Home » » Struktur, Ciri dan Unsur Ekstrinsik Teks Cerita Pendek

Struktur, Ciri dan Unsur Ekstrinsik Teks Cerita Pendek

Teks adalah satuan bahasa yang utuh baik berbentuk tertulis atau lisan dengan tata organisasi tertentu untuk mengungkapkan tujuan/ makna dalam konteks tertentu. Teks dapat muncul dalam bentuk lisan maupun tulisan yang tidak terlepas dari sistem bahasa pada konteksnya.

Sedangkan struktur teks adalah bagian-bagian sebuah teks yang mencirikan suatu teks. Bagian-bagian itu menjabarkan ciri bagain awal, inti, dan penutup teks dalam fungsi komunikasi tertentu

Cerita pendek (cerpen) adalah bentuk prosa baru yang menceritakan sebagian kecil dari kehidupan pelakunya yang terpenting dan paling menarik. Di dalam cerpen boleh ada konflik atau pertikaian, tetapi hal itu tidak menyebabkan perubahan nasib tokohnya.

Cerpen berasal dari dua kata yaitu cerita yang mengandung arti tuturan mengenai bagaimana sesuatu hal terjadi dan relatif pendek berarti kisah yang diceritakan pendek atau tidak lebih dari 10.000 kata yang memberikan sebuah kesan dominan serta memusatkan hanya pada satu tokoh saja dalam cerita pendek tersebut.

A. Ciri-ciri Teks Cerpen
Cerita pendek atau cerpen identik dengan suatu teks atau bacaan dibaca sekali duduk, serta tidak melebihi dari 10.000 (sepuluh ribu) kata. Cerita Pendek ini suatu karangan pendek yang berbentuk prosa. Cerpen ini dibuat guna untuk menceritakan sepenggal kehidupan, kisah tokoh yang penuh dengan berbagai peristiwa. Secara umum ciri-ciri teks cerpen adalah sebagai berikut.
  1. Cerita yang ditulis pendek dengan jumlah kata kurang dari 10.000 kata atau lebih pendek daripada novel sehingga waktu yang dibutuhkan untuk membaca tidak lama. Artinya, habis dibaca dalam sekali duduk.
  2. Ide cerpen dapat bersumber dari pengalaman diri sendiri atau pengalaman orang lain.
  3. Cerita tidak melukiskan seluruh kehidupan tokoh karena yang diangkat dalam kisah adalah yang permasalahannya sangat berkesan dan berarti bagi pelakunya.
  4. Menceritakan suatu kejadian dari terjadinya perkembangan jiwa dan krisis, tetapi tidak sampai menimbulkan perubahan nasib tokoh.
  5. Memiliki alur tunggal, maju, atau lurus.
  6. Penokohannya sangat sederhana, singkat, dan tidak mendalam.
  7. Meninggalkan kesan yang mendalam bagi pembaca.

B. Struktur Teks Cerpen
Setelah mengetahui tentang pengertian dan ciri-ciri teks cerpen, selanjutnya dibahas seperti apakah struktur teks cerpen yang benar tersebut. Dengan mengetahui struktur teks cerpen diharapkan pemahaman mengenai teks cerpen akan lebih mudah dilakukan. Seperti yang saya baca dari berbagai sumber struktur teks cerita pendek haruslah dibuat secara runtut, yakni abstrak, orientasi, komplikasi, evaluasi, resolusi, dan koda.
  1. Abstrak adalah tahap yang berisi ringkasan atau inti cerita. Bagian ini bersifat opsional (pilihan), artinya boleh ada atau tidak ada dalam cerpen.
  2. Orientasi adalah tahap pengenalan latar cerita berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa. Latar digunakan pengarang untuk menghidupkan cerita dan meyakinkan pembaca. Latar merupakan sarana pengekspresian watak, baik secara fisik maupun psikis.
  3. Komplikasi adalah tahap yang berisi urutan peristiwa dan setiap peristiwa hanya dihubungkan secara sebab akibat. Peristiwa yang satu menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain. Dalam tahapan ini, terdapat karakter pelaku yang diekspresikan dengan ucapan atau tindakan tokoh serta kemunculan berbagai kerumitan cerita.
  4. Evaluasi adalah tahap konflik yang terjadi diarahkan pada pemecahan sehingga dicapai penyelesaian atau leraian.
  5. Resolusi adalah tahap bagi pengarang untuk mengungkapkan solusi dari berbagai konik yang dialami tokoh. Resolusi berkaitan dengan koda.
  6. Koda adalah tahap akhir yang bersifat opsional, artinya boleh ada atau tidak. Koda merupakan nilai-nilai atau pelajaran yang dapat dipetik oleh pembaca.

Dari penjelasan di atas mengenai struktur teks cerpen, jika digambar menggunakan bagan maka akan terlihat seperti bagan di bawah ini.
Struktur Teks Cerita Pendek
C. Unsur Intrinsik Teks Cerpen
Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang terdapat di dalam diri karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur instrinsik pada cerpen, diantaranya adalah tema, tokoh/penokohan, alur, latar, sudut pandang, gaya bahasa dan amanat. Berikut ini adalah pembahasan unsur-unsur instrinsik cerpen:

a. Tema
Tema merupakan pokok penceritaan, yaitu gagasan, ide, atau pikiran utama di dalam karya sastra yang terungkap atau tidak. Tema berkaitan dengan makna kehidupan. Tema adalah nyawa dari sebuah cerpen. Tema dapat menentukan konflik yang terjadi di dalam cerpen dan tema juga menjadi ide dasar pengembangan seluruh isi cerita cerpen. Tema bersifat general dan umum contohnya adalah, tema pendidikan, romansa, persahabatan, dan lain-lain.

b. Tokoh
Aminudin (2009:79) berpendapat bahwa tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita. Tokoh merupakan individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan di dalam berbagai peristiwa dalam cerita. Secara sederhana tokoh disebut pelaku cerita. Adapun jenis-jenis tokoh adalah sebagai berikut.

1. Berdasarkan tingkat kepentingannya dalam cerita
  • Tokoh utama adalah tokoh yang berperan paling penting dalam cerita.
  • Tokoh tambahan adalah tokoh yang tidak selalu diceritakan atau tidak penting, tetapi ada beberapa tokoh yang mempunyai hubungan dengan tokoh utama.

2. Berdasarkan fungsi penampilan tokoh
  • Tokoh protagonis adalah tokoh yang memegang peran pimpinan dalam cerita dan disukai pembaca karena sifat-sifatnya.
  • Tokoh antagonis adalah tokoh penentang utama dari protagonis.
  • Tokoh tritagonis adalah tokoh yang meleraikan konflik tokoh protagonis dan antagonis.

c. Alur (Plot)
Alur adalah jalinan peristiwa yang direka dan dijalin dengan saksama. Alur yang menjadi struktur pembangunan teks cerpen yang di dalamnya terdapat abstrak, orientasi, komplikasi, evaluasi, resolusi, dan koda. Jenis alur ada tiga, yaitu alur maju (progresif ), alur mundur (regresif ), dan alur campuran. Dalam alur terdapat juga peristiwa pertikaian yang disebut juga dengan konflik.

Konflik adalah ketegangan dalam cerita yang merupakan pertentangan antara dua kekuatan. Pertentangan ini dapat terjadi dalam diri satu tokoh (konflik batin), antara dua tokoh, tokoh dengan lingkungan sosial, tokoh dengan alam, bahkan tokoh dengan takdir Tuhan.

Kaidah dalam alur.
  • Plausibilitas (kemasukakalan) artinya cerita memiliki kelogisan.
  • Suspense (rasa ingin tahu) artinya perasaan kurang pasti terhadap peristiwa yang terjadi, khususnya yang menimpa tokoh yang kemudian diberi simpati oleh pembaca. Keberadaan suspense akan mendorong, menggelitik, dan memotivasi pembaca untuk setia mengikuti cerita dan mencari jawaban terhadap kelanjutan cerita.
  • Surprise (kejutan) artinya peristiwa yang berisi kejutan dalam cerita. Surprise membuat cerita menjadi tidak membosankan.
  • Unity (kepaduan) artinya berbagai unsur yang ditampilkan dalam alur cerita haruslah memiliki kepaduan.

d. Latar (Setting)
Latar adalah segala keterangan mengenai tempat, waktu, dan suasana. Ada 3 jenis latar di dalam sebuah cerpen yaitu, latar tempat, waktu dan suasana. Latar tempat atau ruang adalah latar yang mengacu pada lokasi terjadinya peristiwa. Latar waktu adalah latar yang mengacu pada kapan terjadinya peristiwa.

e. Perwatakan atau Penokohan
Perwatakan atau penokohan adalah cara atau teknik-teknik pengarang menampilkan watak tokoh dalam cerita. Ada dua cara perwatakan, yaitu sebagai berikut.
  1. Analitik, yaitu dengan cara diuraikan langsung pengarang.
  2. Dramatik, yaitu menampilkan watak tokoh tidak secara langsung. Artinya dialog antartokoh, jalan pikiran tokoh, dan lingkungan tempat tinggal tokoh.

Penokohan ialah pelukisan mengenai tokoh cerita; baik keadaan lahirnya maupun batinnya yang dapat berupa pendangan hidupnya, sikapnya, keyakinannya, adat-istiadatnya, dan sebagainya. (Suharianto 1982:20)

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan penokohan adalah pelukisan atau gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita yang dapat berupa keadaan lahiriyah atau batiniah. Jadi, penokohan dalam cerita pendek merupakan unsur pembangun yang kehadirannya sangat dibutuhkan untuk menghidupkan tokoh dalam cerita.

f. Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah cara khas pengarang dalam penyusunan dan penyampaian pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan. Sebagai contoh gaya bahasa remaja, ilmiah, lugas, bahasa sehari-hari, dan sebagainya.

g. Sudut Pandang (Point of View)
Sudut pandang adalah cara pengarang menampilkan cerita. Posisi pencerita dalam membawakan kisahan boleh jadi dia tokoh dalam ceritanya (pencerita akuan), boleh jadi pula berada di luarnya (penceritaan). Sudut pandang terbagi atas dua, yaitu sebagai berikut.
  1. Sudut pandang orang pertama. Sudut pandang ini terbagi dua, yaitu orang pertama sebagai pelaku utama, artinya pengarang itu sendiri yang diceritakan dan menjadi fokus cerita; orang pertama sebagai pengamat artinya pengarang sebagai pengamat dan masuk dalam cerita. Ciri sudut pandang pertama adalah tokohnya berupa saya, aku, atau disebut juga gaya akuan.
  2. Sudut pandang orang ketiga. Sudut pandang ini juga terbagi dua, yaitu sudut pandang orang ketiga serbatahu artinya pengarang memberi tahu semua sifat, ciri, dan tindak tanduk pelaku; orang ketiga terarah artinya perhatian pengarang berpusat pada satu tokoh, dan orang ketiga pengamat artinya pengarang mengamati beberapa tokoh. Kata ganti yang dipakai adalah kata dia, ia, mereka, atau nama orang atau disebut juga gaya diaan.

h. Amanat
Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca. Pada karya sastra modern, amanat biasanya tersirat, sedangkan pada karya sastra lama amanat biasanya tersurat.

D. Unsur Ekstrinsik Teks Cerpen
Unsur ekstrinsik adalah unsur yang membangun dan mendukung cerpen dari luar karya itu sendiri, tetapi memengaruhi bangunan atau sistem organisme cerpen. Unsur ekstrinsik cerpen, yaitu riwayat hidup pengarang dan latar belakang masyarakat tempat penulis menciptakan cerpen.

a. Riwayat Hidup Pengarang
Riwayat hidup pengarang berisi kehidupan pengarang berupa pendidikan, sikap, dan pandangan pengarang, faktor sosial dan ekonomi pengarang, aliran sastra yang pengarang anut, dan semua hal yang sangat berpengaruh pada hasil karya yang diciptakannya.

Contoh:
(1) Danarto, karya-karya terbarunya lahir setelah beliau mendalami keagamaan. Danarto
menekankan penilaian dari sudut pandang sufi. (2) Hamsad Rangkuti beraliran realis,
mampu menyelipkan humor-humor satire, menggelitik, dan mengejutkan melalui
kesederhanaan bahasanya (Thahar, Haris E fendy, Kiat Menulis Cerpen).

b. Latar Belakang Masyarakat
Peristiwa yang terjadi pada masyarakat memengaruhi isi cerpen. Karya sastra dalam bentuk apapun, termasuk cerpen yang pada prinsipnya merupakan penanda zaman.

Contoh:
(1) Hamsad Rangkuti, cerpen yang ditulis berdasarkan ide tentang permasalahan kehidupan masyarakat golongan menengah ke bawah yang dikemas dalam bentuk kritikan halus terhadap keganjilan berupa kekuasan mutlak, materialisme, dan dekadensi moral. (2) Idrus, cerpen yang ditulis merupakan lukisan naturalis yang mencerminkan situasi masyarakat yang buruk pada masa itu.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae Updated at: 7:31 PM

0 komentar:

Post a Comment

Mohon tidak memasukan link aktif. Silahkan tulis url Anda dengan tanda koma (,). Jika saya sempat akan kunbal....