Membuat Motif Jumputan Sederhana

Indonesia mengenal seni ikat celup (tie dye) sebagai salah satu bentuk seni tradisional. Di Indonesia sendiri, kain jumputan dikenal dengan nama yang berbeda-beda, masyarakat Jawa menyebutnya Jumputan, di daerah Bali dikenal dengan nama Sangsangan, sedangkan di Palembang orang menamakannya kain Pelangi, di Kalimantan dikenal dengan istilah Sasirangan, dan di Sulawesi dikenal dengan nama kain Rotto

Jumputan adalah salah satu teknik pembuatan motif di atas kain yang dilakukan dengan cara mengisi kain, melipat kain dan mengikat kain dengan cara tertentu. Kain yang telah diikat kemudian dicelupkan pada larutan zat warna sehingga diperoleh paduan warna yang menarik.

Kain dengan motif jumputan ini banyak ditemukan di daerah Surakarta dan D.I. Yogyakarta. Proses pembuatan kain ini sangat mudah dan hanya dengan mengikat kain dan melakukan pencelupan pada zat warna maka akan tercipta kain bermotif jumputan yang bisa dibuat selendang, angkin.

Sesuai perkembangannya pada saat ini kain jumputan sudah banyak dibuat pakaian seperti daster, kaos oblong, kebaya dan baju pesta yang mewah. Pada prinsipnya untuk membuat motif kain dengan teknik jumputan adalah dengan menentukan bagian yang ingin diberi warna dan bagian yang tidak ingin diberi warna.

Untuk bagian yang tidak ingin diberi warna dengan cara menutupnya dengan plastik, sedangkan untuk bagian yang ingin diberi warna dengan cara membiarkannya tidak terikat dan tertutup plastik. Untuk menghasilkan warna yang berbeda diperlukan proses pewarnaan beberapa kali.

Macam Teknik Jumputan
Dalam pembuatan teknik ikat jumputan, terdapat berbagai motif teknik ikat dasar. Berikut ini merupakan beberapa macam teknik jumputan dan cara mengikatnya :
Macam Teknik Jumputan
  1. Teknik Ikatan Tunggal. Motif yang terbentuk dari ikatan ini adalah bentuk lingkaran bergerigi. Cara pembuatannya adalah dengan cara menjumput dan mengikat bagian dasar tersebut.
  2. Teknik Ikatan Silang. Motif yang dihasilkan adalah seperti pola ledakan matahari.. Cara pembuatannya adalah dengan memulai membuat ikatan tunggal. Ikatlah dasarnya, lalu buatlah ikatan spiral menuju puncak.
  3. Teknik Ikatan Mawar Ganda. Teknik ini akan membentuk motif pola ikatan konsentris. Cara pembuatannya adalah dengan cara menjumput kain seperti membuat ikatan tunggal. Peganglah dasarnya dengan ibu jari dan jari telunjuk, kemudian tekan kain diantara kedua jari itu ke bawah, kemudian diikat.  
  4. Teknik Ikatan Garis. Teknik pengerutan dapat memberikan motif pola marmer pada hasil akhirnya. Cara pembuatannya adalah dengan mengerutkan kain secara tidak teratur dengan satu tangan, sementara tangan lainnya memegangi bekas kerutan tersebut. Ikat kain kuat-kuat agar tidak terurai.
  5.  Teknik Pengerutan (Marbling).Teknik pengerutan dapat memberikan motif pola marmer pada hasil akhirnya. Cara pembuatannya adalah dengan mengerutkan kain secara tidak teratur dengan satu tangan, sementara tangan lainnya memegangi bekas kerutan tersebut. Ikat kain kuat-kuat agar tidak terurai.
  6. Teknik Ikatan Ganda. Motif ini disebut juga motif chinesse pine, yang berbentuk pola lingkaran berulang yang dapat dibuat satu atau dua jalur pada masing-masing lingkaran. Cara pembuatannya adalah dengan membuat kerutan pada pusat yang diinginkan, kemudian diikat secara bertahap sesuai jarak yang dikehendaki. 
  7. Teknik Mengikat Benda. Motif lingkaran-lingkaran kecil ini dapat menggunakan kerikil, logam atau mutiara. Dengan penggunaan bahan pengisi bermacam bentuk atau ukuran akan menghasilkan motif yang tidak beraturan tetapi unik. Cara pembuatannya adalah dengan meletakkan dan mengikat benda pada media yang diinginkan.
  8. Teknik Jelujur. Motif jelujur merupakan proses ikat yang lebih lama dan rumit. Cara membuatnya adalah dengan menjelujur pada bagian motif yang diinginkan kemudian dikerut dan diikat. Misalnya membentuk motif gelombang, obat nyamuk dll

A. Alat dan Bahan
Beberapa Alat dan Bahan yang digunakan dalam proses membuat motif hias jumputan sederhana antara lain sebagai berikut.
  1. Kain blacu
  2. Kompor dan Panci
  3. Batu kecil atau batu-batuan
  4. Benang
  5. Tali kur
  6. Pewarna Kain (wantek)
  7. Gunting
  8. Kayu untuk pengaduk
  9. Plastik
B Langkah Langkah
Kainjumputan disebut juga batik celup ikat karena proses pembuatannya dengan cara mengikat beberapa bagian kain yang ingin diberi motif kemudian diberikan pewarna. Berikut ini langkah-langkah membuat  motif jumputan.
Jumputan
  1. Buatlah motif pada kain blacu. Masukan batu kecil atau biji-bijian ke dalam pola yang telah dibuat. Pola yang telah batua atau biji-bijian kecil dilapisi plastik lalu diikat dengan tali kur dan usahakan serapat mungkin sehingga air tidak bisa masuk ke dalam ikatan.
  2. Masaklah air kira-kira 2 liter dalam panci hingga mendidih.
  3. Masukan wantek/zat pewarna kain ke dalam panci dan aduklah sampai rata.
  4. Kain blacu yang telah dipersiapkan dimasukan ke dalam air yang telah diberi zat pewarna. Kain diaduk-aduk dan dibolak-balik agar warnanya rata. Kemudian angkatlah panci dari atas kompor.
  5. Angkatlah kain dan jemurlah, setealh agak kering ikatan-ikatan tali kur dibuka.
  6. Kain balacu kemudian dibilas dengan air bersih sampai airnya tidak berwarna lagi
  7. Langkah terakhir jemurlah kain sampai kering

Teknik jumputan memiliki nilai keindahan tersendiri. Keunikan motif dan hasil pewarnaanya sangat dipengaruhi oleh ketrampilan dari pengrajinnya. Sementara hasil motif dan warna yang nampak tergantung dari bahan baku kain, teknik, kreasi, dan zat warna yang digunakan. Keunikan lainnya yaitu pengerjaan motif yang sama bisa jadi memiliki hasil akhir yang berbeda, atau bisa dikatakan motifnya limited edition. Hal tersebut dikarenakan proses celup rintang yang digunakan sebagai proses pewarnaan memungkinkan untuk menghasilkan motif yang berbeda-beda, walaupun dalam satu motif yang sama.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae Updated at: 5:17 AM

Menggambar Ilustrasi Hewan dan Kehidapannya

Kegiatan berkarya seni rupa pada mata pelajaran SBK di SD salah satunya melalui kegiatan menggambar. Pembelajaran menggambar ilustrasi di Sekolah Dasar memiliki peranan penting dalam pengembangan kreativitas dan imajinasi siswa. Khususnya bagi siswa kelas V yang berada pada kisaran usia 10-11 tahun, termasuk dalam fase perkembangan awal realisme berdasarkan karakteristik gambarnya.

Berdasarkan dimensinya, karya seni rupa dikelompokkan menjadi dua, yaitu: Karya seni rupa dua dimensi adalah karya seni rupa yang hanya memiliki ukuran panjang dan lebar atau karya yang hanya bisa dilihat dari satu arah pandang. Contohnya lukisan, gambar, dan lain-lain.

Karya seni rupa tiga dimensi adalah karya seni rupa yang mempunyai tiga ukuran yaitu panjang, lebar, dan tinggi atau karya yang mempunyai volume dan menempati suatu ruang. Contohnya patung, kriya, keramik, dan lain-lain.

Berdasarkan fungsinya, seni rupa dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu : Seni murni adalah karya seni rupa yang dibuat semata-mata untuk memenuhi kebutuhan artistik. Seni terapan adalah karya seni rupa yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan praktis.

Gambar ilustrasi termasuk dalam jenis karya seni rupa dua dimensi, karena merupakan karya yang dibuat pada media kertas. Gambar pada media kertas tersebut memiliki dimensi permukaan panjang dan lebar yang dapat dilihat dari satu arah pandang.

Berdasarkan fungsi karya seni rupa, gambar ilustrasi dikatakan sebagai karya seni terapan. Dikatakan karya seni terapan karena terdapat dua fungsi gambar ilustrasi yaitu gambar untuk menjelaskan/menceritakan suatu hal atau peristiwa dan gambar ilustrasi sebagai penghias untuk menyertai suatu teks atau buku.

Kedua fungsi gambar ilustrasi tersebut tergolong digunakan untuk memenuhi kebutuhan praktis seperti contohnya dalam pembuatan gambar ilustrasi pada cover buku yang berfungsi sebagai penghias atau gambar ilustrasi yang dibuat anak berkaitan dalam pembelajaran Seni Rupa di Sekolah Dasar yang berfungsi untuk menjelaskan.

Langkah Menggambar Ilustrasi Hewan
Menggambar ilustrasi akan lebih mudah jika dibuat sketsanya terlebih dahulu. Sketsa adalah rancangan awal gambar. Perhatikan langhkah-langkah menggambar ilustrasi hewan berikut ini.
Gambar Jerapah
  1. Buatlah sketsa awal hewan, misalnya jerapah. Buatlah bulatan seperti pada gambar menggunakan pensil HB agar warna pensil lebih lembut. Dengan warna pensil yang tidak terlalu tebal maka akan mudah untuk diperbaiki tanpa meninggalkan bekas.
  2. Lengkapilah gambar jerapah dengan bagian-bagian lain tubuh hewan tersebut. Misalnya bentuk kepala, bentuk telinga, bentuk mata, bentuk mulut, bentuk badan, bentuk kaki, dan bentuk ekor. Usahakan gambar menyerupai bentuk hewan jerapah. Tetap menggunakan pensil HB agar mudah memperbaikinya.
  3. Tebalkan sketsa yang telah dibuat menjadi bentuk hewan yang utuh. Gunakan pensil 2B agar gambar sketsa terlihat jelas. Hal tersebut akan mempermudah pewarnaan dan memperjelas bentuk hewan.
  4. Kemudian, sempurnakan dengan menghapus garis-garis yang tidak perlu dan menam bah garis atau coretan yang dirasa perlu agar gambar tampak lebih hidup. Jika sudah mantap warnai gambarmu dengan baik. 

Menggambar Gajah
Gajah merupakan salah binatang yang mempunyai banyak keunikan. Dengan tubuh superbesar, berat, dengan suara nyaring, gajah mempunyai banyak kelebihan yang tidak dimiliki hewan lain. Berikut ini adalah langkah menggambar hewan gajah.
Gambar Gajah
Ciri-Ciri Gajah - Ciri-Ciri Binatang Gajah adalah hewan yang memiliki tubuh yang sangat besar. Meskipun begitu, ia adalah hewan yang sangat ramah dan pintar. Gajah memiliki sepasang gading dan belalai yang sering digunakan untuk bertarung maupun melindungi diri dari ancaman musuh
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae Updated at: 8:38 PM

Gambar Dekoratif Motif Hias

Gambar dekoratif adalah gambar hiasan yang dalam perwujudannya tampak rata, tidak ada kesan ruang jarak jauh dekat atau gelap terang tidak terlalu ditonjolkan. Menggambar dekoratif adalah kegiatan menggambar hiasan (ornamen) pada kertas gambar, atau pada benda tertentu. Sifat dekoratif pada gambar menunjukkan fungsi gambar

Deformasi yaitu menggambar sesuai dengan keinginan si pembuat gambar tetapi tidak meninggalkan unsur utamanya  Untuk memperoleh objek gambar dekoratif, dapat dilakukan dengan deformasi atau penstiliran alami. Bentuk-bentuk objek di alam disederhanakan dan digayakan tanpa meninggalkan bentuk aslinya. Misalnya bunga, hewan, tumbuhan yang digayakan. Kesan tentang bunga, hewan, tumbuhan  harus masih ada pada motif itu. Dan masih banyak motif-motif hias lain.

Menggambar hiasan dapat dilakukan dengan cara menggunakan cetakan maupun menggambar langsung dengan alat-alat gambar.

A. Gambar Dengan Teknik Cetak
Dalam berkegiatan menggambar terdapat begitu banyak teknik yang dapat digunakan untuk menghasilkan sebuah karya yang menarik dan bagus, salah satunya yaitu teknik cetak tinggi. Teknik cetak tinggi merupakan salah satu proses kegiatan mencetak seni grafis yang memanfaatkan bentuk yang paling tinggi(timbul/menonjol) yang berasal dari suatu benda atau bahan untuk menghasilkan bentuk karya berupa gambar.

Saat digunakan hanya bagian yang permukaan yang tinggi (menonjol) rata yang terkena cairan pewarna. Cetak tinggi dapat dibuat dari benda yang mudah dibentuk dan ketika sudah dibentuk bentuknya tidak mudah berubah-ubah.

Pola yang menggunakan motif mudah dibuat tetapi memerlukan kecermatan. Motif adalah desain yang ditampilkan berulang-ulang dengan pola teratur. Sebagian besar bahan kain dicetak dengan satu atau dua buah motif sehingga membentuk pola. Misalnya permadani, kertas, dinding, dan ubin lantai.

Pembuatan cetak tinggi bisa pula dilakukan dengan menggunakan alat pencetak dari bahan alami seperti umbi-umbian, wortel, pelepah pisang ataupun berbagai macam benda yang mudah didapatkan pada kehidupan sehari-hari. Pada pembuatan cetak tinggi menggunakan “Umbi-umbian” sebagai alat pencetak sebaiknya menunggu agar getah yang didalamnya keluar dan membersihkannya dengan lap. Sebab getah yang dimiliki oleh tanaman berumbi bisanya berlebihan dan getah  tersebut dapat merusak hasil gambar.

1. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang akan digunakan dalam menggambar dekoratif perlu dipersiapkan terlebih dahulu agar dalam proses pembuatan nantinya dapat berjalan dengan lancar. Beberapa peralatan yang harus dipersiapkan antara lain sebagai berikut.
  1. Kentang dua buah ata bisa juga lebih tergantung bentuk motif yang akan dibuat. Jika tidak ada kentang bisa diganti dengan bahan lain yang ada di sekitar.
  2. Mangkok atau wadah lainnya sebagai tempat cairan pewarna.
  3. Pisau/Cutter digunakan untuk membentuk kentang menjadi motif yang akan dibentuk
  4. Pewarna buatan digunakan untuk menghasilkan gambar ke dalam kertas gambar.
  5. Kertas gambar digunakan sebagai media utama dalam menggambar dekoratif. Kertas gambar ini juga dapat menggunakan buku gambar biasa.
2. Langkah-langkah
Untuk membuat gambar dekoratif diperlukan beberapa langkah yang harus dilakukan. Langkah-langkah ini harus dilakukan dengan baik agar gambar yang dihasilkan juga bagus. beberapa langkah yang perlu dilakukan dalam membuat gambar dekoratif antara lain sebagai berikut.
Langkah-langkah
  1. Potong kentang menjadi dua bagian dan usahan potongan tidak terlalu tipis untuk memudahkan saat akan membuat gambar.
  2. Buatlah pola motif hias yang bermacam-macam misalnya pola berbentuk bunga, bintang, kupu-kupu atau lainnya pada permukaan kentang yang telah dipotong. Hati-hati saat menggunakan pisau atau cutter.
  3. Celupkan permukaan kentang yang telah dibentuk ke dalam cairan pewarna atau juga bisa dengan cara mewarnai pola yang yang telah dibuat dengan cairan pewarna menggunakan kuas lukis 
  4. Tempellah/cap pola yang telah diberi cat diatas kertas. Saat melakukan kegiatan ini harus dilakukan dengan hati-hati agar hasilnya bagus. Biasanya jika cairan pewarna yang menempel pada cetakan terlalu banyak akan melebar kemana-mana sehingga ciran pewarna harus diperhatikan juga banyaknya.
  5. Ulangi langkah menempel pola dengan pola yang lain secara bergantian atau selang seling sampai kertas terlihat penuh  
  6. Hasil karya yang telah jadi
Hasil gambar dekoratif ini juga dapat diberi bingkai agar lebih bagus dan nantinya dapat digunakan saat mengadakan pameran kelas.

B. Menggambar Langsung
Menggambar dekoratif juga bisa menggunakan cara langsung yaitu menggambar di atas kertas. Menggambar dengan cara langsung membutuhkan kecermatan dan ketelitian. Bahan dan alat yang perlu dipersiapkan diantaranya alat gambar dan kertas.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae Updated at: 8:28 PM

Sikap Apresiatif Terhadap Motif Hias Nusantara

Sikap apresiatif adalah kemampuan seseorang menikmati, mengamati, menghayati serta menilai sekaligus memberi masukan berupa kritikan yang objektif tanpa kehilangan rasa simpati terhadap sebuah karya seni.

Cara menumbuhkan sikap apresiatif terhadap karya seni motif hias ada dua cara, yaitu apresiasi pasif, yang tumbuh seiring dengan pembiasaan yang sifatnya pasif sampai pada tahap menilai, mulai dari mengamati gambar atau reproduksi karya seni rupa di buku hingga menghadiri pameran karya seni rupa. dan, apresiasi aktif yaitu apresiasi pasif yang disertai pembuatan karya. macam contoh ragam hias.

Ragam hias adalah bentuk dasar hiasan yang biasanya akan menjadi pola yang diulang-ulang dalam suatu karya kerajinan atau seni. Karya ini dapat berupa tenunan, tulisan (misalnya batik), songket, ukiran, atau pahatan pada kayu/batu. Ragam hias dapat distilisasi (stilir) sehingga bentuknya bervariasi.

Ragam hias Nusantara dapat ditemukan pada motif batik, tenunan, anyaman, tembikar, ukiran kayu, dan pahatan batu. Ragam hias ini muncul dalam bentuk-bentuk dasar yang sama namun dengan variasi yang khas untuk setiap daerah. Dalam karya kerajinan atau seni Nusantara tradisional, sering kali terdapat makna spiritual yang dituangkan dalam stilisasi ragam hias. Berikut ini beberapa motif ragam hias yang tersebar di pelosok Nusantara.

A. Motif Hias Sumatera
Indonesia memiliki ribuan jenis ragam hias itu tercermin dari banyak suku budaya yang berbeda-beda yang ada di Indonesia, Begitu juga dengan pulau Sumatra, Sumatera adalah salah satu dari sekian banyak pulau paling besar yang berada di bagian barat Indonesia. Berikut ini beberapa motif ragam hias yang ada di pulau Sumatera.
Motif Hias Sumatera
  1. Aceh. Motif batik Aceh rata-rata menampilkan unsur alam dan budaya dalam paduan warna-warna berani seperti merah, hijau, kuning, merah muda, dan sebagainya. Warna-warna berani pada batik Aceh inilah yang menjadi ciri khas batik Aceh. Selain motif-motif tersebut juga terdapat beragam motif dan corak khas Aceh yang indah dari batik Aceh, antara lain Pintu Aceh, Bungong Jeumpa, Awan Meucanek, Pucok Reubong, dan lain-lain.
  2. Sumatera Utara. Batik Medan terinspirasi untuk mempunyai ciri khas tersendiri dan diambil dari tiap suku yang ada di Sumatera Utara. Batik Medan memiliki khas tersendiri dengan paduan motif ulos dari berbagai etnik di Sumatera Utara.
  3. Sumatera Barat. Di Padang, batiknya yang terkenal bernama batik tanah liek/tanah liat. Batik ini pada akhirnya juga diwarnai menggunakan sumber-sumber pewarna alam lainnya. Motifnya juga bermacam-macam antara lain tumbuhan merambat atau akar berdaun, keluk daun pakis, pucuk rebung, dan lain-lain.
  4. Bengkulu. Batik khas Bengkulu secara umum terdiri dari dua jenis. Pertama adalah batik Besurek dengan motif khasnya berupa tulisan kaligrafi. Dan kedua adalah batik Pei Ka Ga Nga atau disebut juga dengan batik Ka Ga Nga yang memiliki motif berupa tulisan asli masyarakat Rejang Lebong. Beberapa motif dasar dari batik Besurek antara lain: motif kaligrafi (diambil dari huruf-huruf kaligrafi. Untuk batik Besurek modern, biasanya kaligrafinya tidak bermakna); motif bunga rafflesia; motif burung kuau (bergambar burung yang terbuat dari rangkaian huruf-huruf kaligrafi); motif relung paku; dan motif rembulan.
  5. Riau. Di Riau, konon ada batik Selerang yang sempat begitu terkenal pada tahun 1990-an namun sayangnya kabarnya saat ini sudah menghilang. Selain itu, ada pula yang namanya batik Tabir. Batik Tabir yang dibuat berdasarkan sistem tulis dan tolek ini warna-warnanya terang dan cerah, seperti merah, kuning, hijau. Corak dan motifnya antara lain adalah bunga bintang, sosou, cempaka, Kipas Lingga dan kenduduk.
  6. Kepulauan Riau ( Kepri) juga memiliki Batik dengan corak khasnya yaitu biota laut seperti gonggong. Gonggong (Strombus Turturella) adalah salah satu jenis siput laut yang terdapat di sekitar perairan Kepulauan Riau. Selain enak untuk dinikmati kini juga hadir dalam bentuk batik yang tentunya dengan dirangkai dan didesain sedemikian rupa.
  7. Jambi. Batik Jambi biasanya datang dalam bentuk jubah longgar, sarung, atau sebagai selendang/syal. Motifnya pada umumnya diambil dari alam, seperti tumbuhan, hewan, dan aktivitas sehari-hari warga Jambi. Motif batik Jambi yang terkenal antara lain adalah motif kapal sanggat, burung kuau, durian pecah, merak ngeram, dan tampok manggis.
  8. Sumatera Selatan. Batik Palembang memiliki motif yang mengikuti syariat Islam, yaitu tidak menggunakan gambar binatang dan manusia sebagai hiasan. Sebagian besar motif batik Palembang adalah motif bunga teh, Kembang Jepri,  dan motif lasem yang dihiasi garis simetris dan berbagai simbol tanaman, sedangkan motif bunga teh kainnya dipenuhi dengan gambar bunga teh.
  9. Lampung. Lampung juga memiliki batik dengan corak tersendiri. Batik ini lahir melalui proses panjang yang dilakukan oleh Andriand Damiri Sangadjie, seorang budayawan, bersama kawan-kawannya. Motif batik Lampung yang paling terkenal dan sering menjadi rebutan kolektor asing adalah motif perahu dan “pohon kehidupan”.

B. Motif Hias Pulau Jawa
Batik saat ini sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di Indonesia. Beberapa daerah di jawa seperti Solo, Yogyakarta, Pekalongan, atau Cirebon terkenal sebagai sentra penghasil batik. Bahkan untuk kota Pekalongan, kata “Batik” digunakan sebagai slogan kota tersebut, yang membuat Pekalongan dikenal sebagai kota Batik. Sebenarnya selain kota-kota tersebut, masih ada daerah-daerah lain yang juga memiliki kesenian batiknya sendiri dengan ciri khas motif masing-masing. Berikut ini beberapa batik di pulau jawa.
Motif Hias Pulau Jawa
  1. Batik Pekalongan. Walaupun Pekalongan bukan penghasil batik pesisir tertua, namun paling halus dan sampai sekarang penghasil batik utama. Ragam hias Hindu-Jawa melekat namun tidak seperti Solo-Yogya yang terikat peraturan-peraturan keraton. Pembatik santri di Pekalongan pun menerapkan seni hias dari nuansa Islam. Beberapa motif batik Pekalongan antara lain batik Jlamprang diilhami India dan Arab, batik Encim dan Klangenan dipengaruhi peranakan Cina, batik Belanda, batik Jlamprang, batik Pagi Sore, dan batik Hokokai yang tumbuh pesat sejak pendudukan Jepang.
  2. Batik Cirebon. Batik Cirebon menampilkan 2 kategori motifnya yaitu: Menampilkan motif keratonan dan motif pesisiran yang berisi flora dan fauna. Motif batik Cirebon Mega Mendung. banyak dipengaruhi oleh budaya China. Selain motif Mega Mendung, Batik Cirebon juga memiliki motif khas, yaitu motif Kompeni. Motif ini konon dulunya diciptakan oleh pengusaha Belanda di Cirebon pada saat jaman penjajahan dulu.
  3. Batik Tegal. Batik tulis Tegal atau Tegalan itu dapat dikenali dari corak gambar atau motif rengrengan besar atau melebar. Motif ini tak dimiliki daerah lain sehingga tampak eksklusif. Motifnya banyak mangadaptasi dari aneka flora dan fauna disekitar kehidupan masyarakat di kota Tegal. Motif Grudo (Garuda) dengan warna terang yang mempertontonkan bentuk-bentuk sayap burung garuda dan motif Gribigan dengan bentuk khas anyaman bambu dalam warna agak gelap. Motif mahkota merupakan motif dengan menggunakan pacitan gabahan dan menggambarkan bentuk mahkota dengan warna biru. 
  4. Batik Banten. Motif batik banten yang paling terkenal dan menjadi ciri khas batik Banten adalaha Motif Datulaya. Datulaya berarti tempat tinggal pangeran. Dasarnya belah ketupat berbentuk bunga, dan lingkaran yang dibingkai sulur-sulur daun. Warna dasarnya biru, divariasikan dengan sulur daun abu dan dasar kainnya berwarna kuning.
  5. Batik Indramayu. Batik Indramayu sering disebut juga dengan batik dermayon, memiliki ciri khas motif berupa gambar datar flora dan fauna. Beberapa contoh motif batik dermayon antara lain : motif Banji Tepak, Motif Obar-abir berbentuk dasar segitiga, Motif Etong, motif Kembang Gunda. Motif Perang Teja, dan Motif Srintil. Srintil.
  6. Batik Solo. Ragam motif batik asal Solo dipengaruhi dengan makna-makna simbolis yang berasal dari kebudayaan Hindu. Beberapa motif batik solo antara lain motif Wahyu Tumurun, artinya restu dari Tuhan Yang Maha Esa. Sidomulyo. Sido dalam bahasa Jawa berarti ‘jadi’, sedangkan mulyo berarti mulia. Motif Semen Rante. Dalam motif ini, gambar rantai dipadukan dengan bunga kantil.
  7. Batik Yogyakarta. Karakter motif batik Yogya adalah tegas, formal, sedikit kaku, dan patuh pada pakem. Konon, karakter ini berhubungan dengan keraton Yogya yang anti-kolonial. Ada ratusan jenis batik misalnya saja Motif parang rusak barong, memiliki filosofi Parang menggambarkan senjata, kekuasaan. Sido Asih bermakna si pemakai selalu diliputi kasih sayang dalam berumah tangga. Truntum berarti cinta yang bersemi. Ratu Ratih dan Semen Roma melambangkan kesetiaan seorang isteri. Parang Kusumo, memiliki arti bunga yang mekar, Cuwiri, memiliki filosofi pengharapan pemakainya terlihat pantas dan dihormati
  8. Batik Tuban. Batik Tuban termasuk ke dalam batik pesisir. Kebanyakan orang menyebut motif dari Batik Tuban mirip dengan Batik Cirebon. Salah satu contoh motif batik tuban adalah Motif kawung merupakan penggambaran dari daun kelapa yang bentuknya disusun silang, yang menjelaskan struktur dari jagad raya.

C. Motif Hias Kalimantan
Corak atau motif batik Kalimantan diperoleh dari teknik penjahitan dan ikatan, yang ditentukan oleh komposisi warna, efek yang timbul, dan jenis benang atau jenis bahan pengikat. Berikut ini beberapa motif hias yang ada di pulau kalimantan.
Motif Hias Kalimantan
  1. Batik Sasirangan dari Kalimantan Selatan. Sasirangan merupakan kain khas adat suku Banjar yang mayoritas menetap di Kalimantan Selatan. Seperti kain pada umumnya, kain sasirangan memiliki banyak motif. Beberapa motif kain sasirangan antara lain sebagai berikut. Ombak Sinapur karang, Motif batik naga balimbur, Motif Batik Sasirangan, Motif “Gigi Haruan”, Motif Batik Sasirangan Hiris Pudak atau pandan, Motif Batik Sasirangan Ular lidi, Kambang Kacang, Bayam Raja, Motif bintang bahambur, dan Motif mayang Maurai
  2. Batik Benang Bintik dari Kalimantan Tengah. Motif- motif yang dituangkan dalam kain batik diambil dari lukisan-lukisan atau ukiran-ukiran yang biasa digunakan oleh masyarakat Dayak. Kepercayaan leluhur suku Dayak yang disebut Kaharingan sangat kental memberi pengaruh terhadap corak batik Benang Bintik.
  3. Batik Insang dari Kalimantan Barat. Motif atau corak kain tradisional Kalimantan Barat mengadopsi alam sekitar kehidupan orang Dayak misalnya muncul motif bunga pakis, rebung, sampai burung enggang. Beragam motif corak insang yang ada, antara lain: Insang Berantai, Insang Bertangkup, Insang Delima, Insang Awan, Insang Berombak, dan Insang Bertapak Besar.
  4. Batik Shaho dari Kalimantan Timur. Batik Shaho adalah Batik pengembangan dari batik batik yang sudah ada sebelumnya di Jawa. Motif batik Kalimantan Timur ini dilihat seperti ragam hias yang terdapat pada tameng atau ornamen pada topi khas Dayak ‘seraung’. Motifnya cenderung sangat sederhana karena garis dan titik yang menjadi ciri khas batik pada umumnya jarang ditemukan pada batik ini.
  5. Batik Dayak (Batik Samarinda) dari Kalimantan Timur. Motif pada batik Dayak mencerminkan budaya orang Dayak, dimana Dayak dalam bahasa sana berbarti ‘sungai’. Sehingga batik ini menggambarkan berbagai aktivitas yang erat kaitannya dengan sungai. Sedangkan motif lainnya seperti Batang Garing (simbol batang kehidupan bagi masyarakat Dayak), Mandau (senjata khas suku Dayak), Burung Enggang atau Tingang (Elang Kalimantan), Balanga maupun motif yang ada di rumah adat.

D. Motif Hias Sulawesi
Sulawesi juga memiliki motif batik yang beraneka ragama. Sebagai contoh, batik Sulawesi Selatan memiliki motif-motif seperti Toraja, Bugis dan Makassar. Batik Sulawesi Selatan umumnya menggunakan teknik pembuatan yang sama dengan batik Jawa, namun tetap memiliki kekhasan sendiri. Berikut ini beberapa motif hias yang ada di Sulawesi.
Motif Hias Sulawesi
  1. Batik minahasa adalah kain batik yang menggunakan motif tradisional atau ragam hias dari tanah adat Minahasa. Salah satu sumber ragam hias batik Minahasa adalah waruga, yaitu kubur khas wilayah setempat.
  2. Motif yang digunakan batik-batik di Sulawesi Tengah kebanyakan menggambarkan motif burung maleo, motif bunga merayap, motif resplang, motif ventilasi dan motif ukiran rumah adat Kaili ataupun motif bunga dan buah cengkeh.
  3. Batik Makassar ini tergolong unik dan memiliki corak tersendiri yakni menggabungkan empat macam corak etnis yang ada di Sulawesi Selatan.Empat macam corak etnis utama yang digunakan pada batik Makasar ini adalah Bugis, Makasar, Toraja, dan Mandan. Motif yang digunakan pada kain batik pun bermacam-macam mulai dari rumah Tongkonan khas Toraja, perahu pinisi, dan motif kupu-kupu khas Maros.
  4. Batik Sulawesi Tenggara, terkenal dengan Tolaki. Mereka selalu menjadikan kain tenun sebagai pakaian kebesaran dalam setiap pesta adat di lingkungan masyarakat tolaki. Mereka berkeyakinan, jika dalam upacara adat tidak menggunakan kain tenun tolaki, maka akan terasa ada yang sangat kurang. Motif yang cukup terkenal di masyarakat tolaki adalah ragam hias mua.
  5. Motif batik Gorontallo paling menonjol ternyata masyarakatnya agrarisnya tidak pernah lepas dari jagung dan ikan.

E. Motif Hias Nusa Tenggara
Nusa Tenggara Timur memiliki puluhan suku, lebih dari 100 dialek bahasa dan beragam adat istiadat yang berbeda. Maka, tak heran bila motif dan ragam hias yang terdapat pada kain tenun NTT akan sangat bervariasi.Berikut ini beberapa motif hias dari Nusa Tenggara.
Motif Hias Nusa Tenggara
  1. Kain sawu berasal dari Pulau Sawu, Nusa Tenggara Timur. Kain sawu bermotif bunga besar dan bunga kecil-kecil berbentuk titk-titik. Motif ini menggambarkan sistem kekerabatan yang dipegang di daerah tersebut. Motif kain sawu menunjukkan arti kehidupan masyarakatnya.
  2. Motif fauna tampil di atas tenun ikat dari sejumlah daerah. Salah satunya adalah ragam hias dari tenun dari Timor Tengah Utara yang berhias biawak atau tokek. Hewan ini dianggap sakral sekaligus melambangkan kehidupan di dunia bawah. Ini tampak pula dari tenun asal Sikka yang menghadirkan satu jalur motif reptil cicak, tokek, atau biawak.
  3. Tenun Sumba Barat banyak menampilkan motif geometris yang diperkirakan dipengaruhi oleh motif Patola asal India. Pengaruh saudagar Cina, Arab dan Eropa memberikan motif naga, bouraq dan singa.

F. Motif Hias Bali
Bali memiliki berbagai macam design, motif dan corak asli. Banyak desain batik khas Bali telah lahir yang biasanya dipadukan dengan motif batik yang ada dari berbagai wilayah di Tanah Air dan pengaruh motif China.
Motif Hias Bali
  1. Motif batik Bali Buketan mempunyai motif berupa tanaman bunga atau tumbuhan-tumbuhan kecil yang tersusun sepanjang lebar kain dengan hiasan tambahan berupa kupu-kupu, burung hong, burung bangau, dan juga selulur yang menambah nilai artistic dari motif batik tersebut.
  2. Batik Bali Jagatan Pisang. Motif ini ada yang menyebut sebagai pisang Bali, yang menggambarkan pisang Bali yang telah distilasi. Ada juga yang menyebut sebagai Pisan Bali yang berarti kembali lagi. Batik ini biasa diberikan seorang kekasih pada kekasihnya yang akan berpergian jauh dengan maksud agar sang kekasih kembali lagi.
  3. Motif Batik Bali Singa Barong, Barong singa adalah barong paling umum ditemukan di Bali. Di Bali masing-masing kawasan memiliki roh penjaga di hutan atau tanahnya. Masing-masing roh pelindung ini digambarkan dalam bentuk satwa tertentu. Barong Ket: barong singa, barong paling umum dan melambangkan roh kebaikan.
  4. Beberapa motif batik Bali yang lainnya adalah Motif Batik Bali Merak Abyorhokokai, dan Motif Batik Bali Ulamsari Mas. Ulamsari mas adalah simbolik dari masyarakat Bali, ikan juga menyimbolikkan kesejahteraan dan kemakmuran dari masyarakat Bali yang hidup di daerah pesisir pantai.

G. Motif Hias Papua
Batik Papua sebenarnya hampir sama dengan berbagai jenis batik lainnya di Nusantara. Perbedaan terletak pada motif, jika motif batik Solo dan Jogja dibuat simetris di Papua malah kebalikannya. Kombinasi warna cerah dipadu dengan motif etnik Papua yang kerap asimetris membuat batik Papua terlihat eksotis. Sebagian besar motif Batik Papua menampilkan unsur alam dan budaya daerah Papua.
Motif Hias Papua
  1. Motif Burung Cenderawasih. Pada Batik Papua ini, menonjolkan kecantikan burung Cendrawasih dan alat musik Tifa. Batik ini seolah menyampaikan pesan dari mana batik ini berasal. Batik Papua menggunakan motif yang melekat pada kedekatan dengan alam dan lebih nyata, tidak seperti batik Jawa yang mengandung simbolisasi dalam penggunaan jenis motif.
  2. Motif Tifa Honai. Batik ini memiliki makna filosofis yang mendalam. Jika diterjemahkan, motif ini berarti rumah kebahagiaan, yakni rumah yang dipenuhi dengan kebahagian.
  3. Motif Asmat. Salah satu batik Papua yang dikenal masyarakat luas adalah batik motif asmat, yaitu simbol patung-patung duduk kayu suku Asmat. Batik ini mempunyai ciri-ciri yang sangat khas. Antara lain, warnanya lebih cokelat dengan campuran warna tanah dan terakota (merah kecokelat-cokelatan).
  4. Motif Sentani, yaitu simbol Gambar Alur Melingkar. Motif Sentani dengan ciri gambar alur batang kayu yang melingkar-lingkar dengan jenis warna hanya satu atau dua warna dan ada pula motif yang divariasi dengan sentuhan garis-garis emas dan dijuluki batik prada.
  5. Motif Kamoro. Salah satu motif Papua yang kehadirannya kian populer adalah Motif Kamoro, yang memperkenalkan keindahan alam serta keunikan seni ukir Suku Kamoro. Motif Kamoro melambangkan simbol Patung Berdiri.

H. Motif Hias Madura
Motif batik madura cenderung dipengaruhi oleh budaya asing dari cina, dengan ciri khasnya warna cerah yang terdapat  pada setiap corak maupun motif dari batik Madura dan terdapat banyaknya garis yang terpampang dalam satu desainnya Dan setiap desain motif memiliki arti dan cerita masing -masing yang menggambarkan keseharian rakyat Madura.
Motif Hias Madura
  1. Batik dari sampang biasa dikenal dengan nama Batik Kotah, memiliki motif khas Madura berupa flora dan fauna (misalnya : Motif kembang dan burung) dengan warna paling dominan yaitu merah dan hijau di atas bahan sutera dan katun yang tidak kalah dengan batik daerah lain.
  2. Batik gentongan (Bangkalan) merupakan batik khas Tanjungbumi. Cirinya memiliki warna yang sangat cerah, beragam, dan pengerjaannya yang halus. Kebanyakan mempunyai  motif sik melaya, kembang randu, ola-ola, burung hong, panji susi, dan lain sebagainya. 
  3. Batik Pamekasan lebih berani  dengan mengunakan warna-warna yang tajam dan cerah seperti Sekarjagat, Keong Mas, Matahari, Daun Memba (daun mojo), dan Gorek Basi

I. Motif Hias Maluku
Batik dengan motif etnik Maluku ini sudah dipopulerkan oleh Gubernur beserta jajaran Muspida Maluku pada acara HUT Provinsi Maluku tahun lalu. Kini orang-orang Maluku sudah mulai kenal dan menggemari batik tersebut. Batik sudah mulai menjadi pakaian wajib yang harus dikenakan pada hari jumat oleh sebagian pegawai pada dinas instansi di Maluku.
Motif Hias Maluku
Batik Maluku memiliki ciri khas yaitu bermotif pala, cengkih, parang, dan salawaku (senjata khas Maluku) serta jenis alat musik tifa totobuang. Motif Batik Maluku yaitu motif cengkeh gugur, motif khas pulau Seram, alat musik, debur ombak dan budaya Maluku. Warna juga beragam dari warna yang terang, kalem, biru laut, bahkan gelap. Kain yang digunakan juga beragam yaitu kain katun dan sutra.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae Updated at: 7:47 PM

Seni Rupa Dua Dimensi Nusantara

Cabang seni rupa berdasarkan wujudnya dibedakan menjadi seni rupa 2 dimensi dan seni rupa 3 dimensi. Seni rupa 2 dimensi adalah seni rupa yang tertuang hanya pada dimensi panjang dan lebar. Karya seni rupa dua dimensi nusantara banyak jenisnya. Beberapa jenis kerajinan dua dimensi Nusantara diantaranya adalah kerajinan songket, batik, dan celup ikat. Kain songket, batik dan kain celup ikat dibuat dengan menggunakan bahan yang berbeda dan dengan teknik serta motof yang berbeda-beda pula. Berikut ini penjelasan mengenai karya kerajinan seni rupa dua dimensi Nusantara.

A. Kain Batik
Kain batik adalah jenis tekstil yang telah diberi gambar motif dengan cara ditulis tangan, dicap, atau gabungan keduanya. Dalam perkembangannya kain batik juga dibuat dengan cara dicetak. Kain batik yang dibuat dengan cara ditulis tangan disebut batik tulis sedangkan yang dibuat dengan cara dicap disebut batik cap.

Kain batik merupakan karya seni rupa nusantara yang dihasilkan dari beberapa daerah khususnya di daerah Jawa dan Bali. Beberapa daerah penghasil kain batik diantaranya adalah Pekalongan, Yogyakarta, Surakarta, Banyumas, Tasikmalaya, madura. Untuk memperoleh kain batik yang bagus diperlukan proses yang panjang.

Walaupun teknik yang diterapkan sama namun kain batik dari beberapa daerah di nusantara tersebut memiliki corak dan motif yang berbeda. Ragam hias batik diciptakan dalam kehidupan sehari – hari, berdasarkan kebiasaan penduduknnya, dari situlah muncul corak – corak yang membedakan antara daerah yang satu dan daerah yang lainnya karena adannya perbedaan kebudayaan di dalamnnya. Beberapa faktor yang mempengaruhi ragam hias batik antara lain adalah
  1. Letak geografis misalnya di daerah pesisir, akan menghasilkan batik dengan motif yang berhubungan dengan laut, begitu pula dengan yang tinggal di pegunungan, mereka akan terinspirasi oleh alam sekitarnnya
  2. Sifat dan tata penghidupan daerah
  3. Kepercayaan dan adat yang ada di suatu daerah
  4. Keadaan alam sekitar, termasuk flora dan fauna

Motif kain batik dapat dikelompokkan menurut coraknya menjadi empat kelompok. Kelompok-kelompok corak batik yang ada di nusantara antara lain sebagai berikut.
Motif batik
  1. Motif ceplok atau ceplokan adalah motif-motif batik yang di dalamnya terdapat gambaran-gambaran bentuk lingkaran, roset, binatang dan variasinya. Batik yang memiliki corak persegi ceplok, misalnya ceplok mau beronto, ceplok satrio wibowo, ceplok gusti putri, sridento, dan ceplok pandan binetot.
  2. Motif Parang merupakan salah satu motif yang sangat terkenal dalam kelompok motif garis miring. Motif ini terdiri atas satu atau lebih ragam hias yang tersusun membentuk garis-garis sejajar dengan sudut kemiringan 45º. Motif batik berdasarkan corak garis miring parang misalnya, parang klithik, parang kusumo, parang rusak, parang barung, dan parang gondosuli.
  3. Ragam hias utama yang merupakan ciri motif semen adalah meru, suatu gubahan menyerupai gunung. Meru berasal dari nama gunung mahameru. Hakekat meru adalah lambang gunung atau tempat tumbuh-tumbuhan bertunas ( Jawa : semi ) hingga motif ini disebut semen. Semen berasal dari kata dasar semi. Ragam hias utama semen adalah Garuda, sawat, lar maupun mirong. Corak semen misalnya semen rante, semen rama, semen prabu, semen risang Bali, semen cuwisi, dan bondet.
  4. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi berpengaruh pada perkembangan batik di Indonesia, yaitu dengan munculnya batik kreasi baru atau batik lukis. Corak kreasi baru merupakan motif-motif yang dijadikan ragam hias kain batik sehingga membentuk corak batik yang diberi nama tersendiri. Masing-masing corak batik merupakan simbol yang bermakna.

Batik diciptakan dari kreasi para seniman yang berjiwa seni tinggi. Di Indonesia, hampir setiap daerahnya punya berbagai macam motif, ciri khas, makna simboliknya dan juga teknik pembuatannya. Beberapa teknik yang digunakan dalam proses pembuatan batik antara lain sebagai berikut.
  1. Teknik canting tulis adalah teknik membatik dengan menggunakan alat yang disebut canting yang biasanya digunakan di Jawa. Canting berfungsi untuk menorehkan cairan malam pada sebagian pola di kain mori. Ini membutuhkan ketelitian yang tinggi, dan keuletan seniman, tak heran batik tulis mahal. Saat kain dimasukkan ke dalam larutan pewarna, bagian yang tertutup malam tidak terkena warna. Membatik dengan canting tulis disebut teknik membatik tradisional.
  2. Teknik celup ikat/jumputan merupakan pembuatan motif pada kain dengan cara mengikat sebagian kain, kemudian dicelupkan ke dalam larutan pewarna. Setelah diangkat dari larutan pewarna, ikatan dibuka sehingga bagian yang diikat tidak terkena warna. 
  3. Teknik printing dan cap menggunakan canting cap. Canting cap merupakan  pelat berisi gambar yang timbul.  Proses pembuatannya permukaan canting cap dicelupkan dalam cairan malam. Kemudian, dicapkan pada kain mori, dan akan meninggalkan motif. 
  4. Teknik colet merupakan teknik pewarnaan pola-pola batik dengan cara mengoleskan cat atau pewarna kain pada bidang pola yang ada dengan menggunakan kuas. Teknik colet ini sering disebut dengan teknik lukis.
  5. Prada adalah cara menghias yang menggunakan warna keemasan dalam bentuk lapisan. Pelapisan dilakukan dengan zat perekat cair. Secara garis besar teknik prada dapat dibagi dalam 2 kelompok yaitu prada cair dan prada tempel.

B. Kain Songket
Kain Songket adalah sebutan untuk kain tenun yang dibuat dengan teknik menambah benang pakan sebagai hiasan, yaitu dengan menyisipkan benang emas, perak atau warna di atas benang lungsin. Songket merupakan kerajinan tradisional khas masyarakat di hampir seluruh penjuru Sumatera, mulai dari Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, hingga Riau. Pengrajin songket kebanyakan Wanita.

Bahan baku kain songket adalah beberapa jenis benang, seperti benang sutera atau benang kapas. Benang kapas diperoleh dari tanaman kapas sedangkan sutera dihasilkan dari ulat sutera. Serat dipilin menjadi benang dengan alat pintal berupa roda bulat dari kayu.

Benang putih biasanya dicelup dengan pewarna terlebih dahulu. Pewarna yang digunakan diperoleh dari bahan alam, warna merah dibuat dari kayu sepang dan mengkudu. Warna biru diperoleh dari indigo/nila. Untuk mendapatkan motif songket benang emas ditambahkan benang emasyang disisipkan sebagai benang tenun.

Motif Hias songket biasanya berbentuk geometris atau mengambil bentuk flora dan fauna, yang masing-masing mempuyai arti perlambangan yang baik. Misalnya, bunga cengkih, bunga tanjung, bunga melati dan bunga mawar yang melambangkan kesucian, keanggunan, rezeki dan segala kebaikan.  Beberapa motif yang ada dalam kain songket antara lain sebagai berikut.
  1. Motif Sogket tawur adalah kain songket dengan motif emasnya yang menyebar.
  2. Songket motif kakatua dan burung erak terdapat pada kain songket dari Rejang, Sulawesi Selatan, Donggala, dan Sulawesi Tengah.
  3. Motif songket ayam dan itik terdapat pada kain songket dari Payakumbuh dan Pande Sikek Sumatera Barat.
  4. Matif songket manusia, burung enggan, dan pohon kehidupan ditemukan pada kain songket yang berasal dari Kalimantan.
  5. Motif songket hewan banyak ditemukan pada kain songket yang berasal dari sumbawa.
  6. Kain sonket motif naga dan sayap burung garuda terdapat pada kain songket dari Palembang.
  7. Motif songket tepus adalah motif songket yang rapat dan berasal dari Palembang.
  8. Motif songket wayang terdapat pada kain songket dari Bali dan Lombok.
  9. Motif songket pucuk rebung biasanya terdapat pada tepi kain atau biasa disebut motif tumpal, segitiga, atau segitiga terputus.

Kain Songket Palembang pun ada jenis-jenisya, baik bahannya, maupun motifnya. Berikut beberapa jenis kain songket Palembang dan keterangannya:
Songket Palembang
  1. Songket Lepus. Songket Lepus memiliki ciri benang emasnya hampir menutupi seluruh bagian kain.
  2. Motif songket ayam dan itik terdapat pada kain songket dari Payakumbuh dan Pande Sikek Sumatera Barat.
  3. Matif songket manusia, burung enggan, dan pohon kehidupan ditemukan pada kain songket yang berasal dari Kalimantan.
  4. Motif songket hewan banyak ditemukan pada kain songket yang berasal dari sumbawa.
  5. Songket Tawur. Pada Songket Tawur memiliki motif yang tidak menutupi seluruh permukaan kain tetapi berkelompok dan menyebar.
  6. Songket Tretes. Songket Tretes motifnya biasanya terdapat pada kedua ujung pangkal kain dan pinggir-pinggir kain dan bagian tengah dibiarkan polos.
  7. Songket Bungo Pacik. Songket Bungo Pacik mempunyai motif yang terbuat dari benang kapas putih sehingga benang emasnya tidak terlihat banyak dan hanya sebagai selingan saja.
  8. Songket Limar. Songket Limar ditenun dengan corak ikat pakan. Motifnya berasal dari benang pakan yang diikat dan dicelup pewarna.
  9. Songket Kombinasi. Songket kombinasi adalah perpaduan dari jenis songket lainnya.
  10. Songket Lainnya. Adapula motif Songket Pucuk Rebung, Songket Bungo Manggis, Bungo Tanjung, Bungo Melati Songket Sorong dan lain-lain selain jenis yang dirinci di atas.
Motif songket Minangkabau umumnya berasal dari alam. Hal ini tidak lepas dari pepatah lama Minangkabau, alam takambang jadi guru. Ungkapan ini mengajarkan agar manusia belajar dari pertanda alam yang diciptakan Tuhan.

Pandai Sikek sudah identik dengan songket. Orang Pandai Sikek sendiri tidak menyebutnya songket tetapi tenun, sebab yang dimaksud adalah benang katun dan benang emas yang ditenun dengan tangan, di atas alat yang bernama panta sehingga menjadi kain,
Songket Sumbar
  1. Kalamai atau wajik adalah sejenis makanan yang terbuat dari tepung ketan, santan dan gula merah. Maknanya tanpa kerja keras dan hati-hati sesuatu tidak akan dapat dihasilkan dengan baik. Selain itu saik wajik atau kalamai sebagai lambang menghormati tamu.
  2. Pala (Palo bhs. Minang) dikenal sebagai bahan rempah-rempah yang banyak manfaatnya, baik untuk bumbu penyedap masakan maupun sebagai bahan dasar untuk obat-obatan. Motif ini memiliki makna simbolik untuk mendidik yaitu, adanya keinginan untuk saling berbagi menikmati keindahan, saling berbagi rasa senang. 
  3. Motif barantai  disebut, barantai  merah dan barantai  putih. Ini melambangkan persatuan yang tidak boleh putus-putus antara dua makhluk Tuhan Laki-laki dan wanita.

Kian tenun memiliki beberapa fungsi selain sebagai bahan pakaian. Kain tenun juga difungsikan pada kesenian, adat, dan agama. Hampir semua daerah yang ada di Indonesia memiliki seni tenun sendiri.

C. Kain Celup Ikat
Ikat celup (tie-dye) adalah teknik mewarnai kain dengan cara mengikat kain dengan cara tertentu sebelum dilakukan pencelupan. Di beberapa daerah di Indonesia, teknik ini dikenal dengan berbagai nama lain seperti pelangi atau cinde (Palembang), tritik atau jumputan (Jawa), serta sasarengan (Banjarmasin). Teknik ikat celup sering dipadukan dengan teknik lain seperti batik.

Kain celup ikat dibuat dengan cara menggambari kain dengan diikat menggunakan tali sebelum dicelupkan ke dalam pewarna. Teknik celup ikat berkembang dengan baik di daerah Yogyakarta. Berbagai produk kain pelangi yang dibuat dengan teknik celup ikat yang diterapkan pada benda pakai seperti ikat kepala, kemben, selendang, sampai pada kain upacara.

Menurut motifnya kain celup ikat dapat dibuat dengan dua cara yaitu dibuat dengan cara ikatan berisi dan motif pelangi.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae Updated at: 9:17 PM

Kenekaragaman Motif Hias Nusantara

Nusantara dikenal memiliki beraneka ragam motif hias. Motif hias disebut juga ornamen, motif hias dimiliki oleh setiap daerah Nusantara. Motif hias pada karya seni rupa Nusantara menggunakan motif-motif tertentu, sesuai kekhasan tradisi daerah masing-masing. Motif hias tersebut dibuat pada bidang-bidang, misalnya: segi tiga, segi empat, dan lingkaran. Motif-motif hias itu antara lain motif geometris, motif tumbuhan, motif hewan, dan sebagainya

A. Pengertian Motif Hias
Motif adalah desain yang ditampilkan berulang-ulang menurut pola teratur. Sedangkan motif hias adalah bentuk dekorasi yang dipakai untuk menghias atau memperindah bidang. Bentuk motif hias dapat berupa dua dimensi maupun tiga dimensi.

Dalam bidang seni rupa setiap daerah memiliki corak dan motif yang khas. Motif hias tumbuhan, motif hias hewan, dan motif hias geometris biasanya digunakan untuk memperindah kain polos sehingga menjadi kain yang bercorak.

Motif hias daerah nusantara memiliki makana simbolis tersendiri. Beberapa contoh motif hias daerah dan maknanya antara lain sebagai berikut.
  1. Motif hias Ular Naga dari Jawa Timur memiliki makna sebagai penolak bala.
  2. Motif hias sigar dari Lampung memiliki makna rasa saling menghormati.
  3. Motif hias pohon hayat dalam gunungan dari Yogyakarta bermakna nafsu manusia.
  4. Batik tulis gaya Yogyakarta dengan corak parang rusak melambangkan kekuatan, kecepatan, pertumbuhan, dan kesucian.
  5. Batik tulis gaya Surakarta dengan corak ratu ratih melambangkan kesetiaan.

B. Bentuk Motif Hias
Banyak sekali motif hias yang ada di Indonesia, hal ini karena banyaknya suku bangsa yang beranekaragam kebudayaan yang menyebar di pelosok nusantara. Bentuk motif hias ada dua macam yaitu motif hias geometris dan motif hias non geometris. Motif hias memiliki simbol atau makna tertentu yang tergambar dalam gambar tersebut.
  1. Motif Hias Geometris. Motif hias geometris adalah motif hias abstrak (motif tidak nyata) yang berbentuk segi empat, zig-zag, lingkaran, segitiga, garis lengkung.
  2. Motif hias Non Geometris. Motif hias non geometris adalah motif hias yang dibuat dengan gambar hewan, tumbuhan, batu, awan, dan ada juga yang menggabungkan antara hewan dan tumbuhan. Contohnya kain tenun motif hewan, kain tenun motif tumbuhan, kain tenun motif campuran. Motif hias flora dibentuk berdasarkan pada tumbuh-tumbuhan yang hidup di sekitar. Bentuknya ada yang berupa akar, daun, bunga, biji, tunas, buah, ranting, atau pohonnya.  Motif hias satwa. Satwa darat, air atau yang hidup di udara dan bahkan ada pula satwa khayal dibuat sebagai motif hias. Kadal, kerbau, belalang, ikan, ular, kuda, singa, gajah, burung, rusa, dan mahluk ajaib naga atau makara (ikan berbelalai) adalah beberapa satwa yang sering dijadikan motif hias. 
C. Jenis Motif Hias
Jenis motif hias ada dua macam sebenarnya, yaitu motif hias dua dimensi atau 2D dan motif hias tiga dimensi atau 3D. Berikut ini penjelasannya.
  1. Motif hias dua dimensi atau 2 D adalah motif hias yang mempunyai panjang dan lebar yang hanya dapat dinikmati dari salah satu arah saja atau hanya dari depan. Hasil karya motif hias dua dimensi atau 2D anatara lain berupa kain songket, kain tenun, kain batik, jumputan, wayang kulit, dan sebagainya.
  2. Motif hias tiga dimensi atau 3D adalah motif hias yang mempunyai panjang, lebar, dan tinggi, sehingga dapat dilihat dari berbagai arah atau sudut pandang mana saja. Contoh hasil karya motif hias tiga dimensi atau 3D antara lain patung, seni ukir, relief candi, wayang golek, miniatur, dan sebagainya.

D. Jenis Motif Hias Nusantara
Jenis Motif Hias adalah semua bentuk dekorasi yang dipakai untuk menghias atau memperindah bidang, baik dalam bentuk 2 dimensi berupa gambar hiasan dan anyaman ukiran, maupun 3 dimensi yang berupa seni bangunan, perabotan rumah tangga, kerajinan tangan dan lain sebagainya.

Motif hias pada karya seni rupa bermacam-macam. Pada dasarnya motif hias nusantara masing-masing diciptakan dengan mewakili simbol atau makna tertentu.  Jenis-jenis motif hias tersebut diantaranya adalah sebagai berikut.
  1. Motif alam dapat berupa gambar bintang, bulan, matahari, awan, dan sinar api.
  2. Motif keagamaan atau religius dipakai bersamaan dengan datangnya hari upacara keagamaan. Misalnya umat Hindu dengan motif kala yang diikuti dengan makara. Biasanya menghiasi bagian atas pintu atau relung candi. Dalam agama Islam ada kaligrafi (tulisan arab dari ayat-ayat Al Quran)
  3. Motif anyaman berupa motif garis yang sudah tersebar di berbagai daerah dan sudah membudaya di masyarakat.
  4. Motif tanaman dan bunga (flora) berupa sulur-sulur gelung. Motif ini mulai muncul sejak jaman prasejarah. Pada masa Hindu motif bunga yang terkenal yaitu motif bunga teratai. Ada tiga macam bunga teratai yaitu : Pertama, padma (teratai merah dan bentuk bunganya mekar), Kedua Uthpala (teratai biru dengan bentuk bunga setengah mekar), Ketiga Kumada (teratai putih dengan bentuk bunga kuncup)
  5. Motif tubuh manusia muncul dalam zaman prasejarah. Motif ini berarti sebagai penolak bala dan melambangkan nenek moyang dan dianggap memiliki kesaktian. Contohnya adalah topeng.
  6. Motif garis potong (motif tangga) melambangkan tangga ke surga bagi roh nenek moyang.
  7. Motif geometris berupa titik-titik garis sejajar lengkung, garis lengkung membentuk huruf S yang disebut ikal atau pilin.
  8. Motif kawung mulai muncul pada masa Hindu, kawung adalah nama lain dari pohon aren dan buahnya yang disebut kolang-kaling.
  9. Motif untu walang (gigi belalang) disebut motif tumpal. Motif ini menggambarkan tunas bambu (rebung) sehingga dianggap sebagai lambang kesuburan.

Banyak motif hias yang ada di Indonesia, hal ini karena banyaknya suku bangsa yang beranekaragam kebudayaan yang menyebar di pelosok nusantara kita. Berikut ini beberapa motif hias yang ada di pelosok Nusantara.
Motif Hias Nusantara
  1. Motif hias selembayung ata selo bayung merupakan hiasan yang bersilangan pada kedua ujung perabung bangunan balai adat melayu. Selembayung terbuat dari kayu dan memiliki makna cahaya rumah, keserasian dalam kehidupan rumah, temapt turun para dewa yang memberi kesehatan dan perwujudan kasih sayang.
  2. Motif hias Toraja biasanya berupa hewan dan tanaman yang melambangkan kebajikan. Misalnya tanaman air seperti gulma air dan hewan seperti kepiting dan kecebong yang melambangkan kesuburan. Keseimbangan alam berupa gambar abstrak dan geometri yang teratur digunakan dalam seni bangunan dan benda pakai seperti kain dan benda-benda ritual keagamaan.
  3. Motif hias masyarakat Banjar Kalimantan Selatan berupa ukir-ukiran tumbuhan pohon Tawing Halat (Seketeng) yang merupakan perwujudan pohon kehidupan. Masyarakat Dayak menyebut batang garing. Ornamen dalam arsitektur tradisional Banjar dikenal dengan istilah tatah, bentuknya tatah surut (ukiran berupa relief), tatah babuku (ukiran tiga dimensi), dan tatah baluang (ukiran berlobang).
  4. Motif hias gunungan memiliki makna kesucian, dan alam baka yang abadi. Pada masa Hindu motif gunungan digambarkan Gunung Meru yang merupakan tempat bersemayamnya para dewa.
  5. Motif hias Kain Basurek memiliki motif yang bertuliskan huruf Arab yang dapat dibaca. Kain ini umumnya digunakan untuk upacara adat pengantin dan menutupi mayat. Kain ini tidak boleh digunakan secara sembarangan.
  6. Motif hias buaya dapat ditemukan pada kin tenun ikat dari Sumba Timur. Motif ini mencerminkan kedekatan masyarakat Sumba dengan alam. Motif ini memiliki simbol satus sosial seseorang, kain ini biasa dipakai para raja yang melambangkan kebesaran dan keagungan.
  7. Motif hias mbitoro atau tiang arwah dibuat jika ada orang yang meninggal dunia. Kemudian diadakan ritual khusus melepas arwah ke alam gaib. Patung Mbitoro merupakan symbol Suku Kamoro yang disakralkan sejak dahulu. Suku Asli Kamoro-Kabupaten Mimika-Papua. Suku Kamoro mempercayai bahwa Patung Mbitoro dapat membawa kebaikan dan malapetaka, oleh sebab itu Patung Mbitoro sangat di sakralkan di hormati bagi setiap masyarakat asli Suku Kamoro. 
  8. Motif hias Sumatera Barat umumnya berupa tumbuhan merambat, akar yang berdaun, berbunga, dan berbuah. Motif hias ini biasanya terdapat pada dinding bagian luar rumah Gadang.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae Updated at: 9:00 PM

Apresiasi Terhadap Keunikan Motif Batik

Indonesia dikenal dengan keanekaragaman budaya serta bahasanya. Selain terkenal dengan keaneka ragaman budaya dan bahasa, Indonesia juga dikenal dengan batiknya. Batik Indonesia juga beraneka ragam tergantung daerah penghasil batik tersebut.

Seni batik merupakan salah satu jenis kesenian khas Indonesia. Daerah pembuatannya tersebar di hampir seluruh wilayah Nusantara. Tiap daerah pembatikan memiliki keunikan atau kekhasan. Keunikan tersebut dalam hal motif atau corak, teknik pembuatan, dan makna simboliknya. Oleh karena itu, berbicara mengenai batik menjadi hal yang menarik dan tidak pernah ada habisnya.

A. Motif Batik Jambi
Keunikan motif batik jambi terletak pada motif yang nonfiguratif atau tak menggambarkan objek tumbuhan dan tulisan. Keunikan Batik Jambi terletak pada kesederhanaan bentuk motif dan pewarnaan yang khas, yaitu bentuk motif yang tidak berangkai (ceplok-ceplok) dan berdiri sendiri-sendiri.
Motif Batik jambi
Pemberian nama pada motif batik Jambi, diberikan pada setiap satu bentuk motif, seperti Batang Hari, Bungo Pauh, Duren Pecah, Kapal Sanggat, Merak Ngeram, Tampok Manggis, Candi Muara Jambi, Kaca Piring, Puncung Rebung, Angso Duo Bersayap, dan lain sebagainya.
  1. Batik Jambi motif Batang Hari. Batanghari merupakan nama sungai terpanjang di Jambi dan menjadi ikon yang penuh nilai histori dan penunjang perekonomian Jambi sejak Zaman dahulu, sehingga menginspirasi masyarakat Jambi untuk dijadikan motif batik batanghari.
  2. Batik Jambi motif Kapal Sanggat. Pesan yang dapat diambil dari motif Kapal Sanggat adalah keharusan untuk berhati-hati dalam menjalankan sesuatu pekerjaan. 
  3. Motif Durian Pecah. Makna yang disimpulkan motif ini yaitu melaksanakan pekerjaan berlandaskan iman dan taqwa, serta ditopang oleh penguasaan ilmu pengetahuan dan tehnologi akan memberikan hasil yang baik bagi yang bersangkutan serta keluarga.
  4. Motif Kuao Berhias yang menggambarkan seekor burung Kuao yang tengah bercermin sambil mengepakkan sayap-sayapnya dimaknai sebagai pengenalan diri
  5. Motif Merak Ngeram. Maksud dari motif merak ngeram yaitu jasa pengorbanan dan kasih sayang seorang ibu sangatlah besar, oleh karena itu hormatilah beliau.
  6. Bentuk motif Tampuk Manggis menampilkan buah manggis. Penggambaran ini bermakna kebaikan budi pekerti, dan kehalusan hati seseorang tidak dapat dilihat dari kulit luar saja.
  7. Batik Jambi motif Bungo Keladi. Ciri paling khas dari keladi adalah bentuk daunnya yang seperti simbol hati/jantung.
  8. Batik Jambi motif Angso Duo Bersayap. Menurut legenda, angso duo merupakan sepasang angsa yang konon dipercaya menuntun Putri Mayang Mangurai dan Orang Kayo Hitam ketika mencari tempat tinggal atau membuka negeri baru yang sekarang dikenal dengan Kota Jambi.

B. Motif Batik Suku Asmat
Suku Asmat adalah nama dari sebuah suku terbesar dan paling terkenal di antara sekian banyak suku yang ada di Papua, Irian Jaya, Indonesia. Salah satu hal yang membuat suku asmat cukup dikenal adalah hasil ukiran kayu tradisional yang sangat khas.

Motif batik suku asmat keunikannya terletak pada motif yang dekoratif dan mengambil unsur budaya daerah setempat. Motif batik tersebut sama dengan motif-motif pada ukiran kayu, misalnya motif roh leluhur.

Namun, seringkali juga ditemui ornamen /motif lain yang menyerupai perahu atau wuramon, yang mereka percayai sebagai simbol perahu arwah yang membawa nenek moyang mereka di alam kematian. Bagi penduduk asli suku asmat, seni ukir kayu lebih merupakan sebuah perwujudan dari cara mereka dalam melakukan ritual untuk mengenang arwah para leluhurnya.

C. Motif Batik Solo
Batik solo yang memiliki ciri khas sebagai batik soga (kecoklatan)  ternyata memiliki banyak motif yang didalamnya menyimpan makna yang tinggi dan mempunyai nilai yang besar dalam filosofinya. Dari warna soga atau kecokelatan pada batik solo memiliki makna kerendahan hati bersahaja. Berikut ini beberapa motif batik solo dan makna dibalik motif batik tersebut.
Motif Batik Solo
  1. Motif batik sidomulyo memiliki arti terus menerus dan mulyo berarti hidup mulia, luhur, baik atau berkecukupan. Kandungan makna motif batik sidomulyoadalah harapan yang baik untuk kedua mempelai, yaitu agar setelah menikah keduannya dapat hidup berkecukupan.
  2. Sido Asih. Sido Asih berupa garis geometris dengan pola bentuk empat memiliki makna keluhuran. Motif Sido asih dikembangkan setelah masa pemerintahan Paku Buwono IV.
  3. Sido Luhur. Sido Luhur konon diciptakan oleh Ki Ageng Henis, kakek dari pendiiri Mataram, Panembahan Senopati. Sido Luhur dibuat khusus untuk anak keturunannya. Harapannya agar si pemakai dapat berhati serta berpikir luhur sehingga dapat berguna bagi masyarakat banyak.
  4. Sido Mukti. Sido Mukti berasal dari dua kata yaitu ‘sido’ yang artinya menjadi, dan mukti yang berarti ‘makmur’. Maknanya adalah kemakmuran. Sido Mukti kerap dijumpai dalam acara pernikahan.
  5. Ratu Ratih. Ratu Ratih menggambarkan kemuliaan. Motif batik ini dikembangkan masa pemerintahan Paku Buwono VI sekitar tahun 1824.
  6. Parang Kusumo. Parang Kusumo berbentuk diagonal, berupa garis berlekuk dari atas ke bawah. Mereka yang mengenakan batik ini digambarkan seperti bunga yang sedang mekar. Biasanya motif ini dikenakan oleh calon mempelai wanita saat tukar cincin.
  7. Sekar Jagad. Sekar Jagad bermakna bunga dunia. Pola batik ini merupakan perulangan geometris dengan cara ceplok (dipasangkan bersisian), yang mengandung arti keindahan dalam keluhuran .
  8. Motif Truntum. Masih dalam dunia pernikahan, truntum biasanya dipakai oleh orang tua pengantin. Kata truntum bermakna membimbing.
  9. Satrio Manah. Satrio Manah akan dipakai calon mempelai pria saat acara lamaran. Maknanya jelas, yaitu agar lamaran calon pengantin pria diterima pihak keluarga calon pengantin wanita.
  10. Semen Rante. Semen Rante juga kerap dikenakan saat prosesi lamaran. hanya saja, motif Semen rante dikenakan oleh wali dan calon mempelai wanita. Kata rante artinya ikatan yang kokoh.
  11. Pamiluto. Maknanya adalah sebuah pengharapan agar hubungan sang anak dengan calon suaminya seperti kisah Mimi lan Mintuno (awet samai kakek-kakek dan nenek-nenek).
  12. Semen Gedong. Motif ini dikenakan oleh mempelai setelah upacara pernikahan selesai. Semen Godong bermakna agar pengantin baru tersebut bisa segera memiliki anak.

D. Motif Batik Madura
Corak batik Madura dpengaruh budaya asing, misalnya saja Cina. Warna merah menjadi salah satu warna yang banyak digunakan dalam batik Madura. Masing-masing warna tersebut memiliki makna tersendiri. Meskipun warna merah adalah hasil campur tangan budaya asing, namun dapat menggambarkan karakter masyarakat Madura yang keras dan kuat.

Motif batik madura termasuk dalam kelompok batik pesisir, sehingga coraknya didominasi motif-motif naturalis bertema flora dan fauna dengan warna-warna terang dan kuat. Ciri khusus yang lain yaitu pola besar-besar dengan hiasan pengisi yang agak kasar. Beberapa motif batik Madura antara lain sebagai beriut.
  1. Motif Antang (Teratai). Motif ini terinspirasi dari tumbuhan teratai yang mengapung di air.
  2. Motif Barras Dumpa (Beras Tumpah) Dipadu Motif Ranca’ (Dahan). Beras tumpah melambangkan larangan hidup berfoya-foya. 
  3. Motif Sesse’ Motif sisik ikan ini melambangkan harapan para nelayan yang menginginkan tangkapan ikan melimpah. 
  4. Motif Ris-liris  Motif ris-liris ini melambangkan dua sisi kehidupan yakni gelap dan terang. 
  5. Motif Kembangan (Bunga) yang  selalu berwarna merah. Merah di sini melambangkan ketegasan dan keberanian orang Madura. 
  6. Motif Serat Kayu. Motif ini melambangkan bahwa Madura juga menjaga kelestarian alam khususnya pepohonan seperti yang sedang gencar disuarakan pemerintah saat ini yakni penghijauan

E. Kain Sasirangan
Kain Sasirangan merupakan kain adat suku Banjar di Kalimantan Selatan yang diwariskan secara turun temurun  Jenis kain sasirangan pembuatannya mirip dengan kain jumputan dari jawa tengah.

Kain sasirangan dipercaya memiliki kekuatan magis yang bermanfaat untuk pengobatan (batatamba), khususnya untuk mengusir roh-roh jahat dan melindungi diri dari gangguan makhluk halus. Agar bisa digunakan sebagai alat pengusir roh jahat atau pelindung badan, kain sasirangan biasanya dibuat berdasarkan pesanan (pamintaan).

Seperti kain pada umumnya, kain sasirangan memiliki banyak motif. Beberapa motif kain sasirangan dan maknanya antara lain sebagai berikut.
  1. Ombak Sinapur karang artinya ombak yang menerjang karang. Ombak ini bisa dikiaskan sebagai gelombang perjuangan dalam hidup manusia. Pada masa lampau motif batik ombak sinapur karang termasuk jenis motif yang diperuntukan bagi kaum bangsawan yaitu bintang bahambur dan awan bairing. 
  2. Kain sasirangan bermotif naga balimbur. Motif batik naga balimbur yang dibuat pada kain berwarna kuning dipercaya memiliki daya kesaktian, yaitu dapat digunakan untuk mencari anak yang hilang.
  3. Motif Batik Sasirangan Kulat Karikit adalah tumbuhan jenis cendawan yang hidup menempel pada batang atau dahan pohon..Kulat karikit hidup mandiri, cari makan sendiri, sehingga dapat dimaknai hidup mandiri, tahan menderita.
  4. Motif Batik Sasirangan yang bernama motif “Gigi Haruan” ini diambil dari nama ikan Haruan atau ikan gabus. Gigi ikan haruan yang runcing inilah diambil sebagai salah satu motif batik sasirangan yang bermakna “ketajaman berpikir”.
  5. Motif Batik Sasirangan Hiris Pudak atau pandan. Tanaman sering digunakan sebagai pengharum ketika memasak nasi. Di daerah Banjarmasin airnya banyak dimanfaatkan orang sebagai pewarna kue. Juga sebagai campuran bunga rampai (bunga khas banjar) yang biasanya digunakan ketika melakukan acara adat banjar seperti acara perkawinan ataupun acara-acara lain.
  6. Motif Batik Sasirangan Ular lidi dalam salah satu dongeng orang Banjar dianggap sebagai simbol kecerdikan kerena ular lidi yang kecil itu gagah dan cerdik namun berbisa.
  7. Kambang Kacang mengartikan simbol keakraban. Hal ini disebabkan karena kambang kacan ini sejenis tanaman yang buahnya selalu digemari oleh semua orang banjar.
  8. Bayam Raja adalah attribut seseorang yang terhormat dan bermartabat. Karenanya motif ini mengandung makna leluhur yang bermartabat dan dihormati. Bentuknya dengan garis-garis yang melengkung patah-patah. 
  9. Motif bintang bahambur bermakna bahwa bintang adalah salah satu tanda kebesaran Yang Maha Kuasa, kita sebagai manusia tidak akan sanggup untuk dapat menghitung berapa jumlah sesungguhnya jumlah bintang yang ada di alam semesta ini.
  10. Motif mayang Maurai biasanya dipakai ketika melakukan mandi-mandi (tradisi adat Banjar) yang biasanya dilakukan sehari sebelum pengantin disandingkan atau juga bisa dilakukan acara mandi 7 bulanan pada saat seorang wanita hamil 7 bulan.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae Updated at: 6:34 PM

Apresiasi Karya Seni Rupa Terapan

Mengapresiasi suatu karya seni berarti menilai atau menghargai karya seni tersebut. Ada banyak hal yang dapat dijadikan dasar penilaian, diantaranya: komposisi, warna, fungsi, dan nilai keindahan karya seni tersebut. Dalam tulisan ini hanya akan dibahas mengenai cara mengapresiasi karya seni berdasarkan fungsi dan keindahannya.

Seni rupa terapan berhubungan erat kehidupan masyarakat nusantara. Selain sebagai sarana keindahan, seni rupa terapan juga dapat berguna sebagai alat pemenuhan kebutuhan tempat tinggal, pemenuhan kebutuhan sandang, pemenuhan kebutuhan akan rasa aman, pemenuhan kebutuhan pangan, kenyamanan transportasi, kenyamanan dalam beribadah, dan sarana aktualisasi diri.

1. Kesesuaian Fungsi
Fungsi karya seni dibedakan menjadi dua, yaitu fungsi estetis dan fungsi aplikasi. Karya seni dikatakan berfungsi estetis jika karya seni tersebut sengaja dibuat untuk dinikmati keindahannya saja, misalnya lukisan-lukisan Affandi dan patung -patung tanah liat karya F. Widayanto.

Sebaliknya, suatu karya seni dikatakan berfungsi aplikasi jika karya seni tersebut sengaja dibuat untuk digunakan atau difungsikan sebagai alat, wadah, pakaian, perhiasan, atau hiasan bangunan. Dalam kenyataannya suatu karya seni dapat mengalami penyimpangan fungsi. Ini berarti suatu karya seni tidak difungsikan sebagaimana tujuan penciptaannya. Berikut ini beberapa apresiasi karya seni rupa berdasarkan kesesuaian fungsinya.
Kesesuaian Fungsi
  1. Patung dibuat untuk dipajang dan dinikmati keindahannya. Patung pengantin tidak mengalami penyimpangan fungsi. Patung tersebut berfungsi sebagaimana mestinya, yaitu sebagai benda pajangan/hias. 
  2. Rumah digunakan sebagai tempat tinggal. Arsitek telah merancang bangunan yang kokoh. Rumah tidak mengalami penyimpangan fungsi yaitu sebagai tempat tinggal.
  3. Jambangan bunga tidak saja digunakan untuk menaruh bunga, tetapi juga dipajang sebagai hiasan dalam lemari berkaca bening. Hal ini menunjukan jambangan bunga telah mengalami perubahan fungsi.
  4. Demikian juga tempayan-tempayan dari gerabah tidak hanya berfungsi sebagai tempat air, tetapi menjadi benda hiasan (elemen estetis) pada sebuah taman. Tempayan dan gerabah telah mengalami perubahan fungsi.
  5. Kursi pada gambar di atas digunakan sebagai tempat duduk sehingga kursi (dipan) tidak mengalami perubahan fungsi.
2. Keindahan
Pada awalnya benda-benda pakai memiliki bentuk yang sangat sederhana. Sebagai contoh, tempat minum dari tanah liat hanya berupa kendi dengan bentuk-bentuk yang kurang variatif. Namun, sekarang bentuk-bentuk benda pakai mengalami perkembangan yang cukup pesat. Banyak tempat minum diciptakan dari berbagai jenis bahan dan bentuk.

Perkembangan dalam bentuk dan bahan juga dialami oleh benda pakai lain.  Berikut ini beberapa contoh apresiasi karya seni rupa terapan dari segi keindahan.
Apresiasi Keindahan
  1. Keartistikan atau keindahan desain lemari di atas tidak diutamakan. Desain lemari lebih menekankan pada fungsinya, yaitu sebagai wadah atau tempat pakaian.
  2. Kursi yang tampak pada gambar di atas didesain atau dirancang dengan bentuk yang artistik. Kursi dengan bentuk-bentuk yang demikian ini belum tentu nyaman sebagai tempat duduk karena lebih mengutamakan nilai keartistikannya.
  3. Pakaian dirancang oleh para desainer selalu mengedepankan nilai dan unsur unsur seni rupa supaya para pemakai busana yang dibuatnya dapat terlihat lebih menarik.
  4. Bentuk kursi dan meja tidak hanya dibuat berdasarkan fungsi dasarnya, yaitu kursi sebagai tempat duduk dan meja sebagai tempat menaruh barang. Lebih dari itu, kursi dan meja dibuat dengan lebih menekankan nilai artistik atau keindahannya.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae Updated at: 6:34 PM

Jenis Jenis Karya Seni Rupa Terapan Daerah

Menurut tujuan pembuatannya seni rupa dibedakan menjadi 2 macam, yaitu karya seni rupa murni dan karya seni rupa terapan. Karya seni rupa murni diciptakan sebagai sarana atau media berkreasi, rekreasi, terapi, dan komunikasi. Sedangkan karya seni rupa terapan diciptakan untuk tujuan fungsional atau memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis. Pada tulisan ini hanya akan membahas mengenai karya seni rupa terapan yang ada di Indonesia.

Karya seni rupa terapan disebut juga karya seni rupa aplikatif, yaitu karya seni rupa yang telah diterapkan atau diaplikasikan pada bentuk-bentuk fungsional. Bentuk fungsional adalah segala bentuk yang dibuat dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Wujudnya dapat berupa perhiasan, pakaian, perabot rumah tangga, perleng kapan makan, perlengkapan pertunjukan, atau perlengkapan ibadah.

Indonesia terdiri atas berbagai suku bangsa. Tiap-tiap suku bangsa memiliki budaya dan adat istiadat yang beraneka ragam. Keanekaragaman budaya tersebut salah satunya dapat dilihat pada karya seni rupa yang dihasilkan. Ada lima faktor yang menyebabkan adanya keanekaragaman budaya bangsa Indonesia, yaitu:
  1. Letak geografi setiap daerah;
  2. Sifat dan tata kehidupan yang tidak sama;
  3. Sistem kepercayaan dan adat-istiadat yang tidak sama;
  4. Potensi alam yang berbeda di tiap daerah, serta
  5. Adanya kontak dengan daerah lain.

Karya seni rupa terapan daerah disebut seni terapan tradisional. Karya seni terapan diciptakan bertujuan untuk melestarikan tradisi seni rupa di suatu daerah tersebut. Karya seni rupa terapan daerah igarap olah masyarakat tertentu sebagai ciri khas suatu daerah yang terikat oleh nilai-nilai filosofi dan nilai-nilai tradisi.

Seni terapan daerah dikerjakan secara tradisi, dengan keterampilan tangan yangsederhana. Bahan atau mediayang digunakan umumnya diambil dari alam yang ada didaerah tersebut. Beberapa contoh karya seni rupa terapan daerah antara lain sebagai berikut.

1. Karya Seni Keramik
Seni Keramik adalah cabang seni rupa yang mengolah material keramik untuk membuat karya seni. Selain itu dibedakan pula kegiatan kriya keramik berdasarkan prinsip fungsionalitas dan produksinya.

Karya keramik dalam bentuk seni terapan banyak kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk karya seni keramik terapan diantaranya berupa perlengkapan makan dan minum, guci, peralatan memasak, serta hiasan bangunan.
Kerajinan Keramik
Salah satu daerah penghasil gerabah atau keramik yang terkenal adalah Lombok. Gerabah atau keramik dari daerah tersebut memiliki keistimewaan tersendiri.
  1. Keramik Lombok (Desa Banyumulek, Desa Masbagik, dan Desa Penujak). Gerabah di daerah tersebut sebagai penghias ruangan, taman, suvenir, wadah penyaji makanan, minuman, meja tamu, tempat lilin, asbak, vas bunga, dan sebagainya. Gerabah Lombok terdiri dari beraneka bentuk, ragam, rupa, dan ukuran. Begitu juga dengan motifnya, selain sebagai nilai seni juga menghadirkan nuansa khas tradisional Sasak.
  2. Daerah lain yang juga terkenal sebagai penghasil keramik atau gerabah yaitu Kasongan (Yogyakarta). Hasil kerajinan dari gerabah yang diproduksi oleh Kasongan pada umumnya berupa guci dengan berbagai motif (burung merak, naga, bunga mawar dan banyak lainnya), pot berbagai ukuran (dari yang kecil hingga seukuran bahu orang dewasa), souvenir, pigura, hiasan dinding, perabotan seperti meja dan kursi, dll.
  3. Bayat (Klaten). Ada beraneka ragam macam gerabah keramik yang disediakan di desa Bayat, ada seperti guci bermotif, gerabah keramik berbentuk hewan, ada juga kursi gerabah, serta patung manusia, hingga gerabah – gerabah kecil lainya.
  4. Purwakarta(Jawa Barat). Sentra industri keramik Plered berada di wilayah selatan Kab Purwakarta. Pembuatan kerajinan keramik Plered benar-benar telah berjalan turun temurun dan diperkirakan dimulai sejak th 1904.

2. Karya Seni Ukir
Seni ukir / ukiran merupakan tampilan atau susunan dari gambar hiasan dengan bagian-bagian cekung (kruwikan) serta bagian-bagian cembung (buledan) yang menyusun suatu gambar yang indah.Umumnya ukiran bermotif geometris yang berupa garis, titik, serta lengkungan, dengan bahan tanah liat, batu, kayu, bambu, kulit, atau tanduk hewan
Ukiran
Seni ukir terapan yang dapat kita lihat misalnya pada mebel, hiasan bangunan, bingkai lukisan, dan bingkai cermin. Daerah-daerah yang terkenal dengan karya seni ukirnya yaitu Toraja, Bali, dan Jepara. Tiap daerah tersebut memiliki ciri atau keistimewaan sendiri-sendiri. Keistimewaan itu terdapat dalam motif hias, bahan, maupun teknik pembuatannya. Berikut ini keistimewaan masing-masing ukiran yang ada di Indonesia.
  1. Hampir semua motif hias pada ukiran toraja berupa motif hias geometris yang tidak dapat kita temukan pada karya ukiran dari daerah lain.
  2. Lain halnya dengan ukiran bali. Ukiran bali kebanyakan bersifat naturalis. Ukiran bali kebanyakan berupa ukiran daun yang cembung dan gemuk, bentuk-bentuk mitologi kepala raksasa, gajah, dan naga.
  3. Ukiran Jepara mempunyai ciri khas, salah satu ciri khasnya adalah bentuk corak dan motif. Untuk motif sendiri bisa kita lihat dari: Daun Trubusan yang terdiri dari dua macam yaitu dilihat dari yang keluar dari tangkai relung dan yang keluar dari cabang atau ruasnya.

3. Karya Seni Tekstil
Kerajinan tekstil merupakan sebuah karya seni yang dibuat menggunakan bahan tekstil. Tekstil merupakan bahan yang berasal dari serat yang diolah dari bahan benang atau kain. Bahan ini biasanya digunakan sebagai bahan untuk membuat busana serta berbagai macam produk kerajinan lainnya.

Seni tekstil dalam bentuk seni terapan di antaranya berupa kain batik, sarung tenun, dan aneka sulaman. Karya seni tekstil tersebut diaplikasikan pada benda-benda pakai, misalnya pakaian, taplak meja, sarung bantal, dan tas.
Tekstil
Di Indonesia batik dibuat di berbagai daerah, terutama di Pulau Jawa. Jawa Tengah merupakan pusat kegiatan pembatikan. Dua kota di wilayah ini yang paling produktif menghasilkan batik adalah Surakarta dan Pekalongan. Berikut ini keunikan batik yang ada di Indonesia.
  1. Batik surakarta dan batik pekalongan memiliki keunikan tersendiri. Banyak ragam hias batik surakarta yang mengan dung simbol. Sebagai contoh ragam hias sawat atau lar menyimbolkan mahkota atau penguasa, ragam hias meru menyimbolkan gunung atau tanah, dan ragam hias naga melambangkan banyu atau air. Warna-warna batik surakarta monoton, dan didominasi oleh warna-warna gelap, misalnya hitam, cokelat, dan merah marun. 
  2. Sebaliknya, batik pekalongan lebih variatif dalam warna dan ragam hiasnya pun naturalistik. Batik Pekalongan biasanya memiliki gambar motif yang riil (nyata ). Isi pada corak penuh dengan ornamen garis dan titik. Gambar motif batik pekalongan yang diproduksi oleh keturunan Tiongkok umumnya memiliki corak khas yaitu digambarkan dengan naga atau dengan burung phonix.
  3. Motif batik Banyumasan didominasi dengan warna – warna dasar kecoklatan dan hitam, motif tersebut dinamakan motif Jonasan. Dari motif tersebut terus berkembanglah motif – motif batik Banyumas hingga saat ini antara lain; Sidoluhung, Lumbon (Lumbu), Cempaka Mulya, Madu Bronto, Sekarsurya, Jahe Puger, Pring Sedapur dan Satria Busana.

4. Karya Seni Topeng
Topeng adalah benda menutup wajah agar dapat mengubah atau membentuk karakteristik wajah yang baru. Topeng di berbagai daerah umumnya dapa berupa aktifitas penghormatan berupa adegan sesembahan (pemujaan) atau memperjelas watak (karakter) tertentu dalam sajian seni pertunjukan.
Topeng
Selain berfungsi sebagai properti tari, topeng juga sering difungsikan sebagai hiasan dinding. Daerah yang terkenal akan kerajinan topeng yaitu Surakarta, Bali, dan Jawa Barat.
  1. Topeng bali didominasi oleh bentuk raksasa jahat dengan lidah panjang yang menjulur keluar. 
  2. Topeng surakarta bercirikan rias wayang orang gaya Surakarta, yaitu ksatria yang digambarkan dengan wajah putih, mata sipit, dan bibir demes atau rapi. 
  3. Topeng jawa barat mendekati penggambaran wayang golek sunda dengan ciri umum humoris atau jenaka.

5. Karya Seni Kerajinan Perak
Seni kerajinan perak adalah salah satu bentuk ketrampilan yang cukup dihargai. Di Indonesia sendiri terdapat beberapa pusat kerajinan perak. Di Jawa ada di Kotagede (Yogyakarta), Bangil (Jawa Timur), Celuk di Bali, Sumatra di Padang, Sulawesi di Kendari dan lain-lain.

Kotagede di Yogyakarta merupakan salah satu daerah yang terkenal dengan seni kerajinan perak. Adapun jenis-jenis kerajinan yang dihasilkan antara lain: aneka perhiasan, penahan tirai, penahan kawat nyamuk, dan miniatur becak.
Perak
Kotagede yang sangat terkenal dengan kualitas ukiran-ukiran peraknya. Ukiran-ukiran ini biasanya diaplikasikan untuk peralatan makan dari perak ataupun perhiasan-perhiasan yang besar. Motif ukiran di Kotagede biasanya bersumber dari motif bunga dan daun ataupun juga dari keraton Yogyakarta yang biasanya di setiap motif tersebut terdapat makna filosofis tertentu.

Kerajinan emas dan perak di Bali yang paling terkenal berada di desa Celuk Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar Bali. Kerajinan perhiasan silver yang dihasilkan antara lain gelang, kalung, anting-anting, bross dan cincin perak Bali. Barang cendramata dari emas seperti cincin, patung, sendok, garpu, juga diproduksi disini dan merupakan komoditi ekspor.

Salah satu sentra kerajinan perak di Jawa Timur adalah di daerah Bangil. Gelang, Kalung, Cincin, anting, bross, liontin, hiasan rumah dari perak, souvenir dan lain-lain. Pemasarannya meliputi Bali dan Yogyakarta. Sentra industri kerajinan perak terdapat di Bangil dan Gempol.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae Updated at: 11:47 PM

Ekspresi Diri dalam Gambar Ilustrasi

Gambar ilustrasi adalah gambar yang menceritakan adegan atau peristiwa. Gambar ilustrasi dapat diartikan sebagai gambar yang bersifat sekaligus berfungsi untuk menerangkan sesuatu peristiwa. Gambar ilustrasi merupakan karya seni rupa dua dimensi yang bertujuan untuk memperjelas suatu pengertian.

Beberapa tokoh lustrasi Indonesia antara lain : Henk Ngantung, pada majalah Intisari, Delsy Samsumar, pada majalah Varia, G.M. Sidharta, pada harian Kompas, Danarto, Mulyadi W, Ipe Ma’ruf, pada majalah Si Kuncung, Cahyono, Adi Permadi, pada majalah Bobo, dan S. Prinka, pada majalah Tempo. Ilustrasi yang baik adalah ilustrasi yang bisa membantu dan merangsang pembaca untuk berimajinasi mengenai cerita. Ilustrasi cukup membantu dalam memahami narasi dan mengembangkan imajinasi. Gambar ilustrasi mempunyai fungsi sebagai berikut.
  1. Memperjelas alur atau isi cerita.
  2. Memperjelas isi pesan dalam promosi sebuah benda/ produk.
  3. Menarik perhatian.
  4. Menambah nilai artistik/keindahan.

Gambar ilustrasi dalam bentuk seni terapan sering kita temukan dalam ilustrasi buku cerita, majalah, dan buku pelajaran. Poster dan brosur juga sering disertai gambar ilustrasi agar menarik.

Teknik dan Media
Menggambar ilustrasi dapat dilakukan dengan teknik kering atau teknik basah. Teknik kering menggunakan media pensil, arang, kapur, crayon, atau bahan lain yang tidak memerlukan air atau minyak. Sebaliknya, teknik basah menggunakan media yang berupa cat air, cat minyak, tinta, atau media la in yang memerlukan air atau minyak khusus sebagai pengencer.

Langkah-Langkah Menggambar Ilustrasi
Untuk dapat menggambar ilustrasi ada tahap-tahap yang harus dilalui dalam menggambar ilustrasi, yaitu persiapan bahan, penentuan tema, pembuatan sketsa, dan penyempurnaan gambar. Tahapan-tahapan yang harus dilalui dalam menggambar ilustrasi sebagai berikut.

a. Menyiapkan Bahan dan Alat
Tentukan terlebih dahulu teknik yang akan kamu gunakan. Teknik kering atau teknik basah? Setelah itu persiapkan bahan dan alatnya.

1. Teknik Kering
Menggambar ilustrasi dengan teknik kering yaitu, tidak perlu menggunakan pengencer air atau minyak. Ilustrasi dibuat langsung pada bidang dua dimensi berupa kertas gambar kemudian dibuat sketsa untuk selanjutnya diberi aksen garis atau warna sesuai dengan media kering yang digunakan. Beberapa contoh media kering dapat dijelaskan sebagai berikut:
  1. Pensil yang digunakan dalam menggambar ilustrasi ukuran pensil 2B-6B.
  2. Arang yang digunakan untuk menggambar ilustrasi adalah yang terbuat dari bahan dasar kayu. Menggambar dengan arang akan meninggalkan debu pada kertas.
  3. Krayon atau pastel colour banyak ragam variasi warnanya, digunakan dalam menggambar ilustrasi yang menginginkan variasi pewarnaan.
  4. Charcoal berbentuk seperti pensil warna dengan lapisan kertas sebagai pembungkusnya. Charcoal memiliki warna tajam/jelas.
  5. Pulpen digunakan sebagai alat untuk menggambar ilustrasi dengan karakter tegas pada garis-garis gambarnya.
Alat dan bahan
2. Teknik Basah
Media yang digunakan untuk teknik basah antara lain seperti, cat air, cat minyak, tinta, atau media lain yang memerlukan air atau minyak sebagai pengencer. Ilustrasi dibuat dengan cara membuat sketsa pada bidang gambar dua dimensi berupa kertas atau kanvas kemudian diberi warna sesuai dengan media basah yang sudah ditentukan.

b. Memahami Teks atau Cerita
Sebelum menggambar ilustrasi, kamu perlu memahami teks atau cerita terlebih dahulu. Bacalah teks dengan saksama, kemudian tandailah bagian yang penting atau perlu diberi ilustrasi. Perhatikan contoh penggalan teks beserta ilustrasinya dalam buku pelajaran sains berikut.

Lain lagi dengan putri malu. Putri malu adalah tumbuhan berbentuk semak yang hidup di tanah. Di sepanjang batangnya terdapat duri-duri kecil. Putri malu biasanya tumbuh di antara rerumputan. Bila kamu menginjak rerumputan, tentu sudah hal yang biasa. Namun, bagaimana jika kakimu yang tanpa alas kaki menginjak batang putri malu? Saat menginjaknya, telapak kakimu terasa perih. Rasa perih itu disebabkan oleh duri-duri kecil pada batang tumbuhan putri malu. Duri pada tumbuhan putri malu memang berfungsi untuk melindungi diri agar tidak diinjak.
Putri Malu

Gambar ilustrasi tumbuhan putri malu di atas digunakan untuk memperjelas uraian mengenai ciriciri tumbuhan putri malu pada teks di sampingnya.

Selanjutnya, simaklah penggalan teks ”Buah Nanas” berikut. Simak juga langkah-langkah menggambar ilustrasinya.

Tumbuhan nanas juga dikenal dengan nenas atau ananas. Tumbuhan nanas termasuk tumbuhan tropis yang berasal dari Brazil, Bolivia, dan Paraguay. Tumbuhan ini termasuk dalam kelompok nanas-nanasan. Ciri-ciri tumbuhan nanas yaitu berperawakan rendah, memiliki sekitar tiga puluh atau lebih daun panjang, berujung tajam, dan bersusun-susun mengeli lingi batang yang tebal.
Buah nanas mempunyai banyak manfaat. Nanas membantu proses pencernakan dan mempercepat proses penyembuhan luka. Nanas juga dimanfaatkan untuk mengempukkan daging. Nanas mempunyai kandungan aspartic acid yang cukup tinggi. Asam aspartic membantu membuang asam amonia di dalam tubuh. Amonia adalah racun yang berbahaya bagi sistem saraf pusat.

c. Membuat Sketsa
Sketsa yang dibuat sebaiknya lebih dari satu agar kita dapat memilih yang terbaik. Perhatikan dua contoh sketsa buah nanas di bawah.

d. Menggambar dan Mewarnai
Dari beberapa sketsa yang kamu buat, pilihlah salah satu yang terbaik. Sempurnakan garis-garis pada sketsa dan hapuslah garis-garis yang tidak perlu. Setelah itu, warnailah dengan baik.
Gambar Ilustrasi
Buatlah gambar ilustrasi yang sesuai untuk penggalan teks di bawah. Apabila kesulitan menggambarkan bentuk bunga bangkai, carilah gambar bunga bangkai dari buku, majalah, atau internet. Contohlah gambar tersebut, kemudian warnai dengan baik. Kamu dapat menggunakan teknik kering, teknik basah, atau gabungan keduanya. Selamat berkarya.

Bunga Bangkai
Bunga bangkai mempunyai banyak sebutan. Sebutan tersebut yaitu suweg raksasa, batang krebuit, patma raksasa, dan raffl esia arnoldii. Bunga bangkai merupakan tumbuhan dari suku talas-talasan. Bunga ini berasal dari Bengkulu, Sumatra, Indonesia.
Bunga Bangkai
Bunga bangkai berbentuk seperti lingga, sangat besar, dan tinggi. Ketinggian bunga bangkai dapat mencapai lima meter. Pemberian namanya didasarkan pada aroma yang dikeluarkannya, yaitu bau seperti bangkai yang membusuk. Aroma yang dikeluarkan bunga ini sebenarnya dimaksudkan untuk mengundang kedatangan kumbang dan lalat penyerbuk. Kedatangan kumbang dan lalat penyerbuk sangat membantu bunga ini dalam penyerbukan.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae Updated at: 7:22 PM