Home » » Menyusun Teks Pidato Bulan Bahasa

Menyusun Teks Pidato Bulan Bahasa

Pidato adalah salah satu bentuk komunikasi yang dilakukan untuk menyampaikan berbagai informasi kepada khalayak ramai. Pidato dapat dilakukan dalam berbagai konteks keperluan, misalnya: pidato kenegaraan, pidato politik, ceramah ilmiah, ceramah keagamaan, dan lain sebagainya. Karena pidato dan ceramah sifatnya sekali ucap, maka untuk dapat memahami isi pidato tersebut diperlukan konsentrasi yang sungguh-sungguh. Pidato yang baik dilakukan dengan intonasi yang tepat serta artikulasi dan volume suara yang jelas.

Pidato merupakan suatu bentuk perbuatan berbicara dalam situasi tertentu dan dengan pendengar tertentu pula. Pidato merupakan salah satu bentuk komunikasi lisan. Oleh sebab itu, unsur-unsur yang berupa intonasi (tempo, tekanan, dan panjang pendek ucapan), gerak-gerik, dan mimik merupakan faktor-faktor yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pidato. 

Pidato berbeda dengan ceramah, perbedaannya antara lain pidato merupakan pengungkapan pikiran dalam bentuk kata-kata yang ditujukan kepada orang banyak. Pembawa pidato tidak diwajibkan mengarahkan audiens untuk memahami sungguh-sungguh masalah yang disampaikan. Pidato biasanya tidak ditindaklanjuti dengan tanya jawab. Selain itu, isi pidato lebih bersifat umum.

Sedangkan ceramah merupakan pidato oleh seseorang dihadapan banyak pendengar yang membicarakan suatu hal, pengetahuan, dan sebagainya. Penceramah berkewajiban mengarahkan audiens untuk memahami sungguh-sungguh masalah yang disampaikan. Pada kegiatan ceramah biasanya diakhiri dengan tanya jawab. Selain itu isi ceramah lebih bersifat khusus jika dibandingkan dengan pidato..

Menulis Teks Pidato
Sebelum menyusun naskah pidato sebaiknya menuliskan hal-hal penting mengenai pidato tersebut, misalnya nama acara, para undangan yang hadir, serta tujuan dari penyelenggaraan acara. Setelah itu, buatlah kerangka naskah pidato dengan memerhatikan bagian-bagian pidato. Hal-hal yang harus ada dalam naskah pidato adalah sebagai berikut.

1. Pembukaan
Pendahuluan / pembuka bertujuan untuk mempersiapkan pendengar pada pokok permasalahan yang hendak dikemukakan. Pendahuluan berisi salam pembuka, ucapan penghormatan, ucapan syukur, dan latar belakang masalah.
  • Salam pembuka Contoh: Assalammualaikum warahmatullaahi wa barakatuh, salam sejahtera bagi kita semua.
  • Ucapan penghormatan. Ucapan penghormatan, biasanya dimulai dari penghormatan terhadap seseorang yang dianggap paling penting. Contoh : Yang saya hormati Bapak Kepala Sekolah, Yang saya hormati Bapak/Ibu guru. Yang saya hormati para tamu undangan, Yang berbahagia teman-teman kelas IX, Adik-adik kelas VII dan VIII yang saya cintai dan saya banggakan.
  • Ucapan syukur. Ucapan syukur kepada Tuhan atas limpahan rahmat dan karunia yang telah diberikan kepada kita semua. Contoh: "Marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena sampai pada detik ini kita masih diberi nikmat yang tiada tara. Salah satu nikmat itu adalah nikmat sehat dan nikmat sempat sehingga kita semua dapat hadir di sini dalam keadaan sehat wal afiat tidak kurang suatu apapun.

2. Isi Pidato
Bagian isi adalah bagian inti dari suatu pidato. Pada bagian ini, paparan dari pembicara menduduki persentase yang paling banyak. Pembicara akan menguraikan secara rinci dan panjang lebar inti materi yang akan disampaikan kepada hadirin. Agar isi pidato dapat dengan mudah ditangkap isinya oleh pendengar, pembicara dapat menggunakan penanda untuk memudahkan pendengar dalam menentukan bagian penting pidato.

3. Penutup Pidato
Penutup pidato yang baik akan menimbulkan rasa simpati dari pendengar. Penutup pidato dapat diisi dengan:
  • Simpulan pendek dari uraian sebelumnya.
  • Permintaan maaf kepada hadirin atas kekhilafan dan kesalahan yang mungkin terjadi, baik disengaja maupun yang tidak disengaja.
  • Salam penutup. Dalam penutup dapat juga diisi dengan mengutip pendapat atau katakata mutiara dari tokoh-tokoh besar, atau pantun yang sesuai dengan situasi saat itu.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menyampaikan pidato adalah berikut.
  • Pandanglah hadirin sebelum berpidato untuk menjalin suasana berkomunikasi.
  • Pandanglah hadirin saat berpidato meskipun sesaat. Jangan tertuju pada satu arah. Jika menggunakan teks, jangan membaca teks tersebut tanpa memerhatikan hadirin.
  • Sampaikan pidato sesuai dengan suasana atau isi pidato, misalnya sedih, gembira, duka, semangat, dan sebagainya.
  • Gunakan irama penyampaian yang variatif agar tidak monoton dan menjenuhkan.
  • Upayakan agar sesuatu yang disampaikan dapat diterima dengan jelas oleh hadirin. Upaya ini dapat dilakukan dengan volume suara, artikulasi, dan intonasi yang tepat serta bahasa yang komunikatif.
  • Bersikaplah dengan sopan dan simpatik.

Banyak orang mengalami ketidaksiapan secara mental untuk melakukan pidato. Mereka dihinggapi rasa takut berbicara di depan umum. Kondisi demikian disebut dengan demam panggung atau takut berbicara. Beberapa cara mengatasi demam panggung di antaranya berikut.
  • Relaksasi atau melemaskan otot-otot yang tegang, misalnya dengan menggoyangkan kaki, menyalami tangan sendiri dan meletakkannya di atas kepala, dan memutar-mutarkan leher dan bahu.
  • Menarik napas dalam-dalam.
  • Mengambil segelas air ke podium jika memungkinkan.
  • Menggoyang-goyangkan tangan yang bergetar secara perlahan dan meletakkannya di atas mimbar.
  • Memegang sesuatu–misalnya tisu–di kepalan tangan sebagai pengalih ketegangan.
  • Sebelum tampil, pejamkan mata dan bayangkan pendengar menyimak, tertawa, dan bertepuk tangan untuk kita.
  • Ucapkan sesuatu kepada seseorang sekadar mengecek dan meyakinkan bahwa suara siap dikeluarkan di podium.

Contoh Teks Pidato
Melalui Bulan Bahasa Kita Tingkatkan Rasa Nasionalisme dan Cinta Bahasa Indonesia

Assalammualaikum warahmatullaahi wa barakatuh, salam sejahtera bagi kita semua.

Yang saya hormati Bapak Kepala Sekolah, Bapak/Ibu guru, dan para tamu undangan. Yang berbahagia teman-teman kelas IX, serta Adik-adik kelas VII dan VIII yang saya cintai dan saya banggakan.

Marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena telah memberi nikmat yang tiada tara. Salah satu nikmat itu adalah nikmat sehat dan nikmat sempat sehingga kita semua dapat hadir di sini dalam keadaan sehat wal afiat tidak kurang suatu apapun. Terima kasih kepada guru bahasa Indonesia saya dan teman-teman yang telah memberikan kesempatan untuk saya menyampaikan pidato ini.

Di sini saya akan menyampaikan pidato dengan tema “Melalui Bulan Bahasa Kita Tingkatkan Rasa Nasionalisme dan Cinta Bahasa Indonesia”. Tema tesebut berhubungan dengan Hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober. Oktober ditetapkan sebagai bulan bahasa karena pada 28 Oktober 1928 para pendahulu bangsa kita mencetuskan Sumpah Pemuda dengan bahasa, bahasa Indonesia, sebagai butir ketiganya. 

Bulan Bahasa merupakan bulan dimana setiap orang dapat mengekspresikan bakatnya terutama dalam bidang bahasa dan sastra yang bertujuan untuk lebih mencintai bahasa sendiri yaitu bahasa Indonesia. Walaupun bulan bahasa ini hanya setahun sekali, bulan bahasa menunjukkan bahwa rakyat negeri ini memiliki kepedulian terhadap bahasa Indonesia.

Fakta menunjukkan kalau generasi muda saat ini lebih banyak mengembangkan bahasa gaul ketimbang memerhatikan bahasa yang baik. Memang tidak terlalu salah juga bila berkomunikasi dengan bahasa gaul. Hanya saja, ketika bahasa hanya sebatas menyampaikan pesan belaka, kualitas berbahasa yang baik tidak bakal tercapai.

Bulan bahasa sebenarnya dapat dijadikan momentum untuk meningkatkan kualitas berbahasa secara baik dan benar. Tapi jangan pula hanya sekadar pada bulan Oktober saja. Karena berbahasa merupakan proses yang harus dibiasakan. Semakin terbiasa untuk berbahasa dengan baik, semakin membantu kita untuk terus meningkatkan kualitas berbahasa.

Bulan Oktober juga tidak sekadar menjadi bulan bahasa, tapi juga sastra, kita pun sebaiknya perlu belajar untuk memberi porsi yang cukup pada bidang sastra. Masalahnya, untuk bidang ini pun kita masih ketinggalan dari negara-negara lainnya. Para siswa sekolah perlu mengenal lebih banyak karya sastra, tidak hanya untuk melengkapi kegiatan belajar bidang studi bahasa dan sastra Indonesia saja, tetapi juga untuk menggali kekayaan moral dan intelektual yang dituangkan dalam setiap karya sastra.

Dengan bulan bahasa diharapkan dapat menggunakan bahasa Indonesia untuk mengungkapkan keinginan, kemampuan, ilmu dan pengetahuan kita dengan berbahasa Indonesia. Negara kita tetap bersatu padu dan tidak ada perbedaan. Meski berbeda budaya ataupun adat tetapi persatuan tetap kita pegang teguh dengan “Bahasa satu bahasa Indonesia”.

Marilah kita semua sebagai generasi penerus bangsa dan calon penerus pemimpin bangsa yang tangguh kita lestarikan bahasa kita sebagai alat komunikasi dengan masyarakat, daerah yang berbeda. Ingatlah, bahasa dan sastra Indonesia itu merupakan hartamu juga. Jangan sampai diklaim oleh negara lain.

Demikian pidato dari saya. Intinya kita sebagai generasi muda harus menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dengan cara menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai pelajar kita perlu mengenal lebih banyak karya sastra tidak hanya sebagai kegiatan belajar, namun untuk menggali kekayaan moral dan intelektual yang dituangkan dalam setiap karya sastra.

Saya mohon maaf apabila dalam menyampaikan pidato ada kata atau ucapan yang kurang tepat. Wassalammualaikum warahmatullaahi wa barakatuh.
Posted by Nanang_Ajim
Mikirbae Updated at: 5:36 PM

0 komentar:

Post a Comment

Mohon tidak memasukan link aktif. Silahkan tulis url Anda dengan tanda koma (,). Jika saya sempat akan kunbal....