Home » » Langkah-Langkah Memproduksi Teks Cerpen

Langkah-Langkah Memproduksi Teks Cerpen

Produksi adalah proses mengeluarkan hasil atau ada yang dihasilkan. Memproduksi teks cerpen adalah membuat cerita pendek atau menghasilkan cerita pendek. Cerpen yang dibuat adalah cerpen karya sendiri dan tidak menjiplak karya orang lain. Melalui menulis kreatif diharapkan tercipta sebuah tulisan tanpa menjiplak karya orang lain dan benar–benar hasil dari pikiran atau ide orang yang menulis sehingga murni hasil karya penulis.

Untuk tingkat pemula, buat dan tulislah cerita berdasarkan pengalaman pribadi yang paling berkesan pada waktu tertentu saja. Tulislah hal yang terdapat di pikiran sendiri dan teruslah menulis serta jangan takut salah.

Langkah-Langkah Menulis Cerpen
Langkah-langkah menulis cerpen pada umumnya sama dengan langkah-langkah menulis cerita lainnya, yaitu menentukan merumuskan ide cerita, menuslis dengan gaya bahasa sendiri, membuat paragraf pembuka, merangkai alur atau plot, membuat paragraf penutup, mengendapkan tulisan, mengedit tulisan, dan menulis cerpen lagi. Berikut ini penjelasan bagaimana memproduksi sebuah teks cerpen.

Menulis Cerpen
1. Merumuskan ide cerita
Seseorang yang berkeinginan memupuk kemampuannya dalam mengembangkan ide hanya butuh sikap lebih cermat dalam menyerap berbagai fenomena yang terjadi di sekitarnya. Dengan bantuan panca indra, pikiran dan perasaannya, seorang penulis dapat menangkap berbagai fenomena di sekitarnya.

Ide cerita dapat diambil dari pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain. Peristiwa yang terjadi sehari-hari yang dialami dan yang dilihat, didengar dari teman juga dapat menjadi ide cerita, misalnya kejadian di rumah, sekolah, jalan, dan angkutan umum.

Caranya adalah dengan menggali ingatan tentang pengalaman dan perjalanan hidup Anda sendiri. Tentunya setiap orang pernah mengalami kejadian yang unik, aneh, lucu atau mungkin kejadian (peristiwa) luar biasa yang tidak dapat dilupakan. Hal-hal tersebut dapat menjadi sumber ide cerita menarik. Salah satu contoh adalah novel Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata. Sumber ide cerita novel Laskar Pelangi ini tak lain adalah pendidikan. Pendidikan yang dimaksud adalah mengambil suka-duka pengalaman hidup Andrea Hirata dan teman-temannya sendiri ketika masa sekolah dasar.

2. Menulis dengan gaya bahasa sendiri
Menulis adalah suatu kegiatan menuangkan ide-ide yang muncul dalam pikiran kita dan menjadikan semua itu dalam sebuah tulisan sehingga terciptalah suatu karya yang bisa dinikmati oleh pembacanya.

Artinya, menulislah dengan gaya bahasa yang biasa dibawakan atau digunakan dalam menyampaikan cerita kepada orang lain. Jangan memaksakan diri untuk menulis dengan gaya cerita para cerpenis yang sudah terkenal.

3. Membuat paragraf pembuka
Paragraf pembuka adalah kunci yang penting dalam mendaptakan hati pembaca untuk melanjutkan membaca sampai selesai. Jika dalam hal ini gagal, kemungkinan besar karya anda akan ditinggalkan. Paragraf pembuka merupakan bagian terpenting dari cerpen. Bagian ini jangan memuat hal yang rumit-rumit, buatlah semenarik mungkin agar pembaca terpancing untuk membaca cerita berikutnya.

4. Merangkai alur atau plot
Alur adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalani suatu cerita bisa berbentuk dalam rangkaian peristiwa yang berbagai macam. Alur bukan sekedar urutan cerita dari A sampai Z, melainkan merupakan hubungan sebab-akibat peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain di dalam cerita.

Setelah membuat paragraf pembuka yang merupakan tahapan abstrak atau orientasi yang mengajak pembaca tertarik untuk membaca kelanjutan cerita, selanjutnya adalah merangkai peristiwa demi peristiwa sehingga terbentuklah alur cerita.

Rangkailah peristiwa dengan narasi dan dialog-dialog paling tidak sampai 1.000 kata. Kaidah dari sebuah alur terdapat kemasukakalan (plausibilitas), rasa ingin tahu (suspense), kejutan-kejutan (surprise), dan kepaduan (unity). Rangkaian alur termasuk ke dalam struktur teks cerpen dengan urutan sebagai berikut.
  • Abstrak yaitu bagian pembuka cerita yang berisi inti sari cerita. Sifatnya boleh ada dan boleh tidak ada dalam cerpen.
  • Orientasi, yaitu tahapan pengenalan atau disebut juga eksposisi. Tahapan ini mengenalkan tokoh-tokoh dan latar peristiwa.
  • Komplikasi, yaitu tahapan penampilan masalah, mulai dari permasalahan ringan (intrik) hingga terjadi konflik-konflik yang kemudian membuat konflik makin rumit (komplikasi) dan mencapai klimaks (puncak ketegangan).
  • Evaluasi, yaitu tahapan antiklimaks. Pada tahapan ini masalah telah berangsurangsur dapat diatasi. Pemecahan konflik pun mengarah pada penyelesaian dengan ditemukannya solusi-solusi.
  • Resolusi, yaitu tahapan antiklimaks yang telah ditemukan solusi dari pemecahan masalah untuk menuju koda.
  • Koda, yaitu akhir cerita atau penyelesaian di mana segenap konflik dalam cerita sudah dapat diselesaikan. Para tokoh menemukan nasibnya masing-masing. Di samping itu, hal ini terdapat dalam paragraf penutup.

5. Membuat paragraf penutup
Ketika memproduksi cerpen saat cerita telah sampai pada penyelesaian masalah, segeralah akhiri cerita tersebut. Atau apabila idak menemukan penyelesaian, maka tutuplah cerita saat semuanya sudah menjadi jelas. Salah satunya adalah dengan cara membuat paragraf penutup.

Membuat paragraf penutup merupakan hal yang penting. Jika bagian akhir atau koda tersusun dengan baik, artinya cerita yang ditulis sangat berkesan bagi pembaca. Bagian paragraf penutup ini dapat ditulis dengan tiga cara yaitu:
  • Ending tertutup, artinya apabila cerita tuntas tanpa pertanyaan lagi;
  • Ending terbuka, artinya apabila cerita masih dapat ditafsirkan akan berlanjut oleh pembacanya; dan
  • Ending mengejutkan, artinya ending tidak diduga oleh pembacanya, dapat saja menjadi hal yang mengejutkan (surprise) dan sebagainya.

6. Mengendapkan tulisan beberapa saat
Setelah cerpen selesai ditulis, biarkan beberapa saat atau endapkan sejenak. Hal ini bertujuan memberi jeda sebelum diedit. Pengendapan tulisan selama beberapa hari memberikan jeda bagi si penulis untuk menemukan sudut pandang pembaca. Tulisan yang sudah jadi, cobalah disimpan sebentar, kemudian dibaca ulang. Biasanya kita akan menemukan kalimat yang kurang atau ada kalimat yang harus dibuang, atau ditambah. Pengendapan tulisan ini berguna bagi penulis untuk merevisi atau tambal sulam tulisan-tulisannya agar menjadi lebih rapi dan enak dibaca.

7. Mengedit tulisan
Salah satu aktivitas dalam proses menulis cerpen yang sangat mempengaruhi kualitas cerpen yang dihasilkan. Aktivitas itu adalah mengedit sendiri atau swasunting pada cerpen yang dibuat sebelum dipublikasikan.

Setelah diperiksa dengan saksama tulisan kemudian dibaca lagi. Hal ini perlu dilakukan untuk mengetahui kesalahan tanda baca, logika cerita (kemasukakalan/ plausibilitas), ketegasan alur, dan sebagainya. Selanjutnya, lakukanlah pengeditan. Setelah selesai janganlah bosan untuk membacanya kembali berulang-ulang sampai dirasa cerpen yang ditulis tersebut sudah layak dipublikasikan.

8. Menulis cerpen lagi
Menulis cerpen harus berkelanjutan, belajar menulis lagi, dan seterusnya. Setelah menulis sebuah cerpen, jangan cepat puas. Mintalah pendapat orang yang pertama membaca cerpenmu. Apabila dimuat di media cetak, mintalah pendapat pembaca di kolom komentar. Dengan demikian, akan didapat masukan untuk perbaikan dalam penulisan cerpen selanjutnya.

Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae Updated at: 5:56 PM

0 komentar:

Post a Comment

Mohon tidak memasukan link aktif. Silahkan tulis url Anda dengan tanda koma (,). Jika saya sempat akan kunbal....