihi apa pun. Sampai-sampai Rasulullah saw. ketika menjelang wafatnya berpesan agar umatnya tidak meninggalkan shalat dalam keadaan apapun. Shalat adalah tiang agama. Siapa yang mendirikan shalat, ia mendirikan agama. Siapa yang meninggalkan Shalat, ia telah merobohkan agama.

Dalam kondisi repot dan sempit shalat dapat dilakukan dengan cara yang lebih mudah, yaitu digabungkan dari dua waktu menjadi satu waktu, atau diringkas dari empat menjadi dua rakaat. Alhamdulillah, Allah memberi kemudahan kepada kita semua. Semoga kesulitan hidup kita yang lain juga selalu diberi kemudahan.

A. Ketentuan Shalat Jama'
Shalat jama' artinya shalat fardu yang dikumpulkan atau digabungkan. Maksudnya shalat jama' menggabungkan dua shalat fardu dan mengerjakannya dalam satu waktu saja. shalat jama' boleh dilaksanakan pada waktu shalat yang pertama (jama' taqdim) maupun pada waktu shalat yang kedua (jama' ta’khir). Hukum shalat jama' adalah boleh bagi orang yang berada pada kondisi darurat, seperti dalam perjalanan jauh.
Ketentuan Shalat Jama'
1. Shalat Jama' Taqdim
Shalat jama' taqdim adalah shalat yang dilakukan dengan cara menggabungkan dua shalat fardu dan dilaksanakan pada saat waktu shalat fardu yang pertama. Contoh, shalat Zuhur dan shalat Asar dilaksanakan pada waktu Zuhur, demikian juga shalat Magrib dan £alat Isya dilaksanakan pada waktu Magrib.

Caramelaksanakan shalat jama' taqdim adalah mendahulukan shalat fardu yang pertama lalu shalat yang kedua, berniat jama' taqdim, dan mengerjakannyaberturut-turut tidak boleh diselingidengan perbuatan lain. Setelah selesai melaksanakan shalat Zuhur langsung melaksanakan shalat Asar begitu juga setelah melaksanakan shalat Magrib langsung melaksanakan shalat Isya.

Panduan Praktik Shalat Jama' Taqdim
Cara melaksanakan shalat jama' taqdim (Zuhur dengan Asar) adalah sebagai berikut.
  1. Mulailah memenuhi persyaratan untuk melaksanakan shalat.
  2. Bersiap untuk melaksanakan shalat yang didahului dengan iqomah.
  3. Melaksanakan shalat Zuhur empat rakaat diawali dengan niat untuk shalat jama' taqdim pada waktu takbiratul ikram. Contoh lafal niat Zuhur untuk jama' taqdim adalah:
أُصَلِّي فَرْضَ الظُّهْرِأربع رَكعَاتٍ مَجْمُوْعًا مع العَصْرِ اَدَاءً للهِ تَعَالى
Artinya :
"Saya berniat shalat Zuhur empat rakaat dijama' dengan Asar dengan jama' taqdim menghadap kiblat karena Allah Ta'ala"
  1. Setelah niat, lanjutkan shalat Zuhur empat rakaat seperti biasa sampai salam.
  2. Setelah salam langsung berdiri untuk melaksanakan shalat Asar empat rakaat yang didahului dengan iqamah dengan niat shalat jama' taqdim. Contoh lafal niat shalat Asar untuk jama' taqdim adalah:
أُصَلِّي فَرْضَ العَصْرِ أربع رَكعَاتٍ مَجْمُوْعًا مع الظُّهْرِ اَدَاءً للهِ تَعَالى
Artinya :
"Saya berniat shalat Ashr empat rakaat dijama' dengan Zuhur dengan jama' taqdim menghadap kiblat karena Allah Ta'ala"
  1. Selanjutnya melaksanakan shalat Asar empat rakaat seperti biasa sampai salam.

Cara melaksanakan Shalat jama' taqdim Magrib dengan Isya adalah:
  1. Mulailah memenuhi persyaratan untuk melaksanakan shalat.
  2. Bersiap untuk melaksanakan shalat yang didahului dengan iqomah.
  3. Melaksanakan shalat Maghrib tiga rakaat diawali dengan niat untuk shalat jama' taqdim pada waktu takbiratul ikram. Contoh lafal niat Maghrib untuk jama' taqdim adalah
أُصَلِّي فَرْضَ المغرب ثلاث رَكعَاتٍ مَجْمُوْعًا مع العشاء جمع تقديم اَدَاءً للهِ تَعَالى
Artinya :
"Saya berniat shalat Maghrib tiga rakaat dijama' dengan Isya dengan jama' taqdim menghadap kiblat karena Allah Ta'ala"
  1. Setelah niat, lanjutkan shalat Magrib tiga rakaat seperti biasa sampai salam.
  2. Sehabis salam langsung berdiri untuk melaksanakan shalat Isya empat rakaat yang didahului dengan iqamah dengan niat shalat jama' taqdim. Contoh lafal niat shalat Isya untuk jama' taqdim adalah
أُصَلِّي فَرْضَ العشاء أربع رَكعَاتٍ مَجْمُوْعًا مع المغرب جمع تقديم اَدَاءً للهِ تَعَالى
Artinya :
"Saya berniat shalat Isya empat rakaat dijama' dengan Maghrib dengan jama' taqdim menghadap kiblat karena Allah Ta'ala"
  1. Selanjutnya melaksanakan shalat Isya seperti biasa empat rakaat sampai salam.

2. Shalat Jama' Ta’khir
Shalat jama' Ta’khir adalah shalat yang dilakukan dengan cara menggabungkan dua shalat fardu dan dilaksanakan pada waktu yang kedua atau terakhir. Contoh, shalat Zuhur dan shalat Asar dilaksanakan pada waktu shalat Asar, demikian juga shalat Magrib dan shalat Isya dilaksanakan pada waktu shalat Isya.

Tata cara pelaksanaan shalat jama' ta’khir tidak disyaratkan harus mendahulukan shalat pertama. Boleh mendahulukan shalat pertama baru melakukan shalat kedua atau sebaliknya. Pelaksanaan dua shalat fardu tersebut dilakukan secara berturut-turut tidak boleh diselingi perbuatan lain.

Setelah selesai melaksanakan shalat Asar langsung melaksanakan shalat Zuhur begitu juga setelah melaksanakan shalat Isya langsung melaksanakan shalat Magrib. Atau sebaliknya, setelah selesai melaksanakan shalat Zuhur langsung melaksanakan shalat Asar begitu juga setelah melaksanakan shalat Magrib langsung melaksanakan shalat Isya.

Panduan Praktik Shalat Jama' Ta’khir
Cara melaksanakan shalat jama' Ta’khir Asar dengan Zuhur adalah:
Untuk jama' takhir tata caranya hampir sama dengan jama' taqdim, hanya niatnya saja yang berbeda, yaitu: Contoh bacaan niat shalat Asar untuk jama' Ta’khir empat rakaat:

أُصَلِّي فَرْضَ العَصْرِ أربع رَكعَاتٍ مَجْمُوْعًا مع الظُّهْرِ اَدَاءً للهِ تَعَالى
Artinya :
"Saya berniat shalat Asar empat rakaat dijama' dengan Zuhur dengan jama' ta'khir menghadap kiblat karena Allah Ta'ala"

Contoh bacaan niat shalat Zuhur untuk jama' Ta’khir adalah:
أُصَلِّي فَرْضَ الظُّهْرِأربع رَكعَاتٍ مَجْمُوْعًا مع العَصْرِ اَدَاءً للهِ تَعَالى
Artinya :
"Saya berniat shalat Zuhur empat rakaat dijama'  dengan Asar dengan jama' ta'khir menghadap kiblat karena Allah Ta'ala"
Cara melaksanakan Shalat jama' Ta’khir (Isya dan Magrib) adalah:
Contoh bacaan niat shalat Isya untuk jama' Ta’khir adalah:
أُصَلِّي فَرْضَ العشاء أربع رَكعَاتٍ مَجْمُوْعًا مع المغرب جمع تاخير اَدَاءً للهِ تَعَالى
Artinya :
"Saya berniat shalat Isya empat rakaat dijama' dengan Maghrib dengan jama' ta'khir menghadap kiblat karena Allah Ta'ala"
Contoh bacaan niat shalat Magrib untuk jama' Ta’khir adalah:
أُصَلِّي فَرْضَ المغرب ثلاث رَكعَاتٍ مَجْمُوْعًا مع العشاء جمع تاخير اَدَاءً للهِ تَعَالى
Artinya :
"Saya berniat shalat Maghrib tiga rakaat dijama'  dengan Isya dengan jama' ta'khir menghadap kiblat karena Allah Ta'ala"

3. Syarat Melaksanakan Shalat Jama'
Shalat yang dilakukan dengan cara dijama’ (digabungkan) maupun qashar (dipotong) merupakan keringanan yang diberikan Allah swt kepada hamba-hamba-Nya yang tengah bepergian, disaat hujan, sakit atau uzur. Syarat melaksanakan shalat jama' adalah sebagai berikut.
  1. Pada saat sedang melakukan perjalanan jauh, jarak tempuhnya tidak kurang dari 80,640 km.
  2. Perjalanan yang dilakukan bertujuan baik, bukan untuk kejahatan dan maksiat.
  3. Sakit atau dalam kesulitan.
  4. Shalat yang dijama' shalat adaan (tunai) bukan shalat qada.
  5. Berniat men-jama' ketika takbiratul ikram.

B. Ketentuan Shalat Qasar
Shalat qasar adalah shalat fardu yang diringkas dari 4 rakaat menjadi 2 rakaat. Dengan demikian shalat fardu yang boleh diqasar adalah shalat Zuhur, Ashar, dan Isya. Sedangkan shalat Magrib dan Subuh tidak boleh diqasar . Hukum shalat qasar adalah sunah sebagaimana di jelaskan dalam Q.S. an-Nisa/4: 101 yang berbunyi:

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًا ﴿ ١٠١

Artinya :
“Dan apabila kamu berpergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqasar shalat(mu), jika kamu takut diserang oleh orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu. (Q.S. an-Nisa'/4: 101)

Shalat qasar sah dilaksanakan apabila memenuhi syarat sebagai berikut.
  1. Perjalanan yang dilakukan bertujuan bukan untuk maksiat.
  2. Jaraknya jauh, sekurang-kurang nya 80,640 km lebih (perjalanan sehari semalam).
  3. Shalat yang diqasar adalah shalat adaan (tunai), bukan shalat qada
  4. Berniat shalat qasar ketika takbiratulihram .

Cara melaksanakan shalat qasar adalah shalat dikerjakan yang semula empat rakaat menjadi dua rakaat. Pelaksanaanya seperti melaksnakan shalat dua rakaat pada umumnya.

Panduan Praktik Shalat Jama' Taqdim Diqasar
1. Cara melaksanakan shalat jama' taqdim diqasar (Zuhur dengan Asar) adalah:
  1. Memenuhi persyaratan untuk melaksanakan shalat.
  2. Melaksanakan shalat yang didahului dengan iqomah.
  3. Melaksanakan shalat Zuhur dua rakaat diawali dengan niat untuk shalat jama' taqdim dan diqasar. Contoh lafal niat:
أصلي فرض الظهر ركعتين قصرا مجموعا إليه العصر أداء لله تعالى
Artinya :
“Saya berniat shalat Zuhur dua rakaat dijama' dengan Asar yang diringkas dengan jama' taqdim menghadap kiblat karena Allah Ta’ala ”
  1. Melaksanakan £alat Zuhur dua rakaat sampai selesai.
  2. Melaksanakan shalat Asar dua rakaat, yang didahului dengan iqomah dengan niat shalat jama' taqdim dan diqasar Contoh lafal niat:
أصلي فرض العصر ركعتين قصرا مجموعا إلي الظهر أداء لله تعالى
Artinya :
“Saya berniat menjalankan shalat fardu Asar dua rakaat diqasar dan dijama' dengan Zuhur dengan jama' taqdim menghadap kiblat karena Allah Ta’ala ”
  1. Melaksanakan shalat Asar dua rakaat sampai selesai.

2. Cara melaksanakan shalat jama' taqdim diqasar (Magrib dengan Isya) adalah:
  1. Memenuhi persyaratan untuk melaksanakan shalat.
  2. Melaksanakan shalat yang didahului dengan iqomah.
  3. Melaksanakan shalat Maghrib dua rakaat diawali dengan niat untuk shalat jama' taqdim dan diqasar. Contoh lafal niat:
أصلي فرض المغرب ثلاث ركعات مجموعا إليه العشاء أداء لله تعالى
Artinya :
“Saya berniat shalat Maghrib tiga rakaat dijama' dengan Isya yang diringkas dengan jama' taqdim menghadap kiblat karena Allah Ta’ala ”
  1. Melaksanakan shalat Maghrib tiga rakaat sampai selesai.
  2. Melaksanakan shalat Isya dua rakaat, yang didahului dengan iqomah dengan niat shalat jama' taqdim dan diqasar Contoh lafal niat:
أصلي فرض العشاء ركعتين قصرا مجموعا إلي المغرب أداء لله تعالى
Artinya :
“Saya berniat menjalankan shalat fardu Isya dua rakaat diqasar dan dijama' dengan Maghrib dengan jama' taqdim menghadap kiblat karena Allah Ta’ala ”
  1. Melaksanakan shalat Isya dua rakaat sampai selesai.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 10:56 PM

Melestarikan Tradisi Islam di Nusantara

Tradisi adalah kebiasaan atau adat istiadat yang dilakukan turun temurun oleh masyarakat. Sebelum Islam datang, masyarakat Nusantara sudah mengenal berbagai kepercayaan dan memiliki beragam tradisi lokal. Melalui kehadiran Islam maka kepercayaan dan tradisi di Nusantara tersebut membaur dan dipengaruhi nilai-nilai Islam.

Seni budaya, adat, dan tradisi yang bernapaskan Islam tumbuh dan berkembang di Nusantara. Tradisi ini sangat bermanfaat bagi penyebaran Islam di Nusantara. Kita sebagai generasi penerus Islam
kita harus bijaksana dalam menyikapi tradisi tersebut. Memang harus diakui ada tradisi-tradisi lokal yang tidak sesuai dengan Islam.

Banyak sekali tradisi atau budaya Islam yang berkembang hingga saat ini. Semuanya mencerminkan kekhasan daerah atau tempat masingmasing. Berikut ini adalah beberapa tradisi atau budaya Islam dimaksud.

A. Halal Bihalal
Aspek Penjelasan
Pengertian Halal bihalal berasal dari bahasa Arab (halla atau halal) tetapi tradisi halal bi halal itu sendiri adalah tradisi khas bangsa Indonesia, bukan berasal dari Timur Tengah. Halal bihalal sebagai sebuah tradisi khas Islam Indonesia lahir dari sebuah proses sejarah. Tradisi ini digali dari kesadaran batin tokoh-tokoh umat Islam masa lalu untuk membangun hubungan yang harmonis (silaturahim) antar umat.
Halal Bihalal
Tujuan Tujuan halal bihalal selain saling bermaafan adalah untuk menjalin tali silaturahim dan mempererat tali persaudaraan. Sampai saat ini tradisi ini masih dilakukan di semua lapisan masyarakat.
Waktu Halal bihalal dilakukan pada Bulan Syawal, berupa acara saling bermaaf-maafan. Setelah umat Islam selesai puasa ramadhan sebulan penuh maka dosa-dosanya telah diampuni oleh Allah Swt.

B. Tabot atau Tabuik
Aspek Penjelasan
Pengertian Istilah Tabot berasal dari kata Arab, “tabut”, yang secara harfiah berarti kotak kayu atau peti. Tabot atau Tabuik, adalah upacara tradisional masyarakat Bengkulu
Tabot Bengkulu
Tujuan Tujuan Tabot adalah untuk mengenang kisah kepahlawanan dan kematian Hasan dan Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad saw. Kedua cucu Rasulullah saw. ini gugur dalam peperangan di Karbala, Irak pada tanggal 10 Muharam 61 Hijriah (681 M).
Waktu Upacara Tabot ini dilaksanakan dari 1 sampai 10 Muharram (berdasar kalendar Islam) setiap tahun..

C. Kupatan (Bakdo Kupat)
Aspek Penjelasan
Pengertian Kupat adalah singkatan dari ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan menjadi simbol untuk saling memaafkan. Kupat merupakan makanan yang terbuat dari beras dan dibungkus anyaman (longsong) dari janur kuning (daun kelapa yang masih muda).
Kupatan (Bakdo Kupat)
Tujuan Diperkirakan tradisi ini sudah ada sejak masuknya Islam di tlatah Jawa, yaitu sekitar tahun 1400-an. Oleh para Wali, tradisi membuat kupat itu dijadikan sebagai sarana untuk syiar agama. Ketupat merupakan simbol permintaan maaf dan simbol menjalin tali silaturahim.
Waktu Tradisi membuat kupat ini biasanya dilakukan seminggu setelah hari raya Idul Fitri.

D. Sekaten di Surakarta dan Yogyakarta
Aspek Penjelasan
Pengertian Sekaten berasal dari kata suka dan ati yang berarti suka hati atau senang hati. Hal ini didasarkan bahwa pada saat menyambut perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW, orang-orang dalam suasana bersuka hati. Pendapat lain mengatakan bahwa sekaten berasal dari kata syahadatain, yang maksudnya dua kalimat syahadat yang diucapkan ketika seseorang hendak memeluk agama Islam. Pendapat ini didasari bahwa pada jaman dahulu upacara sekaten diselenggarakan untuk menyebarkan agama Islam.
Sekaten di Surakarta dan Yogyakarta Aspek
Tujuan Sekaten diadakan untuk melestarikan tradisi para wali dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw. Sebagai tuntunan bagi umat manusia, diharapkan masyarakat yang datang ke Sekaten juga mempunyai motivasi untuk mendapatkan berkah dan meneladani Nabi Muhammad saw.
Waktu Tradisi Sekaten dilaksanakan setiap tahun di Keraton Surakarta Jawa Tengah dan Keraton Yogyakarta.Upacara ini dilaksanakan selama tujuh hari, yaitu sejak tanggal 5 Mulud (Rabiulawal) sore hari sampai dengan tanggal 11 Mulud (Rabiulawal) tengah malam.

E.Grebeg Kesultanan Yogyakarta
Aspek Penjelasan
Pengertian Garebeg atau grebeg adalah upacara berkala yang diadakan Kesultanan Jogjakarta untuk memperingati suatu peristiwa penting. Grebek di Yogyakarta di selenggarakan 3 kali dalam setahun Grebek pasa-syawal, grebeg besar, dan grebeg maulid.
Grebeg Kesultanan Yogyakarta
Tujuan Grebek di Yogyakarta diadakan untuk : Grebek pasa-syawal untuk menghormati Bulan Ramadhan dan Lailatul Qadr, grebeg besar untuk merayakan hari raya kurban, dan grebeg maulud untuk memperingati hari Maulid Nabi Muhammad saw.
Waktu Grebek pasa-syawal diadakan setiap tanggal 1 Syawal grebeg besar, diadakan setiap tanggal 10 dzulhijjah, dan grebeg maulud setiap tanggal 12 Rabiul awwal.

F. Grebeg Besar di Demak
Aspek Penjelasan
Pengertian Tradisi Grebeg Besar Demak merupakan upacara tradisional yang setiap tahun dilaksanakan di Kabupaten Demak Jawa Tengah
Grebeg Besar di Demak
Tujuan Tujuan semula Grebeg Besar adalah untuk merayakan Hari Raya Kurban dan memperingati peresmian Masjid Demak. Pada awalnya Grebeg Besar dilakukan tanggal 10 Dzulhijjah tahun 1428 Caka dan dimaksudkan sekaligus untuk memperingati genap 40 hari peresmian penyempurnaan Masjid Agung Demak. Kesempatan ini kemudian digunakan para Wali untuk melakukan dakwah Islam
Waktu Tradisi ini dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah bertepatan dengan datangnya Hari Raya Idul Adha atau Idul Kurban. Tradisi ini cukup menarik karena Demak merupakan pusat perjuangan Walisongo dalam dakwah.

G. Kerobok Maulid di Kutai
Aspek Penjelasan
Pengertian Istilah Kerobok berasal dari Bahasa Kutai yang artinya berkerubun atau berkerumun oleh orang banyak. Tradisi Kerobok Maulid dipusatkan di halaman Masjid Jami’ Hasanuddin, Tenggarong.
Kerobok Maulid di Kutai
Tujuan Tradisi ini dilaksanakan dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw., tanggal 12 Rabiul Awwal.
Waktu Tradisi ini dilaksanakan pada tanggal 12 Rabiul Awwal Kegiatan Kerobok Maulid ini diawali dengan pembacaan Barzanji di Masjid Jami’ Hasanudin Tenggarong.

H. Pawai Obor di Manado
Aspek Penjelasan
Pengertian Pawai obor merupakan kegiatan rutin yang membuat jalan-jalan di Kota Manado terang. Bagi warga muslim setempat pawai obor sudah jadi tradisi dan dilaksanakan turun-temurun sebagai simbol penerangan. Pawai Obor bermakna bahwa kelahiran Nabi Muhammad saw. adalah membawa ajaran yang menjadi cahaya penerang iman saat manusia hidup dalam kegelapan dan kemusyrikan.
Pawai Obor di Manado
Tujuan Tradisi ini untuk memperingati Maulid nabi Muhammad saw. warga muslim di Kota Manado, Sulawesi Utara, Indonesia,
Waktu Tradisi ini dilaksanakan pada tanggal 12 Rabiul Awwal.

I. Tradisi Rabu Kasan di Bangka
Aspek Penjelasan
Pengertian Tradisi Rabu Kasan merupakan tradisi yang dilaksanakan di Kabupaten Bangka setiap tahun, yakni Rabu Kasan berasal dari Kara Rabu Pungkasan (terakhir).
Tradisi Rabu Kasan di Bangka
Tujuan Upacara Rabu Kasan sebenarnya tidak hanya dilakukan di Bangka saja, tetapi juga di daerah lain, seperti di Bogor Jawa Barat dan Gresik Jawa Timur. Pada dasarnya maksud dari tradisi ini sama, yaitu untuk memohon kepada Allah Swt. agar dijauhkan dari bala’ (musibah dan bencana).
Waktu Tradisi Rabu Kasan dilaksanakan di Kabupaten Bangka setiap tahun, tepatnya pada hari rabu terakhir bulan Safar.

J. Dugderan di Semarang
Aspek Penjelasan
Pengertian Tradisi dugderan merupakan tradisi khas yang dilakukan oleh masyarakat Semarang, Jawa Tengah. Ritual dugderan akan dilaksanakan setelah shalat Asar yang diawali dengan musyawarah untuk menentukan awal bulan Ramadan yang diikuti oleh para ulama.
Dugderan di Semarang
Tujuan Tradisi Dugderan dilakukan untuk menyambut datangnya bulan puasa. Dugderan biasanya diawali dengan pemberangkatan peserta karnaval dari Balaikota Semarang.
Waktu Tradisi dugderan dilaksanakan setelah shalat Asar yang diawali dengan musyawarah untuk menentukan awal bulan Ramadan.

K. Budaya Tumpeng
Aspek Penjelasan
Pengertian Tumpeng adalah cara penyajian nasi beserta lauk-pauknya dalam bentuk kerucut. Nasi tumpeng umumnya berupa nasi kuning, atau nasi uduk. Cara penyajian nasi ini khas Jawa atau masyarakat Betawi keturunan Jawa. Saat ini budaya tumpeng sudah menjadi tradisi nasional bangsa Indonesia.
Tumpengan
Tujuan Tradisi tumpeng biasanya dibuat pada saat kenduri atau perayaan suatu kejadian penting. Tradisi membuat tumpeng sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Waktu Tradisi tumpeng dilaksanakan pada saat kenduri atau perayaan suatu kejadian penting.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 9:25 PM

Menelusuri Tradisi Islam di Nusantara

Tradisi Islam di Nusantara ini muncul sebagai akibat ajaran agama yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Ajaran Islam akan merasuk ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat sampai menjadi tradisi dan tata cara hidup. Sebelum kedatangan Islam masyarakat Nusantara telah memeluk agama Hindu-Buddha, sehingga penduduk Nusantara telah memiliki budaya, tata cara hidup dan adat yang mengakar kuat. Tumbuhnya Islam menyebabkan adanya akulturasi budaya.

Akulturasi merupakan proses percampuran antara unsur kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain sehingga terbentuk kebudayaan yang baru tanpa menghilangkan sama sekali ciri khas masing-masing kebudayaan lama. Kedatangan ajaran Islam di Nusantara juga mengalami proses akulturasi dengan kebudayaan Nusantara saat itu. Berikut ini adalah seni budaya Nusantara yang telah mendapatkan pengaruh dari ajaran Islam.

A. Nama-Nama Bulan dalam Jawa
Masuknya Islam ke Indonesia, membawa pengaruh pada sistem penanggalan. Islam menggunakan kalender Hijriah yang berpatokan pada perputaran bulan. Bentuk akulturasi antara penanggalan Islam dengan penanggalan Jawa dapat terlihat pada penamaan bulan sebagai berikut:
No Bulan Hijriyah Bulan Jawa Jumlah Hari
1 Muharam Sura 30
2 Safar Sapar 29
3 Rabi’ul awwal Mulud 30
4 Rabi’ul akhir Bakda mulud 29
5 Jumadil awal Jumadil awal 30
6 Jumadil akhir Jumadilakir 29
7 Rajab Rejeb 29
8 Sya’ban Ruwah 29
9 Ramadhan Pasa 30
10 Syawal Sawal 29
11 Zulqaidah Apit 30
12 Zulhijjah Besar 29/30/(29/30)
Jumlah 354/355

B. Seni Bangunan Masjid
Wujud akulturasi terlihat dalam bangunan masjid kuno, yaitu dilihat dari bentuk bangunan, menara dan letak masjid.
  1. Kebanyakan bentuk bangunan masjid di Jawa berbentuk seperti pendopo yang berbentuk bujur sangkar dan tersusun ke atas semakin kecil dan tingkat teratas disebut dengan limas. Jumlah tumpang biasanya gasal. Bentuk masjid seperti ini disebut dengan meru. Bentuk tumpang ini merupakan akulturasi dengan Hindu, di mana pura milik orang Hindu berbentuk tumpang.
  2. Menara berfungsi sebagai tempat menyerukan azan. Bentuk akulturasi ini terlihat pada menara Masjid Kudus yang terbuat dari terakota yang tersusun seperti candi, sedangkan di Banten bentuk menara menyerupai mercusuar di Eropa.
  3. Kebanyakan masjid di Indonesia terletak di sebelah barat alun-alun istana atau keraton. Selain itu masjid juga diletakkan dekat dengan makam, terutama makam raja-raja.
Seni Bangunan Masjid
C. Seni Ukir dan Kaligrafi
Seni ukir yang dimaksud adalah seni ukir hias untuk hiasan masjid, bangunan makam di bagian jirat, nisan, cungkup dan tiang cungkup. Seni ukir hias ini antara lain berupa dedaunan, motif bunga (teratai), bukit-bukti karang, panorama alam, dan ukiran kaligrafi.
Kaligrafi
Kaligrafi adalah seni menulis indah dengan merangkaikan huruf-huruf Arab atau ayat suci al-Qur'an, hadis, asma Allah Swt., shalawat maupun kata-kata hikmah sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Kaligrafi Islam sering disebut dengan istilah khat. Kaligrafi sebagai motif hiasan dapat dijumpai di masjid-masjid kuno, seperti ukir-ukiran yang terdapat pada masjid di Jepara dan sekitarnya.

D. Seni Tari
Di beberapa daerah di Indonesia terdapat bentuk-bentuk tarian yang berkaitan dengan bacaan shalawat.
  1. Tari Zipin adalah sebuah tarian yang mengiringi musik qasidah dan gambus. Musik yang yang mengiringinya berirama padang pasir atau daerah Timur Tengah. Tari Zipin biasa dipentaskan pada upacara atau perayaan tertentu misalnya: khitanan, pernikahan dan peringatan hari besar Islam lainnya. 
  2. Tari Seudati dari Aceh. Seudati berasal dari kata Syaidati yang berarti permainan orang-orang besar. Disebut sebagai Tari Saman karena mula-mula permainan ini dimainkan oleh delapan orang. Saman berasal dari bahasa Arab yang artinya delapan. Dalam tari Seudati para penari menyanyikan lagu tertentu yang berupa shalawat
Tari Zipin
E. Seni Musik
Kebudayaan Islam kita juga mengenal seni musik berupa rebana, hadrah, qasidah, nasyid dan gambus yang melantunkan lagu-lagu dengan syair Islami.
  1. Hadrah adalah salah satu jenis alat musik yang bernafaskan Islam. Lagu-lagu yang dibawakan adalah lagu yang bernuansa Islami yaitu tentang pujian kepada Allah Swt. dan sanjungan kepada Nabi Muhammad saw. 
  2. Qasidah artinya suatu jenis seni suara yang menampilkan nasihat-nasihat keislaman. Lagu dan syairnya banyak mengandung dakwah Islamiyah yang berupa nasihat-nasihat, shalawat kepada Nabi dan doa-doa.
  3. Biasanya qasidah diiringi dengan musik rebana. Sejarah pertama kali penggunaan musik rebana adalah ketika Rasulullah saw. hijrah dari Mekah menuju Madinah. Sesampainya di Madinah Rasulullah saw. disambut dengan meriah di Madinah dengan lantunan musik rebana.
Qasidah
F. Seni Pertunjukan
Seni pertunjukkan wayang kulit merupakan perpaduan kebudayaan Jawa dengan unsur keislaman. Dahulunya lukisan seperti bentuk manusia, kemudian para wali mengubah bentuknya. Dari yang semula lukisan wajahnya menghadap lurus kemudian agak dimiringkan.
Seni Pertunjukan
Sumber cerita dalam mementaskan wayang diilhami dari Kitab Ramayana dan Mahabarata. Tentunya para Wali mengubahnya menjadi cerita-cerita keislaman, sehingga tidak ada unsur kemusyrikan di dalamnya. Salah satu lakon yang terkenal dalam pewayangan ini adalah Jimas Kalimasada yang dalam Islam diterjemahkan menjadi Jimad Kalimat Syahadat.

G. Seni Sastra
Ditinjau dari corak dan isinya, kesusastraan zaman Islam dibagi menjadi beberapa jenis. Jenis-jenis karya sastra yang sesuai dengan ajaran Islam di antaranya sebagai berikut.
  1. Babad adalah dongeng yang sengaja diubah sebagai cerita sejarah. Babad merupakan campuran antara fakta sejarah, mitos dan kepercayaan. Contohnya Babad Tanah Jawi, Babad Cirebon, Babad Mataram, Babad Surakarta, Babad Giyanti, dan Babad Pakepung. Di daerah Melayu, babad dikenal dengan nama sejarah sarasilah (silsilah) atau tambo, yang juga diberi judul hikayat. Contohnya Tambo Minangkabau, Hikayat Raja-raja Pasai, dan Hikayat Sarasilah Perak.
  2. Hikayat adalah cerita atau dongeng yang biasanya penuh dengan keajaiban dan keanehan.  Di antara hikayat yang terkenal adalah hikayat Raja-raja Pasai, Hikayat 1001 malam, Hikayat Bayan Budiman dan lain-lain.
  3. Suluk adalah kitab-kitab yang menguraikan soal tasawuf. Sunan Bonang mengembangkan ilmu suluk dalam bentuk puisi yang dibukukan dalam Kitab Bonang. Hamzah Fansuri menghasilkan karya sastra dalam bentuk puisi yang bernafaskan keislaman, misalnya Syair Perahu dan Syair Dagang. Syekh Yusuf, seorang ulama Makassar yang diangkat sebagai pujangga di kerajaan Banten, berhasil menulis beberapa buku tentang tasawuf.
Hikayat 1001 malam
H. Kesenian Debus
Kesenian debus difungsikan sebagai alat untuk membangkitkan semangat para pejuang dalam melawan penjajah. Debus merupakan seni bela diri untuk memupuk rasa percaya diri dalam menghadapi musuh.
Pertunjukan Debus
Kesenian ini mempertunjukkan aksi kekebalan tubuh terhadap benda-benda tajam. Filosofi  dari kesenian ini adalah kepasrahan kepada Allah Swt. yang menyebabkan mereka memiliki kekuatan untuk menghadapi bahaya.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 11:07 AM