Home » » Teori Penyimpangan Sosial

Teori Penyimpangan Sosial

Perilaku menyimpang ternyata sangat beragam dan dapat dijumpai di seluruh lapisan masyarakat. Tidak terkecuali di sekolah, walaupun pihak sekolah telah mengambil kesepakatan mengenai tata tertib sekolah. Perilaku menyimpang mendapat  perhatian dari banyak ahli ilmu sosial. Mereka berhasil merumuskan hasil kajiannya menjadi teori-teori penyimpangan sosial sebagai berikut. Beberapa teori tentang penyimpangan sosial itu ialah teori biologis, teori pemberian cap, teori sosialisasi, teori transmisi budaya, teori anomi, teori konflik budaya, dan teori konflik kelas sosial.

1. Teori Biologis
Teori ini menjelaskan bagaimana hubungan antara perilaku menyimpang dengan keadaan biologis, misalnya tipe tubuh tertentu seperi endomorph, ectomorph, dan mesomorph. Menurut teori secara umum, tubuh manusia dibedakan menjadi tiga tipe: endomorph (bundar, halus, gemuk), mesomorph (berotot, atletis), dan ectomorph (tipis, kurus). Setiap tipe memiliki kecenderungan sifat-sifat kepribadian dan perilaku tertentu.

Penemuan ahli dari teori ini menyebutkan bahwa para pecandu minuman keras dan penjahat umumnya memiliki tipe tubuh mesomorph. Bahkan hasil terbaru para ahli teori ini menemukan adanya kecenderungan perilaku menyimpang berkaitan dengan struktur kromosom- Y ganda yang dimiliki seseorang. Pria yang memiliki kromosom-Y ganda cenderung melakukan tindak kejahatan dan menyimpang dari norma masyarakat. Namun, dalam perkembangan terakhir teori ini banyak ditentang oleh ahli lain.

Ada beberapa ilmuwan yang melakukan berbagai study mengenai tipe tubuh orang tertentu yang cenderung melakukan tindakan menyimpang.
  1. Shelgon mengidentifikasikan tipe tubuh menjadi tiga tipe dasar : endomorph (bundar, halus, gemuk), mesomorph (berotot, atletis), ectonorph (tipis, kurus). Misalnya muka pecandu alcohol dan penjahat umumnya mempunyai tipe tubuh mesomorph.
  2. Cesare Lombroso berpendapat bahwa orang jahat dicirikan dengan ukuran rahang dan tulang-tulang pipi panjang, kalinan pada mata yang khas, tangan-tangan, jari-jari kaki serta tangan relative besar dan susunan gigi yang abnormal.

2. Teori Pemberian Cap (Labeling)
Labeling adalah sebuah definisi yang ketika diberikan pada seseorang akan menjadi identitas diri orang tersebut, dan menjelaskan orang dengan tipe bagaimanakah dia. Dengan memberikan label pada diri seseorang, kita cenderung melihat dia secara keseluruhan kepribadiannya, dan bukan pada perilakunya satu per satu. Labelling bisa juga disebut sebagai penjulukan/ pemberian cap.

Teori ini dipelopori oleh Edwin M. Lemert. Teori ini berpendapat bahwa penyimpangan lahir karena adanya batasan (definisi) atas suatu perbuatan yang disebut perbuatan menyimpang. Artinya suatu perbuatan disebut menyimpang karena dinilai sebagai menyimpang. Jadi, ada proses pemberian cap terhadap suatu perbuatan apakah menyimpang atau tidak.

Umumnya orang yang dicap sebagai penyimpang akan diberhentikan dari pekerjaannya, dikucilkan dari kelompok, diasingkan oleh orang-orang lain, bahkan dipenjara dalam waktu yang lama. Sehingga efek yang ditimbulkan dari pemberian cap menyimpang pada perbuatan seseorang, cenderung mendorong orang tersebut untuk melakukan penyimpangan yang lebih besar.
Anak Pintar
Penerapan dari pemikiran ini akan kurang lebih seperti berikut “anak yang diberi label bandel, dan diperlakukan seperti anak bandel, akan menjadi bandel”. Atau “anak yang diberi label bodoh, dan diperlakukan seperti anak bodoh, akan menjadi bodoh”. Bisa juga seperti ini “Anak yang diberi label pintar, dan diperlakukan seperti anak pintar, akan menjadi pintar”.

3. Teori Sosialisasi
Inti dari teori ini adalah bahwa perilaku menyimapng timbul akibat adanya gangguan terhadap proses penghayatan atau sosialisasi nilai-nilai dan norma-norma masyarakat. Teori ini dibagi menjadi 3 cabang pemikiran :
  • Teori transmisi budaya yaitu perilaku menyimpang akan muncul jika seseorang melakukan penghayatan akan nilai-nilai atau perilaku menyimpang dan orang yang dianggap cocok.
  • Kebudayaan khusus yang menyimpang. Perilaku menyimpang yang dilakukan berulang-ulang, akhirnya akan menjadi kebiasaan dan menjadi hal yang wajar dan akan menjadi suatu kebudayaan bagi masyarakat yang bersangkutan.
  • Asosiasi diferensial : perilaku menyimpang dapat ditemukan dimana saja,, seseorang berperilaku menyimpang bilamana pola-pola perbuatan menyimpang lebih wajar lebih dihargai dalam lingkungan sosialnya.

4. Teori Transmisi Budaya
Teori transmisi budaya merupakan perkembangan lebih jauh dari teori sosialisasi. Misalnya yang dikemukakan Shaw dan Mc Kay (Paul B. Horton dan Chester L. Hunt, 1996) bahwa di kampung-kampung yang berantakan dan tidak terorganisasi secara baik, perilaku jahat merupakan hal yang normal.

Kebudayaan menyimpang masyarakat secara perlahan ditransmisikan kepada warganya menjadi bagian dari kepribadian warga tersebut. Wilayah yang mayoritas warganya berperilaku menyimpang atau jahat oleh Shaw dan Mc Kay disebut wilayah kejahatan (delinguency area).

Sedangkan menurut teori asosiasi diferensial (Edwin H. Sutherland.), perilaku kriminal dapat ditemukan pada semua daerah dan pada semua tingkat kelas sosial, bukan hanya di daerah perkampungan kumuh.

Menurut Sutherland (Paul B. Horton dan Chester L. Hunt, 1996), seseorang melakukan tindak kriminal jika kadar kebaikan tindakan itu melebihi kadar keburukannya. Seseorang menjadi penyimpang bilamana pola-pola perilaku menyimpang lebih lazim atau lebih wajar dihargai dalam lingkungan sosial tempat di mana orang tersebut tinggal.

5. Teori Anomi
Emile Durkheim,sosiolog dari prancis, memperkenalkan pada anomi (anomie) dalam karyanya yang terkenal The tahun 1893.  Anomi adalah suatu keadaan masyarakat di mana tidak ada norma yang dipatuhi secara teguh dan diterima secara luas. Masyarakat anomis adalah masyarakat yang tidak memiliki norma pedoman mantap yang dapat dianut dan dipedomani oleh warganya. Individu anomis adalah individu yang tidak memiliki pedoman nilai yang jelas dalam bertindak.

Menurut Robert K. Merton (dalam Kamanto Sunarto, 2000), anomi lebih disebabkan oleh adanya ketidakharmonisan antara tujuan budaya dengan cara-cara formal untuk mencapai tujuan tersebut. Robert K. Merton menjelaskan bahwa perilaku menyimpang merupakan bentuk adaptasi terhadap situasi tertentu. Robert K. Merton mengidentifikasi lima tipe cara adaptasi, yang empat di antaranya termasuk perilaku menyimpang, sebagai berikut.
  1. Conformity atau konformitas, yaitu perilaku mengikuti tujuan dan cara yang ditentukan masyarakat untuk mencapai tujuan tersebut.
  2. Innovation atau inovasi, yaitu perilaku mengikuti tujuan yang ditentukan masyarakat tetapi menolak norma atau kaidah yang berlaku.
  3. Ritualism atau ritualisme, yaitu perilaku seseorang yang telah meninggalkan tujuan budaya, namun masih tetap berpegang pada cara-cara yang digariskan masyarakat.
  4. Retreatism atau pengasingan diri, yaitu menolak tujuan-tujuan yang disetujui maupun cara pencapaian tujuan itu.
  5. Rebellion atau pemberontakan, yaitu penarikan diri dari tujuan dan cara-cara konvensional yang disertai dengan upaya untuk melembagakan tujuan dan cara yang baru.

6. Teori Konflik
Teori konflik, meliputi dua hal, yaitu konlik budaya dan konflik sosial. Konflik budaya terjadi pada masyarakat dengan ciri pluralitas (kemajemukan).

a. Teori Konflik Budaya
Teori konflik budaya terjadi apabila jika dalam suatu masyarakat terdapat kebudayaan yang berbeda, maka akan memungkinkan timbulnya pertentangan budaya, dimana norma budaya yang dominan dijadikan hukum yang tidak tertulis, sedangkan minoritas dianggap menyimpang

Kaum migran yang memiliki pola kebudayaan berbeda dengan kebudayaan dominan masyarakat asli
dianggap sebagai penyimpang. Begitu pula kaum minoritas yang hidup dalam dominasi masyarakat mayoritas, akan memiliki pola kebudayaan yang berbeda. Bila terjadi konflik antarkebudayaan khusus atau antara kebudayaan marginal dengan kebudayaan dominan, biasanya kebudayaan yang paling kuat atau banyak pendukung adalah yang menjadi ukuran atau pedoman. Sehingga kebudayaan lain yang menyimpang dari kebudayaan dominan dianggap menyimpang.

b. Teori Konflik Kelas Sosial
Teori konfliks kelas sosial para penganut teori konflik kelas sosial menganggap bahwa perilaku menyimpang timbul akibat perbedaan kelas sosial dalam masyarakat.

Penganut teori ini tidak mengaitkan penyimpangan dengan perbedaan norma di antara kelas sosial yang berlainan, tetapi mengaitkannya dengan perbedaan kepentingan masing-masing. Misalnya yang dikemukakan Karl Marx (Paul B. Horton dan Chester L. Hunt, 1996) bahwa masyarakat kapitalis menciptakan peraturan hukum dan lembaga-lembaga yang melindungi kepentingan kelas sosial yang berharta dan mengecap mereka yang menentang hak-hak istimewa kelas sosial itu sebagai penjahat (kriminal).

Perilaku menyimpang adalah tindakan yang menyimpang dari norma-norma dan aturan dalam masyarakat Untuk itu kita harus berpikir sebelum bertindak agar tindakan yang kita lakukan tidak merugikan diri kita sendiri dan orang lain serta kita harus menghindari perilaku menyimpang tersebut.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae Updated at: 1:26 PM

0 komentar:

Post a Comment

Mohon tidak memasukan link aktif. Silahkan tulis url Anda dengan tanda koma (,). Jika saya sempat akan kunbal....