Teknik Identifikasi Jenis Fauna/Satwa yang Dilindungi

Menurut PP No. 7 tahun 1999, pengenalan jenis satwa adalah upaya untuk mengenal jenis, keadaan umum, status, populasi dan tempat hidupnya yang dilakukan di dalam habitatnya. Identifikasi satwa adalah suatu kegiatan mengidentifikasi/mencocokkan satwa dengan buku-buku (gambar-gambar atau ciri-ciri yang ada) atau langsung melihat satwa itu sendiri.

Identifikasi diperlukan untuk mengetahui gambaran umum secara kualitatif status populasi suatu jenis.  Identifikasi satwa (mahluk hidup) berarti suatu usaha menemukan identitas suatu satwa (makhluk hidup). Identifikasi dapat dilakukan dengan dengan membandingkan satwa yang ingin diketahui dengan gambar didalam buku atau antara satwa dengan material yang sudah diketahui identitasnya. Cara yang paling cepat dan memuaskan hasilnya adalah dengan pergi ke lapangan bersama seorang ahli yang benar-benar mengetahui tentang berbagai jenis satwa.

Perlengkapan yang sering digunakan dalam melakukan identifikasi adalah buku kunci (kunci dikotomis/kunci determinasi), teropong, buku catatan, gambar-gambar atau foto, kompas, GPS, dll. Untuk memahami buku kunci seseorang harus memahami sifat dan keragaman bentuk serta ukuran hewan yang diidentifikasi.

Identifikasi pada satwa dapat dilihat melalui bagian tubuh yang menunjukan sifat-sifat khusus penunjuk adanya keragaman morfologis, antara lain:
  1. Susunan kulit dan modifikasinya,
  2. Susunan alat gerak,
  3. Susunan bagian-bagian tubuh (kepala-badan-ekor) dan modifikasi hubungannya,
  4. Susunan endoskeleton
  5. Susunan gigi,
  6. Lubang hidung,
  7. Susunan alat pendengaran bagian luar, dan
  8. Susunan matanya

Mengidentifikasi jenis satwa yang dilindungi bisa dilakukan secara langsung dan secara tidak langsung.

A. Identifikasi fauna secara langsung
Identifikasi secara tidak langsung bisa melalui suara dan bunyi, jejak, sarang, tanda-tanda pada habitat, kotoran, dan bagian-bagian dari satwa itu sendiri Berikut contoh cara identifikasi secara langsung terhadap jenis Macan Kumbang (Panthera pardus Sondaicus) Tata cara pelaksanaan di lapangannya adalah :
  1. Persiapkan blanko untuk mencatat data fauna,
  2. Tuliskan ciri-ciri fisik yang akan diamati pada blanko, seperti bentuk mata, panjang kaki, warna bulu, kulit, ukuran tubuh dan lain-lain terkait fauna yang akan diamati.
  3. Tuliskan jenis fauna yang termasuk dalam satu familinya
  4. Beri tanda checklist pada ciri-ciri fauna yang diamati seperti pada contoh Tabel Pengamatan/ Identifikasi Satwa secara langsung
Contoh Tabel Pengamatan/ Identifikasi Satwa secara langsung
Aspek yang diamati Ciri Satwa Kucing Macan Tutul Macan Kumbang Harimau
Bulu Hitam belang - - -
Ukuran Tubuh ½ meter
Kulit Loreng -
Suara Mengaung - -
Warna Gelap - - -

Berdasarkan hasil identifikasi secara langsung seperti yang terlihat bahwa yang mempunyai ciri-ciri satwa yang sesuai dengan kriteria adalah jenis Macan Kumbang. Satwa ini mempunyai ciri warna bulunya hitam belang, ukuran tubuh ½ meter, kulitnya loreng, suaranya mengaung, dan warnanya gelap. Tabel diatas mempermudah kita dalam melakukan identifikasi satwa secara langsung.

B. Identifikasi satwa secara tidak langsung
Identifikasi secara langsung bisa secara kasat mata dilihat atau langsung ketemu dengan satwa itu sendiri dengan mengamati ciri-ciri satwa, ukuran dan bentuk tubuh, warna bulu atau kulit dan penanda lainnya. Identifikasi secara tidak langsung dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

1. Referensi
Referensi adalah sesuatu yang digunakan pemberi informasi untuk menyokong atau memperkuat pernyataan dengan tegas. Dikenal juga dengan sebutan rujukan. Cara ini dilakukan dengan mencocokkan ciri-ciri satwa yang diperoleh di lapangan hasil pengukuran dengan buku-buku/gambar-gambar yang ada dalam buku petunjuk fauna terkait

2. Bertanya pada masyarakat setempat
Masyarakat yang ditanya tentunya orang yang sudah lama berada pada unit/lokasi pengamatan atau orang yang memang mengetahui adanya fauna tersebut ada di lokasi pengamatan Berikut ada beberapa tanda yang bisa digunakan dalam identifikasi satwa secara tidak langsung.

a) Identifikasi Jejak Satwa
Jejak satwa dalam arti sempit adalah bekas pijakan kaki yang ditinggalkan pada tanah yang dilalui. Pengetahuan dalam bidang morfologi satwa dalam hal ini sangat diperlukan, terutama mengenal bentuk kaki satwa. Tempat-tempat untuk dapat menemukan jejak satwa antara lain: di tepi sungai, tempat berkubang atau minum, pantai, tempat-tempat istirahat, di tempat kering (tempat mengasin), di lorong-lorongan rumpun bambu dan tanaman-tanaman lain.

b) Identifikasi melalui Kotoran (feces) Satwa
Beberapa jenis satwa biasanya menunjukkan kotoran yang khas. Hal penting yang harus diperhatikan dalam penemuan kotoran adalah apakah kotoran masih baru atau sudah lama, menjadi kering, pecah, atau sudah ditumbuhi tanaman rendah. Hal ini penting untuk mengetahui sudah berapa hari atau berapa minggu satwa tersebut berada di situ

c) Melalui bagian-bagian Satwa
Beberapa jenis satwa mempunyai kebiasaan untuk meninggalkan atau melepas bagian-bagian dari badannya (seperti: tanduk, tulang, kulit, bulu, bulu duri, telur dan lainnya). Dari bagian-bagian satwa tersebut bisa diketahui ada tidaknya suatu jenis satwa di tempat pengamatan.

d) Melalui Suara dan Bunyi Satwa
Suara yang dimaksudkan disini adalah sesuatu yang kita dengar dan yang dikeluarkan oleh mulut satwa, sedangkan yang dimaksud dengan bunyi adalah sesuatu yang kita dengar sebagai akibat dari tingkah laku suatu jenis satwa dan bunyi tersebut sangat khas.

e) Identifikasi Melalui Tanda-tanda pada Habitat
Adanya tanda di habitat dapat menunjukkan bahwa di daerah tersebut ada sesuatu jenis satwa tertentu. Tanda-tanda tersebut dapat berupa :
  1. Gigitan-gigitan pada daun yang dimakan (tergantung letak tinggi rendahnya daun yang dimakan).
  2. Gigitan dari kulit pohon dan akar pohon
  3. Pucuk-pucuk pohon yang patah
  4. Terdapatnya lumpur pada semak, rumput atau pepohonan
  5. Adanya bekas cakaran, dan kikisan pada tebing-tebing tanah atau padas
  6. Adanya bekas cakaran kuku pada pohon
  7. Adanya bekas kencing satwa yang ditandai dengan adanya lobang-lobang kecil di tanah goresan pada daun atau semak
  8. Adanya alur-alur lintasan satwa
  9. Kondisi dan bentuk tempat istirahat
  10. Adanya bekas luka gigitan, cakaran dan lain-lainnya pada bangkai binatang.
Tanda-tanda sekunder antara lain :
  1. Adanya/ditemukan sisa buah-buahan yang dimakan.
  2. Adanya goyang-goyangan daun/ pepohonan dan semak di hutan
  3. Adanya atau ditemukannya jenis-jenis perangkap di hutan biasanya perangkap untuk masing-masing jenis satwa berlainan. Seperti bambu yang dipancangkan, jerat dari kawat dan jaring. Sinembuk adalah semacam panah yang kuat dan besar yang dipasang di antara 2 (dua) pohon dan ditempatkan pada alur lintasan satwa.
  4. Adanya sinar pantulan dari mata satwa terutama pada waktu malam hari. 
  5. Adanya atau ditemukannya umpan seperti misalnya: kambing, biri-biri yang ditambat di tengah hutan dan binatang kecil sebagai umpan buaya dan lain sebagainya.
  6. Adanya reaksi dari satwa yang biasa hidupnya berkelompok tetapi kedapatan berada sendirian.

f) Identifikasi melalui Bau-bau Satwa
Bau-bauan satwa yang dimaksud di sini adalah bau khas yang mencolok dan dapat dicium oleh manusia. Bau tersebut berasal dari suatu kelenjar yang dimiliki tubuh satwa.

g) Identifikasi melalui Sarang Satwa
Sarang satwa adalah sesuatu yang dengan sengaja atau tidak dibangun oleh suatu jenis satwa yang digunakan untuk perkembangbiakan dan atau digunakan sebagai tempat tidur. Contoh identifikasi satwa berdasarkan tanda-tanda pada habitatnya antara lain:
Sarang Orang Utan Sumatera
Jenis primata : adanya sisa makanan buah-buahan yang dimakan dan goyangan daun/pepohonan dan semak

Harimau loreng (Panthera tigris)
  1. adanya tanda garukan (cakaran) pada pohon untuk mempertajam kukunya. Bekas cakaran bisa setinggi 2,5 meter pada batang pohon biasanya lebih rendah.
  2. ditemukannya umpan di hutan.
  3. adanya bekas kuku dan gigitan dari bangkai binatang yang dimakannya
  4. adanya goyangan daun/ pepohonan atau semak di hutan.
  5. adanya pantulan sinar hijau dari matanya di waktu malam hari
Badak Sumatera (Dicemoceros sumatrensis)
  1. biasanya menerjang dengan tanduknya yang mengakibatkan belukar tersebut menjadi rata dengan tanah.
  2. terdapatnya bekas kubangan yang luas di tempat yang becek.
  3. kadang-kadang menghembuskan semacam cairan dari lubang hidungnya (pertama berwarna jernih agak merah halus seperti air dengan sedikit anggur di dalamnya, kemudian menjadi keruh berwarna oranye kotor, seperti ludah pemakan sirih) pada tanah atau semak-semak bawah.
  4. bekas gigitan pada daun yang agak tinggi.
  5. terdapatnya lumpur pada semak, pepohonan atau rumput.
  6. adanya jerat (sinembuk) yang dipasang pada alur-alur di hutan.

Contoh Beberapa jenis satwa dari bau-bau satwa
  1. Trenggiling (Manis javanicus), luwak, (Paradoxurus hermaphroditus) musang (Paradoxurus hermaprodytus), rusa (Cervus unicolor), kalong (Pteropus sp), dan badak ( Rhinoceros sp.)
Contoh beberapa jenis satwa bisa diketahui melalui sarangnya antara lain:
  1. Mawas/Orang Utan (Pongo pymaeus). Mempunyai kebiasaan membuat sarang di hutan yang agak terbuka, di atas pohon yang tinggi pada dahan / cabang pohon di ketinggian 12 m - 20 m dari atas tanah. Bentuk sarangnya sederhana disusun dari ranting-ranting pohon dan daun, dan bentuk sarangnya sangat khas sekali. 
  2. Landak (Hystrix brachyula).Membuat sarang dalam tanah dengan membuat lubang memakai kukunya. Biasanya di muka lubang ada gundukan tanah bekas galian dan bersih dari tumbuhan atau sampah.
  3. Babi Hutan (Sus spp.). Sarang dibuat dari patahan semak belukar yang ditumpuk di atas tanah di tempat yang rimbun. Sering digunakan sebagai tempat istirahat (tidur).
  4. Beruang (Helaetos malayanus).Biasanya membuat sarang mirip sarang orang utan, hanya letaknya lebih rendah.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 1:49 PM

Deskripsi Fauna Yang Dilindungi

Berdasarkan UU No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Jenis fauna yang dilindungi adalah jenis fauna yang digolongkan kedalam satwa dalam bahaya kepunahan dan satwa yang populasinya jarang atau langka.  Beberapa jenis fauna yang dilindungi antara lain famili mamalia (Menyusui), famili Aves (Burung), famili Reptil (Melata),  famili Insekta (Serangga) , famili pisces (Ikan),  famili Anthozoa dan  famili Bivalvia.

Jenis fauna dapat lebih dikenal apabila dideskripsikan dengan baik, dengan menjelaskan dari beberapa indikator antara lain seperti deskripsi fauna (kebiasaan, makanan, perkembangbiakan, suara, habitat, reproduksi) dan klasifikasinya . Berikut akan dicontohkan dalam pembuatan deskripsi fauna berdasarkan kriteria baku sebagai berikut .

1) Jenis Aves (burung)
Contoh fauna dari jenis aves yang dilindungi adalah Elang/alap Meyer dapat dilihat seperti pada gambar di bawah ini.
Elang Alap
Nama Latin : Accipiter meyerianus (Sharpe,1878) Klas : Aves
Nama Inggris : Meyer’s Goshawk Ordo : Falconivormes
Klasifikasinya : Accipiter meyerianus Family : Accipitridae
Kingdom : Animalia Genus : Accipiter
Phylum : Chordata Species : Accipiter meyerianus

Deskripsi:
Berukuran besar (53 cm), pada fase normal bagian tubuh atas kehitaman dan tubuh bagian bawah keputih-putihan, sedangkan pada fase hitam, seluruh tubuh berwarna hitam. Dalam semua fase bulu, iris tetap berwarna hitam. Usia remaja tubuh bagian atas coklat tua kusam dengan sisi bulu tipis. Suara, nada sengau keras meninggi lebih cepat dan tanpa kekuatan nada menyambung naik seperti pada Elang-alap Bahu-coklat.

Penyebaran global , ditemukan di Maluku, Papua, Kepulauan New Britain, dan Kepulauan Solomon. Penyebaran lokal dapat ditemukan di seluruh Papua sampai pada ketinggian 1600 meter

Kebiasaan, Elang-alap di hutan perbukitan yang kurang dikenal, biasanya terbang rendah di atas kanopi dan sesekali melambung tinggi. Bertengger di dahan pohon yang memungkinkan untuk melihat daerah sekitar. Terbang di sepanjang puncak perbukitan atau di lembah-lembah gunung pada pagi hari dan menyerang sekumpulan merpati yang hendak mencari makan. Makanannya adalah berbagai jenis burung, termasuk ayam kampung.

Perkembangbiakan, elang berkembangbiak sepanjang musim dingin sampai awal musim panas di Australia. Sarang biasanya diletakkan pada pohon yang tinggi dan pernah tercatat sarang dengan 3 (tiga) telur.

2) Jenis Mamalia (Menyusui)
Contoh fauna dari jenis mamalia yang dilindungi adalah Harimau Sumatera
Harimau Sumatera
a
Nama Latin : Panthera tigris sumatrae (Pocock,1929) Klas : Mammalia
Nama Inggris : Panthera tigris sumatrae Ordo : Carnivora
Klasifikasinya : Accipiter meyerianus Family : Felidae
Kingdom : Animalia Genus : Phantera
Phylum : Chordata Species : Panthera tigris

Deskripsi :
Panjang Harimau Sumatera jantan dapat mencapai 2,2 – 2,8 meter, sedangkan betina 2,15 – 2,3 meter. Tinggi diukur dari kaki ke tengkuk rata-rata adalah 75 cm, tetapi ada juga yang mencapai antara 80 – 95 cm, dan berat 130 – 255 kg. Hewan ini mempunyai bulu sepanjang 8 – 11 mm, surai pada Harimau Sumatera jantan berukuran 11 – 13 cm. Bulu di dagu, pipi, dan belakang kepala lebih pendek.

Panjang ekor sekitar 65 – 95 cm. Subspesies ini juga punya lebih banyak janggut serta surai dibandingkan subspesies lain, terutama harimau jantan. Terdapat selaput di sela-sela jarinya yang menjadikan mereka mampu berenang. Harimau sumatera umumnya beraktifitas dimalam hari.

Habitat , Tipe lokasi yang biasanya menjadi pilihan habitat Harimau Sumatera di Indonesia bervariasi, dengan ketinggian antara 0 – 3000 meter dari permukaan laut, seperti :
  1. Hutan hujan tropis, hutan primer dan sekunder pada dataran rendah sampai dataran tinggi pegunungan, hutan savana, hutan terbuka, hutan pantai, dan hutan bekas tebangan
  2. Pantai berlumpur, mangrove, pantai berawa payau, dan pantai air tawar
  3. Padang rumput terutama padang alang-alang
  4. Daerah datar sepanjang aliran sungai, khususnya pada sungai yang mengalir melalui tanah yang ditutupi oleh hutan hujan tropis
  5. Juga sering terlihat di daerah perkebunan dan tanah pertanian
  6. Selain itu juga banyak harimau ditemui di areal hutan gambut.

Harimau Sumatera bukan jenis satwa yang biasa tinggal berkelompok melainkan jenis satwa soliter, yaitu satwa yang sebagian besar waktunya hidup menyendiri, kecuali selama musim kawin atau memelihara anak.

Makanan, Harimau Sumatera termasuk jenis Carnivora yang biasanya memangsa : Rusa Sambar (Cervus unicolor), Kijang (Muntiacus muntjak), Kancil (Tragulus sp.), dan Babi hutan (Sus sp.). Kerbau liar (Bubalus bubalis), Tapir (Tapirus indicus), Kera (Macaca ), Landak (Hystrix brachyura), Trenggiling (Manis javanica), jenis-jenis Reptilia seperti kura-kura, ular, dan biawak, serta berbagai jenis burung, ikan, dan kodok dan jenis-jenis satwa liar lainnya. Hewan peliharaan atau ternak yang juga terkadang menjadi mangsa Harimau.

Perkembangbiakan, Harimau sumatra dapat berbiak kapan saja. Masa kehamilan adalah sekitar 103 hari. Biasanya harimau betina melahirkan 2 atau 3 ekor anak harimau sekaligus, dan paling banyak 6 ekor. Anak harimau hanya minum air susu induknya selama 8 minggu pertama. Sehabis itu mereka dapat mencoba makanan padat, namun mereka masih menyusu selama 5 atau 6 bulan.

3) Jenis Insekta (Serangga)
Contoh fauna dari jenis insekta yang dilindungi adalah Kupu Bidadari Cethosia myrina
Kupu Bidadari
a
Nama Latin : Chitosia myrina (Pratama, 2012)) Klas : Insecta
Nama Inggris : - Ordo : Lepidoptera
Klasifikasinya : Cethosia myrina Family : Nymphalidae
Kingdom : Animalia Genus : Cethosia
Phylum : Arthropoda Species : Cethosia myrina

Deskripsi: kupu-kupu bidadari atau kupu-kupu sayap renda sulawesi ataupun brown accented butterfly ini memiliki lebar rentang sayap hingga 75 mm. Penyebaran global, Terdapat di pulau Sulawesi bagian Selatan dan Utara, hingga merupakan kupu-kupu endemik Sulawesi.

4) Jenis Reptil (binatang melata)
Contoh fauna dari jenis Reptil yang dilindungi adalah Penyu Hijau Chelonia mydas yang dilindungi
Penyu Hijau
a
Nama Latin : Chelonia mydas (Linnaeus, 1758) Klas : Reptilia
Nama Inggris : - Ordo : Tustedines
Klasifikasinya : Chelonia mydas Family : Cheloniidae
Kingdom : Animalia Genus : Chelonia
Phylum : Chordata Species : Chelonia mydas

Deskripsi
Penyu hijau mendapatkan namanya dari warna lemak pada bagian bawah cangkangnya yang berwarna hijau. Panjang hewan anggun dan cantik ini dapat mencapai 90 cm dengan bobot hingga 150 kg.

Penyebaran global, penyu hijau dapat temukan di Kepulauan Derawan, Raja Ampat, Pantai Pangumbahan di Sukabumi, serta Tanjung Benoa dan Pulau Serangan di Bali.

Habitat, Penyu hijau sangat jarang ditemui di perairan beriklim sedang, tetapi sangat banyak tersebar di wilayah tropis dekat dengan pesisir benua dan sekitar kepulauan. Makanan, Penyu hijau dewasa serupakan penyu laut herbivora. Makanan utama mereka dalah lamun laut atau alga, yang hidup di perairan tropis da subtropik. Tetapi anak-anaknya diasumsikan omnivore untuk mempercepat pertumbuhan tubuh mereka. Kemungkinan besar terjadi transisi bertahap, saat penyu mencapai besar yang cukup untuk dapat menghindari predatornya.

Perkembangbiakan, usia untuk kematang seksualnya tidaklah pasti, perkiraan saat ini sekitar 45 hingga 50 tahun. Penyu hijau betina bermigrasi dalam wilayah yang luas, antara kawasan mencari makan.

5) Jenis Pisces (Ikan)
Contoh fauna dari jenis ikan yang dilindungi adalah Ikan Raja Laut Latimeria chalumnae.

ikan raja laut
a
Nama Latin : Latimeria chalumnae (Wikipedia, 2012) Klas : Sarcopterygii
Nama Inggris : - Ordo : Coelacanthiformes
Klasifikasinya : Latimeria chalumnae Family : Latimeriidae
Kingdom : Animalia Genus : Latimeria
Phylum : Chordata Species : Latimeria chalumnae

Deskripsi:
Ekor ikan purba ini berbentuk seperti kipas dengan mata yang besar dan sisik yang terlihat tidak sempurna (seperti batu). Panjangnya mencapai 2 meter dengan berat mencapai 80-100 kg. Perbedaannya terdapat pada warna kulit Latimeria menadoensis yang berwarna coklat sedangkan Latimeria chalumnae berwarna biru baja. Habitat, ikan raja laut mempunyai habitat di lautan dalam, 700 meter di bawah permukaan laut. Meskipun terkadang ikan purba ini bisa berada di kedalaman laut 200 meter. Penyebaran global, pada tahun 1998, seekor ikan raja laut tertangkap di perairan Pulau Manado Tua, Sulawesi Utara.

6) Jenis Bivalvia
Contoh fauna dari jenis Bivalvia yang dilindungi adalah Kima Cina Hippopus porcellanus
Kima Cina
a
Nama Latin : Hippopus porcellanus (Rosewater, 1982) Klas : Bivalvia
Nama Inggris : - Ordo : Veneroida
Klasifikasinya : Hippopus porcellanus Family : Tridacnidae
Kingdom : Animalia Genus : Hippopus
Phylum : Mollusca Species : Hippopus porcellanus

Deskripsi
Memiliki jenis kulit halus, umumnya mencapai 50 cm. Kebiasaan, tinggal di simbiosis dengan fotosintesis dinoflagellata ganggang ( Symbiodinium ) yang tumbuh di mantel jaringan Mereka Sessile di usia dewasa. Habitat, Mendiami terumbu karang dangkal berpasir dan daerah reruntuhan dekat rataan terumbu. Penyebaran global, Indonesia bagian timur, Selatan Filipina, Palau, dan Papua Nugini.

Perkembangbiakan, kematangan seksual dicapai dalam 3 sampai 5 tahun. Setiap spesies matang pada usia yang berbeda. Beberapa kerang menjadi seksual dewasa sebagai laki-laki dalam waktu dua tahun dan kemudian akan secara bertahap mendapatkan gonad betina. Meskipun kerang memiliki organ kelamin betina dan jantan pada saat jatuh tempo, pelepasan sperma dan telur yang terpisah. Hal ini untuk mencegah pembuahan diri sendiri, meskipun tidak dijamin untuk melakukannya. Biasanya, sperma dilepaskan pertama dan kemudian telur.

7) Jenis Anthozoa
Contoh fauna dari jenis Anthozoa yang dilindungi adalah akar bahar Anthiphates spp.

Deskripsi:
Karang terdiri dari satu jenis polip atau lebih yang menutupi permukaan, kerangka luar dari kapur yang dihasilkan oleh epidermis. Kerangka itu akan terus menerus bertambah karena tumbuh menurut tinggi dan diameternya. Kerangka karang (skeleton) tersusun atas karbonat (CaCO3) yang disekresikan oleh epidermis pada bagian tengah di bawah polip

Habitat, akar bahar biasa pada temperatur air laut + 200C, dalam laut + 35 m, terletak pada lingkungan antara 280 LU dengan 280 LS, andaikata ada perubahan temperatur maka perubahan tak melebihi 60C naiknya dan 60C turunnya, air laut ditempat tersebut bisa banyak mengandung O2, air laut harus jernih, air laut mempunyai salinitas / kadar garam tertentu. Kebiasaan, hidupnya koloni, mensekresikan zat tanduk sebagai kerangkanya.

Reproduksi, hewan karang dapat terjadi secara seksual maupun non seksual. Reproduksi Aseksual karang dilakukan dengan cara membentuk tunas. Tunas ini biasanya akan tumbuh di permukaan bagian bawah atau pada bagian pinggir koloni karang. Tunas baru akan tetap melekat hingga ukuran tertentu sampai dapat melepaskan diri dan menjadi individu baru. Pembentukan tunas ini dapat terjadi dilakukan dengan cara pertunasan intretentakular, yaitu pembentukan individu baru dalam individu lama, sedangkan pertunasan ekstrakurikuler merupakan pembentukan individu lama.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 9:55 PM

Jenis Fauna Yang Dilindungi

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, pengertian jenis fauna yang dilindungi adalah semua jenis fauna yang memenuhi kriteria sebagai berikut : mempunyai populasi yang kecil, adanya penurunan yang tajam pada jumlah individu di alam, dan daerah penyebaran yang terbatas/endemik.

Selanjutnya berdasarkan UU No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (KSDAHE), pengertian jenis fauna yang dilindungi adalah jenis fauna yang digolongkan kedalam satwa dalam bahaya kepunahan dan satwa yang populasinya jarang atau langka. Dapat disimpulkan bahwa pengertian fauna yang dilindungi adalah adalah hewan langka yang statusnya dilindungi oleh negara, dan hewan tersebut tidak boleh di bunuh atau di perjualbelikan.

Jenis-Jenis Fauna yang Dilindungi
Jenis Tumbuhan dan Satwa yang dilindungi ada 236 jenis satwa yang dilindungi di Indonesia yang digolongkan kedalam 7 (tujuh) famili yaitu : 70 jenis dari famili Mamalia (Menyusui), 93 jenis dari famili Aves (Burung), 31 jenis dari famili Reptil (Melata), 20 jenis dari famili Insekta (Serangga) , 7 jenis dari famili pisces (Ikan), 1 jenis dari famili Anthozoa dan 14 jenis dari famili Bivalvia.

1) Jenis-jenis fauna dari famili Mamalia ( binatang menyusui)
No. Species Nama Lain Keterangan
1. Anoa depressicornis Kerbau pendek/ Anoa
dataran rendah
Kemungkinan anoa
dataran  rendah yang
dimaksud adalah
Bubalus depressicornis
2. Anoa quarlesi Anoa pegunungan Kemungkinan anoa
pegunungan yang
dimaksud  adalah
Bubalus  quarlesi
3. Arctictis binturong Binturung -
4. Arctonyx collaris Pulusan -
5. Babyrousa babyrussa Babirusa -
6. Balaenoptera musculus Paus biru -
7. Balaenoptera physalus Paus bersirip -
8. Bos sondaicus Banteng -
9. Capricornis sumatrensis Kambing Sumatera -
10. Cervus kuhli ; Axis kuhli Rusa bawean -
11. Cervus spp. Menjangan Rusa Sambar (semua jenis
dari genus Cervus)
12. Cetacea Paus (semua jenis dari family
Cetacea)
13. Cuon alpines Ajag -
14. Cynocephalus variegates Kubung; Tando;
Walangkekes
-
15. Cynopithecus niger Monyet Hitam
Sulawesi
-
16. Cynogale bennetti Musang air -
17. Dendrolagus spp. Kanguru pohon (semua jenis dari genus
Dendrolagus)
18. Dolphinidae Lumba-lumba air laut (semua jenis dari family
Dolphinidae)
19. Dugong dugoni Duyung -
20. Dicerorhinus sumatrensis Badak sumatera -
21. Elephas indicus Gajah -
22. Felis badia Kucing merah -
23. Felis bengalensis Kucing hutan; Meong
congkok
-
24. Felis marmorota Kuwuk -
25. Felis planiceps Kucing dampak -
26. Felis temmincki Kucing emas madu -
27. Felis viverrinus Kucing bakau -
28. Helarctos malayanus Beruang madu -
29. Hylobatidae Owa Kera tak berbuntut (semua jenis dari family
Hylobatidae)
30. Hystrix brachyuran Landak -
31. Iomys horsfieldi Bajing terbang
ekor merah
-
32. Lariscus hosei Bajing tanah bergaris -
33. Lariscus insignis Bajing tanah;
Tupai tanah
-
34. Lutra lutra Lutra -
35. Lutra sumatrana Lutra Sumatera -
36. Macaca brunnescens Monyet Sulawesi -
37. Macaca maura Monyet Sulawesi -
38. Macaca pagensis Bokoi; Beruk Mentawai -
39. Macaca tonkeana Monyet jambul -
40. Macrogalidea musschenbroeki Musang Sulawesi -
41. Manis javanica Trenggiling; Peusing -
42. Muntiacus muntjak Kidang; Muncak -
43. Mydaus javanensis Sigung -
44. Nasalis larvatus Kahau Bekantan -
45. Neofelis nebulusa; Harimau dahan -
46. Nesolagus netscheri Kelinci Sumatera -
47. Nycticebus coucang Malu-malu -
48. Orcaella brevirostris Lumba-lumba air tawar;
Pesut
-
49. Panthera pardus Macan kumbang;
Macan tutul
-
50. Panthera tigris sondaica Harimau Jawa -
51. Panthera tigris sumatrae Harimau Sumatera -
52. Petaurista elegans Cukbo Bajing terbang -
53. Phalanger spp. Kuskus (semua jenis dari
genus Phalanger)
54. Pongo pygmaeus Orang utan; Mawas -
55. Presbitys frontata Lutung dahi putih -
56. Presbitys rubicund Lutung merah, Kelasi -
57. Presbitys aygula Surili -
58. Presbitys potenziani Joja Lutung Mentawai -
59. Presbitys thomasi Rungka -
60. Prionodon linsang Musang congkok -
61. Prochidna bruijni Landak Irian, Landak semut -
62. Ratufa bicolor Jelarang -
63. Rhinoceros sondaicus Bdak jawa -
64. Simias concolor Simpei Mentawai -
65. Tapirus indicus Tapir, Cipan, Tenuk -
66. Tarsius spp Binatang hantu, Singapuar (semua jenis dari genus
Tarsius)
67. Thylogale spp. Kanguru tanah (semua jenis dari genus
Thylogale)
68. Tragulus spp. Kancil, Pelanduk, Napu (semua jenis dari genus
Tragulus
69. Ziphiida Lumba-lumba air laut (semua jenis dari famili
 Ziphiidae)

2) Jenis-jenis fauna dari famili Aves (burung)
No. Species Nama Lain Keterangan
1. Accipitridae Burung alap-alap, Elang (semua jenis dari famili
Accipitridae)
2. Aethopyga exima Jantingan gunung -
3. Aethopyga duyvenbodei; Burung madu Sangihe -
4. Alcedinidae Burung udang; Raja udang (semua jenis dari famili
Alcedinidae)
5. Alcippe pyrrhoptera Brencet wergan -
6. Anhinga melanogaster Pecuk ular -
7. Aramidopsis platen Mandar Sulawesi -
8. Argusianus argus Kuau -
9. Bubulcus ibis Kuntul; Bangau putih -
10. Bucerotidae Julang Enggang; Rangkong;
Kangkareng
(semua jenis dari
famili Bucerotidae)
11. Cacatua galerita Kakatua putih besar
jambul kuning
-
12. Cacatua goffini Kakatua gofin -
13. Cacatua moluccensis Kakatua Seram -
14. Cacatua sulphurea Kakatua kecil jambul kuning -
15. Cairina scutulata Itik liar -
16. Caloenas nicobarica Junai; Burung mas; Minata -
17. Casuarius bennetti Kasuari kecil -
18. Casuarius casuarius; Kasuari -
19. Casuarius unappenddiculatus; Kasuari gelambir satu;
Kasuari leher kuning
-
20. Ciconia episcopus Bangau hitam; Sandanglawe -
21. Colluricincla megarhyncha Burung sohabe coklat -
22. Crocias albonotatus Burung matahari -
23. Ducula whartoni Pergam raja -
24. Egretta sacra Kuntul karang -
25. Egretta sacra Kuntul; Bangau putih (semua jenis dari genus
Egretta)
26. Elanus caerulleus Alap-alap putih;
Alap-alap tikus
-
27. Elanus hypoleucus Alap-alap putih;
Alap-alap tikus
-
28. Eos histrio Nuri Sangir -
29. Esacus magnirostris Wili-wili; Uar; Bebek laut -
30. Eutrichomyias rowleyi Seriwang Sangihe -
31. Falconidae Burung alap-alap; Elang (semua jenis dari famili
Falconidae)
32. Fregeta andrewsi Burung gunting; Bintayung -
33. Garrulax rufifrons Burung kuda -
34. Goura spp Burung dara mahkota;
Burung titi; Mambruk
(semua jenis dari
genus Goura)
35. Gracula religiosa mertensi Beo Flores -
36. Gracula religiosa robusta Beo Nias -
37. Gracula religiosa venerate Beo Sumbawa -
38. Grus spp. Jenjang (semua jenis dari
genus Grus)
39. Himantopus himantopus Trulek lidi; Lilimo -
40. Ibis cinereus Bluwok; Walangkadak -
41. Ibis leucocephala Bluwok berwarna -
42. Lorius roratus Bayan -
43. Leptoptilos javanicus Marabu; Bangau tongtong -
44. Leucopsar rothschildi Jalak Bali -
45. Limnodromus semipalmatus Blekek Asia -
46. Lophozosterops javanica Burung kacamata
leher abu-abu
-
47. Lophura bulweri Beleang ekor putih -
48. Loriculus catamene Serindit Sangihe -
49. Loriculus exilis Serindit Sulawesi -
50. Lorius domicellus Nori merah kepala hitam -
51. Macrocephalon maleo Burung maleo -
52. Megalaima armillaris Cangcarang -
53. Megalaima corvine Haruku; Ketuk-ketuk -
54. Megalaima javensis Tulung tumpuk; Bultok Jawa -
55. Megapoddidae Maleo; Burung gosong (semua jenis dari famili
Megapododae)
56. Megapodius reintwardtii Burung gosong -
57. Meliphagidae Burung sesap;
Pengisap madu
(semua jenis dari famili
Meliphagidae)
58. Musciscapa ruecki Burung kipas biru -
59. Mycteria cinerea Bangau putih susu; Bluwok -
60. Nectariniidae Burung madu; Jantingan;
Klaces
(semua jenis dari famili
Nectariniidae)-
61. Numenius spp. Gagajahan (semua jenis dari genus
Numenius)
62. Nycticorax caledonicus Kowak merah -
63. Pandionidae Burung alap-alap; Elang (semua jenis dari famili
Pandionidae)
64. Paradiseidae Burung cendrawasih (semua jenis dari famili
Paradiseidae)
65. Tapirus indicus Tapir, Cipan, Tenuk -
66. Pavo muticus Burung merak -
67. Pelecanidae Gangsa laut (semua jenis dari famili
Pelecanidae)
68. Pittidae Burung paok; Burung cacing (semua jenis dari famili
Pittidae)
69. Plegadis falcinellus Ibis hitam; Roko-roko -
70. Polyplectron malacense Merak kerdil -
71. Probosciger aterrimus Kakatua raja; Kakatua hitam -
72. Psaltria exilis Glatik kecil; Glatik gunung -
73. Pseudibis davisoni Ibis hitam punggung putih -
74. Psittrichas fulgidus Kasturi raja; Betet besar -
75. Ptilonorhynchidae Burung namdur;
Burung dewata
-
76. Rhipidura euryura Burung kipas perut putih;
Kipas gunung
-
77. Rhipidura javanica Burung kipas -
78. Rhipidura phoenicura Burung kipas ekor merah -
79. Satchyris grammiceps Burung tepus dada putih -
80. Satchyris melanothorax Burung tepus pipi perak -
81. Sterna zimmermanni Dara laut berjambul -
82. Sternidae Burung dara laut (semua jenis dari famili
Sternidae)
83. Sturnus melanopterus Jalak putih; Kaleng putih -
84. Sula abbotti Gangsa batu aboti -
85. Sula dactylatra Gangsa batu muka biru -
86. Sula leucogaster Gangsa batu -
87. Sula sula Gangsa batu kaki merah -
88. Tanygnathus sumatranus Nuri Sulawesi -
89. Threskiornis aethiopicus Ibis putih; Platuk besi -
90. Trichoglossus ornatus Kasturi Sulawesi -
91. Tringa guttifer Trinil tutul -
92. Trogonidae Kasumba; Suruku;
Burung luntur
-
93. Vanellus macropterus Trulek ekor putih -

3) Jenis-jenis fauna dari famili Reptil (binatang melata)
No. Species Nama Lain Keterangan
1. Batagur baska Tuntong -
2. Caretta caretta Penyu tempayan -
3. Carettochelys insculpta Kura-kura Irian -
4. Chelodina novaeguineae Kura Irian leher panjang -
5. Chelonia mydas Penyu hijau -
6. Chitra indica Labi-labi besar -
7. Chlamydosaurus kingie Soa payung -
8. Chondropython viridis Sanca hijau -
9. Crocodylus novaeguineae Buaya air tawar Irian -
10. Crocodylus porosus Buaya muara -
11. Crocodylus siamensis Buaya siam -
12. Dermochelys coriacea Penyu belimbing -
13. Elseya novaeguineae Kura Irian leher pendek -
14. Eretmochelys imbricate Penyu sisik -
15. Gonychephalus dilophus Bunglon sisir -
16. Hydrasaurus amboinensis Soa-soa; Biawak Ambon;
Biawak pohon
-
17. Lepidochelys olivacea Penyu ridel -
18. Natator depressa Penyu pipih -
19. Orlitia borneensis Kura-kura gading -
20. Ciconia episcopus Sanca bodo -
21. Phyton timorensis Sanca Timor -
22. Tiliqua gigas Kadal Panan -
23. Tomistoma schlegelii Senyulong; Buaya sapit -
24. Varanus borneensis Biawak Kalimantan -
25. Varanus gouldi Biawak coklat -
26. Varanus indicus Biawak Maluku -
27. Varanus komodoensis Biawak komodo; Ora -
28. Varanus nebulosus Biawak abu-abu -
29. Varanus prasinus Biawak hijau -
30. Varanus timorensis Biawak Timor -
31. Varanus togianus Biawak Togian -

4) Jenis-jenis fauna dari famili Insekta ( serangga )
No. Species Nama Lain Keterangan
1. Cethosia myrina Kupu bidadari -
2. Ornithoptera chimaera Kupu sayap burung peri -
3. Ornithoptera goliath Kupu sayap burung goliat -
4. Ornithoptera paradise Kupu sayap burung surga -
5. Ornithoptera priamus Kupu sayap priamus -
6. Ornithoptera rotschldi Kupu burung rotsil -
7. Ornithoptera tithonus Kupu burung titon -
8. Trogonotera brookiana Kupu trogon -
9. Troides amphrysus Kupu raja -

Kupu Kupu Raja
10. Troides andromanche Kupu raja -
11. Troides criton Kupu raja -
12. Troides haliphron Kupu raja -
13. Troides Helena Kupu raja -
14. Troides hypolitus Kupu raja -
15. Troides meoris Kupu raja -
16. Troides Miranda Kupu raja -
17. Troides plato Kupu raja -
18. Troides rhadamantus Kupu raja -
19. Troides riedeli Kupu raja -
20. Troides vandepolli Kupu raja -

5) Jenis-jenis fauna dari famili Pisces ( bangsa Ikan)
No. Species Nama Lain Keterangan
1. Homaloptera gymnogaster Selusur Maninjau -
2. Latimeria chalumnae Ikan raja laut -
3. Notopterus spp Belida Jawa; Lopis Jawa (semua jenis dari genus Notopterus)
4. Pritis spp. Pari Sentani; Hiu Sentani (semua jenis dari genus Pritis)
5. Puntius microps Wader goa -
6. Scleropages formasus Peyang Malaya; Tangkelasa -
7. Scleropages jardini Arowana Irian; Peyang
Irian; Kaloso
-

6) Jenis-jenis fauna dari famili Anthozoa
No. Species Nama Lain Keterangan
1. Anthiphates spp Akar bahar; Koral hitam -

7) Jenis-jenis fauna dari famili Bivalvia
No. Species Nama Lain Keterangan
1. Birgus latro Ketam kelapa -
2. Cassis cornuta Kepala kambing -
3. Charonia tritonis Triton terompet -
4. Hippopus hippopus Kima tapak kuda, Kima kuku beruang -
5. Hippopus porcellanus Kima Cina -
6. Nautilus popillius Nautilus berongga -
7. Tachipleus gigas Ketam tapak kuda -
8. Tridacna crocea Kima kunai; Lubang -
9. Tridacna derasa Kima selatan -
10. Tridacna gigas Kima raksasa -
11. Tridacna maxima Kima kecil -
12. Tridacna squamosa Kima sisik; Kima seruling -
13. Trochus niloticus Troka; Susur bundar -
14. Turbo marmoratus Batu laga; Siput hijau -

Berdasarkan IUCN (2001), jumlah hewan yang tergolong extinct/punah sebanyak 723, Extinct in the wild/punah dialam liar sebanyak 38, Critically endangered/kritis sebanyak 1.742, Endangered/genting atau terancam sebanyak 2.573, vulvnerable/rentan sebanyak 4.467, Near threatened/hampir terancam sebanyak 2.574, Least concern/beresiko rendah sebanyak 17.535 dan yang tergolong data deficient/informasi kurang sebanyak 5.813.

Selanjutnya berdasarkan Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), untuk spesies - spesies tumbuhan dan satwa liar yang terancam punah di muat dalam lampiran (appendix) yang menggolongkan keadaan satwa liar pada tingkatan yang terdiri dari :

a) Appendix I
Memuat daftar dan melindungi seluruh spesies satwa liar yang terancam dari segala bentuk perdagangan internasional secara komersial. Jumlahnya sekitar 800 spesies yang terancam punah bila perdagangan tidak dihentikan. Di Indonesia Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) yang masuk dalam Appendix I CITES adalah 63 jenis satwa yang terdiri dari Mamalia 37 jenis, Aves 15 jenis, Reptil 9 jenis, Pisces 2 jenis, dan 23 jenis tumbuhan

b) Appendix II
Memuat daftar dari spesies yang tidak terancam kepunahan, tetapi mungkin akan terancam punah apabila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan. Jumlahnya sekitar 32.500 spesies. Selain itu, Appendix II juga memuat spesies yang terlihat mirip dan mudah keliru dengan spesies yang didaftar dalam Appendix I.

c) Appendix III
Memuat daftar spesies satwa liar yang telah dilindungi di suatu negara tertentu dalam batas-batas kawasan habitatnya, dan memberikan pilihan (option) bagi negara-negara anggota CITES bila suatu saat akan dipertimbangkan untuk dimasukkan ke Appendix II, bahkan mungkin ke Appendix I. Jumlah yang masuk dalam Appendix III sekitar 300 spesies. Spesies yang dimasukkan ke dalam Appendix III adalah spesies yang tidak terancam punah tetapi dimasukkan ke dalam daftar setelah salah satu negara anggota meminta bantuan para pihak CITES dalam mengatur perdagangan suatu spesies.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 9:48 PM

Diskusi Sebagai Penyajian Laporan Penelitian

Untuk keperluan akademik, laporan penelitian perlu dinilai dan mendapatkan respon dari pihak lain. Oleh karena itu, laporan penelitian harus diseminarkan atau didiskusikan dengan pihak-pihak terkait sebelum dipublikasikan kepada masyarakat luas. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melalui diskusi kelas. Melalui diskusi kelas penulis memaparkan hasil penelitian di hadapan peserta diskusi. Para peserta diskusi diharapkan dapat mengetahui, memahami, mengevaluasi, serta memberikan saran dan kritik kepada penulis.

A. Diskusi Kelas
Diskusi kelas adalah percakapan ilmiah yang dilakukan oleh beberapa orang yang tergabung dalam suatu kelompok yang tiap-tiap anggota kelompok saling tukar pendapat tentang sesuatu masalah atau bersama-sama memecahkan masalah. Laporan penelitian akan bermanfaat kalau dibaca oleh orang lain. Untuk memantapkan isi laporan penelitian, dapat didiskusikan atau diseminarkan terlebih dahulu.

Setiap peserta diskusi menyumbangkan dan menilai pendapat yang diajukan dalam diskusi. Buah pikiran dan keterangan, atau pendapat yang diajukan dinilai bersama secara kritis dalam rangka mencari pemecahan. Jadi, diskusi kelompok merupakan bentuk tukar pikiran dalam musyawarah. Masalah yang didiskusikan harus dirumuskan dengan tepat sehingga terbatas pada satu masalah. Manfaat dari penyajian laporan penelitian melalui diskusi kelas, antara lain:
  1. Memperoleh umpan balik dari peserta,
  2. Mengungkapkan berbagai kemampuan yang dimiliki peserta,
  3. Membantu peserta berpikir teoretis dan praktis lewat topik yang disajikan, dan
  4. Mengembangkan motivasi peserta untuk lebih mendalami dan memecahkan setiap masalah.

Pembicaraan dalam diskusi biasanya berlangsung melalui langkah-langkah sebagai berikut.
  1. Hakikat masalah yang dibicarakan dan sebab apa yang menimbulkan masalah.
  2. Beberapa alternatif cara pemecahan yang dapat digunakan.
  3. Tiap-tiap cara pemecahan harus dipertimbangkan baik buruknya kemudian harus ditetapkan mana cara yang terbaik.

Hal-hal penting dalam diskusi kelompok, antara lain sebagai berikut.
  1. Seorang siswa sebagai pemimpin diskusi atau moderator yang betugas memimpin jalannya diskusi.
  2. Seorang siswa sebagai pemrasaran yang bertugas menyampaikan isi makalah yang dibuat.
  3. Seorang siswa sebagai penyanggah atau pembahas yang bertugas menanggapi dan membahas isi pemrasaran.
  4. Seorang siswa sebagai sekretaris yang bertugas menulis hasil diskusi.
  5. Beberapa siswa (10 - 20 orang) sebagai peserta diskusi yang ikut aktif mengikuti jalannya diskusi.
  6. Semua yang mengikuti diskusi sebaiknya membawa makalah bahan diskusi.
  7. Setelah pemrasaran menyampaikan isi makalah, disusul penyanggah, dan kemudian baru dilanjutkan tanggapan peserta.
  8. Sekretaris menulis hal-hal penting, seperti saran, usulan, dan perubahan isi makalah, kemudian membacakan hasilnya pada akhir diskusi.

Bentuk-Bentuk Diskusi Kelas
Bentuk diskusi bemacam-macam, tergantung tujuan yang ingin dicapai. Bentuk diskusi kelas yang biasa digunakan antara lain the social problem meeting, the opened meeting, dan the educational diagnosis meeting.
  1. The Social Problem Meeting. Pada bentuk diskusi ini para siswa berdiskusi tentang masalah-masalah sosial di kelas atau di lingkungan sekolahnya dengan harapan setiap siswa terpanggil untuk belajar dan bertingkah laku sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Contohnya diskusi mengenai pelanggaran terhadap tata tertib sekolah yang sering dilakukan oleh para siswa.
  2. The Opened Meeting. Bentuk diskusi ini para siswa berdiskusi mengenai masalah apa saja yang berhubungan dengan kehidupan mereka sehari-hari. Misalnya diskusi mengenai hobi, kebiasaan, atau cita-cita.
  3. The Educational-Diagnosis Meeting. Pada diskusi ini para siswa berdiskusi mengenai pelajaran di kelas dengan maksud saling mengoreksi pemahaman mereka atas pelajaran yang diterimanya sehingga masing-masing anggota memperoleh pemahaman yang lebih baik. Misalnya diskusi kelompok untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah atau diskusi kelompok untuk membahas materi pelajaran.

Diskusi dapat berjalan lancar apabila pembicaraan berlangsung ke berbagai arah. Tanya jawab akan berlangsung menurut arus bolak-balik sesuai dengan pembicaraan yang dikemukakan pembicara. Tugas dan tanggung jawab pemimpin diskusi sebagai berikut.
  1. Merundingkan terlebih dahulu dengan peserta hal-hal yang berkaitan diskusi.
  2. Membuka diskusi dengan uraian pendek, tepat, tidak bertele-tele tentang masalah yang akan didiskusikan.
  3. Memimpin diskusi dengan sabar dan menghargai pendapat yang dikemukakan peserta.
  4. Bersifat ramah, jujur, dan tidak berat sebelah.
  5. Menjadi motor penggerak jalannya diskusi.
  6. Membuat rangkuman pembicaraan.
  7. Menutup diskusi dan membacakan rangkuman hasil diskusi.

Tugas dan kewajiban peserta sebagai berikut.
  1. Mempersiapkan diri sebaik-baiknya hal-hal yang berkaitan dengan masalah yang didiskusikan.
  2. Aktif dalam pembicaraan dengan semangat kerja sama.
  3. Peka terhadap teknik yang dapat mendorong diskusi berjalan lancar dan tertib.

B. Diskusi Panel
Diskusi panel adalah bentuk diskusi yang terdiri atas seorang pemimpin diskusi dan beberapa orang peserta atau pemakalah, serta disaksikan beberapa orang pendengar. Dalam diskusi panel, hanya para peserta atau pemakalah yang mendiskusikan masalah yang dijadikan topik pembicaraan. Tempat duduk dalam diskusi panel biasanya disusun sebagai berikut.
Diskusi Panel
Sebelum melangsungkan diskusi, langkah-langkah pembicaraan disusun dahulu antara peserta dan pemimpin diskusi. Pemimpin diskusi mengatur jalannya diskusi sesuai dengan langkah-langkah yang telah disepakati. Petunjuk yang sangat berguna bagi kelancaran diskusi panel sebagai berikut.
  1. Usahakan agar jangan ada pembicaraan seperti orang berpidato.
  2. Peserta diskusi panel dalam berbicara jangan lebih dari lima menit.
  3. Pemimpin dan peserta diskusi panel berbicara di tempat duduknya masingmasing.
  4. Pada waktu berbicara, peserta harus memperhatikan para pendengar apakah suaranya dapat dipahami oleh pendengar.
  5. Pemimpin harus menerangkan secara jelas pada waktu permulaan diskusi apa yang diharapkannya dari pendengar. Misalnya, kapan pendengar dapat mengajukan pertanyaan atau memberikan komentar terhadap masalah yang dibicarakan.
  6. Separo dari waktu yang tersedia untuk diskusi harus digunakan untuk tanya jawab dengan pendengar dan untuk menyampaikan rangkuman diskusi.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 3:24 PM

Penyusunan Laporan Hasil Penelitian

Laporan penelitian merupakan suatu media atau dokumen komunikasi antara peneliti dengan masyarakat umum terutama pembaca yang ditargetkan atau yang berkepentingan dengan penelitian yang telah dilakukan tersebut. Beberapa penulis mengemukan bahwa unsur-unsur dari laporan penelitian adalah: Judul tulisan, Abstrak, Pendahuluan, Bahan dan metode penelitian, Hasil, Pembahasan, Simpulan dan saran, dan Daftar pustaka

Namun secara lebih lengkap, laporan penelitian terdiri dari 3 bagian pokok, yaitu: Bagian pembuka., Bagian inti, dan Bagian penutup. Bagian pembuka sebuah laporan penelitian lebih lengkap harus mengandung komponen-komponen berikut ini: Judul, Halaman judul, Halaman pengesahan, Halaman penerimaan, Kata pengantar, Abstrak, Daftar isi, Daftar tabel, Daftar grafik, bagan, atau skema, dan Daftar singkatan dan lambang.

Pada bagian inti seluruh komponen pendahuluan, kajian pusstaka dan kerangka teori, metodologi penelitian, hasil dan pembahasan, serta simpulan dan saran disajikan secara lengkap. Bagian penutup tidak kalah penting dalam penulisan sebuah laporan penelitian lengkap adalah bagian penutup. Bagian penutup pada umumnya, terdiri dari: Daftar pustaka, Lapmpiran-lampiran, dan Daftar indeks atau glosarium.

Setelah garis besar laporan terbentuk, selanjutnya tinggal menyusun laporan penelitian. Bahan-bahan laporan penelitian adalah data-data dan keterangan-keterangan yang disusun dalam catatan-catatan tentang apa yang dipikirkan sebelum mengadakan penelitian, catatan-catatan yang dibuat selama penelitian hingga catatan-catatan setelah penelitian itu berlangsung.
Laporan Hasil Penelitian
Pada saat peneliti mempersiapkan rancangan penelitiannya, ia menyusun bagian masalah penelitian seperti latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat, tinjauan kepustakaan, dan batasan konsep. Peneliti pun menyusun objek dan subjek penelitian, teknik pengumpulan data, instrumen, dan teknik pengolahan dan analisis data.

Tahap berikutnya adalah penulisan hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian. Perlu dikemukakan adanya perbedaan antara penyusunan laporan penelitian kualitatif dan kuantitatif. Pada penelitian kualitatif laporan dapat disusun secara simultan dan interaktif di dalam kesatuan siklus
penelitian yang dilakukan. Pada penelitian kuantitatif, di mana bagian laporan mengenai hasil penelitian beserta kesimpulan atas hasil penelitian, baru dapat disusun setelah tahap pengolahan dan analisis data selesai, sebab yang dilaporkan adalah hasil pengolahan dan analisis data itu sendiri.

Aturan Penulisan
Sebagai pegangan dalam penulisan laporan, agar pembaca lebih mudah untuk mendalami dan menerima hasil penelitian, berikut ini disampaikan beberapa pokok penting.
  1. Penulis sebaiknya menghindari penggunaan kata-kata serupa secara berulang-ulang.
  2. Arah dan tujuan penulisan harus sesuai dengan maksud penelitian.
  3. Ada pemisahan antara teori dengan hasil penelitian lapangan.
  4. Penulis sebaiknya menghindari penggunaan bahasa klise yang kurang bermakna.
  5. Penulis menggunakan bahasa yang sederhana dan tata bahasa yang baku.
  6. Penulis sebaiknya tidak berbelit-belit.

Penyusunan laporan penelitian harus mencerminkan nilai-nilai ilmiah. Berikut ini diuraikan aturan-aturan penulisan ilmiah sebagai pegangan bagi peneliti.
  1. Penulis laporan harus mengetahui kepada siapa laporan itu ditujukan. Pembaca laporan dapat dikelompokkan antara lain: kalangan cendekiawan, masyarakat umum, pelajar, dan kalangan pembaca yang lain. Kalangan-kalangan ini menjadi konsumen hasil penelitian.
  2. Laporan penelitan bagi kalangan cendekiawan atau akademisi harus lebih ilmiah, mendalam, dan tata penulisannya sesuai dengan aturan yang berlaku di perguruan tinggi yang bersangkutan serta dilengkapi dengan diagram maupun bentuk statistik yang menunjang.
  3. Bila penelitian itu dipesan lembaga sponsor, tentu konsumennya telah ditentukan oleh sponsor yang bersangkutan. Bagi kalangan umum, laporan dapat diuraikan secara ringkas dan dalam bahasa yang mudah di mengerti.
  4. Penulis laporan harus menyadari bahwa pembaca laporan tidak mengikuti kegiatan proses penelitian. Dengan demikian penulis harus dapat mengajak orang lain untuk mencoba mengikuti apa yang telah ia lakukan. Oleh karena itu, langkah demi langkah harus dikemukakan secara jelas termasuk alasan-alasan mengapa hal itu dilakukan.
  5. Penulis laporan harus menyadari bahwa tingkat pengetahuan, pengalaman, dan minat pembaca tidak sama. Oleh karena itu, hasil penelitian harus dikemukakan dengan jelas sesuai konteks pengetahuan secara umum.
  6. Penulis harus menyusun laporan penelitian dengan jelas dan meyakinkan karena laporan penelitian adalah unsur pokok dalam proses kemajuan ilmu pengetahuan.

Dalam menyusun hasil penelitian harus mempersoalkan hal-hal sebagai berikut.
  1. Merumuskan suatu masalah secara tepat dalam penelitian. Merumuskan suatu masalah teoretis dengan sendirinya juga memberi perspektif pada pengetahuan teoretis yang telah ada. Usaha peneliti untuk memperluas pengetahuan teoretis sesuai dengan tuntutan ilmiah, yaitu menambah pengetahuan secara kumulatif.
  2. Suatu rumusan yang menjelaskan kepada para pembaca bagi siapa hasil penelitian berlaku. Hal ini akan memberi pembatasan kedua (di samping pengoperasionalan masalah) pada simpulan yang ditarik.
  3. Suatu uraian yang luas mengenai metode dan teknik yang dipakai. Dalam penelitian, uraian mengenai metode dan teknik sangat diperlukan sebab keduanya mempengaruhi simpulan yang telah ditarik.
  4. Data yang telah dikumpulkan dan mempunyai relevansi terhadap masalah yang telah diteliti harus dipersoalkan dalam laporan ilmiah
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 2:27 PM

Susunan Laporan Penelitian Sosial

Di dalam pembuatan laporan penelitian sistematika laporan penulisan ilmiah beraneka ragam, namun secara garis besar laporan penelitian sosiologi meliputi tiga bagian, yaitu pembukaan, isi, dan penutup. Penyebab kanekaragaman format diantaranya laporan adalah penekanan materi yang dilaporkan. urutan penyajian, pandangan tentang perlu didukung suatu bagian dicantumkan atau tidak, dan keanekaragaman buku petunjuk penulisan ilmiah.

1. Bagian Pembukaan
Tahap akhir dari suatu kegiatan penelitian adalah menulis atau menyusun laporan penelitian. Peneliti dituntut untuk menguasai kemampuan menyusun laporan. Penulisan laporan penelitian merupakan bagian yang sangat penting, karena melalui laporan tersebut. Bagian pertama sebuah laporan adalah pembukaan. Bagian pembukaan meliputi sebagai berikut.

a. Judul Penelitian
Judul penelitian merupakan cerminan dari topik penelitian yang dirumuskan dalam bentuk kalimat secara singkat, padat, komunikatif, jelas, dan dapat ditangkap dalam pandangan sekilas. Judul harus objektif dan sesuai dengan masalah yang diteliti. Penentuan judul sebenarnya sudah dirumuskan pada waktu menyusun rancangan penelitian. Beberapa aturan tentang penulisan judul antara lain sebagai berikut.
  1. Judul penelitian harus memuat kalimat atau kata yang jelas maksnanya dan spesifik.
  2. Judul merupakan kata kunci dari konsep penelitian yang akan dilakukan dan dalam judul harus memuat variabel yang akan diteliti.
  3. Judul penelitian digunakan sebagai pegangan peneliti untuk menetapkan variabel yang akan diteliti, teori yang digunakan, instrument penelitian yang dikembangkan, teknik analisis data, serta kesimpulan.

b. Kata Pengantar
Kata pengantar adalah tulisan ungkapan sepatah dua patah kata oleh penulis mengenai laporan penelitian yang dia buat. Kata pengantar berisi keterangan dari penulis mengenai tulisannya. Isi dari keterangan kata pengantar biasanya pendek dan tidak lebih dari satu halaman menjelaskan mengapa sasaran penelitian dipilih oleh peneliti.

Pada bagian kata pengantar ini dapat dimuat ucapan terima kasih kepada setiap pihak yang memberi bantuan sejak perencanaan, pelaksanaan hingga pelaporan penelitian. Pada akhir kata pengantar dibubuhkan keterangan tanggal, bulan, dan tahun penulisan, nama lengkap peneliti atau penulis.
Struktur Laporan Penelitian
c. Daftar Isi
Daftar isi menunjukkan bagian-bagian dari laporan dan hubungan antara satu bagian dan bagian yang lain. Daftar isi sangat penting bagi pembaca sebab dapat membantu untuk melihat secara analitis isi laporansecara keseluruhan. Melalui daftar isi, pembaca dapat dengan mudah menemukan bagian-bagian mana yang ia anggap penting tanpa harus membaca seluruh laporan penelitian.

d. Daftar Tabel (kalau ada)
Daftar tabel memuat judul-judul setiap tabel yang ada dalam laporan penelitian. Daftar tabel disusun berurutan sesuai nomor setiap tabel. Halaman yang menggunakan tabel halaman lebih luas, kertas dapat dilipat.

e. Daftar Gambar/Diagram/Ilustrasi/Peta
Daftar ini juga memuat keterangan atau judul gambar/ilustrasi/ diagram/peta yang ada dalam laporan penelitian.

2. Bagian Isi Laporan
Perlu kita ketahui bahwa ada perbedaan antara penyusunan laporan penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Perbedaan-perbedaan itu terletak pada bagian isi. Bagian isi meliputi sebagai berikut.

a. Bab Pendahuluan
Bagian pendahuluan memberi gambaran kepada pembaca mengenai keterangan seperti latar belakang masalah, rumusan masalah penelitian, tujuan dan manfaat penelitian, hipotesis (kalau ada), asumsi (kalau ada), batasan konsep, dan hambatan yang didapat selama penelitian.

Keterangan tersebut umumnya telah dipersiapkan peneliti sebelum penelitian pada saat menyusun rancangan penelitian. Pada bagian pendahuluan, peneliti tinggal memindahkan hal yang perlu dari rancangan penelitian, setelah dilengkapi dan disempurnakan.

b. Bab Tinjauan Kepustakaan
Tinjauan kepustakaan memberi gambaran mengenai hal yang telah dirintis oleh peneliti lain seperti konsep, teori, data, penemuan yang berhubungan dengan masalah penelitian yang sedang dikerjakan.
Keseluruhan hal tersebut dirangkum dan dihubungkan dengan apa yang sedang diteliti sehingga masalah yang diteliti menjadi lebih jelas. Sumber-sumber kepustakaan antara lain buku-buku teks, laporan-laporan penelitian, buletin, jurnal, dan lain-lainnya.

c. Bab Metodologi Penelitian
Bagian ini menerangkan mengenai subjek, objek, dan ruang lingkup penelitian, teknik sampling, teknik pengumpulan data, instrumen atau alat pengumpul data, jenis atau model penelitian, metode pengolahan, dan analisis data.

Metodologi penelitian biasanya sudah disajikan dalam rancangan penelitian. Selanjutnya peneliti tinggal melengkapi dan menyempurnakannya pada saat menyusun bab ini sehingga apa yang menjadi subjek dan objek penelitian serta alasan pemilihannya semakin jelas.

d. Bab Hasil Penelitian
Pada bagian ini disajikan deskripsi umum tentang subjek atau objek penelitian, sajian data dan/atau uji statistik untuk masing-masing data. Bila penelitian berbentuk deskripsi maka sajiannya berupa uraian data tanpa menguji hipotesis. Bila penelitian berbentuk eksplanasi maka sajiannya berupa data yang menguji hipotesis. Jika diterapkan pendekatan kualitatis maka sajian datanya tidak berupa uji statistik, akan tetapi berupa uraian data sederhana dalam bentuk kalimat-kalimat.

Bila pendekatannya bersifat kuantitatif, sajian datanya berupa uji statistik yang diwujudkan lewat angka-angka yang dimuat di dalam tabel-tabel.

e. Bab Pembahasan Hasil Penelitian
Dalam pembahasan ini seluruh hasil penelitian, tinjauan kepustakaan/ hasil penelitian lain, metodologi yang digunakan, dibandingkan satu dengan yang lain, dan dilacak keterkaitan antara satu dan yang lain serta dievaluasi keterkaitannya.

Bagian pembahasan hasil penelitian harus diuraikan secara lengkap dan menarik karena bagian inilah yang ditunggu dan ingin diketahui oleh pembaca.

f. Bab Kesimpulan dan Saran
Pada bagian ini diuraikan apa yang menjadi kesimpulan hasil penelitian dan apa yang dapat disarankan sesuai dengan hasi penelitian itu. Selain memuat hal-hal yang bersifat praktis, hal-hal yang disarankan sebaiknya juga meliputi masalah-masalah baru yang perlu diteliti selanjutnya.

3. Bagian Penutup
Bagian penutup merupakan bagian akhir dari sebuah laporan penelitian. Pada bagian ini disajikan daftar pustaka, lampiran-lampiran, dan indeks. Berikut penjelasan mengenai bagian-bagian penutup laporan penelitian.

a. Daftar Pustaka
Daftar pustaka disusun keterangan mengenai buku-buku atau laporan-laporan yang digunakan dalam penelitian. Daftar pustaka merupakan bagian tersendiri di luar materi isi, tetapi sangat penting dalam menunjang penelitian lapangan dan penyusunan laporan.

Daftar pustaka dibuat untuk memberi informasi mengenai bahanbahan bacaan yang digunakan. Hal-hal yang perlu dikemukakan dalam daftar pustaka ini, antara lain: nama penulis, tahun penerbitan, judul buku, tempat penerbit, dan nama penerbit. Kalau sumber yang digunakan berupa jurnal atau laporan penelitian, susunannya adalah nama penulis, tahun penulisan, judul tulisan, nama jurnal, jilid (nomor), dan halaman.

b. Lampiran-lampiran
Lampiran memuat hal-hal yang dirasakan perlu untuk diikutsertakan dalam laporan hasil penelitian seperti surat-surat izin, tabel-tabel, dan grafik-grafik, format instrumen, dan unsur lain yang dirasa perlu untuk menunjang hasil penelitian yang disampaikan.

c. Indeks
Indeks disusun peristilahan yang digunakan dalam laporan penelitian. Penyusunan dilakukan menurut urutan abjad. Selain indeks, kadangkadang juga disusun istilah-istilah dan pengertiannya agar pembaca mudah memahami istilah yang dipakai.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae.com Updated at: 7:54 PM

Pengolahan Data Hasil Penelitian

Data adalah kumpulan nilai dari suatu obyek. Data mentah diambil dari sampel atau populasi. Jenis data menurut cara memperolehnya dibagi menjadi data primer dan data sekunder. Data primer adalah secara langsung diambil dari objek / obyek penelitian Data sekunder adalah data yang didapat tidak secara langsung dari objek penelitian. Peneliti mendapatkan data yang sudah jadi yang dikumpulkan oleh pihak lain dengan berbagai cara atau metode.

A. Pengelompokan Data yang Telah Terkumpul
Data yang telah terkumpul segera dikelompokkan untuk dapat mempermudah pengolahan data. Perlu dibedakan data kualitatif, data kuantitatif, data pribadi, data primer, data sekunder, data tertulis, data lisan, dan data relevan.

1. Pengelompokan Data Dengan Statistik
Statistik adalah kumpulan dari cara dan aturan mengenai pengumpulan, pengolahan, penafsiran, dan penarikan simpulan dari data yang berupa angka. Statistik dibedakan dua macam, yaitu statistik deskriptif dan statistik induktif
  1. Statistik Deskriptif. Statistik deskriptif ialah statistik yang membicarakan tentang penyusunan data dalam daftar dan pembuatan grafik yang tidak menyangkut penarikan simpulan. Pengolahan yang bersifat analisis dan interpretasi data termasuk dalam statistik deskriptif selama tidak menyangkut penarikan simpulan yang berlaku umum atau pembuatan generalisasi.
  2. Statistik Induktif. Statistik induktif ialah bagian statistik mengenai semua aturan dan cara yang dapat dipakai sebagai alat dalam mencoba menarik simpulan yang berlaku umum dari data yang tersusun dan diolah sebelumnya. Dalam statistik induktif, peneliti mencari keterangan yang berlaku umum, yaitu membuat generalisasi dari data yang sedang dihadapi dan sengaja dikumpulkan untuk tujuan itu.
2. Guna dan Ciri Statistik
Dalam surat kabar atau majalah sering dijumpai angka statistik. Angka statistik berguna untuk bahan keterangan bagi orang atau badan yang memerlukannya. Contoh :
  1. Kepolisian mencatat angka kejahatan dan pelanggaran lalu lintas agar usaha untuk menguranginya dapat direncanakan dan dilaksanakan lebih efektif dan lancar.
  2. Pemerintah pusat dan daerah memerlukan data penduduk daerah dan penduduk nasional dengan tujuan untuk memudahkan pembuatan rencana perekonomian dan pembangunan. Sebagian dari data itu dipakai untuk menilai hasil yang dicapai dengan memakai rencana masa lampau dan sebagian diperlukan untuk membuat rencana untuk masa yang akan datang.
  3. Departemen Pendidikan Nasional haruslah dapat menaksir jumlah penduduk Indonesia di tahun yang akan datang atau memperkirakan jumlah anak yang harus memasuki sekolah pada tahun itu, membuat rencana yang lebih sempurna mengenai jumlah ruangan sekolah yang harus dibangun, dan berapa banyak tambahan tenaga guru yang diperlukan.

Ciri-ciri statistik ada tiga macam, yaitu:
1) bekerja dan mengolah data yang bersifat umum,
2) bekerja dengan menggunakan angka, dan
3) bekerja secara objektif.

B. Mengenali Kecenderungan Umum Data Dengan Bantuan Statistik Sederhana
a. Distribusi Frekuensi
Dalam penelitian yang menggunakan sampel random, peneliti telah mengumpulkan data umur akspetor KB di daerah A sebagai berikut. 35, 32, 17, 30, 37, 20, 24, 43, 30, 21, 45, 25, 37, 23, 35, 35, 30, 21, 35, 23, 24, 30, 20, 30, 25, 24, 24, 40, 35, 37, 37, 40, 35, 40

Dari nilai tersebut disusun secara teratur mulai dari umur termuda sampai tertua. Setelah diurutkan, diketahui jumlah akseptor untuk umur itu. Kumpulan pasangan nilai dengan frekuensinya disebut distribusi frekuensi, di mana X menyatakan umur yang dicapai dan f(X) menyatakan frekuensi pada umur itu.

Panjang interval yang memperlihatkan batas bawah dan batas atas nilai pengamatan disebut range. Nilai dalam pengamatan sampel tidak ditemukan di luar batas-batas ini. Besarnya range adalah selisih antara nilai terbesar dengan nilai yang terkecil. Dari data akseptor KB daerah A tersebut, range dari sampel dimulai dari nilai 17 dan berakhir pada nilai 45. Jadi, besarnya range = 45 - 17 = 28. Untuk lebih jelasnya lihat tabel berikut.
Umur x Turus Frekuensi
17 I 1
20 II 2
21 II 2
23 II 2
24 IIII 4
25 II 2
30 IIII 5
32 I 1
35 IIII I 6
37 IIII 4
40 III 3
43 I 1
45 I 1
Jumlah - 34
Dari data tersebut dapat dikelompokkan dengan interval 15 - 19, 20 - 24, 25 - 29, 30 - 34, 35 - 39, 40 - 44, 45 - 49 sehingga distribusi frekuensinya terlihat seperti tabel berikut.

Tabel 2.
Distribusi Frekuensi Dari Sampel Akseptor KB Daerah A
Umur x f (Kelas Umur)
15-19 1
20-24 10
25-29 2
30-34 6
35-39 10
40-44 4
45-49 1
Jumlah 34
Cara perhitungan, titik tengah interval golongan tersebut dipakai sebagai nilai X dari golongan. Pada tabel di atas, titik tengah golongan adalah 17,5; 22,5; 27,5; 32,5; 37,5; 42,5; dan 47,5 dengan frekuensi masing-masing 1, 10, 2, 6, 10, 4, dan 1. Frekuensi tersebut untuk mempermudah perhitungan dan dianggap terjadi pada titik tengah tiap-tiap golongan. Kalau dibuat diagram dapat memudahkan dalam melihat perbandingan frekuensi dari berbagai kelas atau kategori.

Histogram merupakan gambaran diagram berbentuk balok atau petak. Lebar balok menunjukkan panjang interval kelas, kelompok atau satuan, sedangkan luas balok menunjukkan frekuensi kelompok. Dengan bentuk itu mudah dibandingkan frekuensi dari kelompok yang satu dan kelompok yang lain. Jika titik tengah dari garis atas balok dihubungkan antara yang satu dengan lainnya, diagram yang didapat merupakan suatu poligon. Contoh penyajian diagram histogram dan poligon distribusi frekuensi dari Tabel 2.
diagram batang
Contoh penyajian diagram lingkaran dengan persen dari Tabel 2. Suatu lingkaran dibagi menjadi bagian-bagian dan luas setiap bagian adalah frekuensi relatif kelas yang dinyatakan dalam persen.
15 - 19 = 2,9%
20 - 24 = 29,4%
25 - 29 = 5,9%
30 - 34 = 17,6%
35 - 39 = 29,4%
40 - 44 = 11,8%
45 - 49 = 2,9%
diagram lingkaran
b. Ukuran Tendensi Sentral
Ukuran tendensi sentral merupakan indeks rata-rata dari distribusi nilai. Ada tiga macam ukuran tendensi sentral yang sering digunakan, yaitu modus (mode), median, dan mean (nilai rata-rata hitung).

Tabel 3.
Wanita yang Pernah Kawin dan Mengikuti KB
Menurut Anak yang Dilahirkan di Daerah A
Jumlah Anak
(Xi)
Jumlah Wanita
f(Xi)
Jumlah Kumulatif
Wanita F(Xi)
0 78 78
1 465 543
2 630 1.173
3 583 1.756
4 453 2.209
5 348 2.257
6 262 2.819
7 158 2.977
8 88 3.065
9+ 69 3.134
Jumlah 3.134 -
1) Modus Atau Mode (Mo)
Modus adalah nilai yang paling besar frekuensinya. Pada Tabel 3, Mo sama dengan 2. Artinya, dari wanita yang pernah kawin dan pernah menggunakan cara kontrasepsi, frekuensi yang terbesar (630) adalah untuk yang pernah melahirkan 2 anak.

Distribusi frekuensi dalam statistik mempunyai lebih dari satu mode. Misalnya, jika dua nilai dari X mempunyai frekuensi yang sama dan frekuensi ini adalah yang terbanyak maka dikatakan bahwa distribusi frekuensinya adalah bimodal. Frekuensi yang semua nilainya sama maka semua nilai adalah mode. Distribusi frekuensi semacam ini disebut uniform.

Dari Tabel 2 juga bimodal, kedua mode adalah 22,5 dan 37,5 (titik-titik tengah dari kelompok umur 20 - 24 dan 35 - 39.

2) Median (Md)
Median adalah nilai yang merupakan pertengahan dari distribusi frekuensi. Artinya, 50% dari frekuensi terjadi pada nilai kurang atau sama dengan Md dan 50% lagi terjadi pada nilai lebih besar atau sama dengan Md. Pada Tabel 3, Md = 3, ini dapat dilihat pada kolom ketiga yang memperlihatkan frekuensi kumulatif. Karena 50% dari sejumlah sampel 3134 ternyata sebanyak 1756 wanita telah melahirkan anak hidup kurang atau sama dengan 3 orang.

Median untuk data Tabel 2 adalah 32,5 (titik tengah kelompok umur 30 - 34). Karena 50% dari sampel adalah 17, sedangkan 19 akseptor berumur kurang dari atau sama dengan 32,5 tahun dan 21 akseptor berumur lebih dari atau sama dengan 32,5 tahun. Kalau besarnya sampel (n) ganjil maka:

3) Nilai Rata-rata Atau Mean
Nilai rata-rata (mean) adalah jumlah semua nilai yang terjadi dalam distribusi dibagi atas jumlah pengamatan. Sebelum dihitung, nilai rata-rata data pada Tabel 3, kita perhatikan dulu nilai anak yang dilahirkan hidup. Untuk mempermudah perhitungan pada Tabel 3, kita temukan bahwa 9+ adalah 9. Penentuan ini tergantung kepada kebijaksanaan peneliti
rata-rata
C. Menggambarkan Hubungan Antara Berbagai Data
Dalam penyelidikan, banyak terjadi hubungan atau kaitan antara berbagai data di lapangan. Contoh:
  1. Daerah Kota yang Memiliki Banyak Industri dan Kota yang Tidak Memiliki Industri. Daerah kota yang memiliki banyak industri, angka urbanisasi lebih tinggi. Daerah kota yang tidak memiliki industri, angka urbanisasi lebih kecil.
  2. Daerah yang Subur dan Tandus. Daerah yang subur, jumlah penduduk cukup banyak, kepadatan lebih tinggi, dan penghasilan penduduk lebih tinggi dibanding daerah yang tandus. Daerah yang tandus, jumlah penduduk relatif sedikit, kepadatan penduduk rendah dan penghasilan penduduk lebih rendah dibanding daerah yang subur.
  3. Daerah yang Curah Hujannya Tinggi dan Curah Hujannya Rendah Daerah yang curah hujannya tinggi, produksi pertanian beraneka ragam dan lebih banyak. Daerah yang kering (curah hujan rendah) produksi pertanian homogen dan lebih sedikit.
Di dalam penelitian kadang kala menemui data yang tidak mungkin dinyatakan di dalam bentuk angka atau bentuk jumlah. Data seperti ini disebut data kualitatif, misalnya tua, muda, senang, gemar,
baik, sedang, golongan pendapatan tinggi, golongan pendapatan menengah, golongan pendapatan rendah. Sebagai pasangannya, dinamakan data kuantitatif, yaitu segala data yang dapat dinyatakan dengan angka, apabila hendak diselidiki hubungan antara data kualitatif, dapat dipergunakan analisis korelasi. Akan tetapi, dengan data kualitatif analisis tidak dapat dipergunakan.
    Posted by Nanang_Ajim
    Mikirbae.com Updated at: 10:20 AM

    Teknik Teknik Pengumpulan Data

    Teknik pengumpulan data merupakan teknik atau cara yang dilakukan untuk mengumpulkan data. Dalam penelitian, teknik pengumpulan data merupakan faktor penting demi keberhasilan penelitian. Hal ini berkaitan dengan bagaimana cara mengumpulkan data, siapa sumbernya, dan apa alat yang digunakan. Teknik pengumpulan data dengan cara analisis isi media massa, observasi langsung, observasi tidak langsung, wawancara langsung, studi dokumentasi, dan teknik pengukuran.

    A. Analisis Isi Media Massa
    Teknik analisis isi media massa adalah pengumpulan data dengan menganalisis isi media massa. Dalam media massa tersebut termuat uraian dan data mengenai kemasyarakatan, perkembangan bank, dan perkembangan perekonomian.

    Media massa tersebut, antara lain: radio, televisi, majalah, dan buletin. Akan tetapi, tidak semua berita yang ada di media massa dapat dijadikan data penelitian. Berita-berita tersebut harus dipilih dan dianalisis sesuai dengan kebutuhan penelitian.

    B. Observasi Atau Pengamatan Langsung
    Observasi biasa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian.Tujuan utama metode observasi adalah mendeskripsikan perilaku. Para peneliti berusaha mendeskripsikan perilaku selengkap dan seakurat mungkin. Teknik observasi dibedakan menjadi observasi langsung dan tidak langsung.

    Teknik observasi langsung atau pengamatan langsung adalah pengumpulan data melalui pengamatan dan pencatatan gejala pada objek yang dilakukan secara langsung di tempat kejadian. Obrservasi tidak hanya mengukur sikap dari responden (wawancara dan angket) namun juga dapat digunakan untuk merekam berbagai fenomena yang terjadi (situasi, kondisi). Syarat dalam menggunakan metode observasi sebagai berikut.
    1. Metode observasi dapat dilakukan secara bebas atau menggunakan daftar isian yang telah disiapkan dan dapat menggunakan rekaman suara atau rekaman gambar.
    2. Semakin banyak objek yang diamati, semakin sulit pengamatannya dan hasilnya pun juga rumit.
    3. Observasi perlu dilakukan secara cermat, jujur, dan objektif dengan data yang relevan.
    4. Sistem dan prosedur yang dilakukan berdasar panduan yang sudah disiapkan.
    5. Observer harus paham apa yang akan dicatat dari cara membuat catatan data yang telah dikumpulkan.

    Pencatatan hasil observasi dilakukan dengan mengisi formulir yang
    telah disediakan. Tujuan memakai formulir pencatatan adalah:
    • Memudahkan dalam merekam kejadian, proses, dan gejala sosial;
    • Mencatat segala kejadian dan proses sosial di lapangan;
    • Membantu menguatkan data lain yang terkumpul;
    • Menjaga agar hasil pengamatan mudah diketahui pihak lain; dan
    • Dapat diformulasikan kembali sehingga dapat menggambarkan suatu keadaan.

    C. Observasi Atau Pengamatan Tidak Langsung
    Teknik observasi atau pengamatan tidak langsung adalah pengumpulan data melalui pengamatan dan pencatatan gejala pada objek penelitian yang pelaksanaannya tidak secara langsung pada objeknya, misalnya mengamati aktivitas matahari karena adanya ledakan nuklir. Peristiwa ledakan nuklir dapat diamati melalui film, rangkaian slide atau rangkaian foto.

    D. Wawancara Langsung
    Wawancara adalah suatu percakapan langsung dengan tujuan-tujuan tertentu dengan menggunakan format tanya jawab yang terencana. Teknik wawancara langsung adalah cara pengumpulan data dengan mengadakan kontak langsung (tatap muka) dengan sumber data, misalnya mendengarkan ceramah langsung atau tanya jawab. Peranan pewawancara, yaitu bertanya dan mencatat hasil wawancara. Dalam melaksanakan pencatatan peneliti bisa memilih satu atau kombinasi dari cara-cara sebagai berikut.
    • Pencatatan menggunakan alat bantu misalnya tape recorder.
    • Pencatatan dilakukan secara langsung pada waktu wawancara berjalan.
    • Pencatatan dilakukan setelah berlangsungnya wawancara.

    E. Studi Dokumenter (Bibliografi)
    Teknik studi dokumenter merupakan salah satu jenis metode yang sering digunakan dalam metodologi penelitian sosial yang berkaitan dengan teknik pengumpulan datanya. Terutama sekali metode ini banyak digunakan dalam lingkup kajian sejarah. Teknik studi dokumenter (bibliografi) adalah pengumpulan data dengan menggunakan sumber dokumen tertulis yang berhubungan dengan masalah penelitian, misalnya dari sumber dokumen, buku, koran, dan majalah.
    Studi Dokumenter
    Saat ini studi dokumenter banyak digunakan oleh lapangan ilmu sosial lainnya dalam metodologi penelitiannya, karena sebagian besar fakta dan data sosial banyak tersimpan dalam bahan-bahan yang berbentuk dokumenter. Oleh karenanya ilmu-ilmu sosial saat ini serius menjadikan studi dokumen dalam teknik pengumpulan datanya.

    F. Teknik Pengukuran
    Teknik pengukuran adalah cara pengumpulan data dengan jalan melakukan pengukuran tertentu. Mialnya, dalam meneliti kesehatan balita, si peneliti harus melakukan pengukuran terhadap berat badan, tinggi badan, dan jumlah makanan yang diberikan.

    Walaupun metode ilmiah pada dasarnya sama, tetapi tekniknya berbeda sebab teknik merupakan cara istimewa dalam menerapkan metode ilmiah pada masalah yang khusus. Oleh karena itu, setiap disiplin ilmu harus menerapkan suatu teknik yang cocok atau sesuai dengan kerangka materi yang dipelajari. Hal-hal yang termasuk teknik penelitian sosiologi sebagai berikut.
    1. Cross-Sectional Studies. Dalam studi ini, observasi dibatasi hanya pada penyelidikan tunggal pada saat tertentu. Misalnya, studi tentang 100 petani di salah satu desa untuk menentukan bagaimana reaksi mereka terhadap introduksi suatu varitas jagung yang lebih baik dalam waktu tertentu.
    2. Ex Post Facto Studies. Studi ini mempelajari faktor awal (masa lalu) yang dianggap sebagai penyebab situasi sekarang. Misalnya, studi tentang faktor utama pada masa lalu yang dianggap mempengaruhi perbedaan sikap masyarakat tentang keluarga berencana.
    3. Longitudinal Studies. Dalam studi ini, observasi berusaha mengungkapkan akibat dari program tiga tahun desa tertentu berkaitan dengan introduksi bibit yang lebih baik. Studi seperti ini melewati satu periode waktu jangka panjang, termasuk sebelum atau sesudah observasi, dan mengindikasikan kecenderungan yang mungkin terjadi.
    Posted by Nanang_Ajim
    Mikirbae.com Updated at: 1:22 PM