Home » » Memahami Ciri Kebahasaan Teks Cerita Fiksi dalam Novel

Memahami Ciri Kebahasaan Teks Cerita Fiksi dalam Novel

Nyanyi Sunyi dari Indragiri karya Hary B. Kori’un secara jelas menyingkap kondisi sosial masyarakat Provinsi Riau dewasa ini. Dalam novel tersebut terdapat gambaran keterbelakangan dan kemiskinan yang ada di Provinsi Riau. Dengan gaya yang khas dari pengarang dalam menyampaikan ide dan pikirannya, membuat novel ini sangat menarik untuk dianalisis secara mendalam. Novel peraih penghargaan utama Ganti Award 2004-nama sebuah penghargaan penulisan novel yang diselenggarakan oleh Yayasan Bandar Serai di Pekanbaru, Provinsi Riau (Ensiklopedia Sastra Riau, 2011)-ini diterbitkan oleh Gurindam Press pada Desember 2004. Novel dengan tebal 102 halaman ini terdiri dari empat bagian, yaitu (1) Prolog, (2) Alia, (3) Sarah, dan (4) Epilog.

Novel adalah salah satu karya fiksi berbentuk prosa. Novel memiliki ciri ditulis dengan gaya narasi, yang terkadang dicampur deskripsi untuk menggambarkan suasana; bersifat realistis, artinya merupakan tanggapan pengarang terhadap situasi lingkungannya; bentuknya lebih panjang, biasanya lebih dari 10.000 kata; dan alur ceritanya cukup kompleks.Agar lebih memahami berbagai unsur yang membangun novel Nyanyi Sunyi dari Indragiri (NSdI), seperti tema, tokoh dan penokohan, latar, konflik, alur, dan sebagainya, berikut akan diberikan cuplikan isi novel tersebut. Setelah mengetahui berbagai unsur yang membangun novel tersebut, kalian akan dengan mudah mengurai komplikasi yang ada di dalam novel.
novel
Tema
Tema adalah inti atau ide pokok dalam cerita. Tema merupakan awal  tolak pengarang dalam menyampaikan cerita. Tema suatu novel menyangkut segala persoalan dalam kehidupan manusia, baik masalah kemanusiaan, kekuasaan, kasih sayang, dan sebagainya.

Untuk menemukan tema, terlebih dahulu harus diidentifikasi berbagai masalah yang ditemukan dalam cerita. Masalah inilah yang kemudian akan menggiring pada penemuan tema sebuah novel. Maka identifikasikanlah berbagai masalah yang kalian temukan dalam novel Nyanyi Sunyi dari Indragiri.
  1. Persoalan dimulai pada April 1998, saat keadaan politik memburuk akibat jatuhnya harga rupiah. Keadaan tersebut menyebabkan harga getah karet dan kayu melambung tinggi.
  2. PT Riau Maju Timber melakukan penebangan kayu hampir sampai perbatasan kampung sehingga mengakibatkan beberapa hutan di kampung sebelah sudah lenyap.
  3. Panas terik sepanjang tahun mengakibatkan beras menjadi langka, pohon karet tak mengeluarkan getah karena tak tersiram air.
  4. Penebangan hutan yang tidak terkontrol dan pembakaran yang dilakukan membuat bencana itu selalu datang.
  5. Dampak penebangan hutan menyebakan banjir tiap tahun dan kemarau membakar dan mengeringkan sawah ladang. Hingga suatu ketika banjir bandang menerjang rumah dan menghanyutkan abah Kalid. Kematian seorang ayah semakin menyalakan api dendam yang tumbuh di dada Kalid. 
  6. Kalid membakar base camp milik PT Riau Maju Timber yang menyebabkan masyarakat banyak menderita akibat eksplorasi hutan yang dilakukan oleh perusahaan tersebut. 
  7. Khalid bersama teman-teman kemudian masuk penjara yang mungkin membuat umi tertekan batin karena anak satusatunya berurusan dengan masalah kriminal dan peristiwa tersebut mengakibatkan umi meninggal hanya beberapa hari sebelum khalid keluar dari penjara.
  8. Khalid datang ke kantor Dinas Kehutanan di Rengat ketika libur kuliah dan mengatakan kepada mereka bahwa aktivitas PT Riau Maju Timber di kampung kami harus dihentikan. Aktivitas tersebut menyebabkan hutan habis dan banjir selalu datang menenggelamkan kampung.
  9. Ketika hakim selesai membaca keputusan, kembali, mereka kalap dan mengatakan bahwa hukuman itu tidak adil untuk Kalid.
  10. Khalid mulai memahami pedihnya menjadi orang miskin adalah bagaimana supaya kami semua di kampung diperhatikan; sekolah dibangun dengan layak, jalan dan jembatan dibuat dan orang-orang di kampung kami tidak bermental terbelakang seperti itu.

Tema sifatnya mengikat keseluruhan masalah yang ada dalam cerita. Setelah semua permasalahan teridentifikasi dengan baik, novel Nyanyi Sunyi dari Indragiri karya Hary B Kori’un ini merupakan karya besar yang mampu menampilkan tema lingkungan dengan penggambaran yang dahsyat. Setidaknya pembaca diajak untuk melihat realitas di tengah masyarakat Riau dengan kaca mata fiksi.

Hubungan Kausalitas
Jalur tempat lewatnya rentetan peristiwa yang merupakan rangkaian polah para tokoh yang berusaha memecahkan konflik dalam sebuah cerita disebut alur. Alur, yang merupakan perpaduan semua unsur pembangun cerita sehingga menjadi kerangka utama, mempunyai penekanan pada hubungan kausalitas tiap peristiwa yang ada. Setelah kalian mengidentifikasi permasalahan yang ada dalam cerita,  hubungan kausalitas dapat dilihat dalam kalimat seperti di bawah ini.
  1. Keadaan politik yang memburuk menyebabkan harga rupiah yang anjlok, sehingga harga karet dan kayu melambung tinggi. Hal ini menyebabkan PT Riau Maju Timber “merampas” hutan masyarakat Rimbo Pematang.
  2. Eksplorasi hutan yang berlebihan menyebabkan kekeringan di musim panas dan banjir di musim hujan.
  3. PT Riau Maju Timber melakukan penebangan kayu hampir sampai perbatasan kampung sehingga mengakibatkan beberapa hutan di kampung sebelah sudah lenyap.
  4. Panas terik sepanjang tahun mengakibatkan beras menjadi langka, pohon karet tak mengeluarkan getah karena tak tersiram air.
  5. Penebangan hutan yang tidak terkontrol dan pembakaran yang dilakukan membuat bencana itu selalu datang.
  6. Dampak penebangan hutan menyebakan banjir tiap tahun dan kemarau membakar dan mengeringkan sawah ladang. Hingga suatu ketika banjir bandang menerjang rumah dan menghanyutkan abah Kalid. Kematian seorang ayah semakin menyalakan api dendam yang tumbuh di dada Kalid. 
  7. Kalid membakar base camp milik PT Riau Maju Timber yang menyebabkan masyarakat banyak menderita akibat eksplorasi hutan yang dilakukan oleh perusahaan tersebut. 
  8. Khalid bersama teman-teman kemudian masuk penjara yang mungkin membuat umi tertekan batin karena anak satusatunya berurusan dengan masalah kriminal dan peristiwa tersebut mengakibatkan umi meninggal hanya beberapa hari sebelum khalid keluar dari penjara.
  9. Khalid datang ke kantor Dinas Kehutanan di Rengat ketika libur kuliah dan mengatakan kepada mereka bahwa aktivitas PT Riau Maju Timber di kampung kami harus dihentikan. Aktivitas tersebut menyebabkan hutan habis dan banjir selalu datang menenggelamkan kampung.

Alur
Alur / Plot merupakan rangkaian peristiwa dalam novel. Alur dibedakan menjadi 2 (dua) bagian yaitu pertama alur maju ( progesif ) yaitu apabila peristiwa bergerak secara bertahap berdasarkan urutan kronologis menuju alur cerita. Sedangkan yang kedua alur mundur ( flash back progesif ) yaitu terjadi ada kaitannya dengan peristiwa yang sedang berlangsung. Plot / alur menampilkan kejadian – kejadian yang mengandung konflik maupun menarik bahkan mencekam pembaca.

Untuk mengetahui bentuk alur sebuah cerita, perlu disimak rangkaian peristiwa yang terdapat dalam karya tersebut. Berbagai bentuk alur dalam cerita rekaan, seperti alur progresif atau alur lurus, dan alur regresif (flashback) atau sorot balik, bahkan ada alur yang bolak-balik. Baik cerpen maupun novel, memiliki salah satu bentuk alur tersebut. Berikut ini adalah beberapa cuplikan tambahan yang akan membantu melihat alur cerita yang terdapat dalam novel Nyanyi Sunyi dari Indragiri. Bacalah cuplikan berikut secara cermat dan perhatikan nomor halaman setiap kutipan, karena akan membantu kalian menyusun alur cerita dalam novel NSdI.
  1. Guntingan koran itu masih ada di mejanya. Tidak semua koran menulis tentang peristiwa itu, hanya beberapa. Dan yang beberapa itulah yang membuatnya tersentak. Ada yang nyeri dalam dadanya, ada yang hampa dalam jiwanya. Benarkah berita itu? Tidakkah salah koran-koran itu menulis tentang hilangnya lelaki itu terbawa arus Sungai Indragiri yang menenggelamkan beberapa kampung di Indragiri? (NSdI, 2004:1).
  2. Ketika kemudian aku mendengar berita itu: engkau hilang terseret arus sungai dan mayatmu tak ditemukan dalam sebuah banjir bandang yang melanda kampungmu, aku sudah kehabisan air mata, Kalid. Aku yakin dan percaya, seperti kejadian-kejadian sebelumnya, engkau selalu lolos dari apa yang diperkirakan orang. Entahlah, entah kapan lelaki sepertimu akan mati, atau engkau memang memiliki ilmu yang membuatmu tak mati, tak terdeteksi aparat, bisa membuat semua orang mencintaimu dan segala ilmu lainnya? (NSdI, 2004:97—98)
  3. Aku tak yakin, meski aku mempercayainya: kamu bisa melakukan segalanya seperti yang engkau inginkan. Benarkah engaku telah mati? (NSdI: 2004:98)
Kesimpulan : Novel tersebut menggunakan alur mundur. Alur mundur adalah proses jalannya cerita secara tidak urut. Biasanya pengarang menyampaikan ceritanya dimulai dari konflik menuju penyelesaian, kemudian menceritakan kembali latar belakang timbulnya konflik tersebut.

Pada umumnya, bagian awal teks cerita fiksi berisikan paparan dan sedikit ajakan yang akan mengantarkan pada permasalahan sebenarnya. Pada bagian tengah tekslah komplikasi terjadi. Setelah komplikasi berhasil diuraikan dan dievaluasi, pada bagian akhir cerita biasanya ditutup dengan penyelesaian.

Penokohan
Penokohan adalah cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan karakter tokoh-tokoh dalam cerita. Untuk menggambarkan karakter seorang tokoh, pengarang dapat juga menyebutkannya langsung, misalnya si A itu penyabar, si B itu murah hati. Penjelasan karakter tokoh dapat pula melalui gambaran fisik dan perilakunya, lingkungan kehidupannya, cara bicaranya, jalan pikirannya, ataupun melalui penggambaran oleh tokoh lain.

Sebuah teks cerita fiksi terdiri atas beberapa unsur yang saling berkaitan, sehingga dapat terlihat ide yang disampaikan pengarang kepada pembacanya. Teks cerita fiksi ini merupakan karya sastra berbentuk prosa. Mengingat hakikat prosa adalah narasi (cerita), maka di dalamnya ada pelaku cerita (tokoh), rangkaian cerita (alur), pokok masalah yang diceritakan (tema), siapa yang menyampaikan cerita (pencerita), serta tempat, waktu, dan suasanan seperti apa cerita itu berlangsung (latar). Itulah yang kemudian disebut unsur intrinsik prosa atau teks cerita fiksi. Berikut akan diberikan nukilan novel yang menggambarkan penokohan Kalid.
  1. Dia senang bisa memandang lelaki itu; melihat dari dekat wajahnya yang tidak terlalu halus-pori-porinya terlihat dan rahangnya yang menyembul.... (NSdI, 2004:4)
  2. Kubiarkan cambang, kumis, dan jenggotku memanjang, juga rambutku, supaya tak ada orang yang mengenaliku, meskipun aku yakin tak ada orang yang mengenaliku di kota ini meski kasusku dimuat di beberapa koran. (NSdI, 2004:63)
  3. Rambutnya gondrong awut-awutan, hampir seluruh mukanya ditutupi bulu lebat.... (NSdI, 2004:75)
  4. Tetapi aku sadar sesadar-sadarnya, bahwa tatapan matanya yang sangat tajam ketika kami pertama kali bertemu-bukan bertemu, aku yang memandangnya dari kejauhan-menjelang senja beberapa waktu sebelum huru hara itu, telah mengubah seluruh tatanan pemikiranku selama ini. (NSdI, 2004:60)
  5. Aku juga pergi tanpa kata-kata, tetapi sekilas aku bisa melihat ekspresi Kalid yang dingin. Betul-betul dingin dan beku. (NSdI, 2004:6)
  6. “Begitu dong. Sekali-kali tersenyum dan tertawa. Jangan menjadi Mr. Cool, aku kan jadi kikuk terus kalau kamu selalu diam...” katanya lagi. (NSdI, 2004:83)
  7. Dia ingat lelaki itu, lelaki pemberani dan misterius. Lelaki yang mau melawan badai, membun*h beruang bahkan ketika usianya sendiri belum sepuluh tahun dan melawan kekuatan apapun yang dianggapnya salah dan merugikan orang lain. (NSdI, 2004:1-2)
  8. Dan inilah yang ingin kuceritakan di sini. Tentang laki-laki misterius yang telah merampas separuh hidupku, yang membuat aku merasa hidup dan meninggalkan banyak hal yang selama ini kumiliki. Meski untuk itu, aku juga kehilangan banyak hal... (NSdI, 2004:61)
  9. Namun dia tetap ngotot agar bisa tetap sekolah yang jaraknya sekitar 15 kilometer ke kota kecamatan. Dan untuk sampai ke sana, dia harus naik perahu ke arah hilir selama setengah jam, menyambung lagi dengan angkutan pedesaan ke arah kota kecamatan. Pulangnya, dia juga harus menempuh rute yang sama ketika pergi. (NSdI, 2004:35)
  10. Yang penting dia berangkat dulu, melihat kondisi. Kalau memang tak memungkinkan, dia akan mencari pekerjaan dulu, mengumpulkan uang, dan setelah itu baru kuliah. Dia bisa istirahat setahun tak kuliah, ini banyak dilakukan mahasiswa yang kesulitan dana. (NSdI, 2004:37)

Berdasarkan berbagai nukilan yang dberikan, diskusikanlah penokohan Kalid menurut kalian, baik ciri fisiknya maupun sifat dan sikap yang digambarkan pengarang.
  1. Kalid adalah seorang yang berperawakan keras dengan pori wajah yang agak kasar dan rahang yang menyembul.
  2. Khalid memiliki kumis, cambang, dan jenggot yang panjang.
  3. Khalid berambut gondrong dan awut-awutan dan hampir seluruh mukanya tertutup bulu.
  4. Khalid memiliki tatapan mata yang sangat tajam.
  5. Khalid memiliki ekspresi yang dingin.
  6. Khlaid adalah lelaki pemberani dan misterius.
  7. Kalid sebagai seorang lelaki yang tidak pernah menyerah menghadapi prahara kehidupan. Seorang sarjana hukum yang akhirnya menjadi korban ketidakadilan. Kalid sebagai lelaki yang tak pernah ‘mati’ hingga akhir cerita.

Perhatikan kutipan berikut dengan teliti.
Panas terik masih terus memanggang kampungnya, juga kampung-kampung lain di pinggir sungai itu. Asap mengepul dari hutan-hutan di pinggir kampung yang sudah banyak terbakar. Hampir setiap hari pula, dia selalu mendengar suara mesin penebang kayu meraung-raung tidak siang tidak malam dan beberapa hari kemudian kayu-kayu, yang sudah dirajang dengan rapi baik berbentuk papan maupun batangan segi empat dikeluarkan oleh serombongan kerbau dari hutan. Sesampai di pinggir sungai, ada orang yang mengikatnya dengan tali atau kawat dan kemudian dalam jumlah besar dialirkan ke arah hilir sungai dan dikendalikan oleh kepompong bermesin diesel. Hampir setiap hari, dalam panas yang memanggang kampung itu, hal seperti itu terjadi; raungan gergaji sepanjang hari, suara gedblar kayu tumbang, kayu yang ditarik kerbau keluar dari hutan menuju pinggir sungai, dan rombongan aliran kayu ke arah hilir. (NSdI, 2004:39—40)

Kutipan di atas berisikan gambaran suasana yang dilukiskan pengarang. Pendeskripsian suasana tersebut membuat kalian mengetahui secara detail suasana kampung yang dilukiskan pengarang sehingga pembaca seolah-olah bisa turut merasakan suasana tersebut. Berdasarkan kutipan Nyanyi Sunyi dari Indragiri halaman 39—40 di atas, tentukanlah apakah pernyataan berikut ini benar (B), salah (S), atau tidak terbukti benar salahnya (TT) dengan membubuhkan tanda centang (√) pada pilihan kalian. Untuk menentukan jawaban, kalian tidak perlu berpedoman pada pengetahuan umum atau pengetahuan yang telah kalian miliki, tetapi cukup berpedoman pada informasi yang disajikan dalam teks tersebut.
No.PernyataanBSTT
1.Hutan-hutan di pinggir kampung banyak yang terbakar.--
2.Kampung di sana menjadi panas akibat hutan yang terbakar.--
3.Kampung tersebut berada jauh dari sungai.--
4.Mesin penebang kayu hanya terdengar di siang hari.--
5.Setelah ditebang, kayu-kayu dirajang berbentuk papan maupun batangan segi empat.--
6.Orang-orang yang bekerja menebang kayu itu bekerja untuk seorang pengusaha yang dilindungi aparat.--
7.Untuk mengeluarkan kayu yang sudah dipotong dari hutan menggunakan jasa kerbau.--
8.Kerbau-kerbau membawa kayu tersebut hingga ke pinggir sungai.--
9.Setelah sampai dipinggir sungai, kemudian kayu tersebut dialirkan begitu saja ke arah hilir.--
10.Banyak orang kampung yang bekerja untuk perusahaan itu.--

Untuk melukiskan sosok dan watak tokoh, serta suasana latar belakang cerita, baik waktu maupun tempat, kalian bisa melihat pengarang menggunakan perumpamaan, yang dikenal dengan sebutan majas atau gaya bahasa. Perhatikan beberapa kutipan berikut. Tentu saja kalian masih ingat tentang gaya bahasa. Temukan dan tentukanlah gaya bahasa yang terdapat di dalamnya.

No.Kutipan Nyanyi Sunyi dari IndragiriGaya Bahasa
1.Hampir setiap hari pula, dia selalu mendengar suara mesin penebang kayu meraung-raung tidak siang tidak malam dan beberapa hari kemudian kayu-kayu, yang sudah dirajang dengan rapi baik berbentuk papan maupun batangan segi empat dikeluarkan oleh serombongan kerbau dari hutan (NSdI, 2004:40).Antitesis adalah majas yang membandingkan dua hal yang berlawanan.
2.Semuanya seperti musim kering; kemarau datang dan angin gersang menusuk-nusuk. Semuanya seperti musim basah; hujan dan badai adalah nyanyian dalam sedih dan ngilu. Semuanya seperti perih, ketika langit tak menyisakan cerita apa-apa. Semuanya menjadi sepi... (NSdI, 2004:1).Repetisi
Pengulangan kata-kata tertentu
3.Angin senja yang hampir habis membuat rambutnya berkibar-kibar, dan sinar matahari yang hampir tenggelam membuat rambutnya tampak hanya bayangan, seperti siluet (NSdI, 2004:100).Metafora mengungkapkan ungkapan secara tidak langsung berupa perbandingan analogis.
4.Hampir setiap hari, dalam panas yang memanggang kampung itu, hal seperti itu terjadi; raungan gergaji sepanjang hari, suara gedblar kayu tumbang, kayu yang ditarik kerbau keluar dari hutan menuju pinggir sungai, dan rombongan aliran kayu ke arah hilir (NSdI, 2004:40).Hiperbola gaya bahasa yang menyatakan sesuatu secara berlebihan.
5.Tetapi aku sadar sesadar-sadarnya, bahwa tatapan matanya yang sangat tajam ketika kami pertama kali bertemu-bukan bertemu, aku yang memandangnya dari kejauhan-menjelang senja beberapa waktu sebelum huru hara itu, telah mengubah seluruh tatanan pemikiranku selama ini (NSdI, 2004:60).Sinestesia adalah metafora berupa ungkapan yang berhubungan dengan suatu indera untuk dikenakan pada indera lain.
6.Aku diam menahan perih. Perlahan air mataku mengalir dan aku tak bisa terisak. Memang tak ada isak, yang ada dalam diriku adalah pedih, ngilu, dan nyeri (NSdI, 2004:21—22).Klimaks adalah melukiskan keadaan secara berurutan sampai pada puncaknya

Dalam sebuah novel, untuk melukiskan sesuatu, kerap menggunakan kata sifat yang meluas, agar dapat memberikan penggambaran yang lebih jelas. Misalnya, untuk menggambarkan wanita itu menangis sedih, pembaca tidak mengetahui seberapa dalam kesedihan yang dialami si wanita. Akan tetapi, jika digambarkan: wanita itu tak dapat menahan isak tangisnya dengan terus mengucurkan air mata, pembaca bisa membayangkan kesedihan seperti apa yang dialami si wanita.

Berikut akan diberikan beberapa contoh kalimat yang menggunakan kata sifat yang meluas tersebut. Tugas kalian adalah mencari contoh lain yang boleh kalian buat sendiri.
  1. Alia, wanita itu, masih menangis tanpa suara, hanya isakan (NSdI, 2004:1).
  2. Dia senang memandang lelaki tu; melihat dari dekat wajahnya yang tidak terlalu halus-dengan pori-pori yang terlihat dan rahang yang menyembul (NSdI, 2004:4).
  3. Dan sebelum perusahaan itu datang, tak pernah ada banjir besar yang menghancurkan kampung kami setiap tahun (NSdI, 2004:7).
  4. Aku sakit hati dan selalu memendam perasaan ingin menghancurkannya suatu saat nanti kalau ketemu dia, atau siapapun orang dekatnya.(NSdI, 2004: 86).
  5. Kebencian yang berasal dari kekecewaan karena ketidakadilan: kepemilikan yang tercabut dan diambil dengan paksa. (NSdI, 2004:58)
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae Updated at: 3:40 PM

4 komentar:

  1. kalau tema,penokohan itu kan unsur intrinsik, lalu bagaimana dengan kaidah kebahasaan sebua cerita fiksi dalam novel?
    mohon dibantu saya masih belum mengerti :D

    ReplyDelete
  2. tugas tentang menyunting dan mengabstraksi teks cerita fiksi dalam novel ada ga ?

    ReplyDelete
  3. dokument ini stelah di blok trus di copy bisa, tapi pas di paste di word kok tidak bisa itu bagaimana cara nya biar saya bz mengcopy atau mengunduh file ini menjdi file Ms. Word

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pake google chrome klik kanan lihat sumber laman, nah disitu ada datanya.

      Delete

Mohon tidak memasukan link aktif. Silahkan tulis url Anda dengan tanda koma (,). Jika saya sempat akan kunbal....