Home » » Latihan Mengevaluasi Teks Pantun

Latihan Mengevaluasi Teks Pantun

Salah satu kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia di kelas XI adalah mengevaluasi teks pantun. Evaluasi berarti penilaian dengan memberikan penilaian atau menilai (KBBI). Penilaian merupakan proses terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan kriteria tertentu. Mengevaluasi teks pantun berarti memberikan penilaian terhadap teks pantun.

Kriteria yang dievaluasi adalah struktur teks pantun (bait, sampiran, isi, dan rima), unsur kebahasaan teks pantun (bahasa kias dan imaji), dan makna serta pesan isi dari pantun.
  1. Setiap pantun harus terdiri dari sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama (awal) yang merupakan pengantar pantun. Sampiran berupa pengantar sajak/rima yang berfungsi menyiapkan rima dan irama agar memudahkan pendengar dalam memahami isi pantun.
  2. Isi adalah dua baris akhir pantun yang menjadi tujuan atau kesimpulan pantun. Antara sampiran dan isi terkadang tidak ada hubungan makna yang jelas. Namun, biasanya, sampiran disampaikan berupa hal-hal yang berkaitan dengan alam, budaya, dan kebiasaan hidup masyarakat sekitar. Sedangkan isi berupa tujuan dari pantun.
  3. Bait adalah bagian dari teks pantun yang terdiri dari beberapa baris. Bait merupakan teks harmonis yang serupa dengan satu pengertian dalam sebuah paragraf. Pada pantun, bait biasanya terdiri dari empat baris atau larik. Setiap baris atau larik biasanya terdiri dari 2-6 kata atau 8-12 suku kata.
  4. Rima datau sajak, yaitu bunyi-bunyi akhiran yang dihasilkan oleh huruf dalam larik dan bait sehingga menimbulkan keindahan kata, rasa, dan menimbulkan suasana khusus. Pantun memiliki pola sajak akhir a-b-a-b dan a-a-a-a.
  5. Bahasa kiasan atau disebut juga majas adalah gaya bahasa yang digunakan pada pantun. Bahasa kiasan adalah bahasa yang menggunakan kata-kata indah, kata-kata bukan dalam arti yang sebenarnya. Artinya, makna pada sebuah kata atau bahasa yang digunakan memiliki arti lain.
  6. Bahasa imaji adalah bahasa yang mengungkapkan pencitraan, gambaran, kesan, bayangan, dan imajinasi. Tujuan penggunaan bahasa imaji adalah memberikan gambaran yang jelas mengenai apa yang kita pikirkan. Bahasa imaji biasanya menggambarkan pencitraan indera, seperti pendengaran (telinga), penglihatan (mata), penciuman (hidung), rasa (hati), raba (kulit), kecap (lidah), dan gerak (tubuh makhluk hidup).

Sebagai alat pemelihara bahasa, pantun berperan sebagai penjaga fungsi kata dan kemampuan menjaga alur berpikir. Pantun melatih seseorang berpikir tentang makna kata sebelum berujar. pantun juga melatih orang berpikir asosiatif, bahwa suatu kata bisa memiliki kaitan dengan kata yang lain. Pantun menunjukkan kecepatan seseorang dalam berpikir dan bermain-main dengan kata. Secara umum peran sosial pantun adalah sebagai alat penguat penyampaian pesan.

Langkah-Langkah Mengevaluasi Teks Pantun
Langkah selanjutnya setelah selesai memproduksi sebuah teks pantun adalah mengetahui makna dari isi teks pantun tersebut. Cara untuk mengetahui makna yang ada di teks pantun dengan cara mengevaluasi sebuah teks pantun. Memahami maksud dan makna dari teks pantun tidak terlalu sulit asalkan kita berpedoman pada KKBI. Semakin berkembangnya zaman, pantun juga semakin berkembang. Berikut ini langkah-langkah mengevaluasi teks pantun.
  1. Bacalah teks pantun dengan irama yang tepat dan pahamilah apakah pantun itu berjenis teks pantun tradisional/klasik Melayu atau teks pantun modern.
  2. Lihatlah beberapa hal berkenaan dengan struktur teks pantun berikut : apakah rimanya a-b-a-b, adakah hubungan antara sampiran dan isi dilihat dari kandungan maknanya, dan apakah terdapat hubungan substansi atau tidak, atau sampiran hanya sekadar pengantar rima untuk bagian isi saja.
  3. Lihatlah unsur kebahasaan teks pantun sebagai berikut.: adakah bahasa kias seperti idiom, majas, peribahasa, atau kata bermakna konotasi lainnya,  apakah ada citraan atau imaji. apakah pilihan kata sudah tepat dapat menimbulkan efek irama (ritme) selain rima.
  4. Tafsirkanlah makna teks pantun yang terdapat pada isi dan apakah pesan yang terkandung dalam bagian isi teks pantun.
  5. Berikanlah evaluasi/penilaian baik atau buruk terhadap teks pantun tersebut sesuai dengan kriteria teks pantun

Contoh Evaluasi Teks Pantun
No.Contoh PantunEvaluasi
1.Jika ada sumur di ladang
Bolehkah kita menumpang mandi
Kalau ada umur yang panjang
Bolehlah kita berjumpa lagi
  1. Struktur teks pantun: rima pantun tersebut -ang -i -ang -i. Sampiran pada teks tersebut bukan hanya berfungsi sebagai pengantar untuk rima bagian isi, melainkan juga secara makna mempunyai hubungan substansi yang erat dan berkaitan dengan isi. Sampiran: jika ada sumur di ladang//bolehkah kita menumpang mandi, jika ada sumur bisa mandi semakna dengan isi kalau ada umur panjang//bolehlah kita berjumpa lagi, jika ada umur bisa bertemu lagi.
  2. Unsur kebahasaan: bahasa kias terdapat juga dalam teks pantun tersebut, yakni umur yang panjang bermakna konotasi masih terdapat nyawa di badan. Diksi menimbulkan irama yang baik, yaitu pemilihan kata sumur-umur dan repetisi boleh-kita (bolehkah kita-bolehlah kita). Citraan/imaji visual terdapat dalam puisi itu, jika ada sumur di ladang.
  3. Makna: makna cukup jelas dimengerti, jika masih ada nyawa di badan tentunya perjumpaan masih bisa dilakukan lagi.
  4. Pesan: kita harus selalu bersilaturahmi selagi nyawa di kandung badan.
  5. Simpulan evaluasi: Jadi, dari ketiga kriteria di atas dapatlah dikatakan pantun tersebut sangat baik karena sudah memenuhi kriteria teks pantun yang baik
2.Di gudang tak ada kaca
Yang ada hanyalah palu
Rajinlah kalian membaca
Niscaya ilmu datang selalu
  1. Struktur teks pantun: rima pantun itu -ca -lu -ca -lu. Sampiran hanya mengantar rima untuk isi, tidak mengandung makna pembayang isi. Tidak ada keterkaitan antara kaca dengan membaca.
  2. Unsur kebahasaan: bahasa kiasan menggunakan majas personifkasi, yakni, ilmu datang selalu, terdapat penginsanan pada kata ilmu yang artinya kita akan terus mendapatkan ilmu. Kosakata dengan diksi yang popular sangat mudah dipahami seperti gudang, kaca, palu, membaca, dan ilmu.
  3. Makna: jika kita rajin membaca, kita akan mendapatkan ilmu terus-menerus.
  4. Pesan: rajin-rajinlah kita membaca buku, majalah, dan surat kabar agar kita selalu mendapatkan ilmu pengetahuan sehingga cerdas dan berwawasan luas.
  5. Simpulan evaluasi: Jadi, teks pantun C dapatlah dikatakan cukup baik paling tidak sudah memenuhi kriteria teks pantun
3.Bunga kenanga di atas kubur
Pucuk sari pandan jawa
Apa guna sombong dan takabur
Rusak hati badan binasa
  1. Struktur teks pantun: rima pantun tersebut -bur -a -bur -a. Sampiran dengan isi mempunyai hubungan substansi yang saling berkaitan. Sampiran pada teks tersebut bukan sekadar pengantar rima untuk isi. Pada sampiran: bunga kenanga di atas kubur secara makna berhubungan dengan isi apa guna sombong dan takabur, jika kita mengingat kubur (semua orang akan wafat) tentunya orang tidak sombong dan takabur karena rusak hati badan binasa artinya jasmani dan rohani akan binasa (wafat).
  2. Unsur kebahasaan: bahasa kias rusak hati bermakna rohani atau batiniah kita tidak baik dan badan binasa yang bermakna wafat. Kosakata yang dipilih memiliki irama yang enak didengar, bunga-apa, kenanga- guna, sari-hati, pandan-badan. Lebih enak lagi kalau pucuk diganti papak: pucuk-rusak jadi papak –rusak. Imaji penciuman dan imaji rasa (taktil) juga terdapat dalam pantun tersebut Bunga kenanga di atas kubur (harum dan sedih).
  3. Makna: makna pantun itu mudah dipahami, yaitu sombong dan takabur tidak ada gunanya karena merusak hati (rohani) kita sendiri dan jangan pula sombong dan takabur karena kita masih bisa binasa/mati/wafat.
  4. Pesan: janganlah mempunyai perilaku yang sombong dan takabur.
  5. Simpulan evaluasi: Jadi, teks pantun B dapatlah dikatakan baik karena sudah memenuhi kriteria teks pantun.
Aturan umum berlaku pada pantun, seperti halnya puisi lama. Misalnya, satu larik pantun biasanya terdiri atas 6-12 kata. Namun aturan ini tak selalu berlaku dan bersifat kaku. Pola rima umum yang berlaku pada pantun adalah a-b-a-b dan a-a-a-a. Meski demikian, kerap diketemukan pula pola pantun yang berpola a-a-b-b.
Mengevaluasi Teks Pantun
Jenis-jenis pantun antara lain pantun agama, pantun nasehat, pantun adat, pantun budi, pantun jenaka, pantun kephlawanan, pantun kias, pantun percintaan, pantun pribahasa, dan pantun teka-teki
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae Updated at: 6:57 PM

0 komentar:

Post a Comment

Mohon tidak memasukan link aktif. Silahkan tulis url Anda dengan tanda koma (,). Jika saya sempat akan kunbal....