Home » » Fakta dan Opini Teks Efisiensi Dulu, Nasionalisme Kemudian

Fakta dan Opini Teks Efisiensi Dulu, Nasionalisme Kemudian

Teks editorial juga disebut tajuk rencana merupakan teks yang berisi kupasan masalah aktual atau yang baru saja terjadi dan masih menjadi bahan pembicaraan di masyarakat. Oleh karena permasalahan yang dibahas merupakan masalah paling aktual, tajuk rencana menjadi salah satu sasaran utama pembaca. Penulis editorial atau tajuk rencana harus benar-benar mampu mengemukakan permasalahan secara baik dan ilmiah.. Dalam tajuk rencana biasanya diungkapkan adanya informasi atau masalah aktual yang biasanya diutarakan secara singkat, logis, menarik ditinjau dari segi penulisan dengan tujuan mempengaruhi pendapat dan menerjemahkan berita yang menonjol agar dapat pembaca menjadi menyimak beberapa penting berita tersebut.

Di dalam editorial atau tajuk rencana terdapat fakta dan opini. Fakta adalah hal faktual yang diambil dari peristiwa atau gejala tertentu di masyarakat. Adapun opini adalah argumen atau tanggapan redaksi terhadap peristiwa atau gejala yang dijadikan pokok pembicaraan dalam editorial. Jika dilihat dari pengertiannya, fakta adalah sebuah peristiwa atu keadaan yang benar-benar terjadi sesuai dengan kenyataannya sedangkan opini adalah anggapan, pikiran atau ide seseorang yang belum tentu benar kepastiannya karena belum ada pembuktian secara ilmiah.

Kalimat fakta dapat dibuktikan kebenaranya dan didukung oleh data yang akurat, sedangkan opini kebenarannya bersifat subyektif dan tidak memiliki data pendukung yang akurat. Pada teks eksposisi biasanya akan sering menemukan kata-kata yang menyatakan persepsi. Kata-kata tersebut digunakan untuk memengaruhi atau mengubah persepsi pembaca agar mengikuti atau menerima pendapat penulis teks.
blok mahakam
Efisiensi Dulu, Nasionalisme Kemudian
StrukturKalimat
Pernyataan pendapat (tesis)Kontrak Blok Mahakam bakal berakhir. Pemerintah tak boleh tertipu pengusaha modal cekak bertopeng nasionalisme.
Argumentasi 1Tenggat masih empat tahun lagi, tapi perebutan kontrak pengelolaan Blok Mahakam sudah terdengar riuh rendah. Ladang minyak di kalimantan Timur itu memang angsa bertelur emas. Maka pemerintah mesti berhitung cermat sebelum memutuskan nasib kontrak pengelolaan yang sekarang dipegang Total E&P Indonesie itu.
Argumentasi 2Aliran rezeki dari Delta Mahakam itu sangat deras. Cadangan yang telah dieksploitasi selama ini bernilai US$ 100 miliar dan mendatangkan laba tak sedikit buat Total. Blok tambun ini ditaksir masih punya cadangan gas dan minyak bernilai US$ 187 miliar atau Rp1.700 triliun.
Argumentasi 3Saat ini, Blok Mahakam menghasilkan gas 2.200 juta kaki kubik saban hari atau sepertiga produksi nasional. Selain itu, 93 ribu barel minyak tiap hari dipompa dari sana dan jumlah itu lebih dari sepuluh persen produksi nasional. Sampai dua dasawarsa ke depan, minyak Mahakam diperkirakan menyumbang pendapatan negara Rp84 triliun.
Argumentasi 4Di tengah mulai keringnya sumur di tempat lain, Blok Mahakam yang subur tentu menggiurkan. Tak aneh bila akan berakhirnya kontrak Total E&P Indonesie, perusahaan Prancis yang memegang kontrak karya sejak 1967, mengundang selera banyak kalangan.
Argumentasi 5Sejak 2007, Total sudah mengajukan perpanjangan kontrak, tapi belum beroleh jawaban resmi. Banyak yang ingin menggantikan Total, termasuk pemerintah daerah Kalimantan Timur. Serikat Pekerja Pertamina juga menuntut pemerintah menunjuk Pertamina sebagai operator Blok Mahakam berikutnya.
Argumentasi 6Sekadar memutus kontrak mungkin urusan gampang, tapi memilih pengelola baru bukan persoalan enteng. Ada pertaruhan besar di sana. Pemerintah tak perlu emosional mengambil keputusan.
Argumentasi 7Mengelola ladang sekelas Blok Mahakam tak mungkin dengan modal cekak. Boleh saja Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik menargetkan penguasaan 40 persen saham Blok Mahakam oleh perusahaan nasional. Bila Pertamina atau swasta nasional yang dimaksud Jero Wacik, perlu dipikirkan sumber dana besar untuk membeli 40 persen saham bernilai triliunan rupiah itu.
Argumentasi 8Ongkos operasional juga perlu dikalkulasi. Tahun lalu, Total E&P Indonesie menghabiskan Rp 25 triliun untuk investasi dan biaya operasional, termasuk pemipaan dan eksplorasi 106 sumur baru. Pengelola yang sama sekali baru pasti butuh dana jauh lebih besar untuk melakukan kegiatan itu..
Argumentasi 9Andaikan Pertamina yang akan menjadi pengelola baru, itu sebuah tantangan besar. Perusahaan minyak negara ini perlu menunjukkan performa lebih baik dibanding ketika mengambil Blok Madura Barat. Di blok berkapasitas 14-15 ribu barel minyak per hari itu, produksi terus berfluktuasi sejak dikelola Pertamina Hulu Energi pada 2011. Awal tahun ini, misalnya, produksi Blok Madura Barat menyentuh titik terendah, yakni 6.000 barel per hari.
Argumentasi 10Pemerintah pun mesti mengingat pengalaman buruk masa lalu. Dalam divestasi Kaltim Prima Coal pada 2004 dan PT Newmont Nusa Tenggara pada 2009, pembelian saham oleh pemerintah daerah ternyata ditunggangi swasta. Di balik layar, pemerintah daerah bermain mata dan menjual sahamnya kepada anak perusahaan Grup Bakrie
Penegasan ulang pendapatKeputusan pemerintah hendaknya berpijak pada efisiensi pengelolaan blok. Asing atau lokal tak jadi masalah selama mereka mampu memberikan setoran tertinggi kepada kas negara. Pemerintah tak boleh tertipu kepentingan jangka pendek pengusaha, terutama yang berbungkus nasionalisme. Bumi dan yang terkandung di dalamnya wajib dikelola untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Setelah membaca teks tersebut, dapat dinemukan fakta dan opini dalam editorial tersebut. Kalimat berikut adalah fakta yang terangkum dalam teks editorial tersebut. Dari ontoh fakta tersebut dapat dilihat bahwa kalimat tersebut tidak disisipi tanggapan atau opini dari redaksi dan ditulis apa adanya. Berikut ini beberapa kalimat fakta dalam teks Efisiensi Dulu, Nasionalisme Kemudian.
  1. Cadangan yang telah dieksploitasi selama ini bernilai US$ 100 miliar dan mendatangkan laba tak sedikit buat Total. 
  2. Blok tambun ini ditaksir masih punya cadangan gas dan minyak bernilai US$ 187 miliar atau Rp1.700 triliun.
  3. Saat ini, Blok Mahakam menghasilkan gas 2.200 juta kaki kubik saban hari atau sepertiga produksi nasional.
  4. Selain itu, 93 ribu barel minyak tiap hari dipompa dari sana dan jumlah itu lebih dari sepuluh persen produksi nasional.
  5. Sampai dua dasawarsa ke depan, minyak Mahakam diperkirakan menyumbang pendapatan negara Rp84 triliun.
  6. Sejak 2007, Total sudah mengajukan perpanjangan kontrak, tapi belum beroleh jawaban resmi. 
  7. Banyak yang ingin menggantikan Total, termasuk pemerintah daerah Kalimantan Timur.
  8. Serikat Pekerja Pertamina juga menuntut pemerintah menunjuk Pertamina sebagai operator Blok Mahakam berikutnya.
  9. Boleh saja Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik menargetkan penguasaan 40 persen saham Blok Mahakam oleh perusahaan nasional. 
  10. Tahun lalu, Total E&P Indonesie menghabiskan Rp 25 triliun untuk investasi dan biaya operasional, termasuk pemipaan dan eksplorasi 106 sumur baru.
  11. Di blok berkapasitas 14-15 ribu barel minyak per hari itu, produksi terus berfluktuasi sejak dikelola Pertamina Hulu Energi pada 2011. 
  12. Awal tahun ini, misalnya, produksi Blok Madura Barat menyentuh titik terendah, yakni 6.000 barel per hari.
  13. Dalam divestasi Kaltim Prima Coal pada 2004 dan PT Newmont Nusa Tenggara pada 2009, pembelian saham oleh pemerintah daerah ternyata ditunggangi swasta.
  14. Bumi dan yang terkandung di dalamnya wajib dikelola untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Selain fakta dalam teks opini atau editorial juga terdapat opini. Kalimat opini merupakan tanggapan dari redaksi terhadap beberapa fakta yang dimunculkan dalam editorial. Dalam kutipan opini tersebut dikemukakan juga harapan-harapan yang bertujuan untuk memberikan solusi terhadap permasalahan. Beberapa contoh kalimat opini dalam teks Efisiensi Dulu, Nasionalisme Kemudian antara lain sebagai berikut.
  1. Pemerintah tak boleh tertipu pengusaha modal cekak bertopeng nasionalisme.
  2. Tenggat masih empat tahun lagi, tapi perebutan kontrak pengelolaan Blok Mahakam sudah terdengar riuh rendah.
  3. Ladang minyak di kalimantan Timur itu memang angsa bertelur emas.
  4. Maka pemerintah mesti berhitung cermat sebelum memutuskan nasib kontrak pengelolaan yang sekarang dipegang Total E&P Indonesie itu.
  5. Di tengah mulai keringnya sumur di tempat lain, Blok Mahakam yang subur tentu menggiurkan.
  6. Tak aneh bila akan berakhirnya kontrak Total E&P Indonesie, perusahaan Prancis yang memegang kontrak karya sejak 1967, mengundang selera banyak kalangan.
  7. Sekadar memutus kontrak mungkin urusan gampang, tapi memilih pengelola baru bukan persoalan enteng. Ada pertaruhan besar di sana.
  8. Bila Pertamina atau swasta nasional yang dimaksud Jero Wacik, perlu dipikirkan sumber dana besar untuk membeli 40 persen saham bernilai triliunan rupiah itu.
  9. Pemerintah tak perlu emosional mengambil keputusan.
  10. Mengelola ladang sekelas Blok Mahakam tak mungkin dengan modal cekak.
  11. Andaikan Pertamina yang akan menjadi pengelola baru, itu sebuah tantangan besar. 
  12. Perusahaan minyak negara ini perlu menunjukkan performa lebih baik dibanding ketika mengambil Blok Madura Barat
  13. Pemerintah pun mesti mengingat pengalaman buruk masa lalu.
  14. Di balik layar, pemerintah daerah bermain mata dan menjual sahamnya kepada anak perusahaan Grup Bakrie
  15. Keputusan pemerintah hendaknya berpijak pada efisiensi pengelolaan blok. Asing atau lokal tak jadi masalah selama mereka mampu memberikan setoran tertinggi kepada kas negara. 
  16. Pemerintah tak boleh tertipu kepentingan jangka pendek pengusaha, terutama yang berbungkus nasionalisme
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae Updated at: 2:38 PM

0 komentar:

Post a Comment

Mohon tidak memasukan link aktif. Silahkan tulis url Anda dengan tanda koma (,). Jika saya sempat akan kunbal....